Kaisar Dewa Iblis

Kaisar Dewa Iblis
Ch. 119 - Kalian Semua Akan Mati


Saat Ning Hong jatuh ke tanah, kekuatan dari lapisan pelindung formasi sangat berkurang drastis. Hutan bambu yang sangat luas dalam area seratus meter menghilang dalam lautan api berwarna hitam yang membakar seluruh hutan.


Begitu hutan itu terbakar, itu juga berarti formasi itu tidak ada lagi. Formasi yang di buat oleh Qing Shan hancur total.


Saat lapisan penghalang formasi dihancurkan, lautan api berwarna hitam mengelilingi Qing Shan yang saat ini swdang bertarung melawan pedang ilusi empat pedang pembunuh dewa atas perintah Tetua Heng.


"Ha.. Haaa... Ha.... Bunuh dia dulu!" Tawa liar Tetua Heng terdengar dari atas langit. Baginya, Qing Shan saat ini telah benar-benar menantang surga dan tidak akan selamat dari serangan pedang ilusi pembunuh dewa.


Mu Wei saat ini sedang memegang tubuh Ning Hong di tangannya. Air matanya jatuh, melihat tatapan mata Ning Hong yang melihatnya.


Sedangkan Ning Hong, dia menggigit bibirnya dan darah menetes dari sisi mulutnya. Air mata mengalir di matanya.


Dia gagal mengemban tugas dari Qing Shan untuj menahan para tetua dari klan hitam.


"Kakak Wei, kau harus pergi dari sini sekarang ..."


Ucap Ni Hong memberikan senyum tak berdaya. Saat itu, begitu banyak tetua dari Klan Hitam yang baru saja berdatangan membantu rekan mereka., sekarang, mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk melarikan diri.


"Aku tidak pergi....!" Ucap Mu Wei yang sedang menatap para tetua Klan Hitam dari kejauhan dan Tetua Heng yang tampak terlihat penuh ***** yang mendekati mereka dengan wajah ketakutan. 


Sekarang, keadaan Qing Shan masih belum diketahui setelah dia tenggelam di dalam lautan api, sedangkan keadaan Ni Hong sekarang tidak jauh dari kata kematian. Terlepas dari semua ini, dia mencoba yang terbaik untuk menekan rasa takutnya.


Ni Hong lalu berdiri dan melihat segala sesuatu di sekitarnya telah dikelilingi oleh lautan api. Tatapan dinginnya tertuju pada para tetua Klan hitam yang semakin dekat dengan mereka.


"Biarkan dia pergi dan aku akan ikut denganmu ..." Mu Wei berkata dengan nada lemah pada Tetua Heng. Dia telah memutuskan bahwa begitu Qing Shan dan Ni Hong melarikan diri, dia akan bunuh diri dengan memutus urat nadinya agar tidak di permaukan oleh pria ini.


Namun, sepertinya niatnya sudah terlihat oleh Tetua Heng.


“Heh…heh… Kau tidak berhak bernegosiasi denganku saat kau sudah berada di tanganku!” Jawab Tetua Heng sangat puas. 


Meskipun dia telah kehilangan jimat yang bisa menyelamatkan jiwa hantunya, dia tidak hanya menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Tetua Agung Klan mereka, tetapi juga menangkap dua wanita yang sangat menarik hatinya. Dia tidak dapat disangkal adalah pihak yang diuntungkan saat ini.


Dia laly mengerahkan Qi nya dan mendorong Mu Wei hingga jatuh ke tanah. Dia berjalan perlahan ke arah wanita itu dan akan menyentuh dadanya dengan tawa *****.


"Tidak!"


Ekspresi Mu Wei dipenuhi dengan keputusasaan. Pada saat ini, sesuatu di dalam lautan api hitam bergetar hebat.


HONGGG!!!


Bayangan Pedang pembunuh Dewa milik Klan Hitam yang tergantung di langit dihancurkan.


Suara yang sangat dingin terdengar dari lautan api. Di bawah pengaruh suara itu, senjata roh yang ada di pinggang para tetua itu bergetar dan menghasilkan suara gemetar, seolah-olah logam ini ketakutan.


Tetua Heng menarik tangannya dan mundur tanpa ragu-ragu, Pedang Dewa milik Qing Shan yang memiliki kekuatan untuk membakar hantu langasung menebasnya.


"Hampir saja!"


Jika dia lebih lambat satu detik saja, tangannya yang menyentuh dada Mu Wei akan terpotong.


Dia takut dan marah secara bersamaan. Ketakutannya datang dari kekuatan pembakar hantu dari tebasan Pedang Dewa Qing Shan, tidak ada hantu yang bisa bertahan melawan pedang itu. Dia marah karena dia tidak tahu mengapa seseorang ingin ikut campur dalam urusan Klan Hitam mereka..


