Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Keanehan Terjadi


Pov Aluna


Malam meninggi cukup curam dengan semburan petir menyala-nyala. Aku ingin segera terlelap tapi bayangan sore tadi cukup mengusikku


Bagaimana keadaan Galuh juga Farah keduanya tampak sangat pucat hari ini. Walaupun kami tau betul yang iseng bukan hantu tapi hanya ulah manusia


Aku tetap merasa tak enak hati membiarkan sahabat-sahabatku ikut serta hanya untuk mengobati cemasku dengan toilet sekolah


Aku mengusap wajahku kasar, membiarkan kebodohan menelan habis kepalaku saja. Aku cukup menggigil, jadi mengurungkan niatku untuk tidur Aku ingin memeluk habis rasa dingin ini, tapi rasanya aku tidak sanggup


Aku semakin tidak tahan, jadi ku biarkan Kaki ku menyeret paksa tubuhku menuju lemari mencari selimut yang bisa memeluk hangat tubuhku yang ringkih ini.


"Dimana yaa"


"Hmmm... tetap tidak ada"


Aku membolak balikkan lemari di depanku dengan kesal tetap saja tidak menemukan apapun


"Apa di cuci mbak Dewi yaa"


"Tapi mana mungkin mbak Dewi masuk kamarku tanpa izin"


"Tapi kalau bukan mbak Dewi siapa lagi"


"Kan aku juga yakin banget naro selimut SpongeBob ku itu disini"


Apalah daya malam semakin hening dan tubuhku sangat ingin dihangatkan tak ada pilihan lain selain mencari sendiri ke lemari di ruang perlengkapan rumah


Sebab mbak Dewi pasti sudah tidur jam segini, sudah pukul 11 malam. Kasihan jika harus ku bangunkan sedangkan beliau harus bangun pagi besoknya.


"Tak apalah"


Aku menuruni anak tangga pelan, lampu di ruang kamar ayah dan mama sudah padam.


Tapi sepertinya tidak dengan ruang kerja mama


"Apa yang mama lakukan selarut ini, tidak biasanya dia begadang bahkan walau masalah pekerjaan"


Niat awal yang hanya ingin mengambil Selimut aku urungkan, aku ingin mengecek keadaan mama


"Jangan-jangan sudah ketiduran."


Pintu ruang kerja mama tampak setengah terbuka, aku mengendap-ngendap masuk, takut jika mengganggu beliau dan kena omelan beliau yang tidak akan menyehatkan pendengaranku.


Aku melihat seisi ruangan yang kosong, hanya ada laptop diatas meja yang masih menyala


Terlalu banyak angka di layar benda ini sehingga membuat pusing jika terus melihatnya


"Maaaaa,   Mamaaaa... "


"Mama dimana"


Aku stengah berteriak memanggil dan mencari mama dari seluruh ruang kerjanya tapi tidak ada jawaban apapun


"Apa sudah balik ke kamar ya" Itulah dugaan sementaraku.Aku memutuskan keluar saja, menutup pintu ruang kerja mama pelan. Baru saja aku membalikkan badan.


Tiba-tiba mama muncul di depanku.


"Ngapain kamuuuu" Bentaknya dengan intonasi yang kasar di tekan diantara bibirnya


"Aaaakuuu cuman mastiin mama tidur atau gak di ruang kerja"


"Ga sopan kamuu, lain kali jangan pernah masuk di ruangan saya lagi"


"Anak sialan" Umpat beliau


Mama melihat ke arah dengan mata yang asing, wajahnya memerah menahan amarah


Bukankah aku anaknya, aku hanya melihat-lihat saja


"Mama kenapaaa" Aku turut berteriak tak terima mama membentak ku terus menerus


Aku merasa aneh dengan mama yang ada di depanku sekarang


"Kamu berani yaaa"


Tangan mama tiba-tiba memanjang, kedua tangannya mencekik leherku sampai tubuh mungilku terangkat ke udara


"Maaa tolonggg"


"Alunaa takut maaa"


"Mamaaaa"


Karena tidak tahan kesakitan, aku menggapai tangan mama lalu menggigitnya kuat-kuat


Maaf maa tapi aku tidak sanggup jika aliran nafasku terus-terusan engkau halangi


Ada apa dengan mama mengapa bertingkah a aneh seperti ini.


