
Tubuhku serasa lemas, rebahan bersandar kursi. Keinginan berdebat seketika luruh. Rasanya, tak ada gunanya lagi berbicara, tetapi aku masih punya kewajiban menjawab.
“Terserah sajalah,” gumamku, pasrah.
Pelototan mama tak membuatku gentar. Dengan santai, aku mulai menuangkan air putih ke dalam gelas. Aku sarapan dengan kecepatan tinggi yang membuat kerongkonganku serasa seret. Saat ini, mati tersedak jauh lebih menakutkan dari tampang seramnya.
“Kamu pasti akan ditangkap polisi!” peringatnya.
Dengan tenang, aku meminum air yang kusiapkan tadi, sebelum menjawab, “itu bagus, aku akan menyiapkan beberapa kelereng.”
“Kelereng?” sahut mama.
“Mereka temanku, jadi aku harus menyiapkan beberapa mainan untuk dimainkan bersama,” ujarku, sembari meletakkan gelas.
Mama terperangah. Bola matanya beralih pandangan sebentar, sebelum kembali menatapku. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. Sepertinya, dia lupa anaknya seorang polisi, atau mungkin itu gara-gara suara gelas yang tadi. Aku meletakkannya agak kasar, sehingga kedengaran cukup jelas.
“Kamu dengar itu?” tanyanya, menatap ke arah papa.
Papa tetap melanjutkan makan, meskipun sempat menoleh sebentar. Kelihatannya, dia tidak tertarik.
“Bahkan sekarang, dia sudah pintar berbicara!”
Mama lanjut menggerutu.
Denting suara piring beradu dengan sendok mengagetkan seisi ruangan. Papa yang semula makan dengan tenang tiba-tiba melotot. Sambil menatap mama, ia mengusap bibirnya dengan tisu.
Di depannya, di atas piring yang sekarang hampir kosong, sendok itu masih bergetar. Dia kelihatan sangat marah.
“Hentikan Anita!”
Papa yang biasanya jarang memanggil mama dengan namanya tiba-tiba saja meneriaki.
“Kamu memerintahku?!” mama balas membentak, jauh lebih garang.
“M-Maksudku, Gilang sudah besar.”
Papa yang notabene-nya anggota tetap suami takut istri seketika loyo. Nada suara yang tadinya melengking bak penyanyi opera, langsung turun puluhan oktaf.
“Terus kenapa?!” sambar mama, tambah menyalak, “hanya karena sudah besar, terus kamu bebas meneriakiku, gitu?” lanjutnya.
Situasi seketika berubah menjadi tegang. Air mata mulai menetes di pipi mama yang membuat kami semua terkejut. Rupanya, nasi goreng itu bukanlah pertanda kuliah pagi, melainkan perang dunia.
“B-Bukan begitu...”
“Aku mengorbankan nyawa demi melahirkannya, kehilangan rahim, dan sekarang dada kiriku juga diambil!” putus mama, “dia satu-satunya anak yang bisa kulahirkan! Apa salahnya menginginkan yang terbaik untuknya?” tambahnya.
Papa terdiam, seketika berhenti mendebat. Sementara, aku menundukkan kepala. Aku benar-benar merasa bersalah, sempat meminta bantuan. Jika tahu keadaan akan jadi seperti ini, aku pasti tak akan mengeluarkan jurus busuk itu.
“Yang terbaik menurut kita belum tentu benar untuk Gilang,” ujar papa, mencoba memberanikan diri berargumen.
Seketika aku menoleh, berencana menghentikan perdebatan ini.
Tapi saat hendak memintanya berhenti membela, tiba-tiba saja mama menyambar duluan, “begitukah?”
Beliau beralih menatapku, bertanya dengan nada emosi, “apa sekarang kamu juga punya kebenaran sendiri?”
Seketika aku kembali menunduk.
Hal-hal rumit sekarang menggumpal di benakku. Aku hanya berencana melarikan diri dengan mencoba sedikit humoris, tetapi keadaan malah menjadi sangat tragis.
