
Hitungan menit suara pintu kamar perawatan Aluna di ketuk pelan.
"Permisi pak, ini Riki"
"Iya tunggu disitu saja Riki" jawab Andre semuanya.
"Kalau gitu Ayah balik dulu ya sayang, nanti Ayah datang lagi bawain boneka Spongebob Aluna"
"Iya Ayah. Ayah hati-hati ya"
"Iya sayang"
Tak lupa Andre mengecup kening putri kesayangannya itu. Tak lupa Anita mengantarkan Andre ke pintu kamar.
"Mas hati-hati ya, kabarin aku kalau Mas sudah sampai rumah"
"Iya, kamu juga kabarin kalau ada apa-apa sama Aluna"
"Iya Mas"
"Kami permisi, mari Bu" pamit Riki
Anita hanya membalas dengan menunjukkan senyuman khas memperlihatkan gigi rapinya dan keramahan dari sorot matanya yang indah.
Andre tidak ambil pusing, ia berjalan cepat dan Riki mengikuti langkah atasannya itu dengan setengah berlari.
"Kita kemana sekarang pak?" Tanya Riki di balik setir mobil
"Bawa saya ke hotel terdekat dari rumah sakit"
"Ga pulang merumah saja pak?"
"Ga usah, kejauhan saya kalau ada apa-apa sama Aluna"
"Baik pak, paham"
Riki pun memarkirkan mobilnya di hotel grandmax Aulia.
"Saya tunggu disini, atau bagaimana pak?"
"Kamu ke kantor saja, urus berkas-berkas perusahaan"
"Kalau saya sudah ingin pulang, akan saya hubungi segera"
"Baik pak" jawab Riki patuh
Riki melihat punggung Andre menghilang dari jangkauan radarnya. Riki pun tak lupa meraih handphone di dashboard mobilnya segera menghubungi seseorang.
"Pak Andre sudah Masuk kedalam hotel, kita bisa ketemu kan sekarang"
"Kamu yakin?"
"Iya, yakin banget"
"Oke, ditempat biasa ya"
"Otw"
Andre segera bergegas untuk memesan kamar hotel di resepsionis untuk dirinya sendiri agar bisa tidur dengan nyaman ditambah dia belum tidur semalaman.
"Halo pak, selamat pagi"
"Iya, saya mau pesan kamar yang single room"
"Baik pak, tunggu ya kami proses dulu"
"Bapak silahkan bisa mohon isi data ini dulu"
Andre pun meraih pulpen dan mengisi pertanyaan basic di kertas tersebut.
Beberapa saat kemudian, pelayan hotel memberikan kunci kamar tertuliskan angka 9 di gantungan kunci tersebut.
Baru saja Andre akan melangkah pergi, dia melihat di depan pintu Masih ada mobil Riki terparkir disana. Tapi Andre tak ambil pusing karena dia sudah merasakan tidak nyaman di kepalanya yang terasa berat.
Andre segera menuju kamarnya dan segera membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur empuk itu dengan sangat nyaman lalu tidur pulas.
Hanya dengan tidur, dia akan melupakan sejenak tentang Dahlia yang akhir-akhir ini terus dia rindukan bayangannya. Bertahun-tahun sampai akhirnya dia ingat dengan perempuan yang telah dia hancurkan hidupnya tersebut di Masa lalu.
Perempuan yang telah mencintai dia sepenuh hati yang telah dia campakkan dengan sangat kejam.
Disisi lain, Riki segera melajukan mobilnya ke arah berlawanan dari perusahaan Healthy Food milik Andre. Tapi dia menuju apartement nya sendiri.
Yap, setelah Andre dan Anita pindah ke rumah baru di pavillion apartement yang awalnya dia tinggali, dia berikan kepada Riki atas dedikasinya selama ini menemani Andre berjuang dari awal sampai akhirnya sesukses sekarang ini.
Riki segera bergegas ke kamarnya, setelah dia Masukkan kata sandi. Telah ada seorang perempuan dengan handuk melingkar di badannya. Dan rambut yang Masih basah di tubuhnya. Perempuan itu berjalan pelan ke arah Riki dan memeluk tubuhnya sesegera mungkin.
