
“Setiap waktu adalah jeda menuju kematian abadi, detak jantung dan aliran darah akan menemukan titik akhir suatu hari nanti, sudah sepantasnya yang mati tetap mati dan yang hidup tetap hidup, tidak boleh ada keserakahan di dalamnya” Terang pendeta Arnold.
Andre dan yang lainnya hanya menyimak dengan seksama.
Lima menit kemudian, Anita akhirnya sadar. Wajahnya acak-acakan dan cukup berantakan. Pendeta Arnold segera menyodorkan segelas air untuk di minum oleh Anita.
“Silahkan Bu, diminum dulu air ini” pinta pendeta
Andre segera memapah tubuh Anita yang masih lemas.
“Pelan-pelan ya sayang minumnya”
“Mbak Anita kan ini kan ya” nampak Felix menyelidiki
“Hust” tepuk Kakek Sugi
Anita perlahan mendapatkan kekuatannya untuk berbicara.
“Saya kenapa mas, kok sampai ada para tetangga dan pendeta disini?”
“Kamu Kesurupan mbak” terang Aziz mendahului Andre
“Haaa, beneran mas?”
“Loh ga percaya toh mbak, kalau saya ngomong” gerutu Aziz
“Iya sayang, tadi kamu bertingkah aneh, dan menakutkan”
“Rambut istri saya sampai rontok loh karena mbak” huuu ujar Aziz sembari mengernyitkan alis.
“Maaf, mas Aziz saya ga sadar ngapain” Anita hanya bisa memasang wajah menyedihkan.
“Saya ngerti kok mbak, tenang saya cuman bercanda”
“Benar-benar mas Aziz ya” kata Felix
“Aluna mana, mas” tanya Anita
“Dia dirumah sakit, karena tadi kena cakar dari kamu sayang”
“Astaga, kok bisa mas emang aku separah itu ya mas?”
“Iya sayang”
“Mbak Anita malah yang cakar kaki anaknya sendiri” tambah Kakek Sugi
“Terus mbak, teriak kalau Aluna pembunuh”
“Siapa yang pembunuh sih sebenarnya mbak”? Tanya Felix yang masih penasaran
“Saya ga tau, hiks... Tadi saya hanya memasak terus tiba - tiba penglihatan saya kayak gelap semua, sejak itu saya udah ga ingat apapun” Anita mencoba menahan tangis di sudut matanya.
“Ga apa-apa sayang, ini bukan kemauan kita” peluk Andre.
“Kalian, silahkan duduk dulu ya, saya bawa Anita dulu untuk istirahat di kamar” ujar Andre sembari memapah Anita.
“Pendeta, yang masuk di tubuh mbak Anita apaan, kok sampe bisa manjat dinding segala” tanya Felix yang kali ini tampak memasang mimik serius.
“Iya pendeta, sampai wajah sama tangannya berubah loh, kuat banget juga malah” tambah Aziz
“Huuuuu..”
(Pendeta Arnold menghela nafas panjang)
“Saya sudah lama tidak menemukan roh sekuat ini, biasanya roh seperti ini adalah mereka yang semasa hidupnya ada pekerjaan yang belum selesai, dan ingin menyelesaikan lewat perantara tubuh orang lain” jelas pendeta.
“Jadi itu roh yang bisa saja ga di kenal sama keluarga pak Andre ya?”
“Bisa saja kek” kata pendeta
“Tapi dia bisa mengenali foto anak saya Aluna” kata Andre yang baru saja ingin beranjak duduk bergabung dengan mereka.
“Kalau demikian, bisa jadi itu adalah roh jahat yang balas dendam dengan keluarga bapak, karena saya juga melihat amarah dan kebencian yang mendalam dari sorot mata ibu Anita”
“Ih nakutin” kata Felix yang bersembunyi di belakang Aziz
“Sana.... jangan deket-deket gua ... “ Gertak Aziz
“Galak amat, kayak soang”
“Nah bener tuh pak, jangan sampai mbak Anita, nyerang lagi. Kasian Aluna” Ungkap Kakek Sugi dengan wajah serius
“Kalau Mbak Anita sudah sehat besok pagi, bawa ke gereja Maria pak. Saya akan mensucikan jiwa ibu Anita, agar dihindarkan dari gangguan roh jahat”
“Nah, tepat sekali tuh pak” kata Felix lagi
Siang hari yang cerah telah berganti menjadi gulita yang kesepian, dan angka di jam dinding telah menunjukkan pukul 8.45 malam. “Ga kerasa yah kita sudah bergelut dengan mbak Anita hampir 5 jam-an” ungkap Aziz
“Bener mas, mbak Anita sih kekuatannya luar biasa banget” tambah Felix
“Terima kasih banyak, saya ga tau akan bagaimana hari ini, jika tanpa kalian semua” kata Andre sembari menjabat tangan mereka satu persatu.
