Kotak Merah

Kotak Merah
Box 36 : Shut Up!


What happen with this?


Aku masih terus bersembunyi di balik tembok, berusaha menghindari mereka. Ya, mereka, tidak hanya satu orang saja yang mengintai. Beberapa kali, aku melihat orang lain ikut mengintip. Itu membuatku sangat ingin memeriksa pintu keluar. Namun sayangnya, aku terlalu takut melakukan itu.


Ini benar-benar gila. Sudah tiga jam aku bersembunyi, tetapi suara-suara aneh itu masih saja terdengar, bahkan sampai membuatku tidak berani pergi ke kamar. Aku ingat betul, belum menutup kelambu jendela sejak pagi, dan sekarang sudah hampir jam 10 malam. Hebatnya lagi, aku saat ini sedang lupa, sudah mengunci pintu atau belum.


Astaga, ini benar-benar membuatku semakin merasa cemas.


Apa yang harus kulakukan?


Aku sudah meringkuk di pojokan seharian.


Punggung rasanya mau copot, tetapi aku sangat takut untuk beranjak. Di saat genting seperti ini, tiba-tiba saja sesuatu teringat di benakku. Aku benar-benar terlena dengan semua euphoria betting box.


Tanpa kusadari, Gilang belum pernah datang ke sini lagi, sejak dua hari lalu. Tempo hari, dia juga memperingatkanku untuk menghapus semua file di komputerku, sebelum menghapus permanen akun medsos itu.


Apakah ini prank?


Seketika aku menggeleng, menampik dugaan bodoh itu. Aku tidak kenal yousuber yang mungkin berminat melakukan kolaborasi dan membuat konten semacam itu. Hari ulang tahunku pun, masih terlalu jauh. Itu artinya, satu-satunya kemungkinan adalah; sesuatu yang buruk terjadi kepadanya dan hal yang sama sedang terjadi kepadaku.


Klotak!


“Apa i-“


Seketika, kututupi mulutku rapat-rapat, dengan kedua tangan. Itu sangat mengagetkan. Suara benda jatuh tiba-tiba terdengar dari luar, disusul percakapan yang aneh.


Aku tidak tahu pasti, bagaimana semuanya jadi seperti sekarang ini. Tapi menurutku, mereka ribut untuk masuk ke dalam kamarku.


Oh, no, apa lagi yang akan terjadi?


Mereka sudah mengintai tempat ini seharian dan aku sudah bersembunyi beberapa jam. Orang-orang itu pasti mulai curiga, karena keberadaanku menghilang cukup lama.


Bodohnya, aku masih saja meringkuk tak melakukan apapun sampai kemudian kusadari, tidak ada gunanya berdiam diri di sana.


Its over!


Kuberanikan diriku untuk berdiri, lalu berjalan ke kamar mandi secara sembunyi-sembunyi. Sambil mematikan lampu, kumulai narasi seolah baru saja buang air.


Menyiram kloset, menepuk-nepuk gayung, pokoknya sandiwara laga, layaknya aktor Bollywood. Tujuanku sederhana, mengelabuhi mereka agar mengira habis dari sana. Supaya semakin sempurna, aku juga bersiul dan bernyanyi ria, sebagaimana ciri khas film warga Vridavan itu. Aku harus bersikap tenang seperti biasa. Sambil menarik napas mencoba menenangkan diri, kuhampiri komputer, duduk seolah tidak ada apa-apa.


Sepertinya, mereka masih belum mengambil tindakan. Oleh karena itu, sekaranglah kesempatanku untuk bergerak. Diam-diam, kuhapus semua data-data tentang Redbox secepat kilat. Sambil sesekali melirik ke arah jendela.


Sekujur tubuhku bergidik, merinding sejadi-jadinya. Seolah bulu romaku mau meninggalkan inangnya. Lagi-lagi sosok misterius itu terlihat mengintip ke dalam kamar. Suara-suara berderak juga terdengar dari arah komputer, yang membuat keringat dingin bercucuran.


Dasar sial!


Rupanya, tanganku gemetaran, sehingga mouse bersinggungan dengan keyboard. Di saat yang sama, aku menyadari kalau kakiku juga ikut gemetaran.


Aku menarik napas lagi, mencoba mendinginkan kepala yang mulai tidak kondusif. Sepanjang hidupku, aku tidak pernah merasa setakut ini. Tapi sekelebat bayangan hitam terlihat dari jendela, sama sekali tak mengizinkanku tenang, barang semenit.


Holysh*t, mau sampai kapan teror ini akan terus berlanjut?!


Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Setengah jam sudah perasaan cemas menghantui, tanpa kehadiran tanda-tanda akan adanya keselamatan sama sekali. Adakah hal buruk lain yang mungkin terjadi, atau malah mungkin aku akan mati hari ini?


