Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Teror Rumah Tiku


"Halo kak, makanannya udah sampai"


"Makasih yaaa"


Farah cepat meraih ponselku dan beralih ke panggilan video.


"Halo kak"


"Makasih banyak makanannya"


"Pesta besar nih"


"Makasih kak" Ucap Galuh dan Tiku yang hampir bersamaan


"Sama-sama, itu sogokan supaya kalian jagain Aluna baik-baik"


Kenyang sekali rasanya, karena Leo yang mengirimkan banyak sekali makanan. Rasanya aku akan terus berhutang budi pada orang tersebut, karena disetiap kesulitan ku. Dia selalu ada membantu dengan sangat setia


Tak terasa malam merangkak dengan cepat. Aku dan yang lainnya saat ini memilih untuk meNonton film horor. Untunglah kamar Tiku sangat luas jadi kami hanya selonjoran disini seharian dengan membawa makanan tadi kemari agar tidak perlu bolak balik lagi bikin repot


Sore tadi kami habiskan di luar jalan-jalak dan baru kembali ketika maghrib menjelang, lalu bersih-bersih. Aku memakai baju Galuh karena sudah berpesan membawanya untukku. Aku tidak cocok dengan pakaian Tiku yang berwarna gelap semua. Dark sekali hidupnya anak ini.


Kami meNonton film Jailangkung yang di diperankan oleh salah satu aktris favorit Galuh yang membuatnya selalu histeris jika melihatnya dalam bahaya.


Tak terasa jam 2 malam sebentar lagi, aku dan Tiku mulai tidak nyaman dengan suara-suara di luar pintu yang mulai berisik sedangkan Farah dan Galuh sibuk Nonton. Pasti mereka mengira suara itu berasal dari film


Mulai dari suara sesuatu yang pecah, pintu kamar yang di ketuk hilang, ketuk hilang terus menerus.. Belum juga suara kursi dan meja seperti ditarik-tarik oleh seseorang yg bisa di kecamatan ini biasanya


Sampai akhirnya film yang kami tonton selesai. Suasana berubah hening seketika. Suara-suara tadi semakin terdengar nyaring


"Wait girls"


"Ini cuman perasaan aku atau gimana? "


"Itu suara berisik dari tadi kalian dengar juga gak? "


Galuh terlihat takut saat menyadari ada hal yang ganjil dari tadi terjadi di luar ruangan


"Apaan gal? "


"Itu denger deh" Galuh meletakkan tangannya di bibir membentuk tanda diam


"Ohhh suara itu, pasti ulah adiknya Tiku" Jawabku santai


"Ini jam 2 malam loh Tiku, kenapa kamu biarin adekmu main tengah malam gini, ganggu banget tau"


"Tunggu, emang kamu ada adik Tik? " Tanya Farah.


"Seharian kita ga liat ada adek kamu deh"


"Yaiyalah kalian ga liat, kan udah meninggal" Jawab Tiku santai


"Ahhhhhh" Farah dan Galuh saling menatap spontan


"Parah"


"Kok baru bilang sekarang si Tiku"


"Yah mau gimana lagi"


"Kan kalian sendiri yang mau bermalam disini kan tadi"


"Masa kami larang sih" Jawabku cengengesan


Tiba-tiba......


Suara gedoran pintu yang tadinya hanya pelan sekarang malah semakin kuat, Tiku terlihat heran karena tidak biasanya Nando mengetuk-ngetuk pintu dengan sangat keras seperti itu


Tak lama, sosok Mbak Ratih berdiri tepat di belakang pintu setelah merebohkan pintu yang telah berhasil dia hancurkan dari gedoran kuatnya dari tadi


"Hantuuu.... " Teriah Galuh membuat kami juga ikut panik dengan situasi ini


Mbak Ratih berjalan ke arah kami, dan segera dengan sangat cepat meraih leher Tiku dan mencekik Tiku kuat sampai terangkat ke atas


"Astgaaaa Tiku"


Karena takut Tiku kenapa-napa, kami berusaha menyelamatkannya meskipun dengan lutut yang masih gemetar menahan takut karena penampilan mbak Ratih yang menyeramkan. Wajahnya tampak hancur sebelah, dengan darah yang memenuhi gaunnya


