
Andre membawa keluarganya meninggalkan Apartemen. Ia membeli sebuah rumah di jl. Maccini Sawah di kompleks perumahan elit The Pavillion.
Rumah yang mewah dengan pekarangan luas dan kolam renang di dalamnya. Anita dan Aluna sangat takjub dengan pemandangan di hadapannya.
“Mulai sekarang kita akan tinggal dirumah ini dengan nyaman” kata Andre.
“Wah” Aluna segera berlari kedalam rumah, isinya lengkap dengan furniture mewah.
“Mas, sejak kapan Mas mempersiapkan ini semua?”
“2 tahun terakhir ini sayang” jawab Andre.
Anita pun berkeliling sejenak dan Masih takjub dengan kemewahan yang ia terima saat ini, bagaimana pun kebahagiaan dan kemewahan yang ia peroleh saat ini adalah hasil dari menghancurkan hidup sahabatnya sendiri.
Tapi rasa-rasanya Anita sudah melupakan semuanya. Ia sudah menutup mata untuk penderitaan Dahlia dan anaknya.
“Ayah, kamar Aluna dimana?”
“Diatas sayang, di lantai 2”
Kehidupan keluarga kecil Andre sangat bahagia, mereka menghabiskan banyak waktu setiap harinya.
Ditengah kesibukannya sekalipun Andre akan tetap meluangkan waktu untuk istri dan anaknya. Anita pun membuka usaha butik yang cukup terkenal dan di gemari oleh berbagai kalangan.
Tapi akhir-akhir ini, Anita tampak kurang sehat, wajahnya selalu pucat dan tidak nafsu makan. Ditambah ia selalu muntah-muntah di pagi hari.
“Sayang, aku temani ke dokter ya?” Teriak Andre dari luar kamar mandi
Beberapa saat kemudian Anita keluar dengan kondisi memegang perutnya.
“Aku gak apa-apa sayang, Masih kuat kok mungkin Masuk angin aja karena di kantor selalu kena AC” tutur Anita
“Yaudah kalau gitu, kita sarapan dulu ya”
Andre pun memapah Anita pelan-pelan ke ruang makan.
“Mama kenapa?” Tanya Aluna
“Ga apa-apa nak, kepala Mama cuman agak pusing”
“Jangan-jangan Ibu lagi hamil” ucap Dewi art dirumah mereka
Anita dan Andre hanya saling menatap.
“Aamiinin ya Dewi” jawab Andre
Sedangkan Anita sedang merawat ingatannya kapan terakhir kali ia datang bulan. Mereka bertiga pun bercengkrama hangat membahas tentang ibu-ibu bagaimana kalau lagi hamil.
Sedangkan Aluna memilih menikmati sandwich nya dengan acuh. Keluarga ini pun memulai hari dengan baik lalu kembali fokus dengan rutinitas Masing-Masing.
Malam hari ketika Andre pulang kerja. Anita menyambut hangat di depan pintu, ia tak mengucapkan sepatah katapun langsung berlari kecil memeluk hangat Andre.
Dia lalu berjinjit untuk menggapai frekuensi pendengaran Andre. Anita lalu membisikkan kata-kata magis yang berhasil membuat Andre terharu.
“Aku hamil, Mas”
“Ah sayang, serius?” ujar Andre memeluk Anita dengan erat.
Kebahagiaan bertambah di dalam rumah megah itu, tak terasa usia Aluna pun sekarang telah 11 tahun, ia tumbuh menjadi gadis yang taat agama tapi sayangnya ia menjadi gadis introvert yang kurang bersosialisasi dengan dunia luar.
Ini di karenakan ia dipilihkan oleh Anita untuk homeschooling dan kursus musik dirumah saja. Aluna bahkan hanya bisa bergaul dengan teman sebayanya ketika belajar ke gereja saja setiap hari minggu.
Anita menjaga Aluna dengan pola asuh otoriter yang hanya mementingkan peraturan yang berpusat dari orang tua.
Diruang tamu Anita dan Andre mengobrol serius.
“Sebaiknya kita kasih tau Aluna sayang, dia pasti senang banget. Bentar lagi punya adek”
“Iya Mas, nanti kita kasih tau dia”
Karena kesibukan Andre dan Anita setiap harinya mereka memilih mempekerjakan seorang art, tukang kebun, satpam, dan supir yang diberikan mess dan gaji yang cukup banyak.
Tugas mereka selain menjaga keadaan rumah tetap bersih, mereka juga harus menjaga dan memperhatikan Aluna dirumah selama mereka berdua pergi kerja.
Walaupun tidak jarang Anita juga membawa Aluna ke butik miliknya. Hanya saja Aluna sering mengeluh bosan dan hanya ingin dirumah saja.
Kabar bahagia perihal kehamilan Anita, akhirnya Andre sampaikan kepada Aluna ketika makan malam.
