
"Kalau gak udah jadi teman main bola nya adekku"
"Ini mau lari kemana sih"
"Kan motor kita ada dirumah mu Tiku"
"Lah iya"
"Aku udah takut banget di rumahmu Tiku, apalagi harus balik lagi kesana"
"Kita harus minta tolong kesiapa kalau gini"
"Kak Leo aja Aluna"
"Tapi ini jam 2 malam girls"
"Mana ada bisa nolong kita udah pasti dah tidur"
"Kita mikir kemana aja dulu, supaya aman"
"Aku menunjuk kearah penjual nasi goreng dengan aneka jajanan yang masih buka disana"
"Gilasih sesusah itu cari uang"
"Udah kesana aja yuk"
"Ada yang bawa uang ga? "
Aku meraih saku, tak ada apapun hanya ada ponsel
Farah juga menggeleng, begitupun Tiku. Untungnya Galuh ada uang 1 lembar merah di balik case hpnya.
Kami memesan beberapa makanan dan duduk lesehan disana untuk menunggu penjualnya selesai menyiapkannya
Tak lupa aku juga menelfon kak Leo untuk meminta tolong karena keadaan kami sekarang tidak memungkinkan
Syukurlah dia masih bangun karena sedang Nongkrong dengan teman-temannya.
Aku pun menceritakan yang terjadi kepadanya. Dia memintaku untuk menunggu sebentar lagi dan akan segera kemari.
Tak lupa aku juga melambaikan tangan ke arah Leo yang tersenyum kepada kami
"Kami matiin ya kak, daaaaaaah"
Kami duduk saling berbaris, melihat ke depan. Ada bakso, ayak geprek, nasi goreng, ayam bakar, burger, pizza, camilan random, minuman denga beraneka ragam rasanya lengkap sekali.
Lama menunggu akhirnya datang juga kak Leo bersama Alan, Akli, dan kak Risman yang merupakan sepupu dari Leo. Ku fikir dia akan datang sendirian membawa mobil rupanya dia membawa banyak orang bersamanya yaitu tak lain adalah teman-temannya
Tentu saja mereka diam dulu menatap kami dengan penampilan berantakan begini.
Hanya memakai piyama dan rambut di gerai berantakan
"Lah mana makan enak disini"
"Katanya tadi urgent"
"Gimana sih"
Gerutu Leo yang baru saja turun dari motornya bersamaan dengan yang lain
"Sini dulu makan bareng kami"
Akhirnya kakak-kakak yang baik hati ini ikut serta dengan kami
"Apa saja yang enak? "
"Pesan semua aja, biar nanti kita yang milih" Leo memang kalau soal makanan ga pernah sama sekali mikiran soal uang benar-benar the best deh pokoknya
Tak lupa kami juga menceritakan semua kejadian yang telah terjadi di rumah Tiku. Tentu saja setelah ada persetujuan dari Tiku sebagai yang punya rumah dan adik yang telah menghantui kami semalaman suntuk tadi
"Astaghfirullah, jin itu" Ucap kak Risman yang merupakan seorang akhi-akhi alim sekali penampilannya juga agamis, dengan pakaian yang rapi
"Kakak bisa bantu gak" Tanya Galuh dengan mata berbinar-binar
"Saya juga hanya tau doa-doa basic dek, ga pernah sampai usir hantu gitu-gitu" Ucapnya lalu mengunyah kembali nasi kuningnya menunduk
"Tapi aku kayak tidak percaya dengan yang kita lihat tadi" Ucapku menjelaskan
Semua mata tentu saja menatap kearahku menunggu aku menjelaskan hipotesis ku
"Yah agak ganjil sama hantu yang kita lihat tadi" Aku menjelaskan semua hal yang menurutku beda dengan mbak Ratih dan Nando yang pernah aku temui di malam sebelumnya, rasanya ada yang benar-benar membuatku aneh terhadap mereka
"Aneh gimana maksud kamu Aluna? " Farah memperbaiki posisi dekat denganku
"Yah gini"