"Sayang, aku sudah nunggu lama loh ini" bisik perempuan itu di telinga Riki
"Maaf ya sayang, tadi kan harus nganter mantan suami kamu dulu"
Yah, perempuan yang saat ini sedang memeluk tubuh Riki dengan sangat erat tidak lain adalah Dahlia. Perempuan yang selalu membayangi hari-hari Andre akhir-akhir ini.
"Sayang kamu wangi banget ya"
"Iya dong sayang"
Riki pun segera menggendong Dahlia dan menghabiskan waktu bersama Dahlia sepanjang hari. Mereka berdua pun tertidur pulas menyelami ingatan Masing-Masing dalam mimpi yang indah.
Dahlia memimpikan bagaimana awal mula dia bertemu Riki dan menjalin cinta dengannya jauh sebelum Andre berselingkuh dengan Anita.
Tapi di akhir kisah mereka, Dahlia bertindak sebagai pihak yang paling tersakiti di mata orang lain. Banyak rahasia yang Dahlia dan Riki rahasiakan berdua, mereka menjaga semuanya dengan rapi dan tak ingin di ketahui oleh siapapun.
Tak terasa mereka telah tertidur sampai sore hari. Riki pun segera meraih ponselnya untuk meMastikan apakah ada panggilan dari Andre atau tidak.
"Emmm, kenapa sayang?" Tanya Dahlia yang juga baru bangun
"Aku cek telfon dari Andre, ternyata ga ada"
"Pastinya dia Masih tidur sayang" jawab Dahlia sambil meraih selimut dan melanjutkan tidurnya.
Beda dengan Riki yang bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk ke rumah sakit melihat Aluna.
"Sayang, sayang"
"Aku pergi dulu ya"
"Ummm" jawab Dahlia setengah sadar karena dirinya yang di kuasai rasa kantuk
Di waktu yang sama Andre merasakan keram di lehernya karena posisi tidurnya yang kurang nyaman.
Tak ingin bermalas-malasan lebih lama, Andre segera meraih ponselnya yang saat ini tergeletak di sampingnya.
"Halo Riki, kamu dimana?"
"Halo pak, saya sedang di jalan menuju Rumah sakit"
"Bapak ingin saya jemput?"
"Tidak, jam 9 malam saja jemput saya. Saya ingin istirahat lebih lama" jawab Andre
"WhatsApp saja perkembangan Aluna nanti setibamu di rumah sakit"
"Baik pak"
Andre pun menggeser ponselnya dan menatap langit kamar hotel dengan pandangan kosong tanpa menafsirkan perasaan apapun.
Andre pun meraih ponselnya kembali, dan menggulir kontak di handphone nya. Dia mengetuk lambang telfon hijau di sebelah kiri lalu ada suara perempuan menjawab di seberang sana
"Halo Mas"
"Kamu dimana?" Tanya Andre tanpa basa basi
"Dirumah Mas"
"Kamu bisa temui saya nggak"
"Dimana Mas?"
"Di hotel Grandmax Aulia"
"Jam berapa Mas? saya Masih ada tugas kuliah ini" jawab perempuan tersebut
"Sekarang ya, saya orderkan ojek untuk jemput kamu"
"Okedeh kalau gitu Mas, Naya siap-siap dulu"
Rupanya perempuan yang Andre panggil ketika dia membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya adalah Naya Anastasya mantan adik iparnya sendiri yang saat ini Masih kuliah semester 5 jurusan psikologi.
Selang beberapa lama, pintu kamar Andre di ketuk.
Andre beranjak membukakannya. Tampak seorang gadis yang sangat manis ketika tersenyum. Naya pun di persilahkan Masuk dan duduk di sofa bersama Andre.
Tanpa sepengetahuan Anita dan siapapun Andre lah yang telah membiayai pengobatan dan pendidikan Naya selama ini. Rupanya Andre menyimpan rahasia dari permukaan rumah tangganya.
