
Hari ini semua orang berkumpul di rumah sederhana milik orang tua Ruby yang sudah disulap menjadi sangat indah, dekorasi bernuansa putih dan pink yang dipenuhi bunga-bunga segar nan harum. Terlihat Jojo sedang sibuk memotret Sinta yang bergaya dengan memakai kebaya berwarna pink cerah, ada juga Keke serta Laura yang sibuk menerima tamu. Dan beberapa kerabat juga tetangga Ruby yang saling bercengkerama satu sama lain.
“Rombongan pengantin prianya datang!” Seru salah satu kerabat Ruby.
Semua orang sibuk ingin menyambut kedatangan Dinan dan keluarganya. Dinan yang mengenakan beskap modern berwarna putih terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya, sehingga mengundang decak kagum kaum hawa yang melihatnya.
“Wah, ganteng banget calon suami Ruby.”
“Mimpi apa si Ruby dapat produk top begini?”
“Ya Tuhan, adem banget lihat wajahnya. Tampan maksimal.”
Keke dan Laura hanya mengulum senyum mendengar komentar wanita-wanita yang takjub melihat ketampanan Dinan.
Dinan dan keluarganya di sambut oleh kerabat Ruby, lalu dipersilakan duduk di kursi yang telah disediakan.
“Panggil pengantin wanitanya!” Pinta seorang wanita paruh baya kepada Keke.
Keke pun bergegas ke kamar Ruby untuk memanggil sahabatnya itu.
Tak lama kemudian, tirai penutup pintu kamar terbuka, muncullah Ruby yang diapit Safira juga Keke. Ruby yang mengenakan kebaya putih, tampak anggun dan sangat cantik bak bidadari. Dinan dan semua orang begitu terpesona melihatnya.
Dengan perlahan Ruby melangkah mendekati Dinan, dan duduk di samping calon suaminya itu.
“Kamu cantik banget hari ini, aku jadi tidak sabar menunggu malam datang.” Bisik Dinan dengan wajah menggoda.
Ruby sontak mencubit pinggang Dinan, wajahnya merah menahan malu. Dinan menggelinjang kegelian.
Orang-orang yang melihat tingkah dua insan itu hanya tersenyum, merasa iri dengan kemesraan mereka.
“Baiklah, bisa kita mulai?” Tanya Pak penghulu.
Dinan mengangguk. “Bisa, Pak.”
Pak penghulu mengulurkan tangannya ke hadapannya Dinan. “Jabat tangan saya!”
Dinan pun menjabat tangan Pak penghulu itu, jantungnya mulai berdebar kencang dan sedikit gugup.
“Bismillah, saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Afdinan Ibrahim bin Surya Ibrahim dengan saudari Ruby Milana binti Almarhum Reza Nurdin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar tiga ratus juta rupiah dibayar tunai.” Kata si Pak penghulu.
“Saya terima nikah dan kawinnya Ruby Milana binti Almarhum Reza Nurdin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Balas Dinan dengan satu tarikan napas.
“Sah?” Tanya si Pak penghulu kepada para saksi.
“Sah!”
“Alhamdulillah!”
Dinan dan Ruby menghela napas lega, begitu juga semua orang yang hadir. Pak penghulu pun memimpin doa.
“Pengantin wanita silakan mencium tangan pengantin pria!” Titah Pak penghulu.
Ruby mencium punggung tangan Dinan dengan takzim, lalu Dinan pun mencium kening wanita itu kemudian mengecup bibirnya dengan mesra, wajah Ruby seketika memerah. Safira yang melihat semua itu tersenyum sembari mengusap air matanya yang tak bisa dia tahan.
“Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Aamiin.”
Dinan dan Ruby melakukan sungkem kepada Surya dan Aliya.
“Selamat, ya, Nak. Semoga kamu bahagia selalu.” Ucap Surya sambil mengusap sudut matanya yang basah.
“Terima kasih, Pa.” Dinan langsung memeluk Surya. Setelah bertahun-tahun sejak kematian sang ibu, baru ini dia memeluk papanya itu lagi.
“Sekarang kamu sudah punya tanggung jawab, kamu adalah kepala keluarga, jadi lakukan tugasmu dengan baik. Jangan pernah sakiti istrimu, karena dia itu amanah untukmu. Dan kelak jika kau memiliki anak, jangan jadi seperti Papa yang egois. Kau harus jadi ayah yang baik.” Surya memberikan nasihat sambil mengusap punggung belakang Dinan.
“Iya, Pa.” Dinan mengangguk sambil mengusap air matanya.
Suasana begitu haru, beberapa orang bahkan ikut menitikkan air mata.
Kini Dinan beralih sungkem kepada Aliya. “Mama.”
“Selamat, ya, sayang. Mama doakan kamu dan Ruby bahagia selalu.”
“Terima kasih, Ma.”
Dan giliran Ruby yang sungkem kepada Surya, wanita itu mencium tangan sang mertua.
