
Fira mengertakkan gigi, menatapku dengan penuh emosi. Tapi lagi-lagi wanita bertanya, layaknya seorang wartawan, “kalian ke sini naik apa?”
Sesaat aku senyum tipis, mencerna nada bertanyanya yang kedengaran sinis. Konotasi pertanyaannya yang menjurus ke arah yang cenderung negatif juga membuatku merasa tidak nyaman. Tapi karena mengenal Fira, aku tetap berusaha sopan kepadanya.
“Naik mobil, kok, tante,” jawabku, “tapi karena takut ganggu, kalau masuk komplek, jadi saya parkir di sana!” lanjutku, menunjuk arah kedatangan kami.
Wanita itu seketika menatap Fira. Raut wajahnya memperlihatkan rasa curiga yang membuatku semakin merasa tidak nyaman.
“Lho, kalau sakit, bukannya lebih cepet kalau langsung masuk saja, ya?” ujarnya.
Aku hanya diam, tak tahu lagi harus menjawab apa. Intuisi wanita itu benar-benar membuat kepalaku pusing.
Untungnya, dia malah menyimpulkan sendiri dan berkata, “sengaja biar lama, ya? Ada-ada saja kelakuan anak muda!”
Aku hanya senyum, menoleh ke arah Fira yang langsung menjitak kepalaku. Wajahnya yang merah padam membuatku ikut salah tingkah dan berpaling.
Wanita tadi senyum makin lebar, membuat suasana jadi semakin canggung. Ingin rasanya memprotes deduksinya yang sudah kelewatan, tetapi aku merasa lebih baik membiarkannya tetap salah paham.
“K-Kalau gitu, saya jalan dulu, tante!” pamitku, “kasihan Fira, kalau kelamaan, takutnya bengkak,” tambahku.
“Iya, iya, titip salam buat mama, ya!” jawabnya, santai.
Wanita itu menoleh pada Fira, tetapi lagi-lagi gadis itu cuman senyum. Dia terlihat cukup tertekan, sehingga membuatku mempercepat langkah.
Untungnya, rumah bercat biru yang disebutkan sudah kelihatan, sehingga tujuan kami semakin jelas.Terlihat gerbang rumah itu dalam keadaan tertutup. Alih-alih garasi, mereka lebih memilih carport, sehingga mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di sana kelihatan cukup jelas. Dibanding sekeliling, mereka memiliki halaman yang cukup luas.
“Yang itu, kan?” tanyaku, sembari menunjuk.
Tidak diragukan lagi, Fira bukanlah anak orang sembarangan. Tapi saat itu, gadis itu hanya mendeham yang membuatku menoleh ke belakang.
“Hey!”
Sekali lagi, aku menunjuk tempat itu, tetapi lagi-lagi dia tidak merespon, dan malah menggumam sendiri.
“Duh, mati aku!”
Mendengar itu, aku memperlambat langkah dan bertanya, “kenapa kamu bohong?”
“Bohong?”
Fira akhirnya menyahuti.
“Kamu bilang mobil nggak boleh lewat, buktinya wanita tadi lewat-lewat saja,” ujarku.
“Tadinya, aku nggak mau tetangga lihat, biar nggak jadi gosip.”
Fira beralasan.
“Tetangga kok, dipikirin!” ujarku.
“Kamu nggak tahu, sih, betapa embernya mulut tetanggaku, apalagi tante tadi.” Fira.
“Semua tetangga yang ada di belahan bumi mana pun, juga seperti itu,” ujarku, “tapi di saat yang sama, kita semua saling membutuhkan. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyesuaikan diri, atau menerima. Tidak ada jalan lain,” tambahku.
Mendengar perkataanku, Fira seketika diam. Kuharap, dia mengerti maksud ucapanku. Dia sudah berusaha menyesuaikan diri dengan tidak memasuki komplek secara langsung. Tapi karena usaha itu gagal, maka yang harus dia lakukan hanyalah menerima.
“Jadi, aku harus pasrah dijadikan omongan tidak benar, gitu?” protesnya, tiba-tiba.
