Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Perdebatan Di Meja Makan


Pagi mengangkat cahaya keemasan di ufuk timur, di pintalnya awan berarak ke hulu langit. Biru cerah menghias angkasa memberikan kesan cerah pada setiap insan yang menatap keatas penuh harap.


Air menggigilkan kulit pada mereka yang membilas badan dini hari. Syair khusyuk di antara hitam dan putih merayap jadi harapan setiap orang di dalam hidupnya.


Rumah megah The Pavillion masih damai, hanya ada suara piring yang di tata hati-hati. Juga suara sapu yang berpagutan dengan jalanan, dan daun-daun kering. Juga suara keren mobil yang di panaskan mesinnya. Juga suara nafas bayi yang tertidur pulas.


Pukul 06.12 WITA tapi kedua kamar penghuni utama rumah belum juga terlihat ada tanda-tanda akan terbuka. Seolah tidur adalah hal paling wajib di lakukan pagi hari.


Dewi berinisiatif untuk membangunkan Nona rumahnya, sebab dia tau betul hari ini adalah hari pertama gadis yang dia temani semenjak Masih kecil sampai saat ini akan Masuk sekolah.


Meskipun Dewi tidak tau dimana Nona nya akan sekolah tapi dia paham bahwa Senin hari ini di maksudkan bahwa Aluna akan Masuk sekolah untuk pertama kalinya setelah melewati banyak waktu dengan belajar dirumah.


"Akan sepi aku, kalau Non Aluna pergi sekolah" sebab Aluna yang selalu menemani Dewi saat dia bekerja dan Aluna selalu belajar apa yang di kerjakan Dewi, termasuk masak dan bersih-bersih rumah. Tidak jarang dia juga membantunya walaupun sudah di larang.


Dewi sudah berdiri di depan pintu kayu jati dengan cat putih berdiri kokoh itu, Dewi pun tanpa menunggu lama langsung mengetuk pintu Aluna mulai dari ritme pelan, sampai cenderung berisik.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Non Aluna, Non?"


"Non..."


Dewi di usianya yang sudah di awal kepala lima ini dtambah staminanya yang sudah tidak selincah dulu hanya bisa terus pasrah mengetuk pintu.


“Setiap hari bangunin Non Aluna kayak gitu Mbak?” tanya suster perawat Zeus yang baru saja beres memandikan Zeus.


“iya sust, gini sampai pegal, haha” jawab Dewi dengan disusul tawa antara mereka


“Kalau begitu, saya pamit dulu ya Mbak, mau ajak Zeus jalan-jalan ditaman”


“Halo tuan muda, selamat jalan-jalan” Sapa Dewi kepada Zeus dengan dibalas tawa ceriah dari wajah mungil Zeus.


“Dadahhh Mbak Dewi” Tambah Suster dengan melambaikan tangan kecil Zeus kea rah Dewi.


“Non Alunaaaaaaa….” Dewi kembali berusaha membangunkan Aluna.


"Ummmm, iya Mbak"


“Alhamdulillah, akhirnya YaALLAH” Keluh Dewi dengan lega


"Udah bangun kan Non?"


"Ummm" jawab Aluna malas


"Jangan tidur lagi Non, nanti telat ke sekolah" tanya Dewi lagi dibalik pintu


"Astagaaaaa.... Iya ya Mbak" terdengar Aluna yang segera beranjak dari tidur cantiknya.


" Krekkk ..... "


Aluna pun membukakan pintu untuk Dewi dan mempersilahkannya untuk Masuk.


"Mbak Dewi, ayok buruan .." Dewi belum sempat merespon apapun Aluna telah lebih dulu menarik tangan Dewi untuk membantunya siap-siap.


"Saya bantu apa Non?"


"Mbak siapin semua seragam Aluna, sama buku-buku Aluna di tas"


"Oke Non"


"Aluna mau mandi dulu" Ujar Aluna sembari meraih handuknya dan berlari dengan tegesa-gesa


“Hati-hati Non”


“Iyaaa Mbak, aman” Jawab Aluna santai


"Harusnya ini udah beres dari semalam, huuuu, gini nih kalau tidak tau rasanya di pukul sapu ijuk sama guru kalau terlambat,hahaha " gerutu Dewi


"Aku bisa dengar loh Mbak Dewi"


"Hehehe, maaf Non"


"Mbak udah jam berapa?" Teriak Aluna dari Kamar mandi


"Enam tiga dua Non"


"Udah ga usah lama mandinya Non"


"Iya Mbak, ini udah balapan sama air"


"Hahahha.." Dewi hanya bisa tertawa mendengar tuan rumahnya itu mengoceh terus menerus bukannya fokus mandi.


Lima menit kemudian Aluna keluar kamar mandi dengan handuk Masih diatas kepalanya.


"YaAllah, malah keramas.. perlu keringin rambut lagi" protes Dewi lagi


"Memangnya ga boleh keramas ya Mbak” tanya Aluna polos


“Bukannya ga boleh tapi lama lagi Non siap-siapnya”


Yamaap" lirik Aluna merasa bersalah


"Sini cepatan duduk, biar rambutnya di keringin"


"Aku ga pakai seragam dulu?" Tanya Aluna polos


"Oh iya ya" jawab Aluna dengan menggaruk tengkuknya pertanda paham


Perlu sepuluh menit untuk Aluna siap-siap. Akhirnya dia siap dengan seragam putih abu-abu dan rok selutut ditambah tas hitam mungil di punggungnya dan sepatu kets putih yang melindungi kedua kaki mungilnya. Wajah Aluna sangat cantik, kulit putih bersih, dan rambut yang tergerai sempurna.


