Kotak Merah

Kotak Merah
Bullet 2 : Lampu Teratai


Restoran Bambu Emas, tidak salah lagi tempat inilah yang tertera.


Dengan perasaan bingung, kuambil kartu SIM dari dompet dan menunjukkannya kepada si pegawai.


“SIM boleh, kan?”


Sambil menggeleng, aku menyodorkannya.


De javu ini membuatku merasa sangat aneh. Lebih-lebih, tampang mereka juga kelihatan mencurigakan.


“Boleh, pak,” jawabnya.


“Pak?”


Kata itu membuatku menoleh. Tapi secara naluriah, panggilan yang terkesan kurang enak didengar itu mengalir dengan sendirinya. Kurasa karena pakaianku.


Sebagai seorang polisi, sudah biasa rasanya mendengar orang yang mungkin lebih tua memanggil demikian. Dibanding menanggapi secara harfiah, aku lebih suka menganggapnya sebagai keuntungan menjadi polisi, walaupun terkadang membuatku merasa tidak nyaman.


“Sudah kuduga tamu VIP,” gumam si pegawai, seusai memeriksa SIM-ku, “cepetan anter ke ruang VIP, peak!” lanjutnya, berbisik pada rekannya.


Aku hanya senyum tipis, menanggapi tatapan canggungnya. Itu hal yang biasa terjadi di lingkungan kerja. Saat melakukan suatu kesalahan, Roni juga sering menatapku demikian.


“Jadi, reservasi atas nama itu sebenarnya ada atau tidak?” tanyaku.


Sambil mengembalikan SIM milikku, si pegawai menjawab, “nama yang bapak sebutkan tidak tertulis di buku tamu, sebaliknya nama anda terdaftar sebagai tamu VIP. Alamat dan tempat tinggalnya cocok, jadi mungkin saja ini undangan atau semacam kejutan.”


“Kejutan, ya?”


Aku mulai menerka-nerka, mencari tahu kemungkinan yang masuk akal.


Semacam perayaan.., bukan. Ulang tahun.., juga bukan. Berarti, yang tersisa tinggal itu. Ya ampun, kuharap mereka berhenti melakukan ini setiap bulan!


“Maaf, pak dia masih baru, jadi masih belum paham dasar-dasar reservasi,” ucap si pegawai, memelototi rekannya.


“M-Mari saya antar, pak!”


Si rekan buru-buru memandu jalan menaiki sebuah tangga, dan kuikuti saja, walaupun perasaanku semakin tidak enak.


......................


Sepanjang jalan, pria itu kelihatan gugup dan salah tingkah. Itu membuatku lagi-lagi mencurigai pakaianku yang seperti orang penting. Tapi di luar itu, sepertinya dia memang masih baru, sehingga belum bisa beradaptasi dengan baik.


“Udah lama kerja di sini?” tanyaku, mencoba mencairkan suasana.


Jalan berdua tanpa obrolan membuatku ikut-ikutan merasa tidak nyaman.


“Baru dua bulan, pak,” jawabnya.


“Gimana rasanya kerja?” tanyaku lagi.


“Ya, begitulah.”


“Enggak enak, ya?” tanyaku, dijawabnya dengan sebuah senyum kecut, “kenapa kerja di sini?” tanyaku lagi.


“Temen saya kerja di sini, dan kebetulan dua bulan lalu ada karyawan yang keluar,” jelasnya.


“Oh, jadi, kamu gantiin orang yang keluar itu?” sahutku.


“Benar, pak,” angguknya, tiba-tiba berhenti di sebuah ruangan, “silahkan menikmati fasilitas kami, dan kalau butuh apa-apa, angkat tangan saja. Temen saya yang berdiri di pojokan akan langsung datang,” lanjutnya, menjelaskan.


“Baiklah,” anggukku.


Perlahan, aku mulai berjalan di sebuah ruangan luas sendirian. Oh iya, tempat itu berada di lantai dua.


Dibandingkan lantai satu, tempat ini kelihatan jauh lebih ekslusif. Lampu-lampu hias bersinar terang, puluhan meja dan kursi mewah terhampar. Tapi hanya ada satu yang digunakan, yaitu tepat di tengah-tengah.


Lampu gantung indah bertema bunga teratai menjuntai turun. Tepat di bawah tempat itu, seorang gadis melambaikan tangan ke arahku dengan tatapan kesal.


Wajahnya tirus, bola matanya besar. Rambut tersanggul rapi, berhias pernak-pernik motif bunga. Sangat cocok dengan gaun cocktail berwarna merah yang dia gunakan. Riasan yang tidak berlebihan, membuatnya kelihatan semakin anggun. Bulu mata panjangnya yang lentik terkedip, bersama kelopak matanya, yang merah kecoklatan.


“Kamu telat dua puluh menit!”


Sambil memeriksa jam tangan kecil di lengannya, gadis itu menggerutu.


Bibirnya yang tebal, serta berhias lipstik merah menyala cemberut. Mungkin, dia berniat tampil lebih dewasa. Akan tetapi tingkah marahnya terlihat kekanak-kanakan. Aku cukup yakin, usianya di bawahku. Hal ini pun, membantah dugaan adanya suatu perayaan atau acara kejutan.


“Sudah kuduga,” gumamku, menghela napas.