“Sudah sepantasnya kita saling membantu, ketika ada tetangga yang membutuhkan bantuan” jawab kakek Sugi
(Disusul dengan senyuman mereka semua)
“Terima kasih banyak juga pendeta telah jauh-jauh kemari”
“Tidak masalah pak, sudah sepantasnya sesama ummat Yesus kita saling memberikan bantuan”
“Ekhem” ujar Aziz
“Bahkan yang bukan pun kita wajib saling membantu karena kita bersaudara dalam kemanusiaan” jawab pendeta Arnold sembari menepuk pelan bahu Aziz
Aziz hanya tersenyum hangat dan tersentuh dengan kehangatan di tengah-tengah mereka.
“Kalau begitu, kami kembali dulu ya pak Andre” kata kakek Sugi sembari menarik kerah baju Felix yang tengah sibuk melamun
“Eh iya Mas, kami pamit ya” segera Felix tersadar dan berbicara santai
“Saya juga pamit ya mas” susul Aziz
“Sayapun demikian ya pak, sudah malam juga” ungkap pendeta
“Mari saya antar pendeta” ungkap Andre
“Tak perlu pak, saya bawa mobil kok pak”
Andre nampak hendak menyodorkan sebuah amplop ke pendeta, tapi pendeta segera menangkat tangan pelan dan menandakan tidak perlu.
“Terima kasih banyak semuanya” ulang Andre
“Semoga mbak anita segera sehat kembali ya mas, kami permisi dulu” ujar Aziz mewakili semuanya.
Lalu mereka berempat keluar ruang apartemen Andre, dan bergegas ke kamar masing-masing. Andre pun melihat bayangan pendeta Arnold hilang di balik lift.
Andre segera bergegas ke kamar mandi, membasuh tubuhnya dengan air dingin.
“Anita kok bisa ya melukai Aluna anaknya sendiri, dan teriak pembunuh begitu saja” gerutu Andre berbicara sendiri.
Tiba-tiba air yang mengalir ke tubuh nya berubah menjadi warna merah segar. Andre terkejut setengah mati. Ditambah kaca yang pecah bersamaan yang terdapat di kamar mandi. Ia segera meraih gunting kecil ke tangannya.
“Siapa kamu, tunjukin wujud kamu, saya ga takut”
“Keluar kamu, pengecut”!
Air berwarna merah itu, semakin deras mengalir ke seluruh tubuh Andre, bahkan Andre kini merasakan seluruh tubuhnya keram sampai ada tangan hitam yang menjulur pelan dan meraih kakinya sampai ia jatuh dan kepala nya terbentur di sisi kolam air.
“Argh” Andre memegang kepalanya yang nyeri
“Kamu siapa” ia melihat bayangan tubuh wanita disisinya, namun kesadarannya pun berangsur-angsur hilang.
15 menit kemudian, Andre akhirnya tersadar.
Ia mendapati dirinya berada di dalam bathtub. Segera ia raih kepalanya.
“Kok ga berdarah sih, perasaan tadi gua jatoh deh”
Rupanya kejadian yang Andre alami sedari tadi hanyalah mimpi karena ia terlalu lelah hari ini maka iapun tertidur ketika berendam air dingin. Semua kejadian tadi hanya bunga tidur yang merasuk dalam sukmannya. Segera ia bergegas menyelesaikan kegiatannya dalam kamar mandi.
Segera setelah itu, ia bergegas ke kamar Anita, memastikan keadaannya.
Dia turunkan suhu AC, lalu menarik pelan selimut menutupi tubuh Anita, lalu mengecup pelan dahinya. Andre khawatir meninggalkan Anita sendirian.
Jadi dia merebahkan tubuhnya di atas sofa tepat di samping tempat tidur Anita untuk menjaganya sepanjang malam.
Malam berlalu dengan damai, tak ada kegaduhan seperti siang tadi. Hanya ada kehangatan sunyi yang memeluk semua insan manusia di bumi. Hingga matahari muncul malu-malu, dan pagi menyapa dengan lembut.