
Aku membuka aplikasi makrosoft word, alat serba praktis yang dulunya sangat sering kugunakan. Tugas-tugas kuliah, rencana tesis, serta beberapa rumusan masalah sosial yang sempat ingin kuajukan kepada dosen. Beberapa pekerjaan lamaku yang belum sempat kuselesaikan pun, secara tidak sengaja ikut terakses.
Itu menyebalkan. Tulisan itu terasa sangat mentah dan terkesan sedikit terburu-buru. Beberapa kesalahan bahkan, sengaja kubiarkan. Tiba-tiba saja aku terdiam. Lagi-lagi perasaan sentimental mengendalikan pikiranku. Tapi semua itu langsung berakhir dengan satu tombol del.
“Wake up, men!”
Sambil menggeleng, aku membuka dokumen baru.
Sekarang, aku baru sadar bahwa aku benar-benar merasa menyesal. Sama sekali bukan tentang keluar dari kampus, aku bisa jamin itu. Melainkan beberapa pekerjaan yang tidak sempat kuselesaikan, termasuk itu. Beberapa berharap banyak darinya, tapi sayangnya aku harus membuat mereka semua kecewa dengan keputusan ini.
Memangnya, apa gunanya menangisi susu yang sudah tumpah? Aku membukanya (makrosoft word) bukan untuk bernostalgia ria. Sekarang ini ada sesuatu yang penting, yang harus kukerjakan.
Sambil menggeleng, aku fokus lagi menatap layar.
......................
Hm... i see.
Sambil menyeruput kopi aku manggut-manggut, paham benang merah kejadian ini. Mengetahui siapa sosok Anwar membuatku merasa, berhasil menemukan potongan puzzle terakhir. Urutan kedatangan kotak-kotak itu pun, seolah menunjukkan kemana harus kupasang puzzle itu.
Its work!
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya aku berhasil menarik sebuah kesimpulan baru. Saat ini aku merasa, memecahkan masalah hutang negara dan kasus koruptor pun, bisa kulakukan dengan mata tertutup.
Tidak, kurasa itu berlebihan. Tapi mungkin kalau sedikit serius mungkin bisa, bisa digampar-gampari maksudnya. Entah kenapa aku merasa sedang dipelototi saat ini.
Why? Tidak bolehkah aku berkhayal sedikit? It doesn't decrease at all!
......................
Jadi, masalah ini bermula dari sosok tukang gali kubur gila tenar bernama Rian yang ingin terkenal dengan jalur instan. Si Uler Kadut ini akhirnya membunuh seorang polisi divisi cybercrime bernama Yanto dan memutilasinya. Tidak hanya itu saja, dia juga memotong kelima jari tangan Yanto, serta menjadikannya kotak premium.
Kesimpulan ini kuperoleh setelah menyelidiki tanggal dirilisnya kotak buatannya, yakni 3 bulan lalu. Secara kebetulan kotaknya yang telah berminggu-minggu tidak berhasil dipecahkan, akhirnya dijadikan kotak gratisan berhadiah lima puluh dolar, dan berhasil kupecahkan.
Malangnya pria irasional ini justru tewas ditembak sosok tidak dikenal, setelah menjadi terkenal. Sungguh ironi dan tragedi. Azab bocil yang tidak punya akhlak. Anyways, legasi ketidakwarasannya kemudian dilanjutkan sosok yousuber haus konten bernama Anwar.
Si Kecebong hanyut ini mengunggah aktivitas unboxing ke kanalnya dan berakhir sama tragisnya dengan seniornya, Rian. Singkatnya mereka berdua sama-sama mati mengenaskan akibat melakukan kontak dengan situs misterius bernama Redbox.
Aku benar-benar harus mengangkat topi. Menurutku situs ini adalah penyebar wabah kematian yang layak dimusnahkan.
Wait, kenapa Rian senior Anwar, bukan sebaliknya?
Jadi, video Anwar diunggah 2 bulan lalu, sementara Rian sudah berkecimpung di dunia dark web jauh lebih lama. Kotak premium buatannya yang terakhir dibuat saja sudah 3 bulan lalu lamanya. Dengan demikian, bisa disimpulkan kalau dia sudah mengenal Redbox sejak jauh-jauh hari.
