Kotak Merah

Kotak Merah
Box 27 : The Worst Drama Ever


Usai melempar senyumnya yang menjengkelkan, Gilang meraih laptop dan meletakkannya ke atas meja. Sambil mengajukan beberapa pertanyaan kepada Si Gendut, tangannya mulai sibuk mengetik. Oh, its my fault. Aku lupa bilang, pria bertubuh tinggi itu adalah Gilang yang tiba-tiba saja menjadi wartawan dadakan.


Dari percakapan mereka, diketahui layar monitor milik Si Gendut pecah tanpa sebab yang jelas. Karena ribet, kita sebut saja Si Gendut itu Bane. Bentukannya persis seperti itu, dan bau kakinya seperti ikan asin. Terlebih, dia terus menunjukkan skill semburan mautnya. Apalagi ketika marah-marah.


Anyways, sebenarnya pernyataan itu mengarah pada asumsinya yang tidak berlandaskan bukti. Tapi karena ini bukan ruang sidang, melakukan interupsi hanya akan membuatku terlihat menyedihkan.


Versiku pasti hanya akan dianggap naskah pembelaan tidak lolos sensor, karena rekam jejakku yang kelam. Sementara Bane jauh di atas angin, bila menitikberatkan latar belakang.


“Jadi, kapan monitor itu rusak?” tanya Gilang.


“Kamis pagi, saya melihatnya rusak, jadi saya segera pergi ke kantor polisi,” jawab Bane.


“Berarti, hari Rabu-nya masih beres?” Gilang.


Bane pun, mengangguk membuatku semakin frustasi. Gilang tidak pernah meminta pendapatku sebagai pihak tertuduh. Itu artinya, mereka sudah berada di tahap pengumpulan bukti.


Karena tak lagi fokus, semua pembicaraan tidak lagi kuperhatikan. Bahkan, fakta penting itu pun, luput dari perhitunganku. Sampai akhirnya, pernyataan Gilang menyadarkanku.


“Kalau begitu, dia bukanlah pelakunya!” ujarnya, sembari menoleh kepadaku.


“Kenapa begitu, kalian sendiri yang mengatakan ini?” protes Bane.


“Hari Kamis, berarti baru tiga hari lalu, sementara dia tidak meninggalkan rumah sejak beberapa minggu terakhir,” jelas Gilang.


How could i didn't notice?


“Itu benar, aku sedang mengurus masalah Redbox!” seruku.


“Duduklah!” tegur Gilang, “kita sedang dalam pemeriksaan sekarang,” lanjutnya.


Tanpa sadar, aku tiba-tiba saja sudah berdiri.


“S-Sorry!” ucapku, sambil celingukan.


Aku bergegas kembali duduk, seraya menatap Bane dengan senyuman sinis. Angin kemenangan seolah berembus kencang, mengangkat tubuhku dari jurang terdalam.


Pernyataan itu jelas membuatku diuntungkan. Terlebih, dua orang polisi adalah saksi hidupnya. Tapi yang mengejutkan, orang yang membukakan jalan ini adalah Gilang. Padahal kemarin malam, kami sempat bertengkar hebat.


“Dia berada dalam pengawasan sejak minggu lalu, dan ditugaskan membantu penyelidikan,” jelasnya, “jadi tidak mungkin dia melakukannya,” tambahnya.


Aku merasa semakin di atas angin, sampai ketika Bane menunjuk seorang petugas yang terlihat familiar.


“Dia yang mengatakan, pelakunya sudah pasti orang bernama Dimas, lalu memberikan alamat lengkapnya,” sanggah Bane.


"Dia?"


Gilang ikut menunjuknya, lalu melambaikan tangan memanggilnya.


“Kenapa Lang?”


Pria yang ditunjuk pun, berjalan mendekat dengan wajah kebingungan.


“Jelasin Ron!” Gilang.


“Lah, kan dia emang sempet buka Redbox lewat warnet,” jawabnya, santai. Membuatku merasa ingin menjungkirbalikkan meja.


Rupanya Roni adalah polisi yang ditunjuk Bane.


......................


Napas panjang berembus dari hidung Gilang. Suaranya menyiratkan adanya sebuah intrik. Melihat kecenderungan mengarah pada kesalahpahaman, perasaanku pun, berangsur kembali lega.


“Yang rusak itu monitor, sementara dia hanya membuka situs Redbox!” jelas Gilang, lalu beralih menoleh ke arah Bane, "kalau eror, kemungkinan itu memang kesalahan kami, karena situs itu dipenuhi virus. Tapi kalau monitor, saya yakin bukan dia,” lanjutnya.


“Lah, yang rusak itu monitor?” bingung Roni.


Dia segera menatap Bane, dan Si Gendut pun, mengangguk. Mempertegas adanya kesalahpahaman.


“Makanya lain kali tanyain dulu, rusaknya apa, terus suruh bawa barang buktinya,” omel Gilang.


"Ya mana kutahu!" sahut Roni.


Bane memasang wajah marah, menatap semua orang dengan tatapan kecewa. Setelah dijelaskan, ia pun, menerima kesalahpahaman yang terjadi. Ia juga mau berbesar hati meminta maaf, serta mengaku bersalah, telah mengumbar ulti sembarangan. Dia berjanji, akan meminta maaf secara langsung kepada keluargaku. Sehingga masalah ini pun, tidak perlu diperpanjang lagi.


Satu-satunya yang mengganjal di pikiran adalah, kenapa Gilang membantuku?


Apakah itu berarti dugaanku salah?


Kalau memang dia pelakunya dan berniat mengkambinghitamkanku, maka keringat yang ia teteskan hari ini sudah pasti sia-sia.


Untuk apa membela, kalau ingin melihatku menderita? Ataukah mungkin, ini hanyalah permainan psikis? Membuat terbang setinggi-tingginya, lalu menjatuhkannya dari tempat terbaik?


Sebenarnya, tidak perduli adalah pilihan yang paling berkelas. Tapi rasa penasaran menghasutku bertindak tak sewajarnya. Bukannya segera pulang, aku malah menunggu di luar kantor.


......................


Lama menunggu, akhirnya aku melihat Roni. Dia hendak pergi menggunakan motor, sehingga kuputuskan mencegatnya. Selain bisa nebeng sampai kos, dia juga kandidat yang sempurna guna dijadikan informan. Perihal alasan Gilang.


“Tunggu sebentar!” seruku, melambaikan tangan.


Sambil memakai helm, Roni melirik. Tidak membalas sapaanku.


“Kenapa dia membantuku?”


Aku lanjut bertanya.


Dia kelihatan berpikir sebentar, lalu menjawab dengan ketus, “mana kutahu!”


“Kenapa kamu bilang kalau aku yang ngerusak?” tanyaku lagi.


“Lah, tadi kan udah dijelasin, gue ngiranya komputer dia eror," jawabnya.


Wajah Roni kelihatan jengkel, sehingga membuatku semakin penasaran.


“Apakah dia masih mengerjakan kasus kemarin?” tanyaku lagi.


“Tanya aja sendiri!” Roni.


“Dia minta duit, nyiksa ini itu, sekarang ngebantu! Kalau ngerasa bersalah, harusnya sejak awal...”


“Elu yang harusnya ngerasa bersalah, bukan Gilang!” putus Roni, tiba-tiba menarik bajuku.


“Hah?!”


How crazy!


Aku tidak pernah melakukan kontak sosial, mana mungkin punya salah. Walaupun tidak punya kontribusi, setidaknya aku bukanlah parasit. Itu adalah semboyan utama yang tidak akan pernah ku langgar. Sebaliknya dia memukul, serta meminta sejumlah uang kepada keluargaku.


“Lihat mukaku!” seruku, menunjukkan perbuatan Gilang.


Akan tetapi, Roni hanya membuang muka.


Begitu acuhnya dia menjawab, “lu emang pantes dapetin itu!”


“Pantes? Emangnya salah apa?” tanyaku.


Dia melotot, meremas kerah bajuku.


“Hebat, bahkan kesalahan sendiri pun, lu lupa ya?!” ujarnya, “bisa-bisanya, lu nyuruh orang lain minta maaf, padahal lu sendiri nggak pernah lakuin itu!” imbuhnya.


“Lah, ngapain minta maaf, salah aja enggak?” jawabku.


“Gitu ya? Menganiaya orang itu nggak termasuk, ya?”


Roni mendorongku. Tangannya saling beradu, seperti seorang petinju yang sedang melakukan peregangan. Tampaknya dia hendak melakukan sesuatu, tetapi untungnya, Gilang datang di saat yang tepat.


“Cepetan pergi sana, ngapain diem di situ?!” tegurnya.


Begitu melihat kedatangan Gilang, Roni langsung melepaskan tangannya, lalu pergi menaiki motor. Sambil menyalakan mesin, dia segera memundurkan motornya dan mengusirku layaknya hama pengganggu.


"Minggir!” serunya.


Bising suara knalpotnya yang lantang menggelegar. Kurasa, dia sengaja membuatku merasa terganggu dan itu sedikit berhasil. Aku hanya menggeleng, tak mengerti. Kutatap muka Gilang juga keheranan. Walaupun tepat di depanku, entah mengapa aku merasa canggung untuk bertanya kepadanya.


Sesuatu yang dikatakan Roni membuatku mengingat beberapa hal yang terasa tidak nyaman. Tapi kalau benar, itu pasti akan menjadi drama terburuk yang pernah ada.


Sekarang ini, ada tiga kemungkinan masa yang menggelayut di benakku. Pertama ialah, masalah baru-baru ini. Redbox, serta pertemuan dengan Gilang dan Roni. Kedua, masa kuliah dan kerja. Dan ketiga, masa yang sedikit lebih jauh.


Ketiga masa itu adalah waktu di mana banyak sosialisasi terjadi. Pernyataan "menganiaya" Roni membuatku bingung menentukan, ke mana sebenarnya rujukan ini mengarah. Diam membatu rupanya membuat Gilang jadi memperhatikan terus. Merasa canggung, aku pun segera melenyapkan diri dari kantor polisi.