Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Pendekatan Senior Ke Junior


Farah meraih ponsel gengamnya, hendak mendokumentasikan kedatangan Aluna dengan Leo yang sangat serasi.


"Cieee, benci jadi cinta nih" ledek Akli yang menatap ke arah Leo nyengir.


"Enak aja" lirik Leo tajam.


"Makasih ya kak" ujar Aluna tersenyum hangat.


"Gimana, ini kita ikutan sama cewek-cewek makan, apa gimana?"


"Ga deh, kenyang" jawab Leo santai.


"Udah kak, ayok" ajak Galuh dengan suara cemprengnya.


"Iya kak, biar aku yang traktir hari ini" jawab Aluna senyum manis.


"Gass lah" ujar Alan semangat mendengar yang gratisan.


Mereka pun duduk di dua meja digabungkan jadi satu.


"Kakak-kakak mau pesan apa?" Tanya Farah menyodorkan menu penuh kehati-hatian.


"Samain aja semua.” Ucap Akli tersenyum.


"Hmmm, okedeh kak."


"Galuh temaniii.” Tarik Farah ketangan Galuh dengan cepat.


"Okey incess" Galuh pun beranjak menemani sahabatnya itu.


"Kamu beli dimana jaketnya Aluna perasaan tadi kamu ga bawa apa-apa deh"


"Emm dibeliin kak Leo" ujar Aluna ragu.


"Uhuuuukkk cieee" ledek Akli dan Alan bersamaan begitu pun dengan Tiku yang ikut-ikutan.


"Benci untuk mencinta, hahaha"


"Kak Leo cuman nolongin Aluna, gak lebih" jawab Aluna tenang


Leo kagum dengan kepribadian Aluna yang cukup tenang, beda dengan para cewek lain yang akan sok manja, dan sok menolak di kait-kaitkan dengan cowok.


Selang beberapa lama, Farah dan Galuh pun kembali.


"Tunggu aja, pesanannya baru dibikin" ujar Farah dan ikut bergabung dengan mereka begitu pun Galuh yang duduk berhadapan dengan Akli.


Seorang gadis dan pria pun membawakan makanan pesanan mereka, 7 buah cheeseburger ukuran jumbo, 7 buah Coca cola, 7 double choco pie, dan 7 buah kentang goreng.


"Beh, mantab nih" ujar Alan yang membantu pramusaji mengatur pesanan mereka


Mereka pun melahap makanan mereka denv sangat lahap, ditambah mereka yang sudah sedari tadi lapar dan sudah jam 2 siang.


"Ngomong-ngomong kalian namanya siapa, dari tadi belum sempat kenalan nih?" Tanya Alan kepada keempat juniornya ini.


"Oh iya ya, kenalin kak namaku Farah Astusi Ningrum Kelas 10 A, sapa saja Farah" Ujar Farah gadis dengan kerudung yang di ulurkan panjang tersebut dan tak lupa dia sambil menyunggingkan senyum di bibirnya lalu melanjutkan melahap makanannya.


"Halo kak, namaku Tiku Frankla Rara, sapa saja Tiku aku sekelas sama Farah" ujar Gadis dengan kalung salip di lehernya tersebut.


"Halo kak, namaku Galuh Trias Alandras, sekelas mereka berempat, sapa Galuh" ujar gadis dengan kerudung sebahu itu. Tak lupa dia menatap Akli untuk belas senyumannya.


"Emm, halo kenalin namaku Aluna Margaretha Caphelina Andrelios, bisa di sapa Aluna"


"Udah tau Aluna" Ucap Akli dan Alan hamper bersamaan.


"Satu sekolah juga kenal kamu hari ini, hahaha" ujar Alan tertawa di susul yang lain


"Oh iya ya" jawab Aluna malu-malu hingga pipinya merona.


"Kakak-kakak tamvaan ini juga belum kenalin diri loh ke kita-kita"


"Yaudah, kenalin deh nama aku Leonardo Praditya Anggara, kapten basket the lion di sekolah" ujar Leo sembari menghentikan kunyahannya.


