
Ruby baru tiba di kantor, beberapa karyawan sedang mengobrol serius, begitu juga dengan Jojo dan Sinta. Dia pun mendekati dua rekannya itu untuk mencari tahu.
“Lagi pada ngobrolin apa, sih?”
“Loh, kamu belum tahu, By?” Jojo bertanya balik.
Ruby mengernyitkan keningnya. “Apa?”
“Lusa akan diadakan pesta ulang tahun perusahaan di hotel mewah.” Jawab Jojo.
“Iya, By. Nanti di sana banyak pengusaha tajir pada berkumpul, ini kesempatan untuk tebar pesona, kali saja ada yang kecantol.” Sambung Sinta.
“Dasar genit!” Cibir Jojo.
“Biarin! Sirik saja!” Sinta melengos.
“Oh, kirai ada apa?” Sahut Ruby tak acuh, sembari melangkah mendekati meja kerjanya.
“Kamu datangkan, By?” Jojo memastikan.
“Lihat nanti, Jo.”
“Harus datang, By. Siapa tahu kamu bertemu jodoh di sana.” Sela Sinta.
Ruby tertawa dan tak membalas ucapan Sinta.
“Memangnya di sana itu tempat mencari jodoh apa? Kita mau berpesta tahu!” Gerutu Jojo kepada Sinta.
“Sekalian, Jo.” Balas Sinta.
Ruby hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan dua rekannya itu.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Ruby, dia segera membacanya, ternyata dari Dinan.
“AKU RINDU KOPI BUATAN KAMU, BY. BISA TOLONG BUATKAN UNTUKKU?”
Ruby pun membalas pesan itu.
“MAAF, SAYA TIDAK LAGI BERKEWAJIBAN UNTUK MELAYANI ANDA TERMASUK MEMBUAT KOPI. BUKANKAH ITU TUGAS ASISTEN PRIBADI ANDA?”
Pesan balasan dari Dinan masuk ke ponsel Ruby.
“TAPI AKU TETAP ATASAN KAMU, KEWAJIBAN KAMU ADALAH MEMATUHI PERINTAH KU, DAN INI TERMASUK PERINTAH. JADI CEPAT BUATKAN KOPINYA!”
Ruby mengembuskan napas berat sambil menggenggam erat ponsel di tangannya, dia tak lagi membalas pesan dari Dinan. Dia ragu dan masih menimbang-nimbang permintaan atasannya itu, tapi pada akhirnya dia terpaksa menurutinya.
Ruby bergegas ke Pantry dan membuatkan apa yang Dinan minta, dia menuangkan kopi, gula dan air panas sesuai takaran ke dalam cangkir.
“Aku tahu kamu pasti membuatnya.”
Mendadak suara Dinan menyerbu gendang telinga Ruby, membuat wanita itu kaget dan sontak berbalik menghadap Dinan yang sudah berdiri di belakangnya.
“Mas? Sedang apa di sini?” Tanya Ruby.
“Menemanimu membuat kopi.” Jawab Dinan santai.
“Kalau begitu ini kopinya.” Ruby menyodorkan secangkir kopi yang baru dia buat itu.
Dinan menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih, By.”
“Aku permisi.” Ruby berjalan melewati Dinan.
“Tunggu, By! Jangan pergi dulu.” Pinta Dinan, menghentikan langkah Ruby.
Dinan meletakkan kembali cangkir kopi itu di atas meja Pantry, lalu berbalik memandang ke arah Ruby. “Kita harus bicara!”
“Maaf, tidak ada yang perlu kita bicarakan.” Ruby kembali melangkah, namun dengan cepat Dinan menarik lengannya.
“Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sini sebelum kamu katakan apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa kamu menjauhiku? Apa karena Samara dan Papa? Atau mungkin aku yang punya salah?” Cecar Dinan.
Ruby terdiam, dia masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dinan.
“By, tolong jawab aku! Jangan buat aku bingung!” Dinan memohon.
“Karena memang seharusnya seperti ini hubungan antara atasan dan bawahan!” Sahut Ruby.
“Tapi kamu kan tahu aku menganggap mu lebih dari sekedar bawahan! Aku mencintaimu, Ruby!” Ujar Dinan sedikit emosi.
Ruby sontak menatap Dinan dengan mata berkaca-kaca. “Sudah aku katakan, aku ini tidak pantas untuk Mas! Berhenti menjadi bodoh dan buang-buang waktu dengan semua ini, Mas punya kehidupan yang sempurna jadi jangan sia-siakan itu!”
