Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Pertemuan Dengan Leo


Dengan perasaan yang kacau Aluna mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia saat ini hanya memakai kaos oblong dan celana selutut dengan rambut di ikat bawah. Aluna melihat penampilannya di depan cermin.


“Kacau banget kamu Aluna.” Ucapnya menyedihkan.


Rasanya suntuk sekali, aku memilih keliling saja. Aku ingin melepaskan semua bebanku dengan cara menyelusuri kota saja.


Aku pelan-pelan turun kebawah, menuju pintu belakang. Mbak Dewi yang melihatku segera menahan langkah Aluna.


"Loh Non, mau kemana? "


"Hustttt" Aluna memberikan kode kepada Artnya tersebut.\Mbak Dewi yang mengerti juga menolong membukakan pintu untuk Aluna.


Berhasil keluar Aluna langsung menuju garasi dan mengambil motor diam-diam.


Sengaja Aluna tidak nyalakan mesinnya meskipun harus berusaha sangat keras untuk menjadi menyeret motornya dengan susah payah.


Pak Baim supir ayahnya juga tidak ada, sepertinya sedang ke kamar mandi atau kemana . Memang Tuhan selalu disisi manusia yang membutuhkan pertolongan.


Tak butuh waktu lama Aluna berhasil keluar rumah. Dia kemudian naik ke motornya dengan seenak jidat, membiarkan isi kepala yang penuh berhamburan ke segala arah.


Karena terus ngebut dan jalanan juga cukup licin, ban motornya terpeleset dan akhirnya jatuh disamping jalan. Lutut Aluna terluka tapi tak terasa perihnya hati Aluna lebih perih saat ini.


Gadis 17 tahun seperti dia harus melewati hidup yang lara seperti ini. Aluna malah tertawa karena merasa lucu. Baru saja kemarin rasanya Aluna menjadi anak kesayangan semua orang.


Aluna memang lambat sekolah karena paranoid mama yang berlebihan terus berlangsung. Jadinya yang korban adalah pendidikan Alunanya.


Sudah sangat sepi jadi tidak ada yang berlalu lalang untuk sekedar menanyakan keadaan Aluna yang saat ini terduduk menangis. Rasanya pasti pedih sekali.


5 menit kemudian, suara motor berhenti tepat di samping Aluna. Seseorang menghampirinya dengan panik. Entah siapa itu karena tidak terasa asing bagi Aluna.


"Aluna, kamu nga apa-apa? "


"Aluna"


Aluna menatap orang di depannya tertawa seperti orang linglung sedangkan lututnya terus berdarah.


"Heii.. "


"Malah melamun, Alunaa"


"Lukanya gimana?"


Orang ini dengan sengaja mendoer dahi Aluna dengan gemes, untuk menyadarkan manusia aneh seperti Aluna.


"Eh kak Leo" Aku tersenyum kearahnya pasrah.


Dia dengan sigap menggendong Aluna menepi agar berhenti bertingkah sok kuat.


"Kamu tunggu disini ya"


"Aku cariin minum sama obat dulu"


"Diam disini"


"Awas jangan ke mana-mana"


"Ini kunci motornya, pegang"


"Telfon aku kalau ada apa-apa"


"Nomornya ga ada" Rengek Aluna acuh tidak peduli.


"Sini hpnya cepetan" Masih dengan wajah paniknya sedangkan Aluna masih cengengesan santai saja.


Dia mengetik nomor telfonnya sendiri masih dengan tangan yang gemetar karena menahan panik terhadap Aluna saat ini. Hanya saja Aluna masih terus acuh saja.


Padahal jelas Aluna hanya terluka kecil dan tidak perlu pertolongan yang mendesak. Luka Aluna tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hati Aluna saat ini yang jauh lebih berdarah parah.


Tidak butuh waktu lama, Leo kembali dengan membawa sebotol air dan juga betadine di tangannya.


"Minum dulu nih" Leo memberikan sebotol air kepada Aluna dengan anggukan kepala agar bisa langsung meneguknya. Lalu memberikan obat kepada luka di lutut Aluna yang masih berdarah.


"Loh gak sakit memangnya? " Leo terlihat heran karena ekspresi wajah Aluna yang tetap datar.


"Mukanya kok gitu sih"


"Terus aku harus gimana? "


"Harusnya perihlah"


"Lebih perih hatiku" Jawab Aluna tetap dengan wajah datar.