“Kalau memang tidak benar, kenapa harus ditanggapi?” jawabku, santai.
Fira yang terus mengoceh akhirnya berhenti bicara, ketika sudah ada di depan rumahnya. Saat itu, keadaan gerbang sudah terkunci, tetapi, keadaan lampu masih menyala. Kemungkinan, masih ada yang terjaga.
Saat hendak memencet bel, dengan cepat Fira menahan tanganku sebelum menyentuh tombol.
“Udah malam, aku telfon mama aja!” ujarnya.
Aku menoleh ke sekeliling.
Rata-rata bangunan memiliki konsep modern dua lantai. Atap baja ringan, tembok berhias bagus alam, garasi dan ruang tamu bersebelahan, hingga tata letak yang efektif. Tidak salah lagi, mereka juga menerapkan model minimalis sama seperti rumah Fira.
Hal itu seharusnya menunjukkan seberapa maju pola pikir mereka. Tapi entah kenapa, gadis itu begitu memikirkan pandangan orang sekitar. Padahal, lampu-lampu mereka juga masih menyala, yang berarti; hal itu seharusnya tidak terlalu mengganggu, karena mereka juga masih terjaga.
Bersamaan dengan itu, dia meminta turun. Awalnya aku merasa ragu, tetapi karena sudah ada di depan rumahnya, aku menurutinya. Lagipula, ibunya mungkin saja akan salah paham, kalau melihat kami dalam keadaan demikian.
Selang beberapa saat, seorang wanita keluar dari dalam rumah. Dia mengenakan perhiasan yang mencolok, serta mengenakan pakaian bermerek. Keduanya memiliki mata dan hidung yang mirip yang membuatku berpikir, dia adalah ibunya.
“Tunggu sebentar!”
Sambil mengenakan sendal, wanita itu menyiapkan sebuah kunci dan mulai berjalan mendekat.
Kurasa, ada kolam renang juga di belakang rumahnya, pikirku.
Aku masih menatap rumahnya yang cukup besar. Kemungkinan, 10 x 15. Begitu sadar, pintu gerbang sudah terbuka. Wanita itu sudah ada di depanku, menatap keheranan.
“Malam, tante!” sapaku, menganggukkan kepala.
“Lho, mbak Nur kemana ma, kok buka pintu sendiri?” sahut Fira.
Wanita itu hanya terdiam yang membuat Fira melambaikan tangan, tepat di depan mukanya.
“Mbak Nur mana, ma?” tanyanya lagi.
“Kalian, kok saling rangkul?” tanya si wanita yang ternyata memang ibunya, seperti dugaanku.
Seketika, Fira berusaha menjauh tapi segera kuhentikan.
“Kakinya keseleo, tante!” jelasku, “nggak bisa jalan sendiri!” tambahku.
Dengan muka keheranan, mamanya menutup gerbang. Itu membuatku berpikir, kesalahpahaman sudah berhasil diatasi.
“Lho, kalian ke sini naik apa?” tanyanya, celingukan.
Saat itu, aku tengah membantu Fira duduk di teras, dan melepas kedua sepatunya. Kakinya sudah membengkak, wajahnya pun kelihatan kesakitan. Aku langsung berusaha memeriksa, tetapi mata kami berdua saling bertatapan, sehingga membuat situasi menjadi canggung.
“Ehem!”
Tiba-tiba saja, dia mendeham yang membuat kami semakin salah tingkah.
“Aku tak ingin mengganggu kalian, tetapi bukankah ada pertanyaan yang harus dijawab?” tanyanya, meninggikan nada bicara.
“S-Saya memarkirkannya di atas, tante,” jelasku.
“Kamu membiarkan anakku berjalan dengan kaki seperti itu?”
Ia menyilangkan tangan dengan wajah menekuk. Mencium aroma kesalahpahaman, aku segera memberikan penjelasan.
“Ketika saya memarkirkan mobil, Fira tiba-tiba saja memakai sepatu dan berniat keluar,” jawabku, “karena tak ingin lukanya tambah parah, saya menggen-“
“Hentikan!” putus Fira, “aku akan membunuhmu kalau mengatakan lebih dari ini!” lanjutnya.