"Mati kamuu.... "


"Mati.... "


Mbak Ratih terus saja mengulang kata yang sama sembari mencengram leher Tiku


Galuh dan Farah berusaha memukul mbak Ratih menggunakan tongkat Golf berulang kali. Tapi namanya juga orang sudah meninggal mana ada merasakan sakit. Yang ada kita yang capek sendiri


Harusnya mbak Ratih bisa pergi dengan tenang kana sudah bunuh diri. Wajah mbak Ratih juga tidak se menakutkan kemarin malam yang aku lihat. Wajahnya sekarang lebih bersih dari pada kemarin penuh darah.


Sebenarnya ada hal yang ganjil. Aku meraih salip yang tergantung di meja belajar Tiku. Lalu menempelkan ditubuh Mbak Ratih, awalnya dia diam saja.


"Apa yang kamu tempelkan Aluna? "


"Salip, tapi aneh dia gak kepanasan"


"Coba ulang lagi"


"Mungkin ga mempan kalo cuman sekali"


Aku menempelkannya lagi, mencoba sampai tiga kali sampai akhirnya berhasil dia tampak kesakitan berteriak-teriak.


Lalu melepaskan genggaman Tiku.


Kami pun tak lagi memperhatikan sosok mbak Ratih yang kami biarkan begitu saja


Belum juga masalah mbak Ratih terselesaikan. Pintu jendela yang berada di sisi lain kamar Tiku sudah di gedor-gedor entah siapa.


"Itu siapa lagi Ya Allah" Kali ini Farah yang lebih histeris


"Orang iseng kali"


"Mana ada orang iseng jam 2 malam sih"


"Jangan-jangan maling"


"Aku ga yakin"


Aku mengajukan diri untuk mengeceknya karena mereka bertiga sudah tidak tahan dengan semua ini


Segera ku intip apa yang ada di luar dengan menempelkan wajahku disana


darrrrrrrrt


Hantu yang memegang kepalanya muncul kembali didepan jendela sejajar dengan wajahku


"Ahhhhhhh," Segera aku memundurkan langkahku dan berlari hendak keluar begitu juga dengan ketiga temanku kami berlari sampai lantai bawah


Tapi naas, itu tempat bermain Nando biasanya dengan diawasi oleh Mbak Ratih tentunya


"Kakak ayo main"


"Kakak"


Nando terus mendekat kearah kami, sedang Tiku masih sibuk mencari kunci rumahnya sendiri


Tangannya gemetar sampai kunci ditangannya berkali-kali terjatuh,


"Tiku cepetan astagfirullah"


Farah sibuk membaca doa yang entah apapun itu. Dia khusyu sekali.


Akhirnya berhasil terbuka, ketiga temanku langsung berlari keluar, akupun akan ikut tapi tunggu sepertinya ada yang menahan kaki ku


"Girls tolong"


Aku tak berani melihat ke belakang, sudah pasti itu Nando yang akan terus menghantuiku


Langkah Tiku, Farah dan Galuh tertahan dengan teriakanku yang sudah pasti menggema ke berbagai sudut karena keadaan juga sangat sepi


Nando kali ini tidak mengajak main, tapi berkata sesuatu


"Tolong selamatkan kakak Nando"


"Tolong kakak Nando"


"Tolong"


Nando terus saja memegang erat tanganku, hingga aku melihat sesuatu dari alam bawah sadarku. Seorang pria yang bersama mbak Ratih mereka berdua berbicara sesuatu tentang Nando.


"Kamu bunuh saja anak ini, supaya kita bisa mendapatkan asuransi atas namamu"


Mbak Ratih terlihat menatap Nando dan tertawa kecil di sudut bibirnya tipis.


Aku terlalu takut dengan wajahnya jadi menendangnya kuat-kuat, sampai dia hilang seperti abu ke udara dan ikut berlari dengan teman yang lain. Sehingga tidak menyelesaikan apa yang Nando ingin perlihatkan padaku


"Untung kamu selamat Aluna"