“Tidakkah kamu sadar, selama ini Gilang menderita?!”
Tiba-tiba, ayah meninggikan nada suaranya lagi.
“Menderita?” mama.
“Saat SMA, dia selalu pulang dengan babak belur!” ingat papa, “dia bahkan mengalami perundungan, sampai harus pindah sekolah. Semua ini karena kita lengah dan menganggap; sekolah yang punya reputasi bagus pasti punya lingkungan bagus,” imbuhnya.
Mama menatapku, seperti ingin mengucapkan sesuatu. Tapi saat aku membalas tatapan itu, tiba-tiba saja air matanya mengalir. Suara sesenggukan tangis mulai terdengar yang membuatku merasa sedih.
“Tidakkah memaksanya menikah juga demikian?” tanya papa lagi, mencoba menenangkan beliau, “jangan menggunakan penyakit sebagai alasan untuk membuat anakmu menderita. Jangan jatuh ke lubang yang sama lagi, ma!” lanjutnya.
Papa mulai mengusap punggung mama. Biasanya, itu akan segera berhasil meredam amarahnya, tetapi tidak dengan hari itu.
“Ini salahku?” tanya mama, dengan suara gemetar, “semua ini salahku?” ulangnya, bergiliran menatap kami.
“Bukan itu mak-“
“Terus apa maksudmu?!” putus mama.
Mama menggeleng. Dia tiba-tiba saja berdiri, tapi tangan papa dengan cepat meraihnya.
“Berhenti melakukan yang aneh-aneh dan memikirkannya secara berlebihan!” ujar papa.
“Kalau apa yang kulakukan aneh, lantas apa yang menurutmu tidak?” tanya mama.
Sejenak papa termenung, lalu menjawab, "entahlah, aku terlalu tua untuk memikirkan itu."
Seketika mama melotot. Dahinya mengernyit. Bahkan, tangannya sudah mengepal. Tidak mengejutkan kalau akhirnya wajah papa terkena gamparan, tetapi untungnya semua itu urung terjadi.
“Hiduplah dengan sehat, dan tetap berada di sampingku untuk waktu yang lama," pinta papa, "pelan-pelan, kita temukan jawaban yang terbaik bersama-sama!”
Papa, mengusap tangan mama dengan lembut, sehingga beliau tenang dan mau duduk kembali. Keduanya terlihat masih belum sependapat.
“Aku, aku, selama ini, melakukan semua yang terbaik untukmu, dan anak kita!”
“Aku tahu, selama ini, kamu merasa bersalah dan berusaha bertanggung jawab, tetapi Gilang bukanlah jawabannya,” sahut papa, “aku memang belum bisa memberikan jawaban yang lebih baik, tetapi suatu saat pasti akan ada jalan keluar lain!” lanjutnya.
Ini bukanlah kali pertamaku melihat mereka seperti ini. Beberapa kali, aku berhasil meleraikan, tetapi kali ini rasanya sangat berbeda, sehingga aku masih diam. Entah mengapa, aku merasa harus membiarkan mereka demikian.
“Cukup temani aku mengawasinya sampai saat itu tiba. Gilang masih butuh bimbinganmu, ma!" ujar papa, lagi, "berhenti mengatakan seolah-olah hal buruk akan terjadi! Seperti yang kulakukan hari ini, kamu juga harus melakukan ini, ketika aku salah melangkah,” tambahnya.
Seketika mama terdiam, disusul suara tangisan yang memenuhi ruangan. Itu terdengar sangat menyayat hati sampai-sampai menular kepadaku. Bahkan tanpa kusadari, pipiku sudah basah.
“Maafkan mama, pa!” ucap mama.
Aku memberikan tisu, walaupun diriku sendiri juga ingin menangis. Aku harus menahan diri. Kalau tidak, seluruh lantai mungkin akan digenangi air mata, karena tangis satu keluarga.
