Kerikil Hidup Aluna

Kerikil Hidup Aluna
Kebenaran Om Mario


"Entah" Galuh menggeleng kepala tak tau sedangkan Tiku menata tempat tidur saat ini


30 menit berlalu Tiku juga Farah akhirnya selesai juga membersihkan badan. Aku sudah memburu-buruinya sedari tadi karena aku sudah sangat lapar. Yaa iyalah orang sudah siang begini. Wajar sebagai manusia biasa aku sudah lemah, letih, lesu, lunglai tak berdaya


Galuh dia tak banyak bicara sibuk dengan ponselnya berkirim pesam dengan entah siapa. Sesekali dia tersenyum sendiri. Aku tak menghiraukan dia yang asyik sendiri


Kami pun akhirnya turun ke ruang tamu. Sudah ada makanan dibalik tudung saji.


Nasi yang masih hangat, ikan bakar, dan juga sayur cah kangkung "


Secepatnya perutku kriuk kriuk melihat lauk makanan diatas meja


"Uhhhh sedep banget" Farah mengambil posisi di ikuti olehku dan yang lain. Anak itu memang kalau soal makanan gak ada lawan


Kami berempat pun menikmati makanan yang telah disiapkan oleh om Mario dengan sangat lahap.


Tak lupa ketika telah kenyang kami tentu saja cuci piring dan Bersih-bersih


Ohiya sampai lupa, hari ini kami berniat kerumah Tiku untuk mengambil baju dan barang-barang Galuh juga Farah. Tapi kami mencari dulu keberadaan om Mario untuk meminjam mobil miliknya, mengingat motor kami masih ada di garasi rumah Tiku.


Tiku mengetuk pelan pintu kamar om Mario, tapi tidak ada jawaban apapun


"Mungkin lagi tidur yaah"


"Loh pintu kamarnya ga ke kunci" Tiku melirik kearah kami seolah mencari persetujuan


Aku mengangguk begitu juga yang lain


Perlahan tapi pasti, Tiku meraih gagang pintu dan membukanya tapi tidak ada apapun disana. Kondisi kamarnya sangat bersih. Sepertinya om Tiku ini seorang yang sangat menyukai kebersihan atau perfeksionis.


Apa di halaman belakang yaa, kami pun berjalan mengikuti Tiku lagi. Jelas ini hari minggu jadi om Mario tidak pergi kerja atau hanya keluar belanja mungkin


Tak jauh dari halaman belakang rumah Om Mario ada sebuah bangunan kecil mungkin hanya berukuran 3×4


"Itu ruang apaan? " Tanyaku sembari menunjuk ke bangunan yang aku maksud


"Yuk cek dulu" Ajak Tiku


Kami akhirnya mengikuti langkah Tiku menuju bangunan kecil tersebut


"Rupanya terkunci"


"Kamu ada jepit rambut ga Aluna? " Tanya Farah melirik


"Ada"


Aku melepaskan jepit rambut poni ku ke Farah


Dia dengan cermat memutar gembok menggunakan jepit rambut milikku. Dan ajaibnya pintu itu berhasil terbuka


"Krek... " Bunyi pintu yang sudah cukup tua ini


"Rupanya ini gudang, banyak sekali alat-alat perkebunan disini" Galuh mengedarkan pandangan kesemua ruangan


"Om Mario jelas tidak ada disana" Ucapku penuh penekanan


"Jadi gimana sekarang? "


"Kita tunggu dia saja pulang di teras" Usul Galuh


"Bukan ide yang buruk" Tambah ku


Saat akan melangkah keluar, kaki Farah tak sengaja menginjak pijakan lantai yang bergeser sendiri


"Kreeeekkk"


Sebuah tangga muncul dari celah yang dibuat oleh lantai tadi


"Ah apa ini"


"Mau masuk ke dalam atau gimana"


"Mungkin saja Om Mario ada di dalam kan yah"


"Tapi ini kayak ruang rahasia deh, apa ngak lancang kalau kita masuk kesini"


"Udah biar aku yang tanggung jawab" Tiku memotong pembicaraan kami dan memimpin jalan kedepan menuruni anak tangga


Ruangan ini cukup bersih, seperti nya Om Mario rutin kemari untuk membersihkannya


Ruangannya cukup gelap, tak ada pelita disini.


