Kotak Merah

Kotak Merah
Box 24 : Another Body Corpse


Sungguh menyebalkan! Benar-benar membuatku merasa bodoh!


Namanya Rian Angga, usia 23 tahun. Mayatnya pertama kali ditemukan subuh, dini hari, dalam posisi terlentang.


Tubuhnya sudah dingin, dan olah TKP menunjukkan adanya sebutir peluru kaliber kecil yang bersarang di kepalanya. Kedalaman luka diperkirakan mencapai 6 cm.


Luka itu membentuk sudut lancip ke arah atas; menunjukkan fakta bila ia menerima serangan dari depan. Menariknya, tak ada luka lain yang mereka temukan. Hal ini mengindikasikan, pelaku merupakan sosok yang terampil menggunkan senjata, sampai-sampai korban tewas seketika.


Dari kedalaman luka itu pula, mereka berasumsi perihal jarak tembak yang cukup dekat. Dengan rujukkan penemuan awal, tim forensik sepakat membuat perkiraan kasar kematian korban, antara jam 5 sore sampai dengan jam 8 malam.


Aku tak tahu apa artinya itu, dan artikel lain soal kematiannya tak sempat kupelajari, karena Gilang keburu merebut laptop itu. Tapi yang jelas ini aneh.


Dia adalah orang yang dicurigai sebagai box maker, dan aku cukup yakin orang itu mencurigakan. Berulang kali kukatakan bahwa dia adalah pembunuh, tapi mereka terus menyangkal.


Ironisnya, sekarang mereka malah menyelidiki mayatnya.


Jangan-jangan, Gilang adalah pelakunya?


Bukan jangan-jangan lagi, pasti dia! Kalau bukan, siapa lagi yang mau membunuhnya? Tapi kalau benar, kenapa Roni menyerahkan laptop ini padaku, dan bukannya menyerahkannya sendiri? Apakah ini artinya mereka bukan komplotan?


Belum juga hilang rasa takutku pada orang aneh yang mengawasi treat buatanku kemarin. Sekarang masalahnya malah bertambah rumit. Sungguh, rasa khawatirku semakin menjadi-jadi karena kematian demi kematian yang terjadi.


Kenapa dengan hidupku?


Saking-sakingnya tak bisa fokus, aku sampai menabrak seseorang tanpa sengaja, di halaman markas.


......................


"Maaf, pak!" ucapku.


Bapak-bapak itu terdiam, menatapku seraya mengingat-ingat sesuatu. Aku sungguh tak paham. Dia mengenakan seragam yang kelihatan lebih berat dari mereka; dua orang gila yang menguntitku. Wajahnya pun, kelihatan menyebalkan.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" terkanya.


Aku mencermati pakaiannya, lalu kutemukan sesuatu yang mungkin menjadi jawaban pertanyaan tadi.


"Dirham?" gumamku.


Seketika pria paruh baya itu berkacak pinggang. Perutnya yang buncit kelihatan mencuat, dan matanya melotot lebar.


"M-Maaf tidak sopan, pak! Saya hanya membaca itu," lanjutku, menunjuk tanda pengenalnya.


"Oh.., ini toh?"


Sambil menatap tanda pengenalnya, ia mengangguk.


Wajahnya sebenarnya kelihatan lebih baik saat tersenyum, tapi entah kenapa dia masih kelihatan menyebalkan.


......................


Pria itu mencopot topinya, kemudian menyerahkannya pada seorang polisi lain yang mendampinginya terus. Mungkin ajudannya, dan kepalanya ternyata botak.


Aku sampai nyaris tertawa, karena rambutnya yang tinggal beberapa helai, menggumpal pada satu tempat. Akibat keringatnya sendiri. Kelihatannya, dia ingin mengobrol lebih lama. Tapi aku sedang tidak selera bergibah ria.


Saat bermaksud pamit , tiba-tiba saja wajahnya jadi kelihatan familiar.


Si Botak ini rupanya!


Sungguh, hampir saja aku tak mengenali pria kumisan itu karena penampilanya yang berubah drastis.


"Kenapa?" tanyanya, terganggu dengan tatapanku.


"Ya ampun!"


Bagaimana aku bisa tak mengenalinya? Orang ini berulang kali terlihat di berita.


Waktu itu, aku beberapa kali melayaninya. Lagipula, hanya aku yang mau melakukan itu. Dia dikenal memiliki sikap congkak dan hobi melayangkan komplain.


Ketika itu aku masih anak baru, sehingga mereka memaksakan semua pekerjaan yang tak ingin orang-orang lakukan.


