
“Udah selesai, ya?” tanyaku, masuk ruang pemeriksaan.
Aku baru sadar, ternyata papan nama di meja Om Hadi sudah diganti.
“Aku sudah melakukan taping, serta melakukan semua pemeriksaan,” jawab Om Hadi, “ini bawa foto rontgen pulang! Kalau dalam dua sampai tiga pekan tidak ada kemajuan, bawa ke sini lagi!” lanjutnya, seraya menyodorkan sebuah amplop besar berwarna coklat.
Melihat Fira diam saja, aku segera meraih amplop tadi dan bergegas menghampiri gadis itu.
Dengan tatapan kosong, ia melamun sendirian, duduk di atas kasur periksa.
Kedua sepatunya tampak sudah kembali terpasang, menandakan pemeriksaan sudah selesai dilakukan.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku.
“Hey!”
Aku menepuk pundak gadis itu, karena terus saja melamun.
“H-Hm?”
Dengan raut kebingungan, Fira menoleh.
“Pemeriksaan sudah selesai, apa kamu mau menginap?” tanyaku.
“Ah, benar!” sahut Fira, “cepat gendong aku!” lanjutnya, seraya membentangkan kedua tangan.
Merasa bingung, aku menoleh ke arah Om Hadi, tetapi ia malah mengedipkan sebelah mata.
Sepertinya, dia melakukan sesuatu yang membuatnya bertingkah seperti ini.
“Cepatlah, aku harus segera istirahat dan melakukan kompres!” rengeknya.
Seluruh tubuhku merinding, kebingungan mendengar suaranya yang seperti anak kecil. Anehnya, aku sedikit menyukai itu.
Tersenyum heran, aku langsung jongkok, disambut dengan rangkulan dari belakang. Sambil meraih kedua kakinya, aku menggendongnya keluar ruangan.
“Kalau gitu, kami pamit, om!” ucapku.
“Cepet sembuh, ya!” sahut Om Hadi.
Aku hanya mengangguk, tak ingin semakin lama membuat Fira merasa tidak nyaman. Di belakangku, dia melambaikan tangan, yang segera dibalas Om Hadi.
Aku senang mereka berdua cepat akrab, tetapi di saat yang sama geli dengan tingkahnya yang seperti anak-anak. Oh iya, sebelum pulang, tak lupa aku mendatangi petugas administrasi untuk melakukan hitung-higungan.
Anehnya, si petugas malah menolak. Padahal, kelihatannya, dia adalah pegawai baru.
“Bagaimana mungkin?” pikirku.
“Pak Hadi udah kasih perintah buat nggak narik tarif ke bapak,” jelasnya.
“Si kumis!” celetukku, pergi ke ruang tunggu.
Orang-orang tampak memperhatikan kami, tetapi aku tidak begitu perduli.
“Tunggu sebentar, ya!”
Aku menempatkan Fira di salah satu bangku kosong, lalu pergi lagi menemui Om Hadi.
“Mau ke mana?” tanyanya.
“Sebentar doang, kok!” jawabku.
“Gilang!!!” teriaknya.
Seketika aku berhenti, kaget mendengarnya memanggil namaku. Kurasa itu pertama kali dia melakukannya. Entah kenapa, itu membuatku sedikit merasa kesal.
“Ada sesuatu yang ketinggalan, di ruangan Om Hadi,” jelasku.
“Oh.., ya udah, sana ambil!” sahut Fira, “cepetan, ya!” lanjutnya, ketika aku baru saja berbalik.
“Apakah kamu yakin, mau menikah dengan gadis ini, Lang?”
Sambil berjalan pergi, aku menanyai diriku sendiri. Tapi pada akhirnya, aku hanya menggeleng, menyerahkan semua urusan ini pada takdir.
“Apa om ngidam amal?! Apa gunanya kuliah lama-lama kalau ujung-ujungnya jadi relawan, atau aku kelihatan butuh dikasihani?!” omelku, sesampainya di ruangannya.
“Duduklah!” sahut Om Hadi, “kamu pikir, sudah berapa lama aku jadi keluargamu?” lanjutnya.
“Kalau gitu...”
“Kalau nggak gini emangnya kamu mau ke sini sendirian?!” putusnya, “duduklah, om mau ngomong sesuatu!”