Stop, Dim! Berhenti negatif thinking!


Selama tidak menyerah, pasti akan ada jalan keluar.


Aku mendekati pintu, memeriksa apakah sudah dikunci atau belum. Jendela adalah tempat paling berbahaya saat ini, dan benda itu terpasang berseberangan dengan meja komputer. Atau dengan kata lain tepat di belakangku.


Kuputuskan pura-pura memainkan beberapa permainan, padahal yang kulakukan hanyalah mondar-mandir lobi antrean. Setiap gerak-gerikku pasti sedang diawasi. Terpikir mulai menulis sesuatu dalam tekanan mengerikan ini, meskipun kedua tanganku terus gemetaran.


Jam sudah melewati pukul 12 malam. Sebentar lagi setengah satu dini hari. Tapi suara-suara aneh masih belum hilang. Aku benar-benar tak ingin mengalami hal buruk. Tapi firasatku enggan berpindah ke arah yang lebih cerah.


Setiap tarikan napas mulai terasa menyesakkan. Keringat dingin yang mengucur juga semakin bertetesan. Mentalku pasti sudah benar-benar berantakan. Mendengar suara gelas dan piring berdenting saja, rasanya seperti mengalami kecelakaan. Detak jantung seketika berantakan, padahal, aku tahu itu pasti tikus yang sedang mencari makan.


Tenang, Dim semua masih terkendali!


Semua jendela sudah pasti terkunci, baik yang di kamar, maupun yang ada di ruang tamu. Aku merasa cukup yakin, karena selama ini memang tidak pernah membukanya, tetapi benarkah demikian?


Bisa saja itu tidak terkunci, sejak pertama kali aku mengontrak tempat ini. Aku juga tidak pernah memeriksanya dengan pasti.


Kakiku menekuk, tenggorokan serasa pahit, dan napas semakin sesak. Aku terlalu takut untuk memeriksanya dan sekarang mulai cemas, apakah pintu itu benar-benar sudah dikunci? Apakah aku benar-benar sudah memastikannya?


Aku mulai berdiri, hendak memeriksa pintu keluar lagi. Tapi tiba-tiba saja, gagang pintu naik turun sendiri. Itu membuatku nyaris berteriak, tetapi untungnya tanganku secara reflek menutup mulut rapat-rapat.


Suara berderak masih terdengar. Gagang pintu terus naik turun dengan sendirinya. Rasanya mau pingsan, mengalami semua hal ini seharian.


Haruskah aku membukanya? Mungkin saja itu Gilang?


Halah, persetan!


Siapa pun itu, ini sudah hampir jam satu dini hari. Tidak seharusnya dia bertamu malam-malam begini.


Tiba-tiba saja, gagang pintu berhenti bergerak, tepat ketika aku memutuskan tak akan pernah membukanya. Suara-suara mengerikan itu juga mendadak hening. Bisa jadi, ini adalah pertanda orang itu sudah pergi, tetapi rasanya tidak ada untungnya memeriksa.


Napas panjang berembus lemas dari mulutku, mengeluarkan segala rasa gelisah. Di saat mulai mendapatkan rasa tenang, tiba-tiba suara gedoran yang cukup keras menggelegar.


Brak!


“Keluarlah, aku tahu kamu masih di dalam!” seru seseorang, “tidak usah pura-pura tidur!” lanjutnya.


Holy crab!


Kenapa mereka masih ada di sana?


Hawa dingin menjalar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sekujur bulu kuduk tegak berdiri. Tapi setidaknya, itu membuktikan kalau pintu masih terkunci, dan aku masih aman saat ini.


Ingin rasanya bertanya, ‘apa mau kalian,' seperti yang biasa kulihat di film, tetapi itu hanya akan membuat mereka semakin yakin, kalau aku memang ada di dalam.


I mean, untuk apa repot-repot memberi tahu keberadaanku?


Sayangnya, pilihanku untuk diam sama sekali tidak berguna.


Tuk! Tuk!


Suara jendela yang berdetuk membuatku menoleh. Rupanya, para bedebah itu berputar ke belakang dan mengintip dari sana.


“Buka pintunya, teman!” serunya, sambil terus menerus mengetuk jendela.


Salah seorang meletakkan telunjuknya secara terlentang di leher, isyarat mengancam akan membunuhku.


“Apa mau kalian?!” tanyaku.


Bukannya menjawab, bedabah itu malah meletakkan jarinya secara tegak di mulut, menyuruhku untuk diam. Bodohnya, aku mengikuti perintah mereka sampai akhirnya kusadari, niat orang-orang ini sudah busuk sejak awal.