Kotak Merah

Kotak Merah
Box 21 : Needle in the Haystack


Benar-benar gadis yang kurang ajar. Selalu saja membuat kesal!


Aku mendesah, mengelus kepalanya. Di saat yang sama, kulihat wajah ibu. Bola matanya berkaca-kaca, bibirnya tertekuk. Kerut di dahinya pun, menukik sekian derajat. Kelihatannya, beliau masih saja memikirkan sesuatu.


"Dimas tidak bisa janji apa-apa, tapi setidaknya Dimas tidak akan bikin repot."


Aku menoleh, mencoba sok dewasa. Meskipun tidak mengucap apa pun, aku tahu jalan pikirannya.


"Kamu pasti akan menyesal!" peringatnya, "kalau tahun depan masih kayak begini ..."


"Ya, Dimas tahu," putusku.


Ibu berdiri. Kupikir akan mendengar cerca suaranya. Tapi ternyata dia langsung pergi. Kurasa beliau akhirnya sadar, tidak ada gunanya berbicara kepada batu. Wajahnya kelihatan sangat marah.


Beberapa saat kemudian, kulihat Roni menegurnya. Aku sebenarnya cukup khawatir. Tapi kuputuskan membiarkan saja. Kalau terlalu banyak mengintervensi, beliau malah akan tambah khawatir. Lagipula mengobrol santai akan membuatnya sedikit lupa.


......................


"Bang Dim, Lisa ambil kamar abang, ya?!" tegur Lisa. Tapi aku masih saja melamun, penasaran dengan obrolan mereka, “bang!" tegurnya lagi.


"Iya, iya, tapi biarkan semua game abang tetap ada di sana, ya!" jawabku.


Lisa mengangguk kelihatan cukup gembira. Mungkin ini adalah waktu yang tepat memberinya sedikit ruang. Dari dulu, dia memang kurang menyukai kamarnya yang dekat dengan ruangan ayah-ibu.


Masalah baru saja terselesaikan, tapi masalah lain segera muncul. Baru saja senyum, tiba-tiba saja Lisa menunduk.


Benar-benar mengkhawatirkan. Apa, sih bagusnya adik? Bandel, ngerepotin, bahkan aneh!


Sedikit banyak, aku jadi paham maksud pertanyaan itu. Tapi rasanya hati kecilku tetap tidak setuju. Jika tiba-tiba saja hilang, aku pasti akan jadi lebih pemurung dari ini.


What are you talking about?


Aku menggeleng, memarahi pikiranku sendiri. Tidak seharusnya aku memikirkan itu.


......................


Kalau diperhatikan, wajah Lisa sebenarnya manis. Kulitnya juga sangat bersih. Kalau saja tidak aneh, aku yakin sekarang dia sudah jadi rebutan. Sayangnya dia terlalu introvert. Tapi mungkin karena itulah dia jadi putih begitu.


Aneh?


Yeah, just like me!


Buah memang tidak jatuh kalau masih di pohonnya. Sama sepertiku, dia juga anak yang canggung. Bahkan, masalah yang kurasakan mungkin tidak ada apa-apanya, kalau dibandingkan yang dia alami.


Serious!


Sebagai seorang rebahan-ners, aku masihlah amatiran kalau dibandingkan dengan Lisa, yang hampir tidak mau keluar kamar sejak SD.


Waktu kecil, dia tidaklah pandai. Tak perduli seberapa sering ibu memanggil guru les, nilai akademiknya tak pernah berkembang. Saking parahnya, dia bahkan nyaris tidak memahami tabel perkalian sampai kelas 3, padahal memiliki DNA seorang guru.


Seburuk itukah?


Aku juga tak percaya, tapi ibu benar-benar berhenti memanggil guru les. Ia juga selalu menunjukkan wajah seperti ingin menangis setiap kali melihat Lisa. Satu hal yang kupegang; dokter anak selalu mengatakan hal itu dengan jelas, “Lisa sama sekali tidak mengalami keterbelakangan mental.”


Terus, kenapa dia masih oon, padahal bukan anak idiot?


Terlalu terpaku akan satu hal membuat kami semua membuat kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Begitu sadar, ternyata semuanya sudah terlambat.


Setelah gagal dengan guru les, kenapa tidak segera membawanya ke psikiater? Kenapa tidak ada yang sadar?


Tidak, semua orang pasti sadar. Kami hanya takut memberikan tetangga topik ulasan baru. Begitu sadar, semuanya sudah terlalu rumit untuk diperbaiki lagi seperti semula lagi.


Dari yang semula gembira, Lisa bisa tiba-tiba saja berubah depresi. Bahkan kalau sudah ngambek, gadis itu bisa mengunci diri sampai berhari-hari.


......................