Wajahnya memerah, membuatku tak jadi meneruskan ucapan. Sialnya, mama Fira terlihat marah atas apa yang terjadi. Di saat bersamaan aku tak bisa menjelaskan apa-apa.
Tak kehilangan akal, aku pun bertanya kepadanya, “apakah dia selalu seperti ini, kalau sedang di rumah?”
“Apa ada hal buruk yang dilakukan anakku?”
Ia balik bertanya.
Kurasa, maksud mengkambinghitamkan Fira sudah ketahuan, tetapi itu tak membuatku mundur.
“Tidak, sebaliknya dia berniat jalan kaki hanya untuk menghindari omongan tetangga,” jawabku.
“Berniat?” mama Fira.
“Dahulu, saya pernah mencoba menyelamatkan teman saya, tetapi pada akhirnya justru saya sendiri yang terluka.”
“Terus, apa hubungannya?”
“Yang ingin saya katakan adalah...”
Aku kembali menatap Fira yang terlihat was-was terhadapku. Kurasa, dia khawatir aku mengatakan semuanya.
“Jalan dari sana ke sini tak akan menambah rasa hormat tetanggamu!” seruku, “sebaliknya, kamu hanya akan membuat celaka diri sendiri. Lebih baik membuat mereka terganggu dan menyelamatkan kakimu sendiri,” lanjutku menasihati.
“Baiklah, ini semua salahku,” ucap Fira, “aku tak tahu Tante Nina baru saja pulang,” lanjutnya.
Seketika aku menggeleng, tak puas mendengar ucapannya.
“Kamu masih belum paham,” ujarku.
“Apakah menghindari masalah itu salah?” protes Fira.
“Sekali-kali, biarkan saja mereka terganggu.”
“Egois sekali!”
“Memang begitu, kamu juga berhak menjadi egois,” ujarku, “sama seperti ketika kamu menerima gangguan mereka, mereka juga harus menerima saat kamu menganggu. Bukankah tetangga itu demikian, saling mengganggu dan membantu satu sama lain?” lanjutku.
Fira hanya diam yang membuatku percaya diri mengatakan, “mereka tak akan membunuhmu, hanya karena membawa mobil masuk malam-malam.”
Mama Fira berjalan mendekat. Ekspresi wajahnya sudah kembali tenang. Tampaknya, dia sudah mengetahui kejadian sebenarnya.
“Masuklah, aku akan membuatkan minum,” ajaknya.
Sambil memeriksa jam tangan, aku menjawab, “makasih banyak, tante. Tapi ini udah malam, Fira juga kelihatannya nggak pengen jadi omongan tetangga, jadi lain kali saja.”
Sambil mengusap kepala Fira aku berkata lagi, “kamu terlalu berharga untuk merasakan kebodohan yang sama.”
“Apaan, sih!” gerutunya.
“Yakin nggak mau istirahat dulu?”
Mama Fira lagi-lagi menawari. Aku tak tahu apa yang membuatnya senang, tetapi dia tiba-tiba saja tersenyum.
“Sekali lagi makasih banyak, tapi mama pasti udah nungguin,” jawabku.
Dia terlihat kecewa dan berkata, “ya, sudah, Hati-hati di jalan, ya!”
“Kalau gitu, saya pamit dulu, tante!” ucapku, "maaf pulang-pulang bawa Fira dalam keadaan begini!" lanjutku.
"Alah, palingan cuman keseleo!" ujarnya.
"Lebih baik diperiksa, siapa tahu serius!"
"Gimana ya, besok ada acara," ujarnya.
Sejenak aku terdiam lalu mengusulkan, "kalau boleh, besok saya antar, kebetulan masih cuti. Om saya juga buka praktek ortopedi, nggak jauh dari kota."
"Oh, gitu?" sahutnya, "ya sudah, besok pagi datang ke sini, ya?" lanjutnya.
Aku segera mengangguk, dan sekali lagi berpamitan. Dengan membawa bermacam-macam beban pikiran, aku kembali pulang.