“Sayang, Ayah mau ngomong sesuatu”
“Umm?” Jawab Aluna singkat.
“Sebenarnya Mama kamu yang harusnya sampein ke kamu, tapi Ayah wakilin aja” tawa kecil Andre membuat Aluna mengernyitkan alis. Ia bingung mengapa Ayahnya bertele-tele seperti ini.
“Bentar lagi, Aluna ga akan sendirian lagi sayang”
“Ayah mau nikah lagi?” Tanya Aluna polos.
“Astaga, kamu nih” gerutu Anita.
“Terus apa dong?”
“Mama hamil?” Lirik Aluna
“Iya sayang, pasti senang banget kan” kata Anita
Namun, jauh dari ekspektasi Andre dan Anita justru mimik wajah Aluna berubah datar dan tidak menunjukkan ekspresi senang ataupun sedih. Seolah ia sedang menutupi perasaannya sendiri.
“Kok diam sih sayang” tanya Anita menatap lekat anak perempuannya yang sekarang sudah tumbuh dengan sangat manis
“Ga pa-pa, lagi makan” jawab Aluna ketus
“Kok bicaranya gitu ke Mamanya”
“Terus maunya gimana?, Senang? Aku harus senyum gitu? Apa ketawa? Nangis terharu? Maunya gimana?
Nihhh aku senyum..
“Gimana, Ayah sama Mama puas?”
Aluna segera meletakkan sendoknya kasar ke dalam piring. Bahkan nasi goreng spesial yang baru saja dua suapan Masuk kedalam mulutnya ia tinggalkan.
“Aluna?” Panggil Andre
Aluna hanya berjalan lurus kedepan sampai suara hentakan kakinya hilang saat menaiki tangga.
“Tenang sayang, nanti aku bicara sama Aluna. Mungkin dia belum siap jadi kakak” ujar Anita
“Tapi Aluna udah besar, ga boleh kita manjain dia terus. Nanti makin ngelawan” tambah Andre
“Udah sayang, biar aku yang urus itu, makan itu satenya nanti keburu dingin jadi keras loh Mas”
“Iya sayang”
Anita dan Andre menikmati makan malam mereka berdua dengan nyaman di selipi gurauan-gurauan kecil. Setelah selesai makan malam. Anita bergegas menuju kamar Aluna, sedangkan Andre memilih istirahat sejenak.
“Tok...tok.. tok..”
“Apaaa...”
“Ini Mama sayang, boleh ya Mama Masuk”
Lama Aluna menjawab, sampai Anita mendengar kunci pintu yang di putar dari dalam.
“Aluna duduk di depan meja belajarnya dengan diam”
Anita mendudukkan dirinya di sudut tempat tidur Aluna.
“Sayang, Aluna kan sudah besar udah dewasa”
“Terus”?
“Aluna harus bisa nerima keberadaan adek yang akan temani Aluna nantinya. Aluna ga akan kesepian lagi karena ada teman mainnya”
“Ga perlu” jawab Aluna singkat
“Jadi seorang kakak itu hebat loh sayang, Aluna bisa jadi kiblat adeknya bertumbuh, Aluna juga punya temen jalan-jalan, rumah akan rame”
“Aluna nanti Mama buang lagi” Jawab Aluna sembari menatap tajam ke arah Anita, yang berhasil membuat Anita merinding seketika.
Ada perasaan tidak nyaman di hati Anita, ditambah Aluna selalu menatap ke arah perut Anita. Tapi Anita berusaha menepis overthingkingnya sendiri, bagaimana pun Aluna ada putrinya sendiri.
“Mama sama Ayah akan berlaku adil entah itu sama Aluna ataupun sama adeknya Aluna”
Aluna hanya terdiam dan tidak mengatakan sepatah katapun. Ia Masih menatap ke arah Anita dengan tajam. Anita seolah bercermin pada kebencian yang cukup kuat dari ekor mata Aluna.
“Sayang” Anita menggoyang-goyangkan bahu Aluna.
“Kenapa ma” jawab Aluna terkejut
“Kamu kenapa sayang?”
“Ga apa-apa ma, Aluna cuman kelelahan”
“Ya sudah kamu istirahat ya sayang, besok kita ngobrol lagi”
“Huum” jawab Aluna menganggukkan kepala.
Anita pun segera menarik pelan tubuh Aluna untuk segera merebahkan tubuhnya, ia pun menarik kan selimut kesuluruh tubuh Aluna Tak lupa Anita menutup semua gorden di dalam kamar Aluna.
“Good night sayang” sembari mengecup pelan dahi Aluna
“Good night ma”
Anita segera beranjak dari duduknya karena merasa tidak aman terus berada di samping Aluna.
“Entah perasaan macam apa ini” ujar Anita dalam hatinya sembari meraih gagang pintu Aluna”
Anita merasakan ada orang lain dalam raga Aluna yang selalu melemparkan kebencian ke arah Anita.