Sejak awal masuk SD, Lisa mengalami perundungan. Entah apa masalah sebenarnya, tapi tiba-tiba saja dia selalu dipanggil oon, dan dijauhi. Hal itu mengakibatkan perubahan yang cukup signifikan hingga membuatnya berubah menjadi anak yang canggung.


Bagaimana tidak?


Sudah menerima perlakuan tidak menyenangkan di sekolah, pelajaran terganggu. Masih harus menghadapi amarah orang tua gara-gara buruknya nilai pelajaran, yang dia terima. Untung saja, dia adalah anak yang kuat.


Lisa tidak suka orang dewasa. Dia pernah masuk ke halaman rumah tetangga tanpa izin dan dimarahi dengan frontal. Kepada ayah dan ibu pun, dia tak cukup terbuka. Alhasil, aku yang lebih sering mengurusnya. Terutama sejak guru les Lisa menyerah.


Terkadang, aku juga mencoba membuatnya belajar mandiri. Sama seperti keluargaku, aku pun, tidak ingin mendengar seseorang menyebutnya bodoh.


Awalnya cuman sekedar iseng. Tapi setelah melakukan beberapa kali sesi belajar, aku sadar; sebenarnya dia cukup cepat menyerap pelajaran. Selama hal itu dia anggap menyenangkan.


Dengan berbagai cara supaya moodnya tidak turun, akhirnya aku berhasil mengakali masalah belajarnya. Hanya saja, fokusnya pasti akan langsung buyar. Kalau tiba-tiba sadar di tengah pelajaran.


Lihat, siapa yang bodoh sekarang? Kamu atau adikku?


Aku ingat sekali selalu tertawa tiap kali melewati kelasnya, setelah nilai akademisnya membaik. Sayangnya, beberapa kelakuan buruk juga menular kepadanya.


Mager, pura-pura sakit supaya diizankan tidak berangkat sekolah, main game. Bahkan sampai matanya rusak, karena terlalu banyak menggunakan smartphone. Sungguh, dia hanya adik yang tidak lazim.


Maksudku, anak gadis mana yang hafal semua fatality move, dan berani mempraktikkannya di depan kakaknya sendiri? Pengorbanan yang kulakukan serasa sia-sia. Dia masih saja merepotkan. Tapi kurasa itulah gunanya kakak.


......................


Kuperhatikan lagi wajahnya yang kecil dan bulat. Rambutnya sudah semakin panjang, padahal sering mengeluh soal repotnya mengurus itu. Bola matanya yang coklat sudah semakin rusak, terindikasi dari distorsi yang terlihat di lensa kacamatanya. Kulitnya juga semakin pucat. Tapi kuyakin dia akan semakin menawan.


Gigi kirinya yang runcing terlihat semakin manis dari yang terakhir kali kulihat. Asalkan dia mau lebih sering tersenyum dan mengganti frame kacamata bulat yang dia pakai. Itu pasti akan sangat bagus.


“Hey, kamu sudah besar, ingat?" tegurku.


Lisa mengangguk, tapi kulihat matanya mulai mengembun. Itu semakin menyebalkan, karena mataku jadi ikut-ikutan lembab. Tak banyak yang kupedulikan di dunia ini. Tapi melihat adikku meneteskan air mata adalah hal yang tidak menyenangkan. Apalagi musuhnya bukan lagi segerombol anak ingusan seperti dulu, melainkan ada pada diriku sendiri.


"Mau lihat laptop baru abang, nggak?" tawarku, kemudian kulihat dia mengangguk.


Hari ini, ia begitu sering mengangguk. Tapi kali ini rasanya benar-benar tulus. Aku tahu betapa besar rasa sukanya pada benda itu. Persis seperti bagaimana kakaknya membesarkan.


"Core 10, kau harus lihat ini!" imbuhku.


"Versi gaming?" tanyanya, antusias.


Aku mengangguk, tak tahu lagi apakah ini hanya trik agar ia dipertemukan dengan itu. Matanya sudah langsung tertuju ke sana, begitu benda itu kusinggung.


Lisa membukanya, terpana melihat bagaimana layar menunjukkan wallpaper. Ia kemudian menatapku, kebingungan karena layar yang terkunci. Aku bergegas mengambil alih, meletakkan sidik jari di tengah monitor.


Suara karakter game kesukaanku meraung, bersama terbukanya kunci layar.


"Keren!" seru Lisa.


"Letakkan jempolmu di sini, abang akan daftarkan nanti," ucapku.


"Apa ini sungguhan?" Lisa.


"Ya, abang bisa saja menambahkan sensor wajah, tapi belum ada waktu."


"Boleh Lisa main sebentar?"


Aku mengangguk, terkesima melihat antusias Lisa. Baru kali ini aku melihat seorang gadis memainkan Metal Bear dengan begitu girang. Sampai-sampai membuatku ikut merasa senang. Padahal, mainnya amburadul.


......................