“Harus berapa kali aku bilang, aku tidak peduli dengan apa pun. Aku mencintaimu dan aku berjanji akan terus mencintaimu, jadi tolong jangan seperti ini!”
“Kamu bohong, By! Aku tahu kamu juga mencintaiku, aku bisa lihat dan rasakan itu. Tapi kamu terlalu munafik dengan perasaanmu!”
Ruby kembali menatap Dinan dengan tajam. “Aku tidak munafik, aku mengatakan yang sebenarnya.”
Dinan tertawa mengejek. “Oh iya? Kalau begitu tatap aku dan katakan jika kamu tidak mencintaiku!”
Ruby kembali terdiam membisu.
“Kenapa diam? Kamu tidak bisa, kan?”
“A-aku tidak mencintai Mas, sama sekali tidak!” Ucap Ruby lirih.
Dinan termangu menatap Ruby, dan dengan perlahan melepaskan cekalan tangannya dari lengan wanita itu.
Ruby pun bergegas pergi dari hadapan Dinan sambil mengusap air matanya yang jatuh menetes.
“Dia pasti berbohong.” Dinan memandangi kepergian Ruby dengan perasaan sedih dan kecewa, dia tak bisa percaya dengan apa yang wanita itu katakan barusan.
💘💘💘
Sore harinya, Ruby beserta Jojo dan Sinta sedang berjalan keluar kantor. Ketiganya saling mengobrol dan bercanda satu sama lain. Ruby berusaha menghibur dirinya dan melupakan apa yang terjadi dengan Dinan.
“By, kamu sudah berbaikan dengan Safira?” Tanya Jojo.
Ruby menggeleng. “Belum, Jo. Dia masih tidak mau berbicara denganku.”
“Memangnya kalian punya masalah apa, sih? Aku jadi penasaran.” Ujar Jojo.
Sinta memukul lengan Jojo. “Jadi cowok kepo banget, sih! Mau tahu saja urusan orang lain.”
“Ya kan siapa tahu aku bisa bantu mendamaikan mereka.” Dalih Jojo.
Ruby hanya tersenyum menanggapi ocehan dua rekannya itu, dan ponselnya tiba-tiba bergetar, ada sebuah pesan dari Laura.
“BY, KAMI SEDANG DI KAFE DEKAT KANTOR KAMU, NIH. KE SINI, DONG! SUDAH LAMA KITA TIDAK NGOPI BARENG.”
Ruby bergegas membalas pesan itu. “OK, AKU SEGERA DATANG.”
Memang sudah lama dia tidak berkumpul bersama sahabat-sahabatnya itu sejak sibuk menjadi asisten pribadinya Dinan, dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Tercetus ide di kepala Ruby untuk mengajak Jojo dan Sinta juga, pasti seru jika mereka ikut bergabung.
“Kalian mau ikut ngopi bareng sahabat-sahabatku tidak?” Tanya Ruby.
“Kapan, By?” Jojo balik bertanya.
“Sekarang, di kafe dekat sini.”
“Yaa, kalau sekarang aku tidak bisa. Aku mau main futsal.” Sesal Jojo.
Ruby beralih menatap Sinta. “Kalau kamu, Sin?”
“Aku juga tidak bisa, By. Aku ada janji dengan Mama.” Sahut Sinta.
“Ciee, Mama atau Mama?” Ledek Jojo.
“Mama, Jojo!” Sungut Sinta, membuat Jojo tergelak.
“Ya sudahlah kalau begitu, aku sendiri saja.” Ujar Ruby.
“Maaf ya, By.” Ucap Jojo dan Sinta bersamaan.
“Iya, tidak apa-apa.” Balas Ruby dengan senyum mengembang.
“Kalau begitu, kami duluan, ya?”
Ruby mengangguk. Jojo dan Sinta pun memisahkan diri dari Ruby, mereka ke halte bus, sedangkan Ruby berjalan menuju kafe yang dimaksud Laura tadi.
Setelah kepergian Ruby, Dinan beserta Hanan dan Samara pun keluar dari gedung Unique Jewelry, ketiganya segera masuk ke dalam mobil masing-masing dan melesat pergi.
Namun baru beberapa meter meninggalkan pelataran parkir gedung perusahaannya, Dinan melihat Ruby masuk ke dalam kafe.
Dinan mengernyit heran. “Itu kan Ruby? Mau ngapain dia?”
Tanpa pikir panjang, Dinan juga ikut membelokkan mobilnya ke kafe tersebut. Tanpa dia sadari, Samara melihat itu dan membuntutinya diam-diam.
💘💘💘