Om Hadi melepas kacamata, sedikit membuka jendela. Dahinya mengerut, menunjuk pintu, menyuruhku menutupnya. Seketika itu, wajahnya berubah menyeramkan.
Paham kebiasaannya saat sedang serius, seketika aku mendesah. Sambil menutup pintu, aku mulai memikirkan beberapa hal yang sekiranya ada kaitannya dengan situasi ini.
Tanpa persiapan, sudah pasti aku akan dimakan habis.
“Kamu sudah yakin dengan pilihanmu?”
Menghadap sebuah catatan, ia menundukkan kepala. Di tangan kanannya, sekarang tergenggam sebuah bolpoin.
Beliau orang yang akan mengungkit hal sekecil apapun, ketika terjadi masalah besar di masa depan. Bahkan, mencatat setiap perkataan keluarga yang menurutnya harus dipertanyakan.Sebagian keluarga menganggapnya berhati besi, bahkan ada sampai menyebut penyakit ahlak. Tapi sebagian besar tahu; dia melakukan itu, karena anak tertua dalam keluarga.
“Aku sudah membicarakan dengan mama, dan papa juga tidak melarang,” jawabku.
“Kelihatannya begitu, mamamu pasti yang punya ide begini,” sahutnya, “tapi bukankah dia bukan tipemu?” lanjutnya.
“Tidak juga,” jawabku, sedikit ragu.
Om Hadi yang membenci jawaban plin-plan, langsung melotot.
Hanya dengan sekali gelengan kepala, seketika aku merasa berada dalam masalah besar.
“M-Maksudku, ada beberapa bagian yang kusukai darinya. Tak adil rasanya kalau mengabaikan itu, hanya karena masalah fundamental.”
Aku beralasan.
“Apakah itu sepadan dengan prinsipmu sendiri, sampai-sampai kamu rela membuangnya?!” bentak Om Hadi, seraya menunjuk-nunjuk mukaku. Ia kelihatan sangat kesal.
Sebenarnya, dia bukanlah tipe orang yang sensitif, apalagi berhati besi. Dia sangat sederhana dan bisa dipengaruhi hanya dengan kata-kata, asalkan mempercayai orang yang berbicara. Sebaliknya, ia tak akan mendengarkan siapa pun yang dia anggap pembual.
“Apa sekarang aku kelihatan seperti pecundang, om?” tanyaku, sinis.
“Dia keras kepala karena rasa sayangnya pada papa,” sanggahku, “aku baru menyadari itu belakangan ini,” lanjutku.
“Jadi, dengan itu dia mempengaruhimu?” Om Hadi.
“Hentikan om! Kenapa menjelek-jelekkan adik sendiri, padahal sudah kukatakan ini keputusanku, bukan paksaan semata?!”
“Sepertinya begitu, kalau tidak kalian tak akan berpelukan seperti itu.”
“B-Berpelukan, apa maksudnya, om?”
“Kamu pikir, om tidak lihat?”
“Aku yakin, tidak melihat om?”
“CCTV!”
Ia menunjuk penampang CCTV yang menunjukkan empat tempat berbeda sekaligus, dalam satu layar. Sisi kanan atas menampilkan halaman, termasuk tangga dan pintu masuk. Sisi kiri atas reservasi, ruang tunggu, administrasi, pokoknya bagian penerimaan. Sementara sisanya adalah ruang praktek dan pemeriksaan.
“Bukankah ini pelanggan privasi?” protesku.
“Privasi matamu, kamu melakukannya di tempat umum!” sahut Om Hadi, ngotot, “harus kamu ingat, aku tidak menyukai hubungan kebarat-baratan seperti itu!” tambahnya.
Seketika aku mendengus, merasa direndahkan.
“Aku juga tidak berniat membuang sisi religi dan budaya timurku,” jawabku, “bahkan, doktrin militer mengajariku tentang adab membangun rumah tangga,” lanjutku.
Om Hadi tampak menulis sesuatu dan berkata, “aku pegang kata-kata kamu! Walaupun kamu sudah melanggar prinsipmu sekali, aku pegang kata-kata ini!”
Ia mencatat lagi. Bahkan sekarang, terlihat berapi-api.
Seakan belum puas, usai mencatat ia menatapku tajam dan berkata, “kalau sampai kalian menikah atas sesuatu yang dilandasi keburukan, jangan harap melihat wajahku di acara keluargamu, seumur hidup!”