"Kenalin nama aku Alanius Julian, sapa saja Alan. Ketua Grub Musik Gabligus di sekolah"


"Kenalin nama aku Muhammad Akli Kurniawan, sapa saja Akli"


Sesi perkenalan pun berakhir dan dilanjutkan oleh mereka bertujuh yang bisa fokus menikmati makan siang dengan lahap dan menyenangkan dengan candaan.


Selang beberapa lama ketika akan pulang, Leo segera mengkode seorang lelaki pelayan McD untuk membayar makanan mereka.


"Aku yang traktir yah"  ujar Aluna.


Keenam orang tersebut pun langsung melihat Aluna dengan tatapan yang sama, melihat Aluna mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. Sebuah Kartu ATM hitam tanda limit yang tidak terbatas di dalamnya Aluna raih dari dalam dompetnya. Dan tampak banyak kartu lainnya di dompet Gucci  mungil itu berjejer rapi.


"Berapa mas?" Tanya Tiku disamping Aluna.


"1,470 ribu"


"Silahkan kak"


Setelah melakukan pembayaran makanan mereka selesai. Akli penasaran dengan kartu ATM yang di pegang oleh Aluna.


"Aluna boleh liat gak kartunya?"


"Oh iya kak, silahkan"


"Kartu ATM BCA nasabah prioritas nih" tambah Leo yang ikut melihat


"Isinya berapa ini Aluna?" Tanya Farah yang ikut penasaran


"Ada sisa 3 M sepertinya" jawab Aluna tenang sebab baginya ATM nya itu sudah dia kurangi banyak untuk membeli keperluan sekolahnya sendiri


"Wahhh keren" ujar Galuh menatap kagum ke arah Aluna.


"Nih Aluna"


Aluna pun memasukkan kembali kartu ATM miliknya.


"Tunggu itu foto keluargamu?" Tanya Galuh yang tak sengaja melihat foto di dompet Aluna


"Oh iya, ini foto aku sama mama, ayah, dan adekku" ujar Aluna


"Liat dong, ucap Farah penasaran lagi"


"Beneran Andrelios dong" Akli menggeliat menatap kagum ke arah Aluna yang ternyata tidak berbohong soal identitas keluarganya.


"Wajib dokumentasi kan sih ini" Akli pun meraih foto itu dan memposting akun Instagram pribadinya. Tak lupa mereka bertujuh mengambil foto bersama sampai akhirnya berpisah.


Aluna pun pulang diantarkan oleh Tiku dengan selamat tentu saja dengan menggunakan maps di karenakan Aluna yang tidak hafal jalan di kota Jakarta tempat dia tinggal.


"Ini rumah kamu Aluna?" Tanya Tiku


"Parah, gede banget"


Tiku lahir dari keluarga yang cukup kaya raya dan dimanjakan dengan materi yang cukup, ayahnya adalah Dosen perguruan tinggi swasta, dan ibunya adalah kepala sekolah di SD 43 Jakarta.


 Tiku mempunyai rumah yang cukup megah dan mewah tapi ketika melihat rumah Aluna. Bahkan dia sendiri merasa insecure dan merasa rumahnya bukanlah apa-apa.


"Tiku mampir yuk"


"Emang ga apa-apa Aluna?"


"Ga ah, malu sama ayah dan mama mu"


"Jam segini, mereka belum pulang kok" jawab Aluna sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.


Security di rumah Aluna pun dengan sigap membukakan pintu pagar yang cukup tinggi itu dan mempersilahkan Aluna  dan tiku masuk.


"Ini aku parkir dimana?" Tanya tiku bingung pasalnya di depan rumah Aluna adalah taman yang sangat asri dan dipenuhi bunga yang sangat cantik.


"sudah seperti taman wisata botani saja" ujar tiku menatap rumah luas Aluna


"Di depan situ saja tiku di samping jalan masuk rumah"


"Okedeh" dengan segera tiku melajukan mobil Aerox miliknya, lalu di parkirkan dengan hati-hati.


"Ayok masuk" ajak Aluna dengan ajakan kepala.


Tiku pun mengikuti langkah Aluna, dan setelah pintu terbuka tampaklah di depan mata Tiku ruangan yang sangat megah bagai istana, semua pernak pernik diruang tamu begitu mewah ditambah foto keluarga cukup besar di dingin dengan bingkai emas. Tak lupa mulut tiku terus merapalkan kata kagum.