"MasyaAllah, cantiknya" ujar Dewi yang memperhatikan Aluna dari ujung kaki sampai ujung kepalanya


"Aku ga keliatan anehkan Mbak?"


"Ndak lah, orang Non cantik banget"


Senyum Aluna pun merekah di kedua pipinya berseri. Dia sudah bertekad akan memulai hari dengan kebahagiaan dalam hidupnya mulai hari ini.


Aluna dengan ditemani Dewi segera bergegas untuk menuju ke ruang makan untuk sarapan.


"Mama Ayah udah bangun ga ya Mbak?"


Tanya Aluna ke Dewi ketika menuruni tangga sembari mereka menoleh kea rah yang sama yaitu kamar Ayah dan Mama Aluna yang bersebrangan dengan tangga.


"Kayaknya sudah Non, lampu kamarnya saja tuh liat udah nyala"


"Umm iya ya Mbak"


"Mungkin Ayah sama Mama lagi mandi Non"


Aluna dan Dewi sampai di meja makan, Dewi pun dengan lincah mengambilkan semua makanan yang biasa Aluna makan ketika sarapan. Susu coklat hangat, dan nasi goreng seafood. Beberapa saat kemudian akhirnya Andre dan Anita juga ikut bergabung. "


"Morning sayang" ujar Andre dengan segera mengecup pelan dahi putrinya tersebut.


"Morning Ayah, Mama"


Anita tak membalas apapun dia dengan santai Duduk di kursi yang berhadapan dengan Aluna.


"Sepertinya Mama tetap tidak ikhlas membiarkan Aluna sekolah di tempat umum" bisik Aluna ke Andre


"Tidak sayang, Mama mu lagi banyak fikiran di butik, dia udah izinin Aluna kok" jawab Andre lagi menenangkan cemas Aluna


"Jadikan Ayah antar Aluna ke sekolah?"


"Aduh, maaf sayang kayaknya Ayah ga bisa karena ada meeting nanti jam 8"


"Huuuuuuu" Aluna pun menarik nafas kesal


"Aluna sama Mama saja ya ke sekolah?"


“Hmmm, kok jadi sama Mama sih Ayah” Tolak Aluna


"Aku juga ga bisa, mau ke butik" jawab Anita acuh


"Terus Aluna sama siapa dong?" Ujar Aluna meletakkan sendoknya, dia kehilangan selera makan seketika.


"Aluna kan ga tau apa-apa, nanti kalua Aluna nyasar gimana?"


“Kamu udah besar, jangan manjaa” lirik Anita tajam


“Sudah sudah, kamu ke sekolah di antar sama Mas Baim saja yah, supir Ayah?"


"Ga mauuu, Aluna ga mau. Titik!”


"Kamu mau sekolah atau ga?. Kalau ga mau ya ga usah sekolah aja sekalian" Lirik Anita sinis.


"Mauuu" jawab Aluna pelan


"Yaudah nurut, makanya" Jawab Anita lagi yang berhasil membuat air mata bersembunyi di ujung mata Aluna


"Ummm" Aluna pun hanya bisa menunduk lesu


Sedangkan Andre tidak bisa apa-apa sebab dia punya meeting yang sangat penting pagi ini untuk kemajuan perusahaan.


Setelah menyelesaikan sarapannya, dia pun beranjak dari meja makan, meraih tas punggung dan air di botol yang telah disiapkan Dewi sebelumnya.


"Mbak Dewi, Aluna berangkat sekolah dulu ya"


"Iya Non, hati-hati ya" jawab Dewi yang terlihat keluar dari arah dapur untuk melihat nya pergi


Aluna pun berlalu dari meja makan dengan mengabaikan kedua orangtuanya. Andre hanya terdiam dia paham betul bagaimana suasana hati putrinya itu saat ini.


"Anak ga punya sopan santun" Anita pun beranjak dari kursinya


"Udah maaa, Aluna lagi ngambek itu jadi kayak gitu" Andre meraih tangan Anita dengan cepat untuk mencegah istrinya membuat kacau di hari pertama putrinya sekolah.


"Tapi ga boleh gitu dong Mas, kita yang ngurusin semuanya tapi dia seenaknya gitu. Harus di hajar tuh anak, biar tau rasa"


"Bu Anita serem juga, anak sendiri mau di hajar" ujar Dewi membatin


Andre hanya terdiam dia masih memegang pinggang Anita agar kembali duduk saja menghabiskan sarapannya. Andre pun menatap wajah Anita yang di penuhi kebencian tak ada rasa cemas seorang Mama kepada anaknya dibalik wajah Anita di mata Andre. Tapi dia segera menepis semua prasangka itu lagi.


"Mungkin karena Anita merasa gak di hargai saja sama Aluna"


Sedangkan Anita mulai diam dan memikirkan sesuatu yang entah apa. Tapi dia terlihat jelas mengiyakan rencana di kepalanya.