
Ruby sedang bersiap-siap untuk pergi bersama Dinan, tiba-tiba Safira masuk ke dalam kamarnya.
“Kakak.” Sapa Safira pelan.
Ruby berbalik menatap adiknya itu. “Fira?”
Safira tertunduk, jemarinya memainkan ujung baju yang dia kenakan. Dia terlihat gugup dan canggung.
Ruby melangkah mendekati Safira, lalu memegang pundaknya. “Fira, ada apa?”
Safira mengangkat kepalanya dan menatap Ruby dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku minta maaf, Kak.”
Safira langsung berhambur memeluk Ruby dan menangis. “Aku minta maaf karena sudah bicara kasar pada Kakak, aku menuduh Kakak yang tidak-tidak. Aku sungguh minta maaf, Kak.”
Ruby pun tak kuasa menahan tangis dan membalas pelukan sang adik. “Tidak apa-apa, kakak sudah maafkan kamu jauh sebