
...Satu kalimat untuk situs ini, benar-benar konsep yang sangat absurd!...
Situs ini bahkan dicekal di berbagai negara. Tapi high risk high return, sesuatu yang berbahaya pasti punya nilai yang sepadan. Worth it untuk diperjuangkan, tentunya dengan persiapan matang. Bermodalkan aplikasi robot dan jaringan yang terenkripsi, aku berhasil mencairkan uang sebanyak 1000 dollar.
That's was a biggest money i ever make!
Sayangnya, ulah badut membuat tindakan ini terendus, sebelum aku berhasil membuatku mandi uang.
I swear, he just an ugly Argus!
Mengapa begitu banyak Argus di dunia ini?
Sampai hari ini pun, aku masih menyesali keputusanku memberitahu mereka. Tiba-tiba saja, pihak Redbox menerapkan sistem verifikasi dan memberantas akun-akun bodong. Hanya setelah badut itu memposting ide usaha kreatif ini kepada publik.
Lebih gilanya lagi, mereka sampai menyewa seseorang untuk menginfeksi komputer para pengguna nakal sepertiku.
Untung saja, komputerku memiliki spek dewa. Sehingga mereka gagal membuatku memungut rongsokan.
Why he did it?!
1000 dollar yang ku kumpulkan, habis untuk perbaikan perangkat komputerku yang rusak.
Terkadang kipas komputerku berputar sangat cepat. Processor spek tinggi yang ku gunakan pun, sering berasap. Virus yang terinjeksi mungkin sudah lenyap, tapi mereka masih sering menyerangku.
Ku rasa, ip adress-ku sudah terlacak. Bahkan, posisiku mungkin sudah mereka genggam. Setiap malam, aku selalu berdoa agar kepalaku tetap utuh, selagi aku tidur.
That's was overthinking, foget it!
Anyway's, Redbox akhirnya mengumumkan pembaruan sistem. Jawaban yang bisa di submit dibatasi secara ugal-ugalan. Kotak yang bisa diakses setiap akun pun, dikurangi.
Pihak Redbox benar-benar menembak mati penggunaan aplikasi robot. Sekarang hanya 4 kotak gratisan yang bisa dicoba untuk setiap akun.
Kepastian ini kuperoleh setelah menempuh perjalanan ke kota. Dua liter bensin, uang sekitar seratus ribu, dan empat buah perangkat komputer menjadi pengorbanan yang tidak bisa terelakkan. Untungnya, aku mengaksesnya melalui warnet, sehingga kerugian yang kuterima tidak begitu parah.
Am i an evil? Ofcourse, not!
Aku malah membantu kehidupan sosial masayarakat dengan menghancurkan empat tongkrongan bocil.
Kuharap orang tua ku bangga, karena hanya ini satu-satunya hal baik yang aku lakukan tahun ini.
Kesimpulannya, Redbox mungkin akan memberlakukan peraturan yang lebih ekstrem. Bahkan meskipun kita hanya seorang pengunjung. The point is, sudah saatnya mencari mata pencaharian lain.
.....
^^^This web has a bad reputation!^^^
^^^A kidnapping, murderer, many criminal case. That's does not have to be accessed by us!^^^
"What must i do?“'
^^^Explain how dangerous is this, to your brother!^^^
"Like what?"
^^^Just find out! Better know by yourself!^^^
"Ok, i'll take it."
"Ty seriously replying me!"
^^^Nope.^^^
_______________________________ ___
Gadis yang aneh!
Mengapa mereka menyuruhnya menghubungiku? Apa aku terlihat seperti seorang psikiater?
Ofcourse, aku memang mempelajari ini seumur hidup. Tapi bukan berarti aku membuka sesi konsultasi gratis. Aku harus mengingat kejadian ini. Supaya tidak ada lagi hal seperti ini.
Siapa sangka, ini sudah jam tiga sore?
Aku memandang layar ponsel, berharap ibuku menelepon. Ini mungkin masih belum terlambat, dan semuanya pasti bisa diperbaiki. Sejak sumber penghasilan utamaku hilang, aku jadi kehilangan motivasi.
Selain makan dan internet, aku juga menanggung biaya kos. Mengisi survei pasti tidak akan cukup. Apalagi tetanggaku sangat sering menggunakan password wifi milikku.
Terkadang, lebih dari enam device terpantau menggunakan jaringanku.
Dasar muka gratisan!
Kalau saja bukan ibu kost ku, sudah kuganti password wifiku. Yang bisa ku lakukan hanyalah memutus koneksi mereka dari jaringanku, secara manual.
Sometimes, aku berharap menusuk itu legal. Aku juga sering kepikiran meretas situs-situs penting. Tapi seperti biasa tidak ada yang benar-benar terjadi.
I mean, bagaimana kalau nanti tertangkap?
Keluargaku memang bukan kalangan orang terpandang. Tapi mereka punya martabat yang harus dijaga. Kelakuanku saja sudah seperti melempar kotoran ke wajah mereka.
Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang lebih gila?
Haruskah aku membuka aplikasi dompet? Jualan subscribe, buka jasa like komen otomatis, atau lapak nyir-nyir akun medsos mantan?