Mengepel, menyapu, membereskan meja, pokoknya bidang kebersihan yang dipandang sebelah mata. Mereka hanya mau membawa menu, melayani tamu, serta duduk di depan mesin kasir. Paling berat membawa makanan. Itu pun, kalau terpaksa. Sekalinya menyuruh melayani tamu, maka sudah pasti seperti ini bentukannya, menyebalkan.


Yang masih membuatku tak habis pikir, orang ini tak pernah kelihatan membayar ke meja kasir. Ada saja orang aneh yang membayar makan malamnya sekali pun, super mewah.


......................


"Restoran Bambu Emas, masih sering ke sana, pak?" tanyaku.


Seketika, ia menunjuk-nunjuk. Pura-pura mengingat-ingat. Melihat wajahnya, aku yakin dia tak ingat apapun.


"Saya dulu kerja di situ, pak," imbuhku, tak mau dianggap caper.


"Oh, pantesan kayak kenal," ujarnya.


Si kadal!


Jika bukan karena dia ini orang penting, aku pasti tak mau memperdulikannya. Aku masih dendam padanya bila kuingat, betapa menyebalkan orang ini. Terutama ketika memesan makanan.


Sok kaya, marah-marah, bolak-balik memanggil hanya untuk pekerjaan sepele. Pokoknya puncak dari piramid manusia yang menjengkelkan. Semua atribut untuk menjadi cucu Fir'aun dia miliki. Bahkan, aku terus mengumpat agar dia segera dipecat. Tapi kenyataanya malah sebaliknya. Terlepas bagaimana wataknya, prestasinya memang luar biasa. Pantas saja kalau akhirnya dia dipromosikan.


Sebenarnya, aku tidak mengikuti informasi soal kasus itu. Tapi melihat seragamnya yang kelihatan lebih ribet itu cukup meyakinkan. Kuharap, kedua orang itu bisa memetik pelajaran dari orang ini. Bukan cuman sifat menyebalkannya saja yang dicontoh.


......................


"Masih kerja di sana?" tanyanya.


"Tidak pak, karena mal ditutup restoran jadi sepi," jelasku, "mereka ngurangin pegawai, terus saya pindah kerja," imbuhku.


"Maafkan saya kalau begitu," ucapnya.


"Kenapa minta maaf segala? Saya memang berniat keluar suatu hari nanti, dan anda hanya menjalankan tugas," jawabku, "koruptor memang pantasnya dipenjara, dan tempat usaha yang diperoleh dengan jalan nggak halal layak ditutup!"


Pria itu senyum, menepuk pundakku beberapa kali. Ia kemudian berkata, "omong-omong, ada perlu apa kamu ke sini? Bikin SKCK, ya? Kalau benar, habis ini saya kasih rekomendasi biar nanti tinggal ambil," tebaknya.


Apaan, sih! Dasar ngawur!


Ini nih, watak jelek orang ini, sok hebat.


Aku memang mengatakan dipecat secara tak langsung. Tapi kejadian itu sudah berlalu 3 bulan lamanya. Aku bahkan langsung diterima bekerja di sebuah mini market seminggu kemudian.


Walaupun bulan lalu resmi menjadi pengangguran lagi, aku sama sekali tak memiliki niatan untuk menjadi sapi perahan kembali.


Btw, secara tidak langsung, memang dia yang membuatku dipecat. Mal itu ditutup gara-gara kasus korupsi yang menyandung pemiliknya, alias orang yang dia tangkap.


......................


"Terimaksih banyak, pak, tapi urusan saya sudah selesai."


Aku tengak-tengok, entah kenapa begitu ingin meninggalkan tempat itu.


Sungguh, perasaanku masih saja tidak enak, meskipun orang itu kelihatan lumayan ramah. Mungkin karena aku baru saja mengacungkan jari jahatku kepadanya. Lebih dari itu, aku juga merasa ada sesuatu yang harus kukerjakan.


Aku lekas-lekas berpamitan, karena melihat sosok Gilang berhenti di depan pintu keluar markas. Dia pasti akan mengejarku.


Sambil pura-pura tak melihat, aku langsung menuju parkiran. Menyalakan motor sport pabrikan Jepang milik Roni. Lalu memainkan suara knalpot sekencang mungkin, supaya dia mendengarnya.


Siapa sangka, suarnya benar-benar gahar. Aku hanya ingin mengungkapkan rasa kesalku tanpa perlu banyak mulut. Tapi malah keasyikan, sampai membuat semua orang menatap jengkel.


Itu artinya, sudah saatnya aku lari. Kuharap, rasa kesalku ini bisa tersampaikan kepadanya.