
Sambil mengusap wajah, aku menoleh ke arah Fira yang seketika memalingkan muka.
“A-Aku langsung jalan, ya!” pamitku, salah tingkah.
“Kenapa buru-buru?” sahut Fira.
“Ada urusan penting di markas,” jawabku.
Itu bukan sepenuhnya bohong. Tadi pagi, Roni mengabari perihal video yang harus dianalisis.
“Makan siang dulu, gih, baru balik!” Fira.
“Kapan-kapan aja, deh!”
“Khawatir nggak enak, ya?”
“Beneran ada urusan, kalau luang kapan-kapan aku mampir lagi, kok!”
“Janji?”
“Iya,” anggukku.
“Kalau gitu, sini HP kamu!”
Fira mengulurkan tangan, memintaku menyerahkan ponsel. Mengetahui sifatnya, aku langsung saja memberikannya, setelah terlebih dahulu membuka pola.
Terlihat menuliskan sesuatu, Fira kemudian menyerahkan kembali ponsel itu.
“Itu nomer aku, simpan, ya!” serunya, dengan suara yang manis.
Sambil memberi nama dan menyimpannya di dalam kontak aku senyum-senyum sendiri. Seketika, aku langsung mengusap kening, memeriksa apakah jidatku mulai panas.
Sepertinya, aku benar-benar sakit. Kalau tidak, kenapa aku bisa girang begini, hanya karena mendapatkan nomor?
“Em, cepet sembuh, sama jangan banyak gerak!” seruku, “lihat tuh, di dalam amplop! Tulang kamu itu kecil, nahan berat kamu aja susah. Nggak usah pakai sepatu kayak kemarin lagi!” imbuhku.
“Emangnya kenapa, aku suka, kok!” protes Fira.
Sadar bukan siapa-siapa, aku mendesah. Mau bagaimanapun, aku tak bisa mengatur-atur kehidupannya.
“Ya sudah, yang penting jangan ceroboh,” ingatku, “emangnya kamu nggak kepengen jalan-jalan?” lanjutku.
“Kamu mau ngajakin emangnya?” tanyanya.
"Kenapa enggak?" balasku.
"Ngajak kemana?"
Ia bertanya lagi.
“Kemana pun dan kapan pun,” jawabku.
Melihat gadis itu memperhatikan dengan begitu serius, aku langsung berkata lagi, “k-kalau kamu mau, tentunya. Karena itu, jaga baik-baik kaki kamu biar bisa pergi ke banyak tempat.”
Fira terlihat senyum, dan aku mulai melangkah menjauh sembari melambaikan tangan.
“Jangan lupa kirim WA, kalau udah sampai rumah!” serunya.
Dengan dibantu Mbak Nur, Fira berdiri. Ia balas melambaikan tangan dengan senyuman yang begitu manis.
“Kamu duduk aja!” seruku.
“Sebentar doang, kok!” jawab Fira, “kamu hati-hati, ya!” lanjutnya.
“Cepetan sembuh!” anggukku, “aku balik dulu!” lanjutku, berpamitan.
Entah kenapa, rasanya begitu sulit meninggalkannya. Bahkan, kedua kakiku terasa berat. Sambil senyum, lagi-lagi aku melambaikan tangan
“Hati-hati!” Fira.
“Nggak usah berdiri!”
“Entar duduk lagi, kok.”
“Aku balik, ya!”
“Apaan, sih? Udah sana pulang!” omelnya.
Sambil senyum, aku berbalik menuruni tangga.
Tanpa sengaja, aku malah melihat mama Fira berlari. Bahkan sesampainya di bawah, aku masih melihatnya mengintip dari dapur, tepatnya sebelah kulkas. Ia terlihat cengar-cengir, sehingga membuatku merasa sangat malu.
Bagai atlet halang rintang, aku bergegas lari tunggang langgang. Secepat kilat, aku membuka pintu gerbang dan menyalakan mobil, kabur seperti baru saja melihat setan. Itu benar-benar sangat mengerikan. Bahkan kurasa, akan mengingat ini seumur hidup.
Rasanya benar-benar ingin mati saja, pikirku.
......................
Aku benar-benar tak ingin menghadapi kenyataan. Sialnya, mama terus-terusan memberondongku dengan pertanyaan, meskipun pintu sudah kukunci. Kejadian itu benar-benar membuatku kepikiran. Sampai-sampai, aku terpaksa mengambil makan siang secara diam-diam, hanya karena tidak ingin menemui mama.
Merasa tidak ada jalan lain, aku segera pergi ke kantor papa dengan membawa mobilnya, dan meminta bertukar mobil. Kembali ke markas adalah satu-satunya jalan keluar yang bisa kupikirkan, supaya bisa kembali tenang.
......................
Di dalam mobil, aku menyalakan tape, memutar lagu rock lama sekeras-kerasnya. Meskipun teringat hal itu membuatku merasa ingin menjerit, bernyanyi sepuas hati membuat sebagian pikiran buruk terasa lebih ringan. Dalam hati, aku benar-benar ingin hilang ingatan, seperti lagu yang saat ini kuputar.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Aku memutuskan langsung ke rumah dinas, karena merasa tidak enak, kalau masuk sekarang. Takutnya, orang-orang mungkin akan menganggapku cari muka, atau bahkan numpang absen. Di perjalanan, kebetulan aku bertemu Pak Edi, alias pak penjaga markas, sehingga membuatku kepikiran menitipkan pesan.