“Selamat, ya, Ruby.”
“Panggil saya Papa, sekarang kamu itu menantu saya.”
“Iya, Pa.”
“Maafkan Papa karena pernah bicara kasar padamu.” Imbuh Surya.
“Tidak apa-apa, Pa. Aku sudah melupakannya.”
Surya tersenyum sambil mengusap kepala Ruby, dia sadar bahwa menantunya itu memanglah wanita yang baik. Dinan tidak salah pilih.
Kedua pengantin itu juga sungkem dengan paman dan bibi Ruby yang menggantikan kedua orang tuanya.
Hanan menghampiri kedua pengantin dan langsung memeluk Dinan. “Selamat menempuh hidup baru, Bro.”
“Terima kasih, Pak Bos.” Dinan balas memeluk Hanan.
Ruby yang belum tahu hubungan antara Dinan dan Hanan, menjadi bingung. “Kalian ini?”
Dinan melepaskan pelukannya dan menatap Ruby. “Aku belum cerita, ya?”
Ruby mengernyitkan keningnya. “Cerita apa?”
Dinan merangkul pundak Hanan. “Sebenarnya kami ini sahabat sejak SMA dan sekaligus saudara tiri.”
Ruby tercengang mendengarnya.
Hanan mengangguk. “Iya, Papa Dinan menikah dengan Mamaku.”
“Tapi kenapa Mas Hanan ....”
“Sudah, nanti aku jelaskan semuanya, sekarang kita temui para tamu dulu.” Sela Dinan sebelum Ruby sempat melanjutkan ucapannya.
“Benar, ya? Pokoknya Mas harus jelaskan semuanya!”
“Iya, sayang.” Pungkas Dinan sembari mendekap tubuh Ruby lalu mengajaknya untuk menemui tamu yang lain.
Dinan memang sengaja merahasiakan hal itu dan ingin membuat kejutan untuk Ruby.
Hanan tersenyum melihat sahabat sekaligus saudara tirinya itu akhirnya berbahagia, namun tatapannya tak sengaja tertuju ke Safira yang duduk menyendiri. Entah apa yang ada di pikiran Hanan, dia pun melangkah ke arah gadis itu.
Made Kris juga hadir di hari bahagia Dinan dan Ruby, dia memeluk kedua mempelai dan mendoakan yang terbaik.
Malam harinya, Ruby dan Dinan sudah berada di hotel. Kamar hotel sengaja dibuat seromantis mungkin dengan lilin-lilin dan taburan bunga mawar merah di atas ranjang. Ruby merasa canggung dan gugup, meskipun dia sudah pernah menikah, tapi tak bisa dipungkiri jantungnya masih berdebar-debar kala mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dinan duduk di tepi ranjang lalu menarik Ruby untuk duduk di sampingnya.
“Hari ini aku bahagia banget, rasanya seperti mimpi bisa menjadi suami kamu.” Ujar Dinan.
“Aku juga bahagia banget, Mas. Aku tak menyangka akhirnya kita bisa bersatu.” Balas Ruby.
“Pastilah kamu bahagia bisa dapat suami tampan seperti aku.” Sahut Dinan sombong.
Ruby mencibir. “Narsis!”
Dinan tertawa terbahak-bahak.
“Sudah, ah! Aku mau mandi dulu, gerah banget!” Ruby beranjak dan hendak pergi tapi Dinan buru-buru menarik lengannya hingga membuat dia terjatuh di pangkuan lelaki itu.
“Mandi bareng, yuk?” Ajak Dinan dengan wajah menggoda.
Ruby melotot. “Mas genit!”
“Genit dengan istri sendiri kan tidak apa-apa.” Dinan dengan cepat memutar tubuh Ruby dan mendorongnya hingga terjatuh ke atas ranjang yang bertabur bunga itu.
Ruby semakin gugup. “Ma-mas!”
Dinan tak menghiraukan Ruby, dia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya itu dan dengan perlahan menyatukan bibir mereka. Ruby tidak menolak sama sekali, dia bahkan menikmati sentuhan Dinan yang begitu lembut dan membuatnya terlena.
Keduanya mulai terbawa hasrat yang menggelora, membius akal sehat hingga tak mampu lagi berpikir jernih. Ruby yang haus akan kasih sayang begitu terpukau dengan setiap perlakuan Dinan, dia pasrah menyerahkan dirinya kepada sang suami, tanpa berniat untuk menyudahi. Sehingga malam ini begitu hangat serta penuh gairah untuk kedua pengantin baru itu.
Akhirnya cinta Ruby dan Dinan berlabuh di pelaminan, mengikat janji suci sehidup semati. Semua yang telah terjadi menjadi pelajaran berharga dan membuat mereka sadar bahwa Tuhanlah sebaik-baiknya sutradara yang mengatur jalan cerita hidup setiap orang.
💘💘💘