Kaisar Dewa Iblis

Kaisar Dewa Iblis
Ch. 96 - Penjaga Aula Seni Beladiri, Penatua Zhen Meng


Monumen batu poin konstribusi setinggi empat puluh dua meter didirikan di tengah aula. Monumen itu adalah catatan akumulasi poin kontribusi dari setiap murid dan penatua sekte dan itu akan terus diperbarui setiap hari, bulan bahkan dalam setahun.


Yang pertama dari peringkat di daftar monumen ith secara alami adalah Master sekte Hantu Iblia. Dia telah mengumpulkan 9.6 juta poin kontribusi dan dengan beberapa angka lagi akan mencapai 10 juta poin.


Daftar nama yang kedua di peringkat ini adalah salah satu dari Empat Penatua Agung, namanya adalah Lin Gu. Dia telah meninggalkan Sekte puluhan tahun yang lalu, tidak diketahui apakah dia masih hidup sampai sekarang. Namun, akumulasi poin kontribusinya akan terus meningkat secara acak selama puluhan tahun ini. 


Setiap peningkatan poin Lin Gu ini lebih dari sepuluh ribu poin dalam beberapa dekade. Faktor utama untuk mendapatkan lebih dari sepuluh ribu poin adalah dengan membunuh ahli Alam Emas bahkan seorang ahli yang lebih kuat darinya. 


Ketika dia meninggalkan sekte, akumulasi poinnya hanya 720.000 tetapi sekarang telah meningkat menjadi 8.4 juta poin. Tidak ada yang tahu berapa banyak kultivator yang telah dia bunuh. Yang terpenting, keberadaannya masih belum diketahui sampai saat ini.


Banyak yang menduga bahwa Lin Gu telah menjadi ahli ranah Alam Jiwa setelah delapan puluh tahun belakangan ini


Daftar peringkat ketiga adalah Guru Qing Shan, Tetua Iblis Han, Akumulasi poin kontribusinya adalah 6.8 juta loin. Sebagian besar poin kontribusi ini diperoleh membantai musuhnya dan membuat pil.


Ranking selanjutnya hingga peringat dua puluh ke atas hampir ditempati oleh para tetua sekte. 


Murid yang lebih muda yang memiliki poin kontribusi tertinggi adalah Yan Zhuiyun. Dia pemuda yang luar binasa di antara generasi-generasi muda dengan bakat luar binasa lainnya. Dia telah menerobos ke alam Roh Harmonis tahap menengah pada usia tiga puluh tahun dan telah menjadi seorang penatua.


Namun, kontribusinya tidak terlalu tinggi, hanya 190.000 poin, yang berada di peringkat empat puluh lima.


Adapun Tetua Zhen Meng yang malas, dia hanya akan mendapatkan seratus poin kontribusi untuk menjaga Aula Seni Beladiri setiap bulan. Dia hanya mengumpulkan 240.000 poin kontribusi selama dua ratus tahun dan menduduki peringkat nomor empat puluh satu sekarang.


Hari ini adalah ujian tahal kekedua calon murid baru.


"Aiiii... Yahhhhh... Tidak tahu apakah salah satu dari mereka murid baru itu dapat mencapai seratus poin kontribusi dalam sebulan. Hehe Sebenarnya, mendapatkan seratus poin kontribusi sudah terlalu sulit bagi mereka hanya dalam kurun satu bulan. Beberapa ratus tahun yang lalu, ketika aku bergabung dengan sekte ini, aku hanya membunuh tujuh hantu ranah Pembuka Vena dan mendapatkan dua ribu empat ratus kilogram ramuan herbal. Aku hanya berhasil mendapatkan lima belas poin kontribusi. Bahkan murid paling cerdas, Yan Zhuiyun generasi muda sekte ini juga hanya memperoleh seratus tujuh puluh poin dalam ujian keduanya pada waktu itu .."


Dia berbaring di kursi goyangnya sementara matanya menyapu monumen peringkat kontribusi yang memiliki ribuan nama yang terdaftar di atasnya.


Ada puluhan ribu murid tingkat Pembukaan Vena di sekte dan murid baru yang baru saja bergabung akan mulai dari angka nol poin konstribusi. Secara otomatis, mereka berada di bagian bawah daftar peringkat di monumen.


"Hahaahaaa.... Masih di lima poin? Ujian tahap kedua telah dimulai selama dua jam. Sekelompok anak nakal ini tidak dapat disangkal kalau mereka semua sangat lemah. Mereka bahkan tidak bisa membunuh hantu-hantu tahap awal itu? Uhukkkk... Uhukk... Uhukkkk.. Tunggu, ini?!"


Sementara Tetua Zhen sedang mencicipi teh favoritnya, dia tiba-tiba terkejut oleh pembaruan terbaru tentang peringkat kontribusi di tengah aula dan meneguk sisa tehnya, hampir menelan seluruh cangkir.


Dia terkejut melihat sembilan poin kontribusi atas nama Li Zhi.


"Sembilan poin kontribusi hanya dalam dua jam? Bocah ini telah membunuh empat hantu ranah Pembuka Vena? Bagaimana ini mungkin?"


Matanya kemudian bergerak ke atas daftar. Dia sekali lagi dikejutkan oleh seorang murid bernama Lu Zi.


