
Menatap ponsel hanya membuatku semakin dongkol. Belasan panggilan tak terjawab memenuhi notifikasi dan semuanya berasal dari satu nomor serupa. Ingin rasanya kulempar benda itu keluar jendela, tapi barang itu masih bisa dijadikan alat belajar prinsip dasar ekonomi yang efektif. Sialnya, nomor itu menelepon lagi, dan aku tidak terlalu perduli lagi dengan prinsip dasar bodoh itu.
Sungguh, tidakkah dia mengerti, kalau tak ada lagi yang ingin kubicarakan?
Pastinya demikian, tapi mereka memang selalu tak mau tahu. Aku harus mengatakan ini dengan tegas, agar dia mau menyerah.
"Jelaskan pada ibu, Dim!"
Baru saja diangkat, langsung mendapat makian.
Oh sial, kenapa aku mengangkat panggilan ini?
Nyaliku menciut seketika. Kujauhkan ponsel dari telinga, karena suaranya benar-benar menggelegar seperti salon kondangan. Tekadku yang kuat hancur lebur seketika, medengar cerca suaranya. Sungguh, dia sama sekali tak mau membiarkanku membuka pembicaraan dengan benar.
"Jelaskan apa lagi, sih Bu? Dimas keluar, it's over, okay?!" jawabku.
"Berhenti sok-sokan bahasa Inggris! Nilaimu buruk, dan kau nyaris tak lulus karena bahasa Inggrismu itu!"
Bla, bla, bla! Selalu saja marah-marah!
Masih menjadi misteri; kenapa semua mulut emak itu pasti pedas. Tapi yang satu ini sudah terlalu ekstra. Ibarat geprek, levelnya sudah di atas 69.
That's just one of something i hate in my life.
"Mereka hanya tak mengerti, Bu, that's all."
"Kita buat ini jelas, kau membenci proses, dan itu masalahmu! That's baru all!"
Aku termenung, memikirkan beberapa alasan, seperti biasanya. Sialnya, hari ini bukan hari keberuntunganku. Aku baru saja sadar, perkataan tadi terlalu sulit untuk disanggah. Sungguh, aku semakin membenci ini, karena orang itu selalu tahu pola pikirku. Dan yang lebih kubenci, dia pasti akan mendesakku terus berbicara saat aku diam.
Terserah sajalah.
"Kenapa kau selalu membantah ibumu? Bisakah kamu seperti anak lainnya, patuh?" ucapnya, “jawab, Dim!”
Apa kubilang?
Sudah kuduga kata-kata pamungkas ini juga akan keluar.
Lalu aku harus apa? Diam dibilang bisu, bicara dituduh melawan. Haruskah pura-pura kejang seperti tutorial ngawur yang biasa ku tonton di internet?
"I just try, mom," jawabku.
"Mencoba apa?"
Aku menggeleng, mendesah seolah-olah tak sengaja menjatuhkan eskrim dari atas jembatan. Kelulusanku mungkin bakal menjadi nilai positif di mata lingkungan.
But, what's next?
Memang, kebanyakan orang yang sukses itu memiliki gelar sarjana. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa aku akan menjadi salah satunya?
Answer this!
Berapa persentase lowongan kerja menjanjikan, dibandingkan calon pelamar hari ini? Tidakkah pasak sudah lebih besar dari tiang sejak awal?
Haruskah aku menerobosnya? Adakah ruang untukku masuk? Atau aku hanya akan menghancurkan diriku? Menyia-nyiakan waktu, uang, juga tenaga?
Salahkah bila aku kemudian lebih memilih menyelamatkan semua ini? Waktu, tenaga, dan terutama uang?
"Im just try to be realistic, there!" ujarku.
"Realistis bapakmu?!” bentaknya, “dimana letak realistisnya? Kamu sama saja membuang masa depan, Dim!”
"Masa depan hanya mitos, believe me!” ocehku.
Lagipula bapakku, ya suamimu.
“Anyway, uang kiriman sejak bulan kemarin sudah Dimas sisihkan, kapan pun, ibu butuh, Dimas kirim balik!" imbuhku.
"Kamu sudah merencanakan ini?!” tudingnya, “Katakan sesuatu, Dim!"
Aku diam lagi. Kutahu semua tak akan menjadi lebih baik dengan berkilah. Mereka hanya mencoba memberikan yang terbaik, tetapi yang kubutuhkan hanya kepastian. Sudah terlalu sering aku dikecewakan.
"Astaga, mau jadi apa kamu? Jawab, Dim jangan hanya diam!"
"Manusia, lah, apa lagi? Siluman Tokek?"
