Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Waduk Pampam Kedua Kalinya


"Halo Mas, Mas, Aluna Mas"


"Ada apa, kok panik gitu suaranya” tanya Andre di ujung sana tidak kalah paniknya.


"Aluna Mas, Aluna" jawab Anita dengan suara bergetar.


"Aluna kenapa, coba pelan-pelan sayang"


"Aluna ga mau keluar kamar Mas"


"Mas bisa pulang sekarang ga?" Suara Anita memelas.


"Kamu jangan panik, panggil kang Baim di depan untuk bantu.


"Iya Mas, buruan ya sayang"


"Iya sayang aku pulang sekarang, hubungi terus kalau ada apa-apa"


"Iya Mas, hati-hati ya"


"Iya sayang"


Andre pun segera menutup ponsel pintarnya itu dan meMasukkan kedalam tas kantor miliknya. Tidak menunggu lama Andre menghubungi Riki dulu sebelum meninggalkan kantor.


"Riki, segera ke ruangan saya"


"Iya pak"


"Batalkan semua jadwal saya hari ini" perintah Andre


"Tapi pak, hari ini ada meeting dengan klien besar dari Jepang"


"Pokoknya saya tidak mau tau, batalkan semua"


Riki terdiam sejenak sampai akhirnya mengangguk pelan dan menundukkan kepalanya.


"Baik pak laksanakan"


Setelah menyelesaikan semua Masalah kantor, Andre dengan buru-buru menuju basement untuk mengambil mobilnya dan bersiap pulang menuju rumahnya.


"Apa lagi kali ini" gerutu Andre


"Apa karena kami jarang ibadah ya tuhan" ujar Andre menatap ke arah langit sejenak.


Pasalnya kehidupan rumah tangga Andre begitu banyak halang rintang dan Masalah yang terus menerus datang di sekitar mereka.


Mereka tak juga mengingat amanah dari pendeta Arnold sebelumnya untuk menjaga relasi keluarganya dengan Tuhan.


Setelah Anita sembuh, Andre tidak pernah lagi mengajak keluarganya untuk ke rumah ibadah yaitu di gereja.


Malah memilih untuk mengatur liburan keluarga setiap pekannya. Ada rasa sesal yang menggelitik ulu hatinya karena menyadari semua kesalahan dia tidak berhasil membentuk keluarga kecilnya menjadi keluarga yang taat pada Tuhan.


Disisi lain, Anita Masih terus mengetuk pintu kamar Aluna sembari menunggu kedatangan Dewi. Jelang beberapa saat akhirnya Dewi sampai dilantai dua dengan nafas tersengal.


"Ini Bu, kuncinya" sodor Dewi sembari memegang kedua lututnya yang sudah kian renta. Dewi menyodorkan duplikat kunci kamar Aluna kepada Anita setelah mencari semua isi laci di lantai bawah. Setelah memutar dua kali.


Krekkk.... Krek ...


Pintu dengan nuansa putih bersih itu akhirnya terbuka. Mata Anita mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tak ia dapati apapun disana. TerMasuk putri yang ia sedang khawatirkan saat ini.


"Alunaaa... Aluna..." Teriak Anita


Mbak dan Anita berkeliling kesegala penjuru kamar.


Mereka membuka kamar mandi, lemari pakaian, kolong tempat tidur. Semua tempat tidak ada juga yang menampakkan keberadaan gadis 14 tahun itu.


"Mbak suruh security cek cctv segera"


"Baik Bu" mbak tergopoh-gopoh menyeret kakinya untuk berlari secepat apa yang ia bisa. Untuk menemukan keberadaan gadis yang sudah ia rawat dari dulu itu.


Sedangkan Anita berusaha menelfon ponsel Aluna. Suara dering yang familiar pun terdengar oleh Anita.


Rupanya ia tak membawa ponselnya. Anita menjadi semakin ceMas perihal keberadaan putrinya tersebut.


Ditengah cemas yang memuncak di kepala Anita, akhirnya Andre sampai dirumah. Ia berlari kecil mendaki anak tangga satu persatu.


"Sayanggg" Anita berhambur ke pelukan Andre


"Aluna ga ada Mas, aku ga tau Aluna kemana" Anita memeluk Andre dengan tangis yang menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


"Aluna pasti akan ketemu sayang, tenang ya"


Andre berusaha menenangkan Anita sejenak dan meminta ia untuk tidak banyak fikiran.


Beberapa saat kemudian, mbak datang menghampiri Andre dan Anita yang saat ini berada diruang tamu.