"Poin anak nakal ini tiba-tiba meningkat sepuluh. Sepuluh poin kontribusi akan mengharuskan dia untuk membunuh setidaknya hantu tahap menengah gerbang vena. Apakah murid ini, Lu Zi, benar-benar mampu membunuh hantu ranah itu? Dia pasti seorang jenius. Aku takut dia lebih jenius dari Yan Zhuiyun saat itu..!


Tetua Zhen tiba-tiba berdiri. Dia menyadari bahwa dia perlu melaporkan ini ke atasan, dia memiliki tugas lain selain menjaga aula, yaitu memilih murid baru dengan poin kontribusi tinggi dalam waktu singkat. Murid-murid ini jelas akan memiliki bakat luar biasa yang layak untuk dipelihara.


Kali ini, apa yang dia lihat kembali membuat napasnya sesak. Dia bisa merasakan bahwa hatinya akan keluar dari mulutnya.


Itu adalah seorang calon murid bernama Qing Shan. Pertumbuhan poin kontribusinya sangat besar yang telah mencapai 754 poin.


"Apaaa.... Bocah ini telah mengumpulkan 754 poin hanya dalam waktu dua jam. Apa yang dia lakukan di Hutan Iblis? Dia ini benar-benar murid yang mengerikan! Namanya Qing, Qing Shan! Aku harus melaporkan ini ke master Sekte.!"


Penatua Zhen tidak pernah benar-benar tertarik dengan hal-hal lain selain dari pekerjaan yang berhubungan dengan Koin Konstibusi selama hidupnya jadi dia secara alami tidak tahu tentang identitas asli Qing Shan. Bahkan jika dia mengetahuinya, di menganggap itu hanyalah seorang pemuda yang memiliki latar belakang yang kuat bukan bakat.


Sebenarnya, ini hanyalah permulaan. Itu adalah kesalahan mutlak Sekte Hantu Iblis karena telah membiarkan Qing Shan memasuki Hutan Iblis untuk mengikuti ujian tahap kedua sebagai calon murid baru. Batu monumen daftar peringkat poin konstribusi akan meledak dengan poin Qing Shan selanjutnya.


...


Bau busuk mayat dan hantu tercium di dalam Hutan Iblis yang mencekam dan suram. Saat berjalan di dalam hutan ini, siapapun itu pasti akan diterkam oleh hantu yang mengeluarkan lolongan kapan saja


Sshh.... !


Hoammmmmm.....!


Eekeekkekeee....!


Beberapa suara mendesis terdengar dari dalam atau di suatu tempat di sekitar hutan. Sudah ada sejumlah murid yang terbunuh dalam waktu dua jam ini. Hantu di wilayah pertama tidak memiliki kecerdasan dan perasaan. Mereka sangat ganas meelnerkam para pembudidaya kelas bawah itu seolah-olah mereka tidak takut mati. 


Di suatu tempat di wilayah hutan pertama, ada seorang gadis berbaju hijau tersandung di pepohonan sambil berlari menyelamatkan diri. Dia hanyalah seorang kultivator Alam Pembukaan Vena tahap awal gerbang pertama. Kekuatan dan Qi nya tidak signifikan untuk berhadapan dengan tiga hantu ranah Alam Pembuka Vena gerbang ke Lima atau tahap menengah yang sedang mengejarnya.


Wajah gadis itu telihatbmasih sangat muda, paras cantik, bibir oval dan wajah cerah. Karena ketakutan, kakinya banyak memar setelah kehilangan sepatu bordirnya berlari disemak semak hutan yang di penuhi duri dan akar pohon yang keras dan tajam di jalur yang dia lewati


Saat dia terus berlari, dia akan bertemu dengan beberapa murid lain tetapi tidak ada dari mereka yang bisa dan mau menyelamatkannya. Tidak ada yang akan mempertaruhkan hidup mereka dengan membuat diri mereka sendiri masuk dan mendapat masalah untuk nyawa mereka.


Sekarang dia kehilangan harapannya untuk hidup ketika hantu-hantu itu semakin dekat. Punggungnya menabrak sebuah pohon tua dan dia jatuh, terduduk di tanah. 


Hantu-hantu itu memancarkan cahaya hijau dari mata ganas mereka, dan mereka tertawa dan mengeluarkan teriakan hantu.


"Siapa pun itu. T-Tlong a...Akuu. Aku akan melakukan apapun untuk membayarmu..!"


Dia berteriak dengan nada suara yang terdengar gagap dengan nada rendah, tetapi tidak ada seorangpun di sekitarnya yang menjawabnya. Kemudian, dia hanya menutup matanya dengan perasaan kecewa.


Hal yang paling mengejutkan akhirnya terjadi. Itu bukan adegan di mana gadis itu dicabik-cabik oleh hantu, itu adalah ratapan hantu yang segera terdengar setelah udara dingin sedingin es bertiup diseilingnya.


Gadis itu telah kehilangan akalnya pada saat ini. Ketika dia membuka matanya dan melihat seorang pria muda dengan sikap sederhana dan tenang yang tangannya sedang memegang sebuah pedang. Kemudian hantu-hantu itu segera dibakar oleh tebasan pedangnya dan menghilang.