"Tunggu sampai ayahmu mendengar ini!"
Tut, tut, tut!
Panggilan terputus, menyisakan rasa sesak di dadaku.
Sebentar lagi aku akan berurusan dengannya. Orang paling pemarah yang pernah kukenal. Begitu mendengar ini, kuyakin namaku akan segera dicoret dari kartu keluarga, and this isn't begining yet.
Omongan keluarga, cibiran tetangga, hingga pandangan masyarakat. Aku pasti akan menghadapi busuknya itu semua. Kuharap, seseorang mau bertukar hidup denganku. Muak rasanya menjadi diriku sendiri.
Nope, Dim, take the advantage!
Setidaknya, kau tak perlu lagi membohongi mereka.
Forget all heavy prob, and start something fun. Storm will go, finally.
......................
Top player, termasuk dalam rank tertinggi region, bahkan, otw menuju global. Kadang, terbesit untuk mulai record video. Maksudku, menjadi Yousuber mungkin asyik. Tinggal beli kamera, sedikit edit-edit, terus upload.
Ini pasti mudah!
Lagipula, skill mereka tak terlalu jauh dibanding denganku. Sebagian bahkan cuman modal ngoceh tidak jelas. Secara kualitas, aku di atas mereka. Tapi entah mengapa aku merasa semua ini menggelikan.
I just feel, that was not me! Lalu kemudian pikiran itu lenyap begitu saja. Just like, kamu ingin potong rambut, tetapi tukang potongnya bencong yang dadanannya flop. They just look like a ... pokoknya bulu kaki mereka super lebat, dan hidung mereka besar.
Maybe, buffalo? I dont know, but its time to close the door and run away.
...
The point was, kamu mungkin mendapat potongan rambut yang mengagumkan. Tapi apakah itu sepadan dengan pengorbananmu?
Yousube kelihatannya demikian. Menggiurkan, tapi sukar dimengerti.
Yeah, you right. I don't know, couse i never try. Btw, last game i lost againt. So, decide to take a rest. Lost streak is a bad signal, and it must be stoped, or my head will exploded.
......................
Aku membuka media sosial. Sesuatu yang sebenarnya tak berguna, karena kehidupan sosialku sudah mati. Lucunya, aku mempelajari ini sepanjang hidupku. Sembari menggeleng tak habis pikir dengan tingkah sendiri, kutemukan beberapa DM yang membuatku tergelitik membukanya.
@RoseWilliam234 ...
Akun yang tak kukenal.
Dia tak ada dalam daftar pengikutku dan, bahkan, tidak mengikutiku sama sekali. Lucunya, dia dengan lancang mengirimi pesan pribadi.
......................
"Hey!" tulisnya.
^^^“?”^^^
^^^Balasku.^^^
“Can you help me?"
^^^“I dont know who are you,"^^^
^^^"So i dont think can do semething."^^^
Fix, orang ini lucu. Datang tiba-tiba, lalu meminta bantuan tanpa permisi. Hanya karena memasang PP cantik, orang jadi berpikir seseorang akan melakukan apa saja.
Kau tidak bisa membodohiku, semua PP yang dipajang di medsos hanyalah tipuan! Tahu bagaimana kami menyebut kalian? Wanita pemelihara burung!
Jadi umurnya 21, ya? Beda tipis lah.
Tanpa disadari, aku mulai stalking unggahan foto-foto lamanya. Jangan suudzon dulu, aku bukannya tertarik, cuman, jaga-jaga saja.
"Someone tell me to ask you."
^^^"Who?"^^^
Huh, dasar penipu. Aku ini forever alone. Tak mungkin seseorang mengenalkanmu kepadaku, apalagi berbahasa Inggris.
Apa ini ejekan?
Mereka pasti sedang mencoba mengolok-olok. Beberapa orang mengenal adat bicaraku yang campur aduk dan mungkin menganggap itu aneh.
"I dont know who, but, he used this I.D in Reddut."
(@RoseWilliam sent you link)
~@Bluewheel~
Folowing you and 234 other
Folower 2k
______________
"Si Kampret, ternyata orang ini!"
Dia pasti bercanda. Hanya ada satu orang yang kuketahui menyukai nama itu.
^^^"Wait a minute!"^^^
......................
Aku membuka Reddut, mencoba menemukan akar permasalahan DM ini. Mencarinya di sana tidaklah terlalu sulit. Cukup temukan forum yang membahas hal absurd di (Deep Web) bawah sana. Dia tak akan pernah absen, jika membahas hal-hal gila. Apalagi menyangkut dunia bawah, lagipula, kita punya cukup banyak petunjuk.
See?
Menemukannya tidaklah sulit.