"Malam sebelumnya aku ketemu mbak Ratih dan Nando, wajahnya baik-baik saja. Bahkan Mbak Ratih cuman diam saja"
"Gimana menurut kamu Tiku? "
"Yah benar banget, tiga tahun aku liat penampakan Nando dan mbak Ratih hanya diam saja. Tidak pernah sekalipun sampai masuk ke kamar dan menyakiti siapapun"
"Tapi tadi mbak Ratih kayak make up saja gitu, dan anak kecil di jendela kayak beda sama Nando yang kemarin malam aku ajak bicara" Sambung ku menjelaskan apa yang hendak Tiku sampaikan
"Terus pas depan pintu yang kalian sibuk cari kunci itu baru aku yakin itu Nando yang sama"
"Tunggu, Nando itu siapa? " Alan dengan wajah polos memasang wajah penasaran
"Adeknya Tiku" Jawab Galuh cepat
"Ohhhh" Jawab mereka semua hampir bersamaan sampai di lihatin oleh penjualnya
"Terus gimana lagi Aluna? Leo tampak penasaran dengan kelanjutan ceritaku
" Nando juga bilang sesuatu ke aku"
"Ah iya? "
"Huum"
"Dia bilang apaan? "
"Kak tolongin kak Tiku, gitu"
Aku juga mencontohkan cara Nando melihat kearahku tadi
"Kita harus mencari tahu yang sudah terjadi di rumahmu" Leo tampak serius
"Hanya gara-gara hantu itu anak gadis sampai ngelantur kesini rame-rame kan kocak" Akli nampak menjelaskan geli yang sedari tadi menggelitik di hatinya
"Jadi kalian pada mau kemana sekarang"
"Gatau"
"Ga mau balik ke rumah mu saja" Alan bertanya untuk memastikan
"Kayaknya aku ga sanggup deh, kalau balik ke rumah Tiku lagi" Ujar Farah berfikir
"Serem"
"Gimana kalau kerumah om ku saja kali yah"
"Kebetulan dekat sini rumahnya"
"Kenapa ga bilang dari tadi sih Tik? "
"Yah namanya juga panik, ga bisa mikir sama sekali"
"Yaudah kalau sudah kelar makannya kami anter kesana kalau gitu"
"Makasih yah kak"
Tak terasa sudah jam 4 lewat saja rasanya cepat sekali waktu berlalu. Masjid sudah berbunyi dari tadi
Untung saja ada penjual gerobak lesehan yang buka sampai subuh disini. Jadi kami aman.
Setelah semua selesai kami semua menuju rumah Om Tiku yang dia bicarakan tadi. Namanya Om Mario
Aku dibonceng oleh Leo, Galuh bersama Kak Risman, Farah dengan Akli, dan Tiku dengan Alan.
Tiku dan Alan berada di depan memimpin jalan, tentu saja hanya Tiku yang tau dimana rumah omnya yang akan kami tumpangi malam ini. Eh subuh ini tepatnya
"Gimana lukanya Aluna? " Tanya Leo dengan suara ngebass seperti biasanya mungkin efek dia yang belum tidur juga suaranya seksi sekali ditelingaku
"Udah mendingan kak, karena udah dikasih obat lagi tadi" Jawabku bohong padahal aku biarkan begitu saja
"Ohiya ada pesan dari mama mu"
"Ah mama ada pesan apa? "
"Nanti aku terusin pesannya"
"Ngapain lewat kamu siih, harusnya kan bisa chat langsung"
"Mungkin takut kamu nga respon kali Le"
"Harusnya mama ngak merasa kayak gitu, mama gak ada salah sama sekali ke aku. Papa yang salah, papa yang buat aku kabur dari rumah"
"Iya iya, tenang yaa"
Keadaan jalan cukup sepi dan udara dingin menelisik sampai ketulang.
Kasian juga Leo, tadi dia memberikan jaketnya kepadaku, padahal lengannya kedinginan, lihat saja bulu halus di tangannya berdiri semua
"Dingin banget yah kak" Bisikku pelan
"Makanya peluk" Jawabnya tak kalah pelan
Aku melihat sekitar, tapi kan kami memang paling belakang, teman yang lain tidak akan lihat.