"Non Aluna terakhir keliatan di cctv bawa koper bu"


Ujar security di rumah megah mereka sambil menyodorkan bukti rekaman cctv yang sudah lebih dulu ia salin ke ponselnya.


Mbak yang sedari tadi terdiam, akhirnya buka suara.


"Sebenarnya saya punya fikiran pak, ibu tentang kemana non Aluna pergi"


"Kemana memangnya mbak?"


"Seperti nya non Aluna pergi menyusul Mas Denis Bu" jawab mbak dengan hati-hati


"Loh kok jadi nyusul Denis, maksud nya gimana?" Tambah Andre.


"Non Aluna kan suka sama Mas Denis"


Andre sangat kaget, setelah mendengar inforMasi dari art nya tersebut.


Karena bagaimanapun Denis adalah om Aluna sendiri, ditambah dia Masih sangat kecil untuk jatuh cinta apalagi sampai ngejar mau ikut pergi.


"Kalau sampai beneran, Aluna nyusul Denis.


Aku akan hukum berat anak itu" ujar Andre menahan emosi yang menjalar di kepalanya.


Andre tak lupa mengarahkan anggota nya untuk mencari Aluna dimana pun. Ia tidak akan membiarkan putrinya mengalami Masalah atau bahkan bahaya. Baginya Aluna adalah harta karun yang berharga.


Sedangkan Anita Masih merenung segala kemungkinan yang menari dalam kemalangan fikirannya.


Andre dan Anita pun memilih untuk menyusul Aluna ke bandara secepat mungkin yang mereka bisa. Karena tidak ingin terkena macet Andre memilih untuk membawa sepeda motor Scorpio milik security nya.


"Sayang, kamu ga pake jaket ya?" Tanya Andre


"Haaaaa, apa Mas?" Jawab Anita


"Jaket sayang, kan ini panas banget"


"Ohiya sudah tadi pagi Mas"


Andre tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Anita. Sedang Anita segera mencubit perut Andre yang mengesalkan.


Sudah lama mereka tidak menikmati kebahagiaan sederhana seperti ini. Karena biasanya mereka sama-sama sibuk dengan rutinitas yang ada.


Sedangkan dulu mereka juga menjalin hubungan sembunyi-sembunyi jadi tidak memiliki waktu untuk sekedar bertukar tujuan ke arah yang sama di jalanan umum.


45 menit mereka menempuh perjalanan ke bandara. Anita berlari kecil mencari inforMasi di bandara. Sedangkan Andre mencari tempat parkir untuk motor yang ia bawa. Di bandara juga nampak beberapa orang bawahan Andre yang membantu mencari Aluna.


"Bagaimana perkembangan keberadaan anak saya?"


"Mohon maaf pak, kami belum juga menemukan keberadaan Non Aluna"


"Apapun dan bagaimanapun caranya, segera temukan putri saya, cuman cari anak kecil saja kalian ga becus"


"permisi pak, kami segera mencari kembali pak"


Andre menghampiri Anita yang saat ini termenung di sudut, matanya membacakan narasi putus asa, dan kecewa karena gagal menjaga putrinya. Sampai ia berani kabur dari rumah.


"Jangan sedih sayang, kita pasti akan temuin Aluna"


"Aku takut, anak kita hilang lagi Mas" tangis Anita pecah di bahu Andre.


"Polisi juga akan bantu cari sayang, aku sudah hubungi Hasbi teman aku yang polisi itu"


"Iya Mas, tapi aku takut Aluna kenapa-napa"


Disaat keduanya sedang menenangkan fikiran Masing-Masing.


Tiba-tiba seorang bawahan Andre menghampiri ke arahnya.


"Maaf pak, non Aluna sudah ditemukan"


Anita terperanjat dari lamunannya. Begitupun Andre yang mendapatkan kembali harapannya.


"Dimana putri saya"


"Tapi putri bapak saat ini .... "


"Kenapa? Haaaaa" Andre membentak bawahannya yang terlalu bertele-tele


"Dia ditemukan di gudang lama di waduk Pampam pak"


"Sekarang, putri saya dimana?"


"Sudah di bawa oleh pak Riki ke rumah sakit pak"


"Oke"


"Kamu antar saya dan istri saya kerumah sakit sekarang, dan suruh yang lain untuk bawa motor yang saya bawa tadi ke rumah"


"Baik Pak, mari" Sambut bawahannya yang segera mengarahkan ke tempat dimana mobil di parkir.


Untuk kedua kalinya waduk Pampam menjadi tempat ditemukannya dua orang perempuan yang dicintai oleh Andre. Dulu Anita dan sekarang Aluna.