Ayolah, aku yakin ada peluang bisnis besar di sana. Walaupun sama-sama un-faedah, setidaknya itu tidak terlalu mencoreng nama keluarga. Paling mereka hanya akan mendapatkan serangan netijen baper.
That's low cost! Why not?
Oh Tuhan...
Ketika kecil, aku selalu yakin bisa melakukan hal besar untuk dunia. Tapi begitu dewasa, ternyata aku tak pernah melakukan apa pun. Begitu sadar, tidak ada yang aku hasilkan. Tidak ada yang aku capai, dan tidak ada yang perduli.
Aku heran, kenapa mereka semua orang punya banyak sekali bakat. Sementara bakat terbaikku hanyalah rebahan?
Ada apa dengan orang itu?
Ya, orang itu. Orang yang selalu berpakaian bagus dan mengenakan dasi. Kalian pasti kenal, karena dia selalu berbicara seolah-olah manusia paling benar.
...“Bakat hanyalah 1%, dan 99% sisanya adalah kerja keras!”...
Motivator sableng!
Kurasa, dia mengatakan slogan iklan rokok itu secara tidak sadar. Atau mungkin sedang mabuk air kobokan? Sedang enak-enaknya makan di wateg, ternyata keselek dan salah mengambil minum?
Who know's?
Tahu bagaimana kabar mereka yang mengikuti ideologi ini? Menyedihkan! Siapa yang menyerahkan 99% tenaga, atau bahkan lebih? Dan percaya bahwa bakat itu cuman 1%?
Hanya kuli, dan para pekerja kasar lain!
Akan tetapi, jutru orang-orang yang tidak pernah mengerahkan kerja kerasnya lah, yang menguasai dunia.
Trust me!
Ada banyak yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan bermodalkan kerja keras. Terbang ke angkasa, membuat lampu, menguras lautan, mengecat es balok, menyikat gigi buaya lapar.
Satu kata untuk kalian semua yang pernah menawariku pekerjaan bergaji fantastis ini.
Bacot!
Kuberi tahu formula kehidupan yang benar.
50% uang, 50% ketenaran, 0,1% bakat, 20% tampang, 30% koneksi, dan 10% modal omong.
That's was bigger than 100? Who’s care?
Hidup itu memaksamu mengeluarkan lebih dari 100%, camkan itu!
Siapakah yang salah? Negara?
Fix, ada yang salah degan diri kalian kalau pola pikir kalian seperti itu.
Tidak bisa dipungkiri, aku juga pernah setuju pada pendapat itu. Tapi akhirnya mataku terbuka lebar. At last, negara itu hanyalah sebuah tempat. Tempat dimana sebuah populasi kemudian menyatakan diri secara de facto, menjadi sebuah negara.
Jadi ketika kalian menyalahkan tempat, itu sama saja kalian menyalahkan batu ketika kalian tersandung!
Tapi bukankah negara mengatur masyarakat? Masyarakat kan, membayar pajak? Wajar kan, kalau masyarakat menuntut negara mensejahterakan mereka?
That was a big mistake's! Masyarakatlah, yang berkewajiban mensejahterakan negara.
How about rule's?
Rule's?
Negara bahkan tidak bisa membuat peraturan. Kita sendiri-lah yang memaksa peraturan itu dibuat. Lucunya, kita juga yang melanggar peraturan itu. Percaya tidak percaya, rule's is made to be broken!
Semoga saja mereka mendengarnya. Orang-orang yang tugasnya membuat peraturan, serta manusia-manusia yang menganggap diri mereka law master.
Berhentilah mengobras pasal dan mebuat peraturan yang cuman, menguntungkan segelintir pihak. Gunakan bakat kalian untuk membela yang benar. Bukan malah menjungkirbalikkan fakta!
Ingat, uang itu cuman titipan!
Jangan cuman kalian yang dititipi!
Astaga, sadar kawan!
Meskipun rasanya nikmat, uang haram tidaklah berkah.
Dasar koruptor!
Aku yakin, kalian juga setuju kalau mereka-lah yang paling sampah.
Then, how about we? Something that was worst than garbage?
I mean, siapa yang mau melaksanakan pemilu secara jurdil? Siapa yang mau berangkat ke TPU kalau tidak ada uang pelicin? Di saat paslon pilihan kalian kemudian tidak bersikap layaknya pemimpin, kenapa kalian jadi marah? Letak kesalahan mereka di mana, orang mereka saja cuman berusaha mengembalikan modal yang sudah mereka keluarkan?
You get some, they get more! Bukankah memang itu cara mainnya? Kalau sudah begini, lantas siapa yang harus disalahkan? Kamu, mereka, atau dunia?
Fine, biar kuberi tahu, siapa yang paling salah!
Kesalahanmu adalah hidup, kesalahan mereka adalah membiarkanmu hidup, dan kesalahan dunia adalah membiarkan kita semua hidup.
...That's all!...
...Stupid with this stuf!...
......................
Tanpa ku sadari, aku mulai memaki-maki lagi. Kopi instan tiba-tiba saja sudah habis. Dan aku malas beranjak. Sungguh, semangatku untuk beraktivitas benar-benar nihil. Aku tahu harus bangun karena perutku terus berbunyi. Tapi aku malah memutuskan membuka game online.
Lucu sekali!
Anyone, please let me know if I’m still sane!