
Dengan napas tersengal, aku masuk lagi ke dalam mobil, membawa bungkusan plastik berisi tiga jenis obat.
Masing-masing bungkus sudah tertulis dosis, sehingga tak perlu menjelaskan lagi. Lagipula, isinya cuman pereda nyeri, antibiotik, serta suplemen saja.
“Minumlah dengan teratur!” seruku, seraya memberikannya kepada Fira, “kalau udah mendingan, pereda nyerinya nggak usah diminum lagi!” lanjutku.
“Empat menit dua puluh tiga detik!”
Fira menatap ponsel dan berkata lagi, “telat tiga puluh detik lagi, aku bakalan naik taksi!”
Sambil meraih obat, dia membuang muka. Aku hanya mendesah, mulai terbiasa dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan.
“Sabuk pengamannya tolong dipakai lagi!” sahutku, “kalau udah, kita berangkat,” lanjutku.
Mendengar itu, Fira cepat-cepat memakainya. Dari spion dalam, aku terus memperhatikannya.
“Yuk, cepetan jalan!” serunya.
“O-Oke!” jawabku.
Aku terdiam, berusaha untuk tidak terkejut. Tapi rasanya, itu begitu sulit.
Bagaimana menghadapi perubahan sikapnya yang begitu drastis?
Sambil mulai memundurkan mobil, dan menyiapkan uang pecahan dua ribuan untuk diberikan kepada tukang parkir, aku menggeleng. Pria tua itu mendekat, mengenakan topi lusuh birunya. Berkalungkan handuk kecil yang sudah usang, si tukang parkir membunyikan peluit, memberi aba-aba.
“Makasih, pak!” ucapnya.
Sambil senyum, aku mengangguk, menatap asap knalpot yang membumbung tinggi di mana-mana. Baru jalan beberapa ratus meter, aku mendesah terjebak di perempatan lampu merah.
Para manusia silver dan pengamen mulai turun ke jalan. Beberapa penjual asongan berkeliling, tetapi kami tetap tak beranjak dari tengah kerumunan kendaraan. Berita baiknya, setelah melalui ini, antrean panjang menyebalkan akan segera berlalu. Arus lalu lintas terpantau ramai lancar yang artinya; ini hanya kemacetan sementara, karena berada di lampu merah.
Seperti biasa, lalu lintas menjadi padat ketika memasuki jam siang. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya penyalahgunaan bahu jalan. Tapi yang paling menyebalkan; terik matahari akan semakin panas tiap menitnya. Bahkan saking panasnya, aku sampai berniat membicarakannya dengan Fira.
Akan tetapi, gadis itu justru terlihat murung. Tak seperti sebelumnya. Bahkan sepanjang perjalanan, entah kenapa dia jadi pendiam.
“Apa ada yang terjadi?” tanyaku.
“Emangnya kenapa?” sahut Fira, menoleh.
“Seriawan, ya? Atau sakit perut?” kelakarku.
Melihatku tertawa, Fira justru makin cemberut.
Dengan wajah serius, tiba-tiba gadis itu bertanya balik, “jawab dengan jujur, kenapa kamu bersikap baik kepadaku? Apa kamu berniat menerima perjodohan?”
“Kenapa tiba-tiba...“
“Jawab baik-baik!” putus Fira.
Ia menatapku penuh makna. Tajam sorot matanya yang bening, seolah mendorongku perlahan-lahan. Udara sekeliling pun mulai terasa bertambah berat, seiring waktu yang saat ini tak memihak.
Kurasa, sudah saatnya berterus terang. Sebagai bentuk keyakinan diri, aku mendesah. Situasi benar-benar menekanku, ke titik di mana tak ada lagi jalan keluar.
“Mama punya penyakit serius,” jawabku, “walaupun sudah menjalani operasi, mungkin saja penyakit itu datang lagi. Sebelum terjadi hal buruk, aku ingin mewujudkan keinginannya,” lanjutku.
“Keinginan itu, menikah?” tanya Fira, kujawab dengan anggukan, “kenapa harus denganku? Kenapa tidak sama orang lain saja?” lanjutnya.
“Aku juga tidak tahu,” jawabku, santai.
Kelihatan semakin kesal, Fira mendesah.
“Tidak usah memaksakan diri!” serunya, “om kamu bilang, kamu suka sama cewek sederhana yang jago masak,” lanjutnya.
Dengan tampang kesal, ia mengusap-usap kedua tangan.
Suara deru klakson bersahutan, pertanda lampu hijau sudah menyala. Aku menginjak pedal kopling, bersiap memasukkan persneling dan menarik tuas rem tangan. Di sebelahku, Fira menundukkan kepala dan membuka jendela, seraya menatap keluar.
Sambil menunggu mobil depan melaju, aku menggumam, “waktu kecil, aku berpikir; makanan yang enak itu cuman nasi goreng, karena mama nggak pandai masak.”
“Hah?”
Seketika Fira menoleh.
Mobil di depan melaju, sehingga membuatku segera memajukan mobil. Tapi selang beberapa saat, lampu kembali merah yang membuatku terpaksa berhenti lagi.
“Setelah remaja, aku baru tahu, ternyata semua masakan itu enak, asal di olah tangan yang ahli.”
Aku melanjutkan cerita.
“Panas, ya?” tanyaku, memperhatikan Fira, “aku nyalain AC-nya, dulu, ya!” lanjutku.
“H-Hah?!”
Fira mengangguk, lalu menutup jendela, segera setelah udara dingin masuk.