"Mas ada Masalah apa lagi, sampai manggil Naya kesini?" Tanya Naya meMastikan. Seolah ini bukan pertama kalinya bagi mereka.
"Mas, kangen sama kamu"
"Hmmm, sama Naya atau Mbak Dahlia" lirik Naya tajam
"Kamulah"
Tanpa aba-aba Andre segera merebahkan kepalanya di paha Naya, lalu mulai menceritakan semua suka dukanya. Ada rasa nyaman yang tidak bisa dia dapatkan dengan siapapun selain bersama Naya.
Mungkin karena Naya yang paham kejiwaan dan mental orang lain sehingga dia tidak kesulitan untuk memahami perasaan Andre.
Andre merasakan tenggelam dan hanyut makin jauh dengan kebersamaannya dengan Naya. Andre juga tidak malu sama sekali untuk menceritakan semua bebannya sembari menangis.
Naya hanya bisa mengunci semua kemarahan dalam hatinya. Bagaimana pun manusia yang berbaring di atas pahanya saat ini adalah lelaki tua yang sudah menyakiti hati kakak satu-satunya Naya yaitu Dahlia dan keponakannya. Naya seolah menyembunyikan rahasia di matanya yang tidak bisa di tafsirkan selain oleh dirinya sendiri.
Andre tidak bermesraan cukup jauh dengan Naya, dia hanya nyaman di dekat Naya. Bagaimana pun dia ingat betul bahwa Naya adalah adik iparnya yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri.
Sore itu, Naya menghabiskan waktunya untuk menjernihkan fikiran Andre dan setelah pukul 7 malam dia beranjak untuk pamit pulang.
"Mas, Naya pamit dulu ya, kalau ada apa-apa hubungi saja Naya" ujar Naya sembari meraih tasnya di atas meja
"Dek tunggu sebentar" jawab Andre dengan meraih ponselnya terlebih dahulu mengecek WhatsApp dari Riki 4 jam lalu.
"Non Aluna sudah bisa pulang besok atau lusa pak"
Andre pun bisa dengan tenang dan bernafas lega.
"Mas ada Masalah?" Tanya Naya lagi
Andre meraih tubuh Naya dengan sangat cepat dan mendekap dia dalam pelukannya. Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari adik iparnya tersebut.
"Terima kasih banyak ya dek, kamu sudah membuat Mas mu ini lebih baik"
"Iya Mas, Naya juga tidak akan tega melihat Mas menderita seperti ini" jawab Naya
Dengan pelan Andre pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Naya pergi.
"Sialan, butuh mandi kembang tujuh jenis bunga ini mah"
"Tua bangka mesum Gerutu Naya membatin dalam hatinya ketika meninggalkan kamar Andre.
Dirumah sakit Riki dengan setia menemani Anita menjaga Aluna.
"Mama sebaiknya tidur saja, biar saya saja yang menjaga Aluna Bu"
"Kan tidak ada Andre disini, bisa tidak kamu panggil saya ga usah Bu" lirik Anita
"Maksudnya Mama apa ya"
"Kamu Masih sayang kan sama aku?"
"Aku tau kok semua dari mata kamu" ujar Anita lagi
"Aneh kamu ya"
Anita tak ambil diam, dia meraih tangan Riki dan menariknya untuk kesisinya.
Di dalam kamar rawat Aluna tersebut, Anita meraih bibir Riki dengan penuh semangat. Riki mencoba berontak dan mendorong tubuh Anita. Tapi Anita tetap saja berusaha keras, namun bagaimana pun Anita berusaha tentu saja kekuatan Riki jauh lebih kuat.
"Apa-apaan kamu Nita"
Riki pun segera menjauh dari Anita dan keluar dari ruang perawatan Aluna.
"Lihat saja Riki, sampai kapan kamu bisa berpura-pura tidak mencintaiku lagi"
Rahasia tiap orang dalam kisah keluarga ini adalah Boomerang yang siap menghancurkan siapa saja, dan melukai siapapun tanpa permisi.