
Anita membuka matanya perlahan. Seluruh tubuhnya begitu sakit, belum lagi ruam biru di kaki dan pergelangan tangannya.
Kuku yang sebelumnya telah ia manicure juga patah. Anita meMasuki ingatan yang suram namun hanya ada kegelapan ia tak mampu mengingat apapun kejadian kemarin.
“Ah, rupanya kepala juga Masih pusing” ucap Anita sembari memijit pelan kepalanya.
“Loh, Mas Andre kok tidur di sofa, apa dia menjaga ku semalaman” fikir Anita dengan wajah cerah, ada rasa hangat yang menyelimuti perasaannya. Alih-alih membangunkan Anita memilih bangkit perlahan ke kamar mandi untuk mandi.
Setelah selesai bahkan Andre pun belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera kembali ke dunia nyata, ia Masih terkurung dalam dunia mimpinya.
“Mas Andre kalau lagi tidur gini, manis banget, andai saja kamu ga ngelakuin hal it dulu Mas, pasti semua ini ga akan pernah terjadi dalam hidup kamu” ujar Anita dalam hati.
Setelah berPakaian, dan merapikan diri. Anita segera bergegas menyiapkan sarapan untuk lelaki idamannya itu. Tak lupa ia menghubungi Riki untuk menanyakan keadaan Aluna sekarang.
Tut... Tut.. tut..
Hanya ada dering menyambung dari sisi Riki, sebab tak ada nada dering khusus yang di pasang olehnya. Anita harus menelfon Riki empat kali, sampai akhirnya diangkat.
“Dari mana saja kamu?” Tanya Anita
“Maaf bu, saya baru saja bangun”
“Oke, baiklah”
“Gimana keadaan Aluna sekarang?”
“Dia sudah di ruang perawatan pasien bu, tiga hari lagi sudah bisa pulang bu”
“Baik kalau begitu, tolong jaga Aluna dengan baik ya”
“Baik Bu boss” jawab Riki di ujung saluean telfon.
Anita pun segera bergegas membuat nasi goreng dan teh hangat untuk Andre yang saat ini belum juga terlihat tanda-tanda bangunnya
Setelah merapikan semua makanan diatas meja, Anita menghampiri Andre ke kamarnya. Anita mengusap pelan wajah pria yang sampai saat belum juga mensahkan hubungan keduanya.
“Mas, bangun Mas”
“Umm” jawab Andre singkat dengan mata yang Masih tertutup rapat seolah tak kuasa untuk terbuka
“Ayok Mas, ini sudah jam 8 loh, Mas bukannya harus ke kantor” bujuk Anita
“Entar sayang, 5 menit lagi”
“Ga ada istilah 5 menit buruan Mas, bangun”
“Yaudah iya, iya” jawab Andre dengan suara parau menahan kantuk
“Cepetan, mandi dulu yaa aku udah siapin Pakaian buat kamu, terus kita sarapan, okeee”
“5 menit lagi” ujar Andre memelas
Tapi Anita tak henti-hentinya menarik terus tangan Andre untuk segera bangkit dan akhirnya berhasil.
Andre pun berjalan pelan ke kamar mandi.
“Aku tunggu di meja makan ya sayang” teriak Anita dari luar.
Tak ada jawaban dari dalam hanya ada suara percikan air yang mengalir pelan.
Andre dengan mata yang Masih setengah terbuka, berusaha mengumpulkan nyawanya.
“Hoam..... Homm... Hoam” tak hentinya ia menguap dan menggerutu. Sebab rasa kantuknya Masih sangat kuat. Ia pun perlahan ingin menjangkau sampho yang ada disisinya namun tak juga sampai tangannya. Ia Masih terus berusaha.
“Kok ga nyampe-nyampe, yaampun”
Tiba-tiba ada tangan hitam yang meraih sampo itu dan meletakkan pada tangannya.
“Nah kan sampai juga kamu sampo ke tangan tangaku, makasih ya” ujar Andre dengan ucapan polosnya di susul tawanya sendiri.
“Hahaha”
Tiba-tiba ...
Seketika rasa ngantuk yang bersarang di matanya langsung hilang digantikan dengan penasaran dan ketakutan. Tapi Andre berusaha bersikap santai dan seolah tak terjadi apa-apa.