Terlihat salah tingkah, gadis itu cengar-cengir mendengarkan. Wajahnya yang mungil sudah memerah, berkeringat cukup banyak. Bukan cuman itu saja, dari tadi, dia terus mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan.
Pastinya, dia sudah merasa sangat gerah. Supaya tidak canggung, aku pun melanjutkan cerita.
“Selain itu, dia juga orangnya doyan ngerumpi, dan juga gampang panas kalau lihat tetangga beli barang baru,” ingatku, “karena itu, aku punya harapan dapet cewek yang jago masak, biar anakku bisa ngerasain banyak makanan enak, dan sederhana biar nggak perlu gibah melulu,” pungkasku.
Selesai bercerita, aku menoleh ke arah Fira yang sedari tadi fokus mendengarkan. Gadis itu mendesah, murung memandangi kemacetan.
Teringat kejadian sebelumnya, aku segera kembali fokus menatap jalanan. Mulai hanyut dalam keheningan, tiba-tiba suaranya yang lembut mengalun ke telinga, membuatku seketika menoleh.
“Aku nggak bisa masak, juga suka beli barang-barang branded!” aku Fira, “dan juga, orangnya gampang risih soal omongan tetangga. Tapi, aku nggak gampang kepanasan cuman gara-gara kulkas atau televisi baru,” lanjutnya.
Aku sekedar mendeham, mencerna kalimat demi kalimat yang ia katakan.
“Bahkan kalau mereka beli barang branded sekali pun, aku nggak bakal iri,” sambung Fira, “malahan, aku ngenggep, mereka satu hobi dan juga kadang-kadang kepengen ngobrol. Cuman, balik lagi ke poin awal, aku gampang risih sama omongan orang lain,” pungkasnya.
Di akhir, ia menatapku dan bertanya, “kamu kecewa, kan?”
Bertepatan dengan itu, lampu hijau menyala, membuatku memasukkan persneling dan menurunkan rem tangan. Sehabis ini, tidak ada lagi area rawan macet yang harus kulewati. Secepat mungkin, aku menginjak pedal gas, supaya segera lepas dari kemacetan jahanam ini.
“Aku suka cewek yang jujur dan terbuka,” gumamku, terbebas dari lampu merah.
“Hah?!” sahut Fira.
“Aku suka, cewek yang jujur dan terbuka!”
Aku mengulangi lagi pernyataan tadi, sembari menoleh ke arahnya, lalu kembali fokus mengemudi.
Seketika, Fira membuang pandangan. Wajahnya semakin merah, padahal AC sudah menyala. Dalam keadaan jalan, kondisi juga tidak sepanas tadi. Tapi mungkin saja, metabolisme tubuhnya berbeda, sehingga membuatku mengarahkan semua kisi-kisi kipas angin, menuju ke arahnya.
“Apa masih panas?” tanyaku.
Bukannya menjawab, Fira malah menutupi muka. Selang beberapa saat, ia menampar wajahnya sendiri.
Usai tingkah aneh itu, dia bertanya, “bukannya kamu menyukai cewak sederhana yang jago masak?”
“Wanita selalu terlihat sangat mempesona, ketika sedang memasak,” anggukku, “tapi pada akhirnya, ternyata bukan itu yang selama ini kuharapkan,” lanjutku.
“Maksudnya?” Fira.
Sejenak aku terdiam, teringat awal-awal rencana perjodohan mama dimulai.
......................
Saat itu, aku dengan tegas menolak, dan beberapa kali beralasan. Mulai dari berencana menikahi Mbak Tini, membawa teman Roni yang merupakan seorang juru masak, hingga hampir memacari pemilik warung nasi Padang yang ternyata sudah bersuami.
Melalui semua kekacauan itu, mama jadi semakin bernafsu mencarikan jodoh, hingga aku mulai bertingkah cetus kepada mereka (wanita yang dijodohkan) semua. Tapi pagi ini, semua seakan terjawab di atas meja makan.
Bagaimana satu suap saja, aku segera menyadari masakan mama. Papa yang tidak mungkin tak menyadari pura-pura tidak tahu, walaupun di akhir mengaku. Tanpa bisa mengelak, aku akhirnya mengakui rasa makanan itu berhasil menyentuh hati, tak sekedar di lidah saja.
......................
“Pada akhirnya bukan rasa, melainkan siapa, dan bagaimana,” ujarku.
Makin kebingungan, Fira mengernyitkan dahi menatapku.
“Yang terpenting bukan rasanya enak atau tidak, tapi siapa yang memasak, dan bagaimana caranya memasak,” jelasku, “aku menyukai cewek yang jago masak, tapi juga menyukai cewek jujur. Sepertinya, aku juga nggak bisa nolak cewek terbuka dan manja, apalagi...”
“Apalagi?” sahut Fira.
“Apalagi cantik kayak kamu!”
Fira memalingkan muka, menatap acak semua barang. Mengambil tisu, membuka dasbor, lalu meletakkannya di atas dasbor, padahal baru saja membukanya. Pokoknya sangat aneh, membuatku ikut salah tingkah dan berpaling.
“Kamu mau mati, ya?!” tanya Fira, membuatku kembali menoleh.
“Hah?!”
Sadar situasi sekeliling seperti yang diinformasikan ponsel, aku kembali fokus mengemudi. Aktivitas lalu lintas masih terpantau ramai, sehingga berisiko membahayakan pengemudi lain.
"Apa itu artinya aku ditolak?" pikirku, masih merasa terguncang.