Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 17.


"Bantu Kakak mengangkat Mas Arkan, Dek!" Pinta Ruby, meskipun marah pada Arkan, dia tak tega melihat keadaan mantan suaminya itu.


Ruby dan Safira memapah Arkan lalu membaringkannya di atas sofa, lelaki itu sepertinya mabuk berat makanya sampai pingsan begitu.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kak?” Tanya Safira bingung.


“Kamu tolong ambilkan air hangat dan handuk kecil, buat bersihkan lukanya! Sekalian dengan kotak P3K.” Pinta Ruby.


“Iya, Kak.” Safira bergegas ke dapur.


Ruby menatap wajah mantan suaminya yang dipenuhi luka dan lebam, ada kerinduan dan iba namun juga rasa marah serta sakit yang teramat sangat.


“Apa yang terjadi kepadamu, Mas? Kenapa kamu sampai seperti ini?” Gumam Ruby prihatin.


“Ini, Kak.” Safira kembali dengan wadah berisi air hangat dan handuk kecil serta kotak P3K.


Ruby membasahi handuk kecil itu dengan air hangat lalu mengusapkannya ke luka-luka dan lebam di wajah Arkan.


Dengan telaten dia membersihkannya, lalu mengoleskan obat.


Ruby sudah selesai. Dia meletakkan wadah berisi air dan kotak P3K di atas meja.


“Sekarang bagaimana, Kak?”


“Kakak juga tidak tahu.” Sahut Ruby. “Kita tunggu saja dulu sampai dia bangun.”


“Mau sampai kapan, Kak? Ini sudah larut malam, aku juga sudah mengantuk.”


Ruby menghela napas, dia sendiri pun tak tahu harus bagaimana.


“Dia mau apa lagi ke sini? Menyusahkan saja!” Gerutu Safira.


“Dek, jangan begitu!” Tegur Ruby. “Ya sudah, kamu tidur saja sana. Biar Kakak yang menunggu di sini.”


“Cckk, iya, deh. Tapi Kakak hati-hati, ya.”


“Iya.”


“Kalau dia mau macam-macam, Kakak cepat teriak!”


“Iya, Fira.”


Safira pun melangkah masuk ke kamarnya, meninggalkan Ruby dan Arkan yang masih belum sadar di ruang tamu.


Ruby beranjak dan mengambil selimut lalu menutupi tubuh Arkan. Kemudian dia duduk bersandar di sofa yang berseberangan dengan mantan suaminya itu.


Agar tetap terjaga, Ruby memutuskan untuk menonton televisi. Dia ingin menunggu Arkan bangun agar bisa bertanya ada apa lalu menyuruh lelaki itu pergi dari sini. Tapi tampaknya mata Ruby tak bisa diajak kompromi, dia pun akhirnya ikut tertidur.


💘💘💘


Perlahan-lahan kesadaran Arkan mulai datang, dia terbangun dengan kepala yang terasa pusing. Arkan menyipitkan matanya karena silau dengan cahaya lampu, dia merasa tidak asing dengan tempatnya berada saat ini.


Arkan bangkit dan mengedarkan pandangan, lalu tertuju pada sosok Ruby yang sedang tertidur dengan posisi meringkuk sedangkan televisi masih menyala.


Arkan memegangi kepalanya yang masih pusing sambil mengingat-ingat apa yang terjadi, sedikit demi sedikit memori nya mulai bermunculan.


Arkan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya lalu beranjak mendekati Ruby dengan sempoyongan. Arkan mematikan televisi lalu menyelimuti Ruby, dan kemudian berjongkok di depan wajah mantan istrinya itu.


Ada rasa bersalah dan penyesalan yang besar di dalam hati Arkan karena telah menyakiti wanita sebaik ini, dia menatap lekat wajah Ruby yang begitu damai.


“Maafkan aku, By. Sekarang aku tahu rasanya dikhianati, ternyata sakit sekali.” Ucap Arkan pelan. “Sepertinya ini karma untukku.”


Dengan hati-hati Arkan mengangkat tangannya dan mengusap lembut kepala Ruby, perbuatannya itu pun membuat Ruby terbangun. Arkan buru-buru menarik tangannya dan sedikit menjauh dari mantan istrinya itu, agar wanita itu tidak salah paham jika melihat dia terlalu dekat.


Ruby mengerjap, dan matanya sontak terbuka lebar saat menyadari Arkan sedang menatapnya.


“Mas Arkan!” Ruby bergegas bangkit dari tidurnya. “Mas sudah bangun?”


Arkan mengangguk. “Terima kasih sudah peduli padaku.”


“Apa yang terjadi? Kenapa wajah Mas terluka begitu.” Tanya Ruby, dari semalam ini yang sangat ingin dia tanyakan.


Arkan tertunduk, wajahnya tampak keruh. “Rena benar-benar selingkuh dan aku berkelahi dengan selingkuhannya.”


“Lalu kenapa Mas datang ke sini?” Tanya Ruby lagi.


“Aku menyesal atas perbuatan ku. Aku ingin minta maaf.” Sahut Arkan. “Sekarang aku tahu sakitnya dikhianati.”


Ruby terkekeh. “Baguslah kalau begitu, jadi Mas tahu bagaimana rasanya ada diposisi ku.”


“Aku benar-benar terluka saat tahu Mas berselingkuh dengan Rena. Hanya karena dia, Mas tega menyakiti aku. Makanya aku sengaja mengirimkan video itu, agar Mas tahu seperti apa kelakuan wanita yang Mas cintai.” Lanjut Ruby.


Arkan memandang dengan wajah melas, sorot matanya dipenuhi pengharapan. “Ruby, aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf saat itu dan sekarang aku sadar jika kamu lebih baik dari Rena. Jadi aku mohon maafkan aku! Aku sungguh menyesal.”


Ruby mengembuskan napas berat, dadanya terasa sesak bagaikan terimpit batu besar. Sudah lama dia ingin melampiaskan perasaannya ini, meluapkan rasa sakit dan marah atas perlakuan Arkan terhadapnya. Tapi saat lelaki itu menatapnya dengan penuh harap, hati Ruby seakan merasa tak tega.


Namun dia tetap tak ingin lemah dan mengalah pada rasa iba, dia ingin tunjukkan betapa dia sangat terluka dan masih memiliki harga diri.


Matanya melirik jam yang bertengger di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Itu artinya dia sudah tertidur cukup lama dan harus bersiap-siap karena sebentar lagi Dinan pasti datang.


“Sudahlah, Mas. Tidak perlu dibahas lagi, semua sudah berakhir. Jadi sebaiknya Mas pergi dari sini!” Ujar Ruby, sembari beranjak dari duduknya.


Arkan pun ikut berdiri. “By, kamu tidak mau memaafkan aku?”


“Aku butuh waktu, Mas. Aku masih sakit hati.” Ruby melangkah mendekati pintu lalu membukanya. “Tolong pergi dari sini! Dan jangan pernah datang lagi.”


Arkan semakin memelas. “Ruby ....”


“Mas, pergilah!”


Arkan menghela napas, lalu melangkah keluar. Ruby bergegas menutup dan mengunci pintu, kemudian buru-buru berlari ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap, karena dia harus berangkat ke Bali bersama Dinan.


💘💘💘