“Ini kayaknya, skizofrenia saya yang lagi kumat, saya tidak boleh dikalahkan olehnya”
Ia pun mulai melanjutkan kembali ritual membersihkan badannya dari segala kuman penyakit. Setelah selesai ia pun segera berPakaian. Namun saat memakai jas ia merasa ada yang menggelitik tengkuknya.
“Jangan-jangan kecoa” ia pun meraih pelan ke arah kerah bajunya. Ia tercengang saat meraih segenggam rambut panjang hitam gelap yang berasal dari tengkuk lehernya.
Tidak mungkin milik Anita karena warna rambut Anita tidak sehitam dan sepanjang ini, ditambah mana mungkin juga rambut Anita Masuk ke kerah jasnya.
Andre tidak memikirkan hal-hal aneh lalu membuang rambut itu ke tempat sampah. Kemudian melajukan langkahnya ke ruang makan. Ia meraih tubuh Anita pelan dan memeluknya dari belakang. Aroma tubuh Anita teramat menyegarkan hidung Andre pagi ini.
“Ayok makan sayang, nanti telat loh”
“Kan aku bossnya sayang, ga mungkin ada yang marah”
“Boss itu harus memberikan contoh yang baik sayang”
Andre pun segera melepaskan pelukannya dan duduk di samping Anita. Dengan cekatan Anita segera mengambilkan makanan ke piring Andre.
“Umm enak sayang, aku bisa makin gendut ini kalau Masakan kamu enak terus”
“Jadi maksudnya Mas, aku kasih ga enak aja nih”
“Gak gitu sayang, cup... Cup.. jangan cemburut dong, kan aku cuman becanda sayang”
“Iya sayang, yaudah makan ya sayang”
“Ohiya, itu kamu ganti tempat Loudry ya sayang”
“Loh kenapa?”
“Hasilnya bagus, ada rambutnya” jawab Andre jujur
“Padahal aku Loudry nya di tempat biasa loh Mas, nanti aku buat keluhan deh Mas”
“Iya sayang, jangan kesel gitu”
Mereka berdua pun sarapan bersama dengan tenang, membahas banyak hal sampai akhirnya piring milik Andre kosong dan ia merebahkan punggungnya di kursi.
“Uh, kenyang banget”
“Rating dong Mas, nasi goreng aku di nilai berapa?”
“1000 bintang sayang, ga ternilai pokoknya. Restoran bintang lima pun lewat”
Anita tersenyum cerah, semenjak banyak kejadian yang ia alami Andre sekarang menjadi lebih hangat bahkan selalu memanggil ia sayang. Karena walaupun dulu mereka berselingkuh namun Mas Andre tetap saja sosok pria yang begitu dingin dan apa adanya. Keromantisan antara mereka berdua bisa di hitung jari.
Tapi hanya dengan Anita lah Andre bisa meluapkan semua beban hidupnya, baginya hanya Anita yang bisa memaklumi segala egois dan oversensitif dirinya. Itulah mengapa dia lebih memilih Anita dari pada Dahlia.
Mengingat tentang Dahlia, Andre pun mulai teringat lagi dengan keadaan Naya ia berniat akan singgah di rumah sakit sepulangnya dari kantor. Kebetulan Aluna juga di rawat dirumah sakit yang sama dengan Naya.
Jadi Anita tidak akan mencurigai dirinya. Karena Anita sampai hari ini pun tidak bisa menerima keberadaan Naya. Andre pun tidak habis fikir padahal Naya adalah gadis yang telah menyelamatkan nyawa Ayah dari anaknya.
“Sayang, aku berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa hubungi aku atau Riki”
“Iya Mas, kamu hati-hati”
“Nanti siang sekitar jam 2 an aku pulang temani kamu ke gereja ya”
“Kok jam 2 Mas, kan bisa jam 12 Mas pulangnya” tanya Anita
“Aku mau singgah liat keadaan Aluna sayang, ini anak kita endiri loh, Masa mau nanya lagi”
“hehe iya Mas”
“Kamu mau bosan atau ada apa-apa berkunjung saja ke Tania atau ibu Rania ya”
“Tapikan, mereka apa ga takut sama aku Mas?”
Andre mengelus pelan rambut Anita lalu saling menatap dan tenggelem dengan perasaan masing-masing.