Leo melihat wajah Aluna lekat-lekat sepertinya dia paham sekali bahwa Aluna saat ini sedang dalam masalah.


"Terus maunya gimana?"


"Mau jalan saja"


“Yaudah tapi diam dulu, lukanya mau di obtain” Ujar Leo sabar.


"Aku kan dari tadi memang diam" Lirik Aluna dengan tajam.


" Ga gitu juga matanya " Leo segera mengusap wajah Aluna seolah dia sedang kerasukan saja.


"Apaaa ihhss" Aluna menghindar cepat.


Leo sangat telaten membantu mengobati dan membalut luka Aluna dengan sangat lembut.


"Ga mau"


"Aku ga mau pulang"


"Ayok keliling saja"


"Tapi motor ku? "


"Udah tunggu yaa"


Leo membawa motor Aluna entah kemana, sampai akhirnya kembali dengan berlari.


"Motorku mana? "


"Udah ditempat yang aman, tenang aja" Ucap Leo dengan ngos-ngosan.


"Ayok"


"Kemana? "


"Katanya mau jalan kan"


"Tunggu dulu"


Leo melepaskan jaketnya dan memakaikan kepada Aluna. Aluna segera naik kebelakang Leo, memeluk erat pinggangnya tanpa permintaan.


Aluna hanya melihat Leo yang sekilas tersenyum.


Dia melakukannya sendiri karena suasana hatinya yang tidak baik-baik saja saat ini. Bodo amat untuk apapun itu.


"Yang erat dong Alunaa"


Leo menemani Aluna keliling terus menerus bahkan sampai ke ujung kota.


"Udah keluarin aja semua"


"Ga akan ada yang dengar"


"Wanitaa sialan"


"Wanita terkutuk"


Aluna terus mengulang teriaknya berulang-ulang, membuat Leo paham dengan semua yang terjadi di rumahnya.Cukup lama Aluna berteriak, sampai serak rasanya.


"Gimana udah puas? "


"Huum" Angguk Aluna pelan.


"Kalau udah teriak, biasanya mau makan tuh"


"Makan dulu yuk" Ajak Leo.


"Mau makan apa memang? "


"Nasi kuning aja mau yaaa"


"Umm, oke"


Dipinggir jalan ternyata ada penjual makanan yang tetap buka tengah malam seperti ini. Setelah sampai Aluna langsung duduk manis sedangkan Leo memesan makanan.


Leo pun ikut duduk di sisinya. Tidak lama Mbak yang jual membawakan dua piring nasi kuning dengan lauk yang lengkap.


Ada nasi, surundeng, ayam goreng, acar, dan juga tempe goreng dan kerupuk. Tidak lupa mbaknya membawakan teh hangat dan tissue. Rasanya sangat enak dan mengenyangkan tentunya.


"Kelaparan kan udah teriak-teriak" Setelah melihat Aluna makan dengan lahap sekali.


Setelah makan, Leo membayar semua makanan mereka. Padahal Aluna juga bawa uang. Tapi biarkan saja, hehe…


"Jadi sekarang mau kemana? " Tanya Leo melirik pelan.


"Ga tau.” Jawab Aluna menatap kedepan.


"Gimana kalau ke rumah aku saja? "


"Kan ada bunda bisa temani kamu"


"Ga ah, ga enak tau"


"Terus kemana? "


"Temani ke rumah Tiku aja gimana? "


"Terserah kamu aja"


"Tunggu aku telfon dulu"


Tidak lama Aluna akhirnya ke rumah Tiku saja setelah menelfonnya. Aluna memilih Tiku karena hanya anak itu yang masih melek kalau jam 11 malam.


Aluna terus memeluk tubuh Leo untuk merendamkan hati yang masih tidak stabil. Butuh waktu 1 jam lebih untuk sampai dirumah Tiku, karena jarak mereka yang cukup jauh saat ini.


Sepanjang perjalanan Aluna menceritakan semua uneg-uneg yang terpendam dihatinya. Saat ini dia begitu kecewa karena mempunyai keluarga yang hancur dan akan kehilangan segalanya mulai sekarang.


Dia menyalahkan mamanya yang kurang perhatian dan sok sibuk juga menyalahkan ayahnya yang tidak cukup dengan satu perempuan saja. Bagi Aluna sekarang hidupnya sedang tidak baik-baik saja.