Aku hanya diam, tak mampu berkata apa-apa. Di dalam keluarga, dia adalah orang yang paling kuhormati, setelah kedua orang tuaku.
Menjadikannya musuh adalah hal yang paling ingin kuhindari di dunia. Sifatnya yang kolot, tegas, keras terhadap keluarga dan agama, serta sisi lembut yang tak pernah ingin dia tunjukkan, adalah cerminan yang selalu ingin kuikuti.
“S-Soal itu...”
Saat situasi semakin tegang, tiba-tiba saja, Lina membuka pintu. Rupanya, Fira mulai rewel.
“Dia ngeyel mau ke sini!” jelasnya.
“Baiklah aku segera ke sana!” sahutku.
“Ini!”
Tiba-tiba saja, Om Hadi memberikan resep dan sebuah catatan yang sangat sulit dibaca.
Dengan tampang ketus, ia berkata lagi, “berikan pada petugas administrasi!”
Seketika aku senyum. Seperti dugaanku, jauh dalam lubuk hatinya, ia tetap perduli kepadaku.
“Makasih, om!” ucapku, berpamitan, "oh iya, aku suka tulisan Dr. Hadi Wibowo ¹SpOT(K) yang baru dipasang, kelihatan keren," lanjutku.
"Udah sana pergi!" sahut Om Hadi, senyum.
......................
Di luar, Fira mencoba berdiri. Seorang perawat sedang mencoba menahan gadis itu, sehingga membuatku bergegas mendatanginya.
“Gilang!” panggilnya.
“Kamu pikir ini pasar?” omelku, direspon menggeleng olehnya, “kenapa teriak-teriak dan membuat keributan seperti preman?!” lanjutku, menasihati.
“Aku bete sendirian!” jawabnya.
“Aku cuman minta resep obat doang, kok!” ujarku, menunjukkan catatan Om Hadi, “tunggu bentar, aku bayar dulu, baru kita balik, jangan ribut!” lanjutku.
Fira mengangguk dengan amat manis, membuatku serasa ingin membawanya pulang dan memajang di tempat paling terang.
Sambil senyum, aku berbalik menuju ruang administrasi. Wajahku pasti terlihat sangat bodoh, sehingga membuatku tak ingin memperlihatkannya.
Aku menarik napas, menunjukkan catatan Om Hadi kepada si petugas. Dengan bantuan catatan tadi, akhirnya ia memberikan struk pembayaran. Om Hadi tahu betul sifatku yang seperti ini; membenci rasa sungkan.
Walaupun saat dibandingkan dengan struk orang lain selalu terlihat ganjil, setidaknya dia tetap meminta upah untuk peralatan yang dia gunakan.
“Seratus tiga puluh dua ribu?” gumamku, sadar kalau ia hanya meminta tarif penggunaan rontgen dan perban saja.
Ya, dia tak akan pernah memasang tarif jasa kepada keluarga sendiri.
Sebagai bentuk penghormatan, aku membayar sesuai harga yang tertera dengan uang kontan.
Tanpa beban pikiran, akhirnya aku menggendong Fira, kembali ke dalam mobil.
......................
“Tunggu bentar, ya!” seruku.
“Apa lagi, sih?” protes Fira.
“Obat!” jawabku, menunjukkan resep sebelumnya.
“Kenapa tadi nggak sekalian?” protesnya lagi.
“Om, emang nggak mau jual obat sendiri,” jawabku, “dia bilang, ‘itu kerjaan orang lain,’ makanya paman belajar jadi apoteker, terus buka toko di ssebelahnya” lanjutku, menunjuk apotek sebelah tempat praktek Om Hadi.
“Nggak lama, kan?” rengek Fira.
“Kamu kenapa jadi kayak gini, sih?” omelku.
Dengan muka cemberut, dia menyilang tangan di dalam mobil.
“Pokoknya, jangan kemana-mana!” seruku, berlari membeli obat-obat yang diresepkan, dan segera kembali.
Entah kenapa, aku merasa gadis itu akan bertindak diluar nalar, kalau kutinggalkan terlalu lama.
...----------------...
¹Sebelum meraih gelar subspesialis ahli spine, seorang dokter umum harus menyelesaikan program pendidikan dokter spesialis ortopedi guna meraih gelar Sp.OT. Setelah itu, studinya dilanjutkan lagi dengan mendalami tulang belakang untuk mendapatkan gelar Sp.OT(K).