Beberapa saat kemudian ibu datang, menyuruhnya bersiap-siap. Waktu perpisahan semakin dekat, dan kulihat mendungnya sendu di wajah Lisa.


Bola matanya seperti enggan berpisah dengan benda itu. Tidak kusangka, akan secepat ini jadinya. Aku memang berencana memberikannya suatu hari nanti. Tapi kalau mendadak begini, rasanya jadi sedikit tidak rela.


"Apa kamu mau membawanya pulang?" tawarku.


"Boleh, bang?" tanya Lisa, antusias.


Aku memperhatikan laptop sebentar, tapi wajah Lisa yang berseri-seri membuatku berhenti merasa sentimen. Itu benar-benar tutorial membuat orang pasrah terbaik.


"Ambil sana!" jawabku.


"Aku ganti wallpapernya sama gambar sem-"


“Abang banting, nih!” putusku merebut lagi laptop itu.


“J-Jangan, bang! Kalau gitu...”


"Cendol junior juga nggak boleh!" putus ku.


"Ish, abang! Lisa belum ngomong apa-apa juga!" Lisa.


"Palingan juga mau nawar, kan?"


"Ya udah, foto BTS aja deh!”


"Isi kepalamu cuman begituan doang, ya?” rutukku.


Kulihat Lisa cemberut. Tapi langsung senyum-senyum sendiri setelah kuberikan lagi laptop kesayanganku itu.


Berpisah dengan itu pasti menyedihkan, tapi Lisa akan membutuhkannya. Apalagi untuk beberapa tahun ke depan.


"Minta ijin dulu sama pak polisi di depan, sebelum membawanya pulang!" seruku.


"Kenapa, bang?" tanya Lisa.


"Kayaknya, mereka belum selesai memeriksanya," jawabku.


Sambil mengangguk Lisa mengatakan beberapa hal, tapi suara di luar terlalu mengganggu. Kurasa itu ibu. Entah mengapa, beliau kelihatan sedih.


Sometimes, i feel like it's my fault.


Ayah semakin tua. Cepat atau lambat, punggung beliau pasti akan rapuh dan tak bisa lagi menyokong keluarga. Demikian pula ibu. Beliau pasti akan segera pensiun. Melihatnya mengasuh cucu di masa pensiun pasti sangat menyenangkan. Tapi setiap kali berpikir membahagiakan mereka, tiba-tiba aku jadi merasa seperti sedang mencari jarum, dalam tumpukan jerami.


Peribahasa yang ngawur!


Satu hal yang pasti, aku harus mulai berhenti membuat mereka khawatir.


Perasaan ingin kembali ke kehidupan menggeliat semakin liar. Aku semakin tenggelam dalam benakku sendiri. Sampai kemudian kusadari; ia masih berada di situ, menungguku menunjukkan tanda-tanda kehidupan.


"Bang Dim?" Aku menoleh, tapi segera membuang pandangan. Aku benar-benar kelihatan payah hari ini. "Lisa tahu, kok abang tidak mungkin berbuat jahat. Paling, bolos sekolah," lanjutnya.


"Kalau itu bukan jahat, terus namanya apa?!" ketusku.


"Mmm, entahlah coba tanya sama dunia!"


"Males amat, dunia ini busuk! Kamu saja yang tanya, sana!"


"Setuju," ujarnya.


Ia mengejarku, memenuhi pandangan dengan wajahnya yang kecil. Aku tak bisa lagi menghindar, persis seperti saat aku memaksanya menceritakan masalah yang ia pendam, dulu.


"You know, sometimes you must tell it to the world!" ujarnya, menasihati.


Sungguh, tak seperti ibunya, dia tak cakap menjadi guru.


Aku mencoba tersenyum, berpikir andai saja ada keluarga lain di luar sana yang memiliki anak gadis sepertinya. Jika ada, aku tak akan berpikir dua kali untuk melamar gadis itu, asalkan tak menyukai boyband separah itu. Sehobi, tidak materialistis, bahkan masih mempercayaiku sampai akhir.


"World just a bad joker, stop expect else!" jawabku.


"I know, but i want to hear that by yourself!" Lisa.


Ya Tuhan, apa yang kuajarkan padanya?!


Aku tak seharusnya meracuninya dengan pola pikir negatifku. Sungguh, aku jadi tak perduli lagi dengan esok. Ini pasti akan menjadi penyesalan besarku yang lain, karena tak bisa memberinya ucapan perpisahan manis.


"Lisa balik, ya bang!" pamit Lisa.


"Iya, sono ti-ati!"


"Jangan tidur kemaleman!" sahut ibu.


"Iya, iya!" jawabku.


"Nggak usah diulang-ulang!" Ibu.


"Iya, bu guru!"


Sambil berdiri di depan pintu, aku melambaikan tangan. Sekarang, mereka benar-benar sudah pergi. Kuharap, aku tak memberi Lisa terlalu banyak pengaruh buruk.