
Mas, harus istirahat sekarang"
"Aku ga apa-apa"
"Mas itu tadi efek ga tidur semalaman kan, sampai halusinasi Aluna kritis"
"Aku malah pas balik dari kamar mandi, Aluna udah sendirian aja, Malam mengoyak naluri lelaki paruh baya ini hingga berserakan bagai arang hitam ditangan yang meninggalkan bekas, selalu hadir bayangan kelamnya dia tak henti-hentinya mengutuk perlakuan nya sendiri terhadap Dahlia.
Dia benamkan dirinya pada penyesalan yang sangat dalam, sesekali hidupnya terasa hampa dengan semua beban yang menari bersamaan.
"Mungkin ini karma yang pas bagi saya" kata Andre bergumam pelan. Karma pahit yang ia telan mentah-mentah saat ini, karena telah mengkhianati Dahlia dulu.
Luka Dahlia mengudara menjadi doa lalu mengubah dosa-dosa menjadi buih yang banyak lalu berbuah karma.
Sungguh akhirnya Andre menyadari kesalahannya. Andai saja dulu ia tidak tertarik dengan kemolekan wajah dan kelembutan kata Anita, ia tidak mungkin kehilangan seorang perempuan yang telah menghabiskan seluruh harta warisan keluarganya untuk menopang bisnis nya dulu.
Seorang perempuan yang tidak suka dengan pakaian mahal dan hanya bisa menghabiskan waktu belajar masak agar menghemat uang bulanan.
Sehingga selama bersamanya ia tidak pernah merasakan bosan dengan Masakan Dahlia yang selalu beragam.
"Masak apa hari ini sayang?" Tanya Andre memeluk pelan tubuh mungil Dahlia dari belakang.
"Ini pepes ikan lele Mas"
"Pantesan wangi banget ya"
"Iya dong, gih mandi dulu Mas. Bau keringat huuuu" kata Dahlia menegur bau badan suaminya itu.
"Air panas nya sudah aku siapkan, sama pakaian ya Mas"
"Terima kasih ya sayang" tak lupa Andre mengecup punggung Dahlia dengan penuh kasih. Sedangkan Dahlia tersenyum penuh bahagia.
Keseharian yang menyenangkan di tengah-tengah keluarga kecil nya merayap dalam memori Andre walaupun belum ada anak diantara mereka tapi mereka menikmati hidup yang betapa mudahnya bahagia dia peroleh ketika dulu Masih bersama Dahlia.
walaupun Masih sangat berkekurangan. Dahlia selalu memperhatikan dan mengorbankan banyak hal untuknya. Selama Masa pernikahan Dahlia tidaklah beda dengan perempuan pada umumnya yang selalu menangis diam-diam karena merindukan kehadiran seorang anak dalam keluarga kecil kami.
Namun ketika ia akhirnya hamil ia harus mendapatkan kenyataan yang memilukan, karena Andre yang akhirnya ia lihat bersama seorang perempuan yang tidak lain adalah orang terdekat Dahlia.
Dahlia menghabiskan waktu nya dengan memendam perasaan yang tercabik dan terluka. Di awal ia Masih bertahan, tapi semenjak itu pula Andre semakin jarang pulang, dan akhirnya Dahlia yang mengalah untuk pergi.
Terlalu lama Andre hanyut dengan kenangannya hingga tak merasa bahwa matahari sudah meninggikan cerahnya. Langit biru tampak sMamak mengaktifkan edaran awan biru di atas sana.
Andre berusaha mulai menutup kedua matanya. Tapi sayangnya Aluna sudah terbangun dan mengaduh memanggil namanya.
"Ayah, Ayah"
"Kepala Aluna sakit"
Keluhan Aluna menghilangkan kantuk Andre segera. Baru saja ia ingin membangun kan Anita, ternyata Anita sudah tidak ada di tempat tidurnya semula.
"Kemana Anita, kok aku sampai ga sadar dia pergi" rupanya Andre sedari tadi terlalu tenggelam dengan ingatannya sendiri hingga tak menyadari yang telah terjadi di sekitarnya.
Andre pun segera bangkit dan menghampiri Aluna.
"Sayang, kenapa"?
"Kepala Aluna sakit Ayah"
"Tunggu ya sayang, Ayah panggilin dokter dulu"
Andre meninggalkan Aluna yang Masih menyeringai menahan rasa sakit di kepalanya. Tak berselang lama Anita pun Masuk, ia mendekati Aluna dan membisikkan sesuatu.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Anita menghampiri putrinya itu
"Aku ga apa-apa ma" jawab Aluna ketus
"Kamu yakin ga apa-apa sayang?" Seketika Anita memegang kepala Aluna, lalu membacakan sesuatu yang ia rapal dengan mulutnya tak lupa memejamkan mata dan beberapa kali mengusap dahi Aluna.