"Coba cari saklar lampu Gilrs"


Dengan bermodal flash HP aku berhasil meraih saklar lampu di ruangan ini


Trenggggg


"Ruangan apa ini"


"Gilaa keren banget" Ucap Tiku memperhatikan sekitar


Ruang rahasia ini di penuhi oleh benda-benda tajam, ada gergaji, kapak, pisau berbagai ukuran, dan banyak hal lainnya.


Tak lupa ada meja besar seperti meja bedah, dan sebuah lemari es yang cukup besar


"Ada air dingin ga yah" Farah tampak acuh dan mendekati lemari es yang terlihat lampunya menyala


Baru saja Farah membukanya, dia segera berteriak


"Aaaaaaaaaah"


"Apa Farah"


Lutut Farah lamgsung lemas begitu saja, bahkan tak bisa membuka mulut untuk bicara


Kami bertiga berhambur ke arahnya khawatir.


"A... A... d... A.... Mayat" Ucap Farah menangis ketakutan


Aku melirik ke arah Galuh bersamaan, sedangkan Tiku membantu Farah berdiri


Aku membuka kembali lemari Es tadi dan betapa terkejutnya kami


"Ii.. Ini kan perempuan tadi"


Tiku yang masih memapah Farah ikut penasaran. Dia terlihat sangat syok dan tidak percaya


"Tante Sintaaa"......


"Jadi selama ini tante Sinta ada disini, diawetkan oleh suaminya sendiri"


"Berarti tempat ini sangat berbahaya, kita harus segera keluar dari sini"


"Pasti Om Mario bukan orang baik"


Baru saja kami di tangga, Tiba-tiba ada suara orang datang


"Ngumpet buruan"


Kami berempat berlari menuju lemari kayu yang cukup besar untuk bersembunyi di dalamnya.


Tak lama orang itu turun, melewati tangga menyeret sesuatu yang berat di punggungnya


Mata kami membulat sempurna saat om Mario membuka karung yang di bawanya


"Ma ma.... " Ucap Tiku ingin berteriak untung saja tanganku cukup cepat untuk menutup mulutnya sempurna, hampir saja kita ikut bahaya karena ulahnya


Tapi jika aku di posisi Tiku sudah pasti aku melakukan hal yang sama bagaimana pun orang yang ada di karung itu adalah mama Tiku


Tak lama Om Mario langsung merebahkan tubuh Mama Tiku diatas meja yang cukup besar itu yang di lapisi kain ber warna hijau pekat


Tak lama datang seseorang dengan pakaian serba hitam dan memakai masker


"Lama sekali kamu dek" Ucap Om Mario menyambut laki-laki yang ikut bergabung bersamanya saat ini


"Dek? " Tiku setengah berbisik


"Kamu kan pernah cerita kalau papamu cuman dua bersaudara"


"Jadi kalau Om mu manggil dek berarti" Galuh mulai memperkeruh keadaan membuat Tiku terlihat sangat tidak tenang saat ini tapi tetap kami tahan untuk terus bersembunyi


Laki-laki yang baru saja datang itu membuka maskernya karena merasa pengap pastinya diruangan yang cukup kejam ini


Laki - laki itu terlihat membelakangi kami jadi tidak bisa melihat jelas wajahnya


"Harus kita apakan perempuan ini? "


"Entahlah, tapi aku ingin dia mati dengan cepat "


"Jangan sampai dia mengacaukan semua rencana yang telah kita bangun cukup lama"


"Tenang saja, aku akan mengeksekusi dia dengan cepat"


Percakapan macam apa ini, sangat tidak sehat untuk pendengaran siapapun.


Lemari ini mulai terasa pengap dan panas, juga berdebu. Sekuat tenaga kami menahan agar tak bersin ataupun menimbulkan suara. Tentu saja ini akan membahayakan kami


"Aku tidak akan membunuh dia sekarang, ada pekerjaan yang lebih penting akan aku kerjakan..Kamu jangan macam-macam kak dia milik ku" Ucap pria yang bersama Om Mario tadi lalu memilih pergi tanpa pamit


Om Mario meraih pisau dari tempatnya dan menarikan di wajah mama Tiku. Tapi tidak ada niat untuk membunuhnya tampak dia sangat greget untuk membunuh mama Tiku yang terbaring tak sadarkan diri di depannya