
Setelah menyimpan ponselnya dalam keadaan ter charger dia memilih untuk mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu ditambah perutnya yang sudah sedari tadi berbunyi minta untuk di isi asupan nutrisi.
Di kamar mandi Aluna memperhatikan hansaplast yang masih menempel di dahinya, dia merasakan ingatannya berputar begitu cepat kembali ke moment dimana Leo menyelamatkannya hari ini, perhatian kecilnya, dan juga jahilnya. Tanpa Aluna sadari dia sedari tadi banyak melamun karena membayangkan sosok Leo.
Namun, tak berapa lama Mbak Dewi membuyarkan semuanya karena datang mengetuk pintunya terus menerus tiada henti. Mbak Dewi khawatir dengan keadaan Aluna saat ini.
“Non Alunaa”
“Noooon”
“Non udah tidur yaa?”
“Non belum makan kan, jangan tidur dulu”
“Non”
“Tunggu mbak, eh mbak dewi juga ngak akan dengar suara aku, huuu”
Aluna tidak punya pilihan lain selain mempercepat mandinya agar artnya tersebut tidak memanggilnya terus menerus
Setelah selesai Aluna dengan segera menemui Mbak Dewi yang masih berdiri dengan setia di depan pintunya.
“Mbak, berisik banget. Aluna lagi mandi”
“Maaf mbak, kan saya khawatir karena mbak belum makan dari siang kata ibu”
“Non Aluna, mau makan apa? Biar bibi siapin makanan yang enak banget pokoknya”
“Hmm, apa aja deh mbak yang ada” Jawab Aluna melihat antusias mbak Dewi menawarkannya makan malam. Kembali dia teringat Leo yang awalnya memaksa dirinya untuk makan malah marah dan pulang tanpa menoleh lagi kepada Aluna.
“Aku akan minta maaf baik-baik besok ke Kak Leo” Ujar Aluna membatin meyakinkan dirinya sendiri untuk melerai rasa egoisnya
“Mbak turun dulu saja, Aluna pakai baju dulu baru nyusul yaa”
“Oke Non”
Aluna dengan cepat kembali kedalam kamar dan mengambil satu set piyama lengan panjang dan celana panjang milinya tentu saja gambar kartun spongebob kesukaannya dari kecil dulu.
Sebelum turun ke lantai bawah untuk makan, tak lupa meraih ponsel dengan tiga kamera bobanya, lalu berjalan perlahan kebawah setelah memastikan lampu kamar mamanya telah padam. Aluna khawatir jika mamanya akan memberikan pertanyaan terus menerus tentang bagaimana sekolahnya dan lain sebagainya.
Mbak Dewi sudah menyiapkan nasi panas, sayur bayam, dan ayam goreng kecap diatas meja lengkap dengan set makan yang Aluna butuhkan.
“Eh Non Aluna ayok makan, keburu dingin ini”
“Ga enak makan sendirian, mbak suapin” Aluna pun menolehkan kepalanya kearah Dewi dengan wajah yang memelas kearahnya
“Udah SMA juga masih aja harus di suapin, dasar yah Non”
Dewi hanya mengomel saja layaknya ibu-ibu pada umumnya dan dengan segara mengambilkan makanan untuk Aluna.
Aluna pun duduk dengan santai di suapi oleh Dewi sembari mengaktifkan ponsel miliknya, dan beberapa notif yang ramai memenuhi ponselnya.
Terlihat chat gurb yang sudah +1000 karena ketiga temannya yang terus mempertanyakan keberadaan Aluna yang sampai malam hari belum juga memberikan kabar
“Kehabisan kuota kali tuh anak” Ucap Galuh menyampaikan fikirannya
“Aluna? Kehabisan kuota, hhahahah” Farah membalas komentar Galuh tersebut dengan dilengkapi emoticon tertawa terpingkal-pingkal begitu juga dengan Tiku
“Emang aku salahnya apa” Tanya Galuh lagi dengan polosnya karena tidak terima di tertawakan padahal dia hanya bertanya saja
“Sorry Gaes, aku baru muncul. Hmmm” Aluna mengetik pesan ini sambal mengunyah ayam goreng yang disuapkan padanya dengan santai
“Bisa-bisanya bAlunas chat jam 10 malam, dari mana sih ?” Tanya Tiku kesal dengan sahabatnya tersebut yang tiba-tiba menghilang.
