
Bapak dulu merantau ke kota dan mengenal pak Justin, mereka bekerja di perusahaan yang sama. Sampai akhirnya pak Justin ini memilih untuk membuka perusahaannya sendiri dengan cara nekat
Tapi di tengah jalan malah kalah saing dengan perusahaan yang sudah lebih besar sebelumnya sehingga dia diambang kehancuran.
Disaat itulah bapak memberikan modal usaha untuknya dengan catatan suatu hari nanti anak-anaknya bisa diterima kerja di perusahaan milik pak Justin ketika sudah dewasa
Tak jarang bapak juga mengirimkan sayur mayur ke kota untuk keluarga pak Justin setiap kali panen.
Begitulah...
Andaikan bapak masih hidup, aku ingin sekali mengatakan satu hal kepadanya..
"Pak manusia itu serakah, pak manusia itu angkuh dan congkak, mereka lebih buruk dari iblis"
"Pak harusnya engkau tak harus sebaik ini kepada keluarganya"
"Pak kamu tidak perlu menjadi hero untuk orang lain, lihatlah pak dia sudah diatas awan dan membakar jasadmu dengan tangannya sendiri, dia yang juga yang merenggut kehormatan keluarga kita pak
"Orang itu yang membuat ibu depresi pak"
"Orang itu yang membuat mbak Anita harus membanting tulang di usia muda untuk menyekolahkan ku pak"
"Orang itu yang membuat mbak Anita banyak mendapatkan hinaan karena pendidikannya yang rendah pak"
"Orang itu pak yang membuat aku dan mbak Anita harus pergi merantau jauh agar tidak terancam terus menerus"
"Pak orang itulah yang membuatku dan mbak Anita mengganti nama pemberian bapak dan ibu demi bisa aman bertahun-tahun pak"
"Bertahun-tahun pak aku dan mbak Anita menderita"
"Tapi tenang saja pak, semua akan baik-baik saja"
"Akan kami pastikan mereka mendapatkan hukuman setimpal pak"
Mbak Anita menciptakan drama yang menyedihkan sekali, aku sampai tak bisa menahan tawaku sendiri
Aku pun dengan sengaja menatap tajam ke arah mbak Anita agar berhenti, supaya aku tidak menggagalkan semua rencana ini karena ulahnya yang sangat kocak. Ditambah keponakanku yang cantik ini juga ikut menangis.
Dia menyangka aku masih sangat muda padahal sebenarnya usiaku jauh lebih tua darinya. Tapi karena perawatan diri dari mbak Anita dan fashion ku yang menyebabkan aku terlihat seperti remaja belasan tahun. Bahkan memakai seragam SMA juga rasanya masih cocok
Andaikan bapak dan ibu masih ada, harusnya sekarang aku sudah kuliah semester 8. Tapi ah sudahlah mencicipi bangku SD saja aku tidak merasakannya
Butuh pengorbanan banyak untuk sampai di titik ini bersama mbak Anita. Kami juga dibantu oleh Kak Riki kekasih Mbak Anita dari dulu.
Justru Aluna adalah anak dari mbak Anita dan kak Riki, begitu juga dengan Zeus. Tapi dengan bodohnya Om Andre mempercayai bahwa keduanya adalah anak kandungnya. Itu fikiranku dulu. Tapi ternyata belakangan aku malah menemukan banyak kemiripan antara Aluna dan juga Andre apalagi jika mereka tersenyum.
Sedangkan kak Riki menjalin hubungan dengan mbak Dahlia untuk menjauhkan dia dari Om Andre juga anak mbak Dahlia yang cantik tinggal bersamanya di apartement tempat tinggal mbak Anita dulu. Itulah yang diceritakan oleh Mbak Anita kepadaku.