Tidak lupa Anita menyayat sendiri tangannya hingga mengeluarkan darah lalu ia biarkan darah menetes ke bibir Aluna. Tampak Aluna merasakan rasa amis dan ingin muntah seketika.
Bagaimana pun itu adalah darah dan bagi Aluna itu menjijikkan. Setelah itu, ajaibnya Aluna tak merasakan lagi sakit kepalanya. Aluna bahkan menjadi lebih sehat setelah menerima pengobatan dari Anita. Entah apa lagi yang Anita tak pernah cerita kan kepada suaminya. Ia seolah bisa segila itu untuk melakukan apapun.
Tidak beberapa lama Andre akhirnya datang dan membawa dokter bersamanya.
Tapi melihat Aluna yang bahkan duduk bercanda dengan Anita. Aluna bahkan tertawa dengan sangat renyah.
"Kamu udah ga apa-apa sayang?
"Aluna sehat-sehat saja kok Mas"
Dokter hanya bisa berinisiatif untuk memeriksa Aluna.
"Sepertinya delirium Mas kambuh lagi, karena dari tadi Aluna sama aku Mas, dan dia malah makin sehat"
"Aluna keadaan nya sudah sangat sehat, kalau stabil terus sudah bisa pulang besok " ujar dokter Setelah memeriksa tubuh Aluna.
Andre menarik nafas dalam-dalam sebab ia telah berlari-lari di koridor untuk mencari ruangan dokter yang menangani Aluna sebelumnya. Ia berfikir keadaan Aluna akan sangat membahayakan baginya.
Sampai akhirnya sekarang ia hanya bisa mengucapkan syukur karena keadaan putrinya yang baik-baik saja.
"Kalau demikian, saya permisi dulu ya" kata dokter seraya ingin meninggalkan ruangan
"Tunggu dok, anak saya benar-benar sudah baik-baik saja"? Tanya Andre memtikan
"Iya pak, putri bapak sudah sehat"
"Maafkan suami saya ya dok, dia terlalu mencemaskan putri kami jadi paranoid gini"
"Iya Mama, tidak apa-apa saya paham perasaan pak Andre"
"Baik kalau begitu, saya permisi ya pak, Mama"
"Silahkan dok"
Andre hanya mematung baginya tadi adalah kenyataan yang ia alami. Tapi kenapa Anita malah mengatakan itu adalah sebuah delusi Andre semata.
Mas udah ga ada"
"Kata Aluna, tadi Mas lari-larian"
"Benar gitu kan sayang?" Tanya Anita ke Aluna
"Iya ma" terang Aluna jelas
Andre hanya bisa terduduk pelan, dan memaknai semua yang terjadi pagi ini.
"Maafin Ayah ya sayang, bikin kamu ga nyaman sama sikap Ayah yang tiba-tiba paranoid kayak tadi. Kamu pasti takut banget" kata-kata Andre ia ucapkan dengan tertunduk dan membuat Aluna terenyuh tanpa sadar meneteskan air mata. Anita pun dengan cepat melirik tajam ke arah nya yang menyebabkan Aluna hanya bisa menyeka pipinya yang sudah basah dengan cairan bening dari kedua pelupuk matanya.
"Ga pa-pa Ayah, Aluna baik-baik saya"
"Itu sayang, Aluna tidak apa-apa. Bagaimana kalau Mas pulang dulu istirahat. Aluna biar aku yang jaga disini"
"Iya Ayah, Aluna ga apa-apa. Ayah juga butuh istirahat"
"Tapi Mas jangan nyetir sendiri. Biar aku yang telfon Riki untuk mengantarkan Mas pulang kerumah"
"Huum"
Andre tidak punya pilihan lain, selain mengangguk tanda setuju terhadap titah istrinya tersebut.
"Loh dari mana Anita mengetahui nomor Riki" tanya Andre membatin
"Kamu ada nomornya Riki?" Tanya Andre secara langsung akhirnya
"Iya Mas ada, kan pernah aku minta sama Mas"
"Kok aku tidak tau ya"
"Waktu Aluna itu sakit dulu Mas, pas aku di larang ketemu Aluna"
"Hmm, aku ga ingat"
"Mas kebiasaan deh, lupa melulu"
"Umm, iya mungkin ya" jawab Andre sekenanya. Karena dia Masih merasa tidak pernah memberikan nomor Riki ke Anita.
Sedangkan di sisi lain justru Aluna melirik sinis ke arah Anita. Kebencian terhadap Mamanya itu bagai Boomerang yang akan segera meledak.