Bukti lain jika Rian adalah senior Anwar juga bisa dilihat dari blog buatannya yang sudah sering membahas dark web, sejak beberapa tahun lalu. Walaupun sekarang blog itu sudah dimusnahkan, aku pernah membukanya dan merasa agak skeptis dengan tanggal-tanggal postingannya. Tapi sekarang masalahnya adalah, kenapa Anwar juga mati terbunuh? Tidak seperti Rian, Anwar bukanlah seorang pembunuh.
Dari banyaknya kejanggalan orang-orang berpendapat, dia dianiaya dengan sangat brutal, sebelum akhirnya benar-benar dihabisi. Seperti kataku, orang-orang memposting kematiannya dengan cukup detail di (internet) sana.
Kepalanya remuk, tubuhnya pun, dipenuhi bekas luka. Bahkan wajahnya nyaris tidak bisa dikenali. Pihak keluarganya pun, baru menyadari melalui beberapa tanda lahir yang ada di tubuh Anwar. Bila melihat ending kematian keduanya, Anwar sepertinya jauh lebih menderita. Padahal tindakan yang dilakukannya jauh lebih safety bila dibandingkan seniornya yang terang-terangan memasukkan unsur gore, ke dalam maha karyanya.
Hal ini lantas membuatku berpikir, mereka berdua bukanlah korban pembunuhan acak. Melainkan serangkaian serial pembunuhan yang sudah direncanakan sedemikian rupa. Kasus keduanya juga memiliki kesamaan yakni Redbox. Bahkan jika kita menarik lagi sebuah garis yang sedikit lebih panjang ke belakang akan kita temukan banyak sekali kemiripan.
Rian membuat kotak premium berisi potongan jari tangan seorang polisi cybercrime dan Anwar membuka kotak misteri yang memuat konten bau-bau kearifan lokal. Itu artinya keduanya memiliki fetish yang sama, yakni kotak. Selain itu, keduanya berasal dari negara yang sama dan tewas di negeri itu. Padahal Redbox adalah situs asing. Bahkan tidak bisa diakses sembarangan.
Hal itu membuatku memiliki asumsi, baik kotak yang kupecahkan mau pun, kotak yang dijadikan konten oleh Anwar adalah buatan orang yang sama, yakni Rian. Aku yakin, alasan mereka berdua terbunuh pastinya juga berhubungan dengan fetish baru buatan mereka itu.
Satu-satunya yang masih belum kumengerti hanyalah kematian Yanto. Tapi karena dia bekerja di unit cybercrime, besar kemungkinan kematiannya juga berkaitan dengan mereka berdua. Dan jika dugaanku benar, Gilang meneruskan sesuatu yang dahulunya pekerjaan Yanto.
Wait, wait, wait! Can you give me some a time, please?
Tubuhku tiba-tiba berkeringat dingin. Perasaanku terasa sangat buruk. Di depan komputer aku tercengang, melihat serangkaian tulisan ketikkan kedua tanganku sendiri.
Ini semua begitu masuk akal, hingga membuatku merasa sangat cemas. Walaupun Rian, pihak antagonis di dalam masalah ini sudah mati. Entah mengapa aku merasa semua ini belum usai. Alasannya hanya satu. Jika masalah ini memang sudah selesai, Gilang harusnya tidak perlu menyelidiki lagi masalah ini. Selain itu, pelaku pembunuh Anwar dan Rian juga masih belum tertangkap. Atau mungkin, justru hal inilah yang membuat Gilang masih belum bisa menyudahi penyelidikan?
This is not good!
Jika benar alibi ini yang dia gunakan sebagai pemicu semangat, maka buntut dari tindakannya pasti tidak akan menyenangkan. I mean, pelaku bahkan tidak segan-segan menghabisi nyawa Anwar dan Rian hanya karena sebuah kotak bodoh. Bagaimana jadinya kalau dia sampai tahu, seseorang sedang berusaha menangkapnya?
“Oh No, this can't be happen!”
Aku mengambil ponsel, tapi segera kuletakkan lagi benda itu. Kepalaku rasanya benar-benar mau pecah. Di saat genting begini, semuanya selalu bertambah rumit.
Baru kusadari aku tidak mempunyai nomor kontak Gilang, padahal kami mungkin saja tidak akan bisa berkomunikasi lagi. Walaupun dia orang yang menyebalkan, dia tidak pantas mati dengan cara seperti ini. Aku benar-benar sangat membenci diriku, karena entah mengapa intuisiku selalu akurat dalam situasi seperti ini.