Baru kusadari; betapa hebatnya rasa sayang orang tua. Betapa besar pengorbanan mereka, dan seberapa kecil rasa syukurku selama ini. Yang kulakukan hanyalah mengeluh dan mengeluh, tanpa memberi timbal balik apa pun.
“Aku akan melakukannya!” ucapku.
“Hah?!”
Mereka spontan menatapku.
“Aku, akan menerima perjodohan itu!”
Aku mengulang pernyataan tadi dengan lebih jelas.
“Jangan main-main!”
Sambil menggebrak meja, mama tiba-tiba saja berdiri. Dia kelihatan sangat marah dan terkejut. Bahkan, beliau nyaris ambruk dibuatku. Untung saja, papa dengan sigap berdiri menahan bahunya.
Kurasa, aku tidak seharusnya menyatakan ini.
Aku sempat menyesali itu, tetapi keputusanku sudah bulat.
“Hentikan, Lang!” seru papa.
“Sekalipun kamu berkata demikian, semua sudah terlambat,” ujar mama, “kamu menolak semua kenalan kami, dan kemarin adalah kesempatan terakhir!” lanjutnya.
Keduanya menunjukkan raut wajah menyeramkan yang membuatku seketika sadar, kenapa mama begitu marah. Tapi di saat yang sama, itu membuatku bingung.
Sambil menggelengkan kepala, aku bertanya, "apakah yang kemarin menolak juga?”
Seketika, mama menatapku dengan ekspresi mengerikan.
“Kamu, mengatakan hal buruk kepada anak orang, dan sekarang melecehkan gadis!” bentak mama, “kamu pikir hidup ini main-main?” tambahnya.
“Melecehkan?” tanyaku, bingung.
“Kamu menggen-“
Saat hendak menjawab, telepon tiba-tiba berdering.
Mama seketika memberi isyarat untuk menunggu. Melihat raut wajahnya, dia sepertinya sangat ingin menamparku.
Sambil mengusap air mata di pipinya, beliau mengangkat panggilan itu dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Sepertinya, panggilan itu benar-benar menyelamatkanku.
“Kenapa kamu malah mengatakan ini?” protes papa.
“Aku sungguh-sungguh,” jawabku.
Kami terus berdebat, karena papa merasa; apa yang dia lakukan jadi sia-sia. Sampai sekitar sepuluh menit kemudian, mama selesai mengobrol.
“Kemarin kamu bilang, mau ke rumah Fira lagi?” tanyanya.
Mama kembali duduk. Wajah seramnya kini berganti ekspresi penasaran.
“Mm, aku janji mengantar dia ke klinik Om Hadi,” jawabku.
“Kenapa?” mama.
“Bukannya aku sudah bilang, kalau kakinya terluka?”
“Jadi, apa yang kamu bilang itu beneran?”
Seketika aku mendesah. Rasanya begitu mengejutkan mendengar pertanyaan itu.
“Mama nggak mikir, ada alasannya?”
Aku balik bertanya.
“Selama ini, kamu selalu ngomong kasar ke semua kenalan kita, jadi mama pikir...”
“Gitu ya, kalian nggak percaya sama anak sendiri?” putusku.
Keduanya saling tatap dengan wajah kebingungan. Sepertinya, mereka satu frekuensi. Papa mulai bertanya soal isi percakapan mama di telepon tadi, dan mama menjawab dengan raut kebingungan.
Dari percakapan mereka, bisa disimpulkan kalau kesalahpahaman sudah teratasi. Malahan, mamanya Fira menagih janji dan menanyakan, “kapan aku akan datang ke rumahnya.”
“Kami pikir, kamu sengaja melakukan pelecehan biar...”
“Pelecehan?!” putusku, “menurut kalian, aku mau menghancurkan karirku sendiri, cuman demi menghindari perjodohan?” tambahku.
Aku menggeleng. Ini benar-benar menjengkelkan. Dengan wajah tak bersalah, keduanya menganggukkan kepala begitu kompak.