Mereka sengaja menyembunyikan keberadaan mereka dari Andre dengan terus dengan merencanakan sesuatu yang urusan mereka berdua. Aku juga tidak ikut campur karena urusan mereka sendiri yang rumit
Sekarang aku sudah berhasil masuk dalam. Keluarga ini. Aku akan berusaha menjalankan rencana bersama mbak Anita yang telah kami susun dengan baik
"Aku tidur dimana mas? "
"Diruang tamu Naura"
"Loh kenapa ruang tamu? "
"Kan aku istri mas"
"Terus kamu mau tidur dimana, haaa.. " Bentak mbak Anita berdacak pinggang
Entah mbak Anita beneran marah atau hanya sekedar drama saja
Aku tak banyak ikut andil disana, aku hanya membantu dibeberapa kesempatan saja. Termasuk perihal serangan geng motor Om Andre dulu juga penculikan Aluna.
Tentang kesurupan Mbak Anita dulu itu karena hal mistis yang pernah dia lakukan untuk mencapai keinginannya mendekati Om Andre dulu
"Dikamar tamu aja deh, tapi temani ya mas"
"Memangnya mas tega, biarin anak yang ada di perut aku tidur sendirian tanpa ayahnya? " Aku memasang wajah menggemaskan untuk memancing empati dari Om Andre
Sedangkan Mbak Anita tampak geli mau muntah
Mas Andre akhirnya mengalah dan memilih tidur bersamaku. Tak lupa aku menjulurkan lidah ke arah Mbak Anita mengejeknya. Tapi malah Mbak Anita tersenyum santai
Aku berencana membuat Om Andre jatuh cinta sangat dalam kepadaku, lalu mengalihkan semua harta atas namaku. Lalu pergi meninggalkannya, aku ingin melihat bagaimana Om Andre terpuruk dalam kubangan kemiskinan bersama keluarganya yang lain
Itulah kamu juga merencanakan banyak hal tentang perusahaan induk milik ayah Om Andre dan cabang perusahaan investasi yang saat ini diambil alih oleh Denis keponakan Om Andre sendiri
Mbak Anita berencana untuk mengatur pertemuan dengan Denis diluar negeri, tapi belum sempat juga karena banyak kegiatan d butik yang harus dia kerjakan.
Tiku membiarkan ku tidur lebih awal, sedangkan dia sendiri sibuk dengan gamenya seperti biasa. Gamer sejati memang anak ini. Tidak heran dia selalu mengantuk di kelas karena kebiasaan buruknya ini.
Tapi dari bermain game jugalah dia menjadi cukup terkenal karena permainannya yah walaupun memakai nama samaran pastinya.
Aku juga tidak tau banyak tapi dia menceritakannya hanya kepada kami berempat sebagai sahabat sejati.
Tepat tengah malam, aku terbangun karena suara berisik di luar kamar. Tiku masih saja terjaga sehingga membuatku kaget.
"Loh kamu belum tidur"
"Iya Aluna diluar berisik sekali"
"Sudah jam berapa Tiku?"
"Jam 2 " Jawabnya
Matanya masih segar sekali tapi entah siapa yang membuat keributan dimalam hari
"Yang berisik siapa? " Tanyaku lagi karena suara orang bermain bola terus saja terdengar di luar kamar
"Tenang saja Aluna, itu pasti adikku dan mbak Ratih pengasuhnya"
Aku heran mendengarnya, mana mungkin ada anak kecil belum tidur jam segini
"Aku mau liat deh Tiku"
Baru saja aku meraih gagang pintu, Tiba-tiba Tiku menahan tanganku untuk mencegah tapi aku karena telah sangat penasaran tidak mendengarkan nasihat Tiku
Tidak ada siapapun di luar sana hanya ada pintu kamar di ruang bawah yang menghadap kemari yang terbuka lebar sekali.
Tiku juga ikut menghampiri ku
"Itu kamar adikmu yah? "
"Harusnya iya, tapi" Aku segera memotong ucapan Tiku karena melihat seorang anak laki-laki yang berlarian
"Nah itu adikmu"
"Ayok kesana" Ajakku menarik tangannya bergegas ke lantai bawahTapi Tiku diam saja di tangga.