Aku takut


Tapi suara ku terus saja menggema disini, ayah tak juga keluar kamar


"Ayah ayahh"


"Tolong Alunaa ayahhh"


Mama sudah mendekat, wajahnya tak bisa aku kenali seperti hancur seketika


Aku malah melihat mama saat ini seperti monster, mama cukup menakutkan


Aku berusaha sekuat tenaga menghindar tapi tangannya berhasil meraih kedua Kaki ku


Tangan yang berkuku panjang itu berhasil meraih Kaki ku


Aku spontan menendang mama sampai tersungkur ke belakang


Aku terus bangkit dan berlari sekuat Kaki ku sendiri meskipun harus menahan perih karena darah yang sudah mengalir deras darahnya


Mama terus saja mengejarku garang, suaranya parau dengan tawa mengikir seisi rumah


Tembok-tembok rumah tiba-tiba retak disegala sisi ku, aku masih berusaha sekuat tenaga menuju kamar tapi belum juga sampai balok yang entah dari mana menyalami tengkuk ku sehingga semua di depanku menjadi gelap seketika


Mataku menutup pelan, masih jelas wajah mama yang mengerikan, aku tidak tau harus apalagi dunia yang pijak saat ini sudah gelap dan aku cemas untuk itu


Entah mengapa aku merasa semua ini tidaklah nyata, aku merasa begitu aneh dengan semua hal yang terjadi begitu saja


Malam memeluk tubuhku yang penuh darah saat ini, entah bagaimana keadaan rumah sekarang, hancur atau bahkan sudah terbakar habis oleh ulah mama.


"Mama kenapa? "


Cahaya menyentuh pipiku, di belai lembut semua tubuhku dengan hangat


Aku melihat semua sekelilingku secepat mungkin


"Haaaaa"


Aku mengecek Kaki ku yang semalam terluka parah


"Tidak ada"


"Aku segera bangkit membuka lemari rak bawah tempat tidurku"


"Ada 5 selimut yang lengkap"


Aku yakin telah mencarinya semua malam tadi


Apa yang terjadi sebenarnya, memikirkannya saja sudah membuatku puyeng sendiri


Tubuhku terasa lebih lambat, kepalaku terasa pening dan terasa sangat lemah


Sepertinya hari ini aku tak ingin sekolah dulu, tubuhku tak kuat


Aku meraih ponselku lemah, mengetik sederet angka kepada wali kelasku dan juga mengabarkan kepada teman-temanku


"Maaf girls gua lagi g enak badan, jadi gak ke sekolah hari ini"


"Aku jugaaaa" Balas Galuh


"Aku punnn" Farah membalas


"Aku juga agak pusing" Balas Tiku


"Hahahaha "


"Jangan-jangan efek kemarin, wkwkw"


"Mana cuman hantu boongan lagi"


"Intinya kalau udah sembuh, kita harus menyelidiki siapa yang sebenarnya sudah ngerjain kita" Jawab Tiku dengan emoticon marah dan pisau disisinya


Aku mengetik lagi ingin berbagi kisah tentang hal aneh ku alami semalam dirumah ini.


Tapi aku mengurungkan diriku biarkan saja masalah mama cukup menjadi urusan keluarga ku saja


"Non Alunaa"


"Sudah jam 8 Non"


"Non Alunaa"


Mbak Dewi sudah berdiri di ambang pintu, membiarkan suaranya melewati celah dan hinggap di indra pendengaranku


Aku meletakkan ponselku, dan meraih gagang pintu untuk membukakan Mbak Dewi pintu.


"Loh Non Aluna pucat gitu"


"Non sakit yaaa"


Mbak Dewi meletakkan tangannya di dahiku untuk mengecek suhu tubuhku


"Non Aluna badannnya hangat, Non demam"


"Saya panggilin ibu ya Non"


"Gak usah mbak, aku ga apa-apa"


"Tapi Non"


"Udah ga apa-apa mbak"


"Kalau gitu Non Aluna istirahat saja dulu"


"Biar bibi buatin bubur sama obat ya Non"


"Iya mbak, makasih"


Mbak Dewi dengan wajah khawatirnya bergegas kebawah


Aku melihat seluruh ruangan yang semalam hancur berantakan


Anehnya saat ini terlihat baik-baik saja tidak ada sama sekali kerusakan apapun


"Tapi aku yakin sekali"


"Sepertinya aku memang yang berhalusinasi ya semalam"


Keanehan mama membuatku bingung dengan diriku sendiri dan segala yang aku lihat dan aku ingat.