Terlihat kebingungan melihat keberadaanku, dia pun bertanya “lho, kok udah pulang, mas?”
“Saya cuti, pak!” jawabku, “harusnya baru balik besok, tapi karena ada panggilan, makanya buru-buru datang,” imbuhku.
Terlihat membawa sebuah jam tangan, ia mengatakan, "oh, ini, mau dipendekin, mas!"
"Oh!" anggukku.
Kurasa dia mengira aku merasa penasaran, padahal cuman sekedar ingin menitipkan pesan.
“Kenapa nggak ke markas aja?” tanya Pak Edi.
“Tanggung, bentar lagi pada balik,” jawabku, “mending istirahat, orang bukan panggilan dari atasan, kok,” tambahku.
Mendengar penjelasanku, Pak Edi mengangguk.
“Kalau ada yang nyari, bilang aja belum balik, ya pak!” seruku, langsung menyatakan maksud.
“Kalau yang nyari atasan, gimana?” tanya Pak Edi.
“Kalau atasan, ya jangan!” jawabku, “entar kalau nanya lagi mobilnya, kok udah diparkiran? Bilang aja, 'mobilnya doang. Orangnya belum ada,' gitu aja, ya pak!” lanjutku.
“Siap!”
Pak Edi memberi hormat, membuatku seketika tertawa.
......................
Di dalam rumah dinas, aku membaringkan tubuh. Pikiran buruk masih saja menghantui yang membuatku tak bisa istirahat.
Merasa frustrasi, aku memutuskan mengambil tas di dalam mobil dan mengeluarkan laptop. Menggunakan kabel data, aku memindahkan berkas video yang sebelumnya dikirimkan, bermaksud menganalisisnya langsung.
Kebetulan, aku juga teringat janji untuk mengabari, sehingga sekalian mengirimkan pesan kepada Fira.
“Aku udah sampai!” tulisku, lanjut memeriksa berkas.
Beruntung, video sudah tersedia sehingga aku tidak perlu melakukan proses berbelit yang membosankan.
Ketika akan menganalisis bukti, tentunya bukti tersebut harus tersedia terlebih dulu. Jika bukti itu sudah dihapus atau tidak lengkap, perlu dilakukan pemulihan terlebih dahulu sehingga bukti yang ada menjadi lebih lengkap. Proses itu terkadang memakan waktu jauh lebih lama, ketimbang analisis itu sendiri.
Hal pertama yang harus dipastikan sebelum analisis ¹metadata adalah kepemilikan video. Yang terburuk saat menerima berkas adalah, bukti itu sengaja diberikan untuk mengecoh penyelidikan. Tapi karena diberikan Roni, dan orang yang bersangkutan diperintahkan secara langsung oleh pimpinan, maka proses ini bisa dikatakan sudah dilewati.
Poin penting yang harus diperiksa tinggal mengidentifikasi siapa dan apa maksud di dalam bukti itu. Lagi-lagi, siapa di sini tidak dijelaskan, maka fokusku hanyalah poin kedua. Kelihatannya, ini akan menjadi tugas mudah.
Melalui media info, data tentang asal mulai video biasanya bisa segera terdeteksi, apalagi jika itu merupakan video asli. Mulai dari format, device yang digunakan, hingga tanggal pengambilan gambar. Pokok dari pekerjaan ini ialah; mengetahui asal-usul video yang merupakan salah satu hal terpenting.
“Sepertinya sudah ada banyak proses editan.”
Sambil mendesah, aku memperhatikan hasil media info yang ternyata tidak sesuai harapan. Terpaksa, aku harus memutar dulu rekaman video sekali lagi.
Aku mendesah, sejenak diam menatap layar monitor. Rupanya memang ada penambahan efek dan pemotongan durasi yang tampak cukup jelas. Itu artinya, aku harus memecahnya menjadi sejumlah frame dan menganalisis satu demi satu.
“Baiklah, ini mulai menyebalkan!” gumamku.
Sebelum melanjutkan analisis metadata, terlebih dahulu aku meningkatkan kualitas video. Sering kali, detail-detail penting terhalang kualitas video yang terlalu buruk, sehingga menghambat proses penyelidikan. Pada intinya, semakin bagus kualitas video, maka akan semakin mudah untuk dianalisis.
Baru setelah itu, aku mulai menyusun serangkaian prosedur analisis.
“Aku butuh kopi!” gumamku, tiba-tiba saja merasa haus.
Seketika aku beranjak, pergi ke dapur untuk membuatnya. Tak terasa, aroma nikmat dan pekerjaan seketika mengalihkan pikiranku.
Dalam keadaan fokus, akhirnya aku berhasil menyelesaikan proses identifikasi lebih cepat dari perkiraan awal.
“Tidak sesulit dugaan,” gumamku, puas dengan hasil pekerjaan itu.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba saja, suara pintu diketuk terdengar.
"Siapa yang bertamu?" pikirku, seraya menatap jam di ponsel yang sudah menunjukkan waktu setengah enam sore.
...----------------...
*¹**A**dalah informasi yang terstruktur, yang menggambarkan, menjelaskan, menempatkan, atau membuat lebih mudah untuk mengambil, menggunakan, atau mengelola sebuah sumber informasi. Metadata sering disebut data tentang data atau informasi tentang informasi*.