Kotak Merah

Kotak Merah
Bullet 6 : Wangi Seroja


Di parkiran, aku segera membunyikan bel, supaya posisi mobil langsung ditemukan. Tapi sebelum pergi, terlebih dahulu aku bermaksud menanyakan beberapa hal.


“Kamu tidak bawa mobil sendiri, kan?” tanyaku.


“Aku datang bersama sopirku, tapi sepertinya dia segera kembali,” jawab Fira.


Mendengar jawaban itu, aku langsung membuka pintu. Sekarang, aku mengerti kenapa dia begitu marah dengan keterlambatanku. Pastinya, dia merasa sangat jenuh dan juga cemas.


Aku segera jongkok, menurunkannya ke kursi penumpang dari luar dengan hati-hati, supaya kepalanya tidak terbentur. Sambil mengucap maaf, aku bergegas menyalakan lampu plafon.


Fira menyandarkan tubuhnya, memberikan ruang kepadaku. Begitu lampu menyala, sebenarnya aku ingin segera memeriksa kakinya sekali lagi. Tapi karena penerangan terlalu minim, hal itu jadi tidak bisa dilakukan, sehingga aku hanya meletakkan sepatunya saja.


“Nanti sampai di rumah, cuci dengan air hangat, ya!” seruku.


Sejenak Fira terdiam, lalu mengangguk. Ekspresi wajahnya benar-benar membuatku merasa tidak nyaman. Tapi karena tak ada lagi yang perlu disampaikan, kuputuskan langsung beralih menuju kursi kemudi.


Fira mulai asyik sendiri dengan ponselnya, membuatku sedikit penasaran. Apalagi, dia membuka aplikasi catatan, dan menuliskan sesuatu. Curiga sedang menulis sesuatu yang dia sebut poin plus, aku pun melirik untuk memastikan.


“Kenapa kamu mencatatnya?” tanyaku.


“Mencatat apa?”


Fira balik bertanya.


Aku menunjuk ponselnya dan berkelakar, “apakah kamu akan memberikan kupon, kalau aku berhasil mendapatkan poin tinggi?”


Sejenak gadis itu diam, lalu mengedikkan kepala. Kurasa, dia baru menyadari maksud perkataanku.


“Tidak, tetapi itu pasti akan jauh lebih menarik dari sekedar kupon!” jawabnya, sembari senyum sinis.


“Aku akan menantikannya!” sahutku, menganggukkan kepala.


Di depan mobil, juru parkir menghadang dan berteriak-teriak memberi aba-aba. Jujur, dia sama sekali tidak membantu. Orang itu hanya mengatakan, “terus-terus,” saja. Tapi karena memandu dengan selamat, kuputuskan mengulurkan selembar uang, pecahan dua ribu.


"Terima kasih, pak!" ucapnya.


Sambil mengangguk, dalam hati aku menggerutu, "t**erus, terus, nabrak!”


“Oh iya, di mana alamatmu?”


Ketika mulai fokus mengemudi, aku baru ingat; tidak tahu tempat tinggal Fira.


Fira seketika menoleh, kelihatan cukup terkejut. Semua orang pasti memaklumi itu, apalagi kami berdua habis makan malam bersama. Bahkan, acara itu digelar atas persetujuan orang tua kami. Pastinya, dia merasa sangat aneh mengetahui; aku tidak tahu tempat tinggalnya.


“Wangi Seroja,” jawabnya, ketus.


“Waser? Pantas saja,” gumamku, seraya memperhatikan gaun dan pakaiannya yang terlihat mewah.


Fira menganggukkan kepala, membuatku bertanya lagi, “gang berapa?”


Dengan wajah cemberut, dia pun menjawab, “gang lima.”


Jawaban itu membuatku tak kuasa menggeleng. Pasalnya, Waser merupakan perumahan elit, yang mana seluruh bangunan di tempat itu benar-benar mewah.


Tempat itu terbagi dari gang 1 sampai 6, diurutkan dari jalan utama. Semakin jauh dari jalanan, bangunan akan semakin mewah dan besar. Karena rumahnya berada di gang 5, itu berarti wilahnya merupakan wilayah terdekat dari komplek paling elit.


Pantas saja, mama menyuruh memakai mobil ini, pikirku.


“Kenapa?” tegur Fira.


“Tidak ada,” jawabku, santai.


Aku langsung kembali fokus mengemudi, supaya Fira tidak mendesak. Sejujurnya, aku mulai merasa minder.


Walaupun secara pribadi tak merasa kekurangan materi, tetap saja orang akan selalu membandingkan status.


"Memangnya kenapa kalau orang membandingkan? Lagipula kalau itu yang jadi pertimbangan, kenapa hari ini dia mau datang?”


Seketika aku menggeleng.