Dia tidak menyadari bahwa penyerang itu adalah Qing Shan karena dia mengira Qing Shan sudah mati ketika dia telan oleh lautan api hitam miliknya.


Dia melihat seorang pria muda yang tampak seperti dewa dengan memgenakan jubah hitam di dalam lautan api dan tatapam matanya dipenuhi dengan jejak cahaya pedang yang menakutkan.


Dia masih hanya seorang pemuda belasan tahun tetapi wajahnya yang dingin dan matanya yang kejam seperti iblis yang akan siap mengamuk.


“Z-Zhou Mo, ternyata kau masih hidup. Bagaimana mungkin? Kau seharusnya telah mati…”


Tetua Heng mundur beberapa langkah. Jiwa hantunya sangat gemetar dan kecemasan di hatinya tumbuh. Pemuda ini hanyalah seorang pembudidaya ranah Alam Roh Harmonis tahap akhir tetapi dia bisa merasakan aura yang tak terbendung dari tatapan matanya, seolah-olah dia sedang menghadapi seorang Kaisar Dewa, dan seolah-olah dia sedang tersapu dari gelombang kemarahan dari seorang Kaisar Dewa.


Gelombang yang datang dari jiwa Qing Shan mengubah  lautan jiwa  semua tetua itu menjadi kacau dan menyebabkan retakan dalam jiwa beberapa dari mereka. Ombak energi dahsyat dalam lautan kesadaran mereka dipenuhi dengan suara gemuruh seolah-olah petir yang tak terhitung jumlahnya menyambar di kepala mereka.


Tetua Heng tidak hanya berhenti menatap mata Qing Shan, Semua tetua Klan Hantu yang hadir juga tidak berani menatap Qing Shan secara langsung.


“Tidak mungkin! Zhou Mo yang aku lihat sebelumnya menggunakan banyak usaha hanya untuk membunuh Tetua Huang kitanpada saat dia masuk pertama kali ke Klan kita!” Seorang tetua dengan wajah lusuh merasa ngeri. Dia mengajukan diri untuk bergabung dalam tugas membunuh Zhou Mo karena dia tahu betapa lemahnya Zhou Mo pada saat itu.


Namun, sebelum kata-katanya memudar, tubuhnya sudah terpotong menjadi dua. Tidak ada tanda dari mana asal serangan itu.


Situasi yang sama terjadi pada 30 tetua yang berada di ranah Alam Emas tahap awal. Mereka dipotong menjadi dua dari bawah perut dan di iris menjadi lumpur daging oleh cahaya pedang tak berbentuk.


Tinggal 17 tetua ranah Alam Emas tahap menengah, Tetua Heng dan dua orang Tetua Alam Emas tahap akhir yang masih hidup dari kematian tragis seperti itu, namun, masing-masing dari mereka menatap pemuda itu dengan ketakutan.


Tanpa ragu, pembunuhan rekan mereka dilakukan oleh pemuda itu.


"Apa yang telah kau lakukan?!"


Tetu Heng berteriak untuk menyembunyikan kepanikannya.


Namun, pemuda itu tidak menjawabnya. Dia kemudian berkata dengan nada dingin.


"Jika tidak ada dari kalian diranah Alam Emas tahap akhir atau setengah langkah dari ranah alam jiwa, maka hari ini, kalian semua dipastikan akan mati di tanganku!"


Ni Hong merasa lega ketika dia melihat sosok yang dikenalnya berjalan keluar dari lautan api, sementara Mu Wei memiliki dorongan untuk menangis karena bahagia ketika dia melihat Qing Shan baik-baik saja.


Kedua hantu wanita itu merasakan gelombang getaran ketika mereka merasakan Qi yang sangat dingin yang keluar dari tubuh Qing Shan.


Hanya saja kedua gadis ini tidak punya waktu untuk bertanya. Qing Shan lalu membuat gerakan diatas tanah dan menciptakan tiga gumpalan awan abadi. Keduanya diangkat oleh awan itu ke atas langit dan diikuti oleh Qing Shan dari belakang.


“Ni Hong, istirahatlah di atas awan ini. Mu Wei, bantu aku mengumpulkan manik jiwa mereka…”


Nada suara Qing Shan terdengar datar, tetapi ada jejak niat membunuh di dalamnya. Di matanya, semua hantu ini sudah mati saat dia muncul di hadapan mereka semua.


Qing Shan lalu mengetuk gelang dimensi miliknya atau disebut cincin wadah. Kemudian, seekor musang yang sudah lama tidak bersama Qing Shan telah keluar dan berada di pelukannya sambil menggerakkan kepalanya dengan malas.