Secara keseluruhan, ini tidaklah mengejutkan sama sekali, walaupun agak membingungkan.


“Apakah kamu mengatakan sesuatu?” tanya gadis itu.


“Em, pertama-tama bolehkah aku duduk?” jawabku.


“Kenapa meminta izin, bukankah kamu yang mempersiapkan ini?” Si Gadis.


“Sepertinya?”


“Bagaimana aku menjelaskannya, ya? Mm...”


Tiba-tiba saja ponsel berdering, pertanda adanya sebuah panggilan masuk. Sambil mengangkat telunjuk, memberi isyarat padanya untuk menunggu sebentar, aku mengangkatnya.


“Nanti kamu antar Fira pulang, ya, Lang!” ucapnya, begitu panggilan tersambung, “pokoknya, mama nggak mau tahu, dia itu anak orang penting!” lanjutnya.


“Maksud mama a-“


Panggilan diputus secara sepihak. Parahnya, gadis itu sekarang menyilangkan tangan, tambah cemberut lagi.


Sambil senyum, aku pun memohon, “tolong kasih aku duduk sebentar, ya?”


Gadis itu tak menjawab. Sebagai gantinya, dia mengedikkan kepala. Walaupun jauh dari kesan positif, itu tetap saja merupakan isyarat mempersilahkan.


Dengan gugup, aku menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. Sambil memegangi kepala, kebingungan.


“Apakah tidak ada yang mau kamu katakan kepadaku?”


Tiba-tiba saja, gadis itu bertanya dengan nada kesal. Kurasa, itu gara-gara kedatanganku yang terlambat.


“Maaf?” jawabku, tak yakin.


“Hanya itu?” si gadis.


“Mm, apakah aku melakukan kesalahan lain? Tolong katakan saja!”


“Enam, tidak mungkin lima koma lima!”


“Apa aku melakukan kesalahan sebanyak itu? Lagian, kenapa ada koma segala?” bingungku.


“Itu adalah nilai kesanku terhadapmu!” jawab si gadis, “sudah datang terlambat, terlambat minta maaf juga. Dan yang paling parah, kamu tidak memuji penampilanku!” lanjutnya, mengomel.


Aku hanya mengangkat tangan, kebiasaan jika ingin menginterupsi atasan. Gadis ini sepertinya memiliki aura yang sama dengan mereka. Atau dengan kata lain, dia juga sepertinya akan mengamuk kalau aku asal menginterupsi. Terlebih dia masih terus saja mengomel. Sampai kemudian, seorang pelayan tiba-tiba saja datang.


......................


“Ada yang bisa dibantu, pak?” tanyanya.


Kami berdua saling tatap, kebingungan. Aku baru ingat, pelayan tadi menyuruh mengangkat tangan kalau butuh sesuatu.


Aku segera buka mulut, hendak berkata, “tidak ada,” tetapi tiba-tiba saja aku mendapatkan sebuah ide lain.


“Tidak adakah makanan, atau apapun yang bisa disediakan?” tanyaku.


“Apakah acara makan malamnya mau dimulai sekarang, pak?” si pelayan balik bertanya.


“Mulai saja apa pun itu, sebelum meja ini jungkir balik!” seruku.


“B-Baiklah, pak!”


Si pelayan pun, pergi dengan panik dan terburu-buru. Mungkin dia berpikir aku sedang marah, padahal kepalaku hanya pusing. Ini jauh lebih melelahkan dibandingkan latihan pagi. Bahkan, masalah yang terjadi begitu kompleks, bila dibandingkan tugas lapangan.


Kalau terjadi ketidakcocokan, paling-paling sekali dua kali improvisasi langsung beres. Dibandingkan dengan masalah yang menuntutku melakukan improvisasi setiap saat ini, rasanya panggilan negara jauh lebih mudah.


“Kenapa marah begitu, tidak perlu menjungkirbalikkan meja segala kali!?” seru gadis itu, tiba-tiba menatap dengan ekspresi bingung.


“Bukan aku, tapi kamu!” jawabku.


“Aku?” si gadis.


“M-Maksudnya, aku takut kamu jadi pergi begitu saja.”


“Hm, pengertian juga rupanya?” ujar si gadis, “aku kasih nilai tambah, deh. Sekarang nilai kamu lima koma empat!” sambungnya.


“Makasih, tapi kenapa nilainya berasa turun, ya?” sahutku.


“Emangnya tadi aku bilang berapa?” jawabnya.


Sambil mengusap kepala, aku hanya senyum kacau. Aku yakin gadis ini cuman pura-pura lupa. Tapi setidaknya dia sedikit tersenyum. Benar-benar gadis yang aneh. Sepertinya dia tipe yang gampang dipengaruhi.


Untuk sementara, lebih baik tidak usah membuatnya emosi. Mama pasti akan menghajarku kalau aku membuatnya jengkel, apalagi kalau sampai pulang sendirian.


“Itulah kenapa aku nggak suka acara comblang-mencomblang!” gumamku, lirih.


“Apakah kamu ngomong sesuatu?”


Gadis tadi seketika menyambar.


“T-Tidak, maksudku apa itu kedengaran?” jawabku.


Ini benar-benar terlalu berat. Gadis itu hanya diam, melotot menatapku. Aku benar-benar tidak bisa menghadapi ini sendirian.