Entah kenapa, aku sudah berpikir begitu jauh. Melalui spion dalam, aku memperhatikan Fira. Sayangnya, penerangan tidak optimal sehingga membuatku menggeleng lagi. Aku terus mencoba berhenti saling membandingkan, meskipun perasaan itu semakin menguat, seiring laju mobil. Bahkan perasaan itu semakin kuat, sesampainya di sebuah tempat yang amat asri.


Pepohonan rindang tertata rapi di pinggiran. Lampu penerangan yang indah terhampar sepanjang jalan, sehingga jalanan terlihat jelas, meskipun hari sudah gelap. Di depan tempat itu, terdapat sebuah pos penjagaan. Tepatnya di samping pintu gerbang dengan portal besar. Lampu yang menyala dari dalam pos membuatku yakin, ada seseorang yang menunggu di tempat itu.


Benar saja, di tengah kegelapan, seorang satpam datang menembus malam dengan seragam putih hitamnya. Tubuhnya tinggi besar dan berkumis lebat. Sepertinya, penghuni perumahan elit ini memberlakukan peraturan jam malam.


“Baru juga setengah sepuluh,” gumamku, sembari memeriksa jam tangan.


Gadis itu membuka jendela, lalu melambaikan tangan dengan santainya. Si satpam yang melihatnya pun, kembali ke dalam pos dan membukakan portal. Pelan-pelan, aku memajukan mobil dan berhenti sejenak, karena pria itu datang menyapa.


“Habis dari mana, mbak?” tanya si satpam.


“Jalan-jalan bentar, pak!” jawab Fira.


Si satpam terus memperhatikanku dengan tatapan curiga, membuatku terpaksa menganggukkan kepala.


"Malam, pak!" sapaku, seraya melempar senyum.


Tanpa menjawab, si satpam menganggukkan kepala, membuatku merasa agak jengkel. Untungnya, mereka hanya mengobrol sebentar, sehingga aku bisa menahan emosi. Benar-benar melelahkan. Walaupun formalitas itu cuman berlangsung sekian detik, rasanya benar-benar tidak nyaman.


“Mari, pak!” pamit Fira.


“Permisi!” sambungku.


“Silahkan!” jawab si satpam, balas menganggukkan kepala.


Terlepas dari pengalaman buruk itu, sesuatu yang sangat menarik menyambut kedatangan kami. Mencengangkan, itulah yang kupikirkan saat memasuki perumahan elit ini. Bahkan sepanjang jalan, aku dibuat tertegun.


Sama sekali tidak ada bangunan sederhana sepanjang mata memandang. Alih-alih melihatnya, bangunan malah semakin megah seiring jalan.


Sepertinya, rumor tentang penyusunan gang memang bukanlah isapan jempol semata.


“Rumahmu yang mana?” tanyaku, memasuki papan penanda jalan yang bertuliskan, “gang 5.”


“Habis ini belok kanan, rumah ketiga cat biru!” jawab Fira.


“Oke!” sahutku.


Belum sampai petigaan, tiba-tiba saja Fira menyela.


“Tunggu!” serunya.


“Kenapa lagi?” tanyaku.


“Mobil nggak boleh masuk kalau sudah malam,” ujarnya.


“Terus gimana?”


Aku hampir menghentikan mobil, tapi gadis itu menunjuk sebuah belokan lain, tak jauh dari pertigaan.


“Lurus, nanti belok kiri!” serunya, “di situ tempat parkir tamu,” imbuhnya.


“Ya sudah,” gumamku.


Benar-benar ribet!Tapi, mau bagaimana lagi? Orang kaya itu bebas.


Setelah melewati pertigaan, aku segera berbelok ke kiri, di mana sebuah pekarangan luas terhampar di sana. Selain mobilku, terdapat pula puluhan mobil yang terparkir. Aku hanya bisa menepuk jidat, membayangkan orang-orang ini.


Butuh waktu bertahun-tahun bagi papa untuk membeli mobil ini. Tapi di sana, berjejer mobil-mobil sekelas, bahkan jauh lebih tinggi.


“Kenapa?” tanyaku, mendapati Fira yang tidak berhenti menatapku.


“Buka pintunya!” omelnya.


Seketika, aku menekan switch master yang memang masih dalam posisi mengunci. Fira segera membuka pintu dan bersiap memakai sepatu. Menyadari kondisi kakinya, aku segera menarik tangan gadis itu.


“Tunggu sebentar!” seruku.


“Kenapa?” sahut Fira.


“Tunggu *¹**stasioner* dulu!” jawabku.


“Apa, ada hantu?” Fira.


“Iya, hantu turun mesin!”


Aku sontak menggeleng. Kurasa, suara mobil membuat suaraku tidak kedengaran jelas, sehingga gadis itu jadi salah dengar. Tapi, rasanya level salah dengar ini sudah benar-benar keterlaluan.


...----------------...


¹Kondisi di mana energi yang digunakan hanya sedikit atau ketika putaran mobil stabil.