“Ada sebuah kejadian yang perlu aku ceritain, besok aja yah”
“Penasaran astaga” Galuh mengiyakan tanggapan dari Farah karena diapun juga penasaran. Sedangkan Tiku dengan santainya mengirimkan stiker kocak lainnya
“Udah ah bubar, kamu utang penjelasan yaa Aluna” Ucap Farah yang ingin segera mengakhiri percakapan mereka dan menyelam kealam mimpi
“Good night girls”
“Gn” jawab Tiku singkat
“Have a nice dream” Tambah Aluna.
“Yang penting baca doa dan ingat tuhan” Balas Tiku menandai malam yang cukup panjang dan melelahkan.
“Gimana? Tambah Non?” Mbak Dewi yang melihat Aluna lahap makannya pun menawarkan untuk tambah
“Udah mbak, sudah kenyang”
“Alhamdulillah, yasudah minum dulu”
“Alhamdulillah, makasih mbak” Jawab Aluna sopan.
Dewi pun hanya menatap Nona muda dirumah dia bekerja tersebut karena kerap kali mengikuti ucapannya seperti astagfirullah, alhamdulillah, dan mengucapkan salam, sedangkan Aluna adalah seorang Nonis namun keluarganya selalu mengutamakan toleransi dan hidup berdampingan. Itulah mengapa Dewi sangat nyaman bekerja di rumah ibu Anita dan Pak Andre tersebut.
Kini Aluna setelah kenyang mencoba untuk tidur dengan segera sebab besok takut dia akan terlambat ke sekolah. Baru saja dia selesai mematikan lampu kamarnya tiba-tiba sebuah notifikasi wa membuatnya mengurungkan niatnya untuk tidur dan meraih ponsel di meja riasnya tersebut dalam keadaan setengah rebahan.
“HAI” Sebuah pesan melayang di room obrolan ponselnya.
“Aku lihat kamu belum tidur, mikiran apaan sih?” tambah pesannya lagi.
Tulis nomor kontak yang entah siapa, sebab itu adalah nomor baru dan belum Aluna simpan ke kontak handphonenya.
Aluna pun penasaran dan membuka profil kontak tersebut, “Ohh, Kak Kevin rupanya.” Ada kecewa yang meringis dihatinya.
Profilnya juga lucu khas anak wibu banget kartun dengan kacamata bulat. Cowok yang sepintar apapun pasti punya sisi lain yang menggemaskan juga.
“Kirain Kak Leo, ishh” Rupanya sedari tadi Aluna menahan kantuknya karena mengira yang mengubunginya adalah Leo ternyata bukan.
“Yaudah deh, besok aja balasnya” Aluna lalu meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan dari Kevin. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi dan ingin segera menyelami alam mimpi secepat mungkin.
Sedangkan disisi lain Kevin dengan was-was terus menerus mengecek ponselnya, tetapi hanya Aluna read saja tanpa membalasnya. Dia hanya bisa menatap ke layer laptop yang menunjukkan foto Aluna tersenyum manis. Sudah lama Kevin mengagumi Aluna dari media sosialnya.
“Ah menarik” Ujar Kevin yang kini tersenyum aneh setelah melihat pesannya diabaikan seperti itu oleh juniornya sendiri, seolah Kevin menaruh rahasia di dalam hatinya.
Hari ini adalah hari pertama untuk memulai pelajaran secara umum tidak lagi pengenalan dunia sekolah dan lain sebagainya, jadi pasti para siswa akan menyiapkan style terbaik mereka
Aluna hanya memilih pita hitam untuk mengikat rambut panjangnya, dengan tas ransel dan sepatu sekolah pentofel hitam.
Cukup sederhana tampilannya tapi pita yang di pakai Aluna aitu merk ternama jadi seharga motor untuk benda semungil itu.
Tidak akan ada yang tau bahwa dibalik semua benda sederhana Aluna ada harga yang selangit.