Kotak Merah

Kotak Merah
Bullet 14 : Sneakers


“Wajahmu kelihatannya mengatakan seperti itu?”


Mama Fira menambahkan.


“S-Saya...”


“Mama ngomongin apa, sih?” putus Fira, “aku itu emang selalu cantik, nggak usah berlebihan, deh!” lanjutnya.


Seketika aku menoleh, heran mendengar pernyataan gadis itu. Di sebelahku, mama Fira juga menunjukkan ekspresi yang sama. Bahkan, ia terlihat geleng-geleng kepala.


“Maafin anak tante, ya!” ucapnya, “dia itu emang rada-rada,” tambahnya.


Aku hanya cengar-cengir, sembari memperhatikan gadis itu, dan mengangguk.


Memasang muka cemberut, Fira jalan menuruni tangga dengan tertatih-tatih.


“Permisi tante,” ucapku, lari menaiki tangga.


Sesampainya di tempat Fira, aku segera mengulurkan tangan, dan membantunya turun. Entah mengapa, ia terlihat sangat berbeda yang membuatku menghindari tatapan matanya. Sama sepertiku, Fira juga mengalihkan pandangan, sehingga membuat keadaan terasa canggung.


“Enam koma satu!” seru Fira, seraya mengusap rambut di sekitar telinga kirinya.


“Hah?”


Aku seketika menoleh, tetapi tak bisa menatap matanya terlalu lama.


“Itu nilai penampilanmu hari ini!” jelasnya.


“Oh, siap juri kepala!” jawabku, sembari mendengus.


“Juri kepala?” Fira.


“H-Heran aja sama penilaian kamu,” jawabku.


Fira manggut-manggut. Bibirnya kelihatan manyun. Sepertinya dia merasa kesal, tetapi itu justru membuatku sedikit lega. Aku jadi tak perlu lagi menyinggung soal mama yang juga punya hobi serupa, karena tak membahas lagi.


Sambil menatap jam di dalam ponsel, aku berkata lagi, “yuk, berangkat! Udah hampir jam sepuluh, nih!”


Sambil meraih tanganku, Fira mengangguk.


......................


Sesampainya di bawah, gadis itu memintaku mendekati mamanya, lalu melepaskan pegangan tangan.


“Tunggu sebentar, ya!”


Tiba-tiba saja, ia memeluk mamanya.


Mereka berpamitan seolah pergi sangat jauh, membuatku hanya tertegun. Setelah itu, Fira mengambil sepatu hak sedang berwarna putih dari dalam rak, tanpa sepengetahuanku.


Pilihannya yang buruk membuatku segera menarik tangannya dan berkata, "kamu mau, nggak bisa pakai sepatu lagi, ya?”


“Kenapa?”


Fira balik bertanya.


“Kamu lupa, kenapa kaki kamu jadi kayak gitu?!” omelku.


“Yang ini beda, kok!” Fira.


“Terserah, kalau pengen mata kaki kamu bengkak sebesar bola kasti!”


“B-Bola kasti?”


Aku melirik salah satu koleksi sepatunya dan menjawab, “kalau udah gitu, kamu nggak bakalan bisa pakai itu!”


Fira terdiam, menelan ludah, seraya menatap koleksi sepatu boot-nya. Wajahnya mulai kelihatan panik. Melihat sendal lantai di dekat tangga, aku bergegas mengambil itu dan menghampirinya lagi.


“Pakai ini saja!” ujarku, meletakkan itu di depannya.


“Orang gemblung!” omelnya, seketika menendang sendal tadi.


“G-Gem...”


Seketika aku mendesah, berusaha menahan amarah.


Sementara, mama Fira tertawa melihat ekspresiku. Ia segera menghampiri dan mengambil sebuah sneakers berbahan ¹kanvas. Dari sekian banyaknya sepatu, kelihatannya itu yang paling sederhana.


“Ini aja, gimana?” tanyanya.


Fira menoleh ke arahku, seolah meminta pendapat.


Melihat bahan yang terlihat lembut dan tinggi sepatu yang tak mencapai mata kaki, aku tak bisa protes lagi.


“Kelihatannya bagus,” ujarku.


“Mbak Nur!”


Tiba-tiba, Fira berteriak.


“Iya, neng!”


Wanita paruh baya yang tadi membuka pintu gerbang segera menghampiri. Rupanya, mereka biasa memanggilnya Nur.


“Tolong ambilin kaus kaki, dong!” pinta Fira, “kaki Fira sakit naik turun terus!” imbuhnya.


“Baik, neng!” jawabnya.


“Yang pendek aja, mbak!”


“Iya!”


Gadis itu melirik sinis, mengambil sepatu tadi.


“Masak pakai terusan bawahnya sneakers?!”


Sepertinya, Fira masih belum sepenuhnya puas.


Ia berdiri di depan kaca, mencocokkan pakaian dan sepatu yang dipilihkan sang mama. Tak lama, Mbak Nur, si wanita paruh baya datang membawa kaus kaki berwarna putih, dan menyodorkannya.


“Makasih, mbak!” ucap Fira, seraya menyeretku keluar.


Merasa tidak sopan, aku kembali masuk, hendak berpamitan. Tapi karena melihat Fira sibuk memakai kaus kaki, aku bergegas mendatangi mobil, dan membuka pintu penumpang. Tujuannya, supaya ia bisa segera masuk.


Fira masih saja kesulitan memakai sepatu, sehingga membuatku mendekat. Tapi saat sampai, ternyata dia sudah berhasil memakainya duluan.


“Sepertinya, kamu bisa sendiri, ya?” gumamku.


Gadis itu menjulurkan lidah yang membuatku segera mendekat. Sambil menatapnya, aku menundukkan kepala, jongkok di hadapannya.


Ia terlihat ingin menyampaikan sesuatu, tetapi aku dengan cepat menangkap, serta mengikat tali sepatunya.


“Seperti pernah melihat adegan ini, tetapi di mana ya?” gumamku.


Fira, seketika menarik mundur kaki kirinya, dan menjawab, “hah, apa?!”


“Sepertinya, kamu tahu sesuatu?” ujarku, “bagaimana, apa sudah mirip pemeran utamanya?” lanjutku.


Fira memicingkan bibir. Dengan muka cemberut, ia menjawab dengan sinis, “iya, mirip banget!”


Seketika aku tersenyum. Dia benar-benar gadis yang sangat lucu.


Merasa tidak tega, aku segera mengulurkan tangan. Fira kesulitan berdiri, bahkan beberapa kali berganti posisi. Ia hanya bengong, sekali lagi mencoba berdiri sendiri, tetapi lagi-lagi gagal.


“Kakimu pasti sedang sakit-sakitnya!”


Aku mengendikkan kedua tangan, menawarkan bantuan sekali lagi.


Meski awalnya ragu, akhirnya Fira meraihnya.


“Aku akan menariknya dengan cepat, supaya rasa sakitnya tidak terlalu lama!” jelasku, “tahan, ya!” lanjutku.


“T-Tunggu sebentar jangan ta-“


Sambil menjerit, Fira menutup matanya rapat-rapat, sementara aku berdiri menariknya.


“Waaa!!!”


“Sampai kapan kamu akan terus teriak?!” tegurku.


Fira menatap sekeliling, kebingungan. Padahal cuman keseleo, tetapi tingkahnya sudah seperti mengalami patah tulang.


“Kamu jarang olahraga, ya?” tanyaku lagi.


Sadar sudah berhasil berdiri, ia menjawab dengan judes, “emangnya kenapa?”


Aku hanya mendesah dan berkata, “yuk, jalan beberapa langkah lagi, atau perlu kugendong?”


Aku bersiap jongkok, tetapi Fira malah menjambak rambutku.


"Adu, du, duh!" teriakku, kesakitan.


“Nggak perlu!”


Fira menepuk punggungku dan mencoba jalan sendiri. Terlihat sangat kesakitan, aku langsung merangkul dan memapah sampai ke dalam mobil.


“Tunggu sebentar, aku akan membuka gerbang!” seruku.


Fira hanya melamun menatapku. Merasa tidak nyaman, aku segera menutup pintu dan berpamitan.


“Kalau gitu, kami berangkat, tante!” ucapku, menghampiri mama Fira.


“Oh, hati-hati di jalan, ya!” jawabnya, senyum.


Benar-benar perhatian, pikirku.


Melihat Mbak Nur membukakan gerbang, aku buru-buru masuk mobil.


Fira tiba-tiba bergeser menjauh dengan raut merah padam. Melirik sebentar, aku segera memundurkan mobil.


“Apa dia marah?” pikirku, mengingat lagi saat aku memapahnya sampai mobil.


Kurasa, dia merasa tidak nyaman. Fira terus berontak, tetapi aku menghiraukannya.


Mau bagaimana lagi, ini sudah kesiangan?


Aku segera membunyikan klakson dan berangkat menuju klinik Om Hadi.


“Kamu sudah makan, kan?” tanyaku, di perjalanan.


Fira hanya diam seribu bahasa, membuatku bertanya dengan nada lebih tinggi, “kamu udah makan, belum?!”


“Hah, kenapa?” sahutnya.


“Terserah saja, lah!” gumamku, sembari mendesah, “aku langsung ke klinik saja, ya? Takutnya kena macet, terus sampai di sana malah udah jam istirahat,” lanjutku.


"Ah, em!"


Fira cuman mengangguk.


Ia terlihat makin aneh, tak seperti biasanya.


Merasa penasaran, aku pun memberanikan diri bertanya, "apa aku melakukan kesalahan?"


Seketika Fira menoleh. Tatapannya kelihatan begitu tajam, sehingga membuatku merasa seperti akan tertusuk. Tanpa kusadari, kepalaku menengok, dengan sendirinya menghindar.


"Kenapa kamu sok-sok perhatian?" tanya Fira.


Seketika aku menoleh lagi, terkejut mendengar pertanyaan itu.


"Apakah kamu tertarik kepadaku?"


Ia bertanya lagi.


Berada di antara tak habis pikir dan takjub, aku langsung tertawa.


Sambil menggeleng, aku pun menjawab, "iya!"


Seperti tak puas mendengar jawabanku, Fira tiba-tiba saja melotot. Entah mengapa, ia kelihatan tambah kesal.


...----------------...


¹Terbuat dari kain yang tipis sampai kain tebal dan kuat. Bahan ini juga dipergunakan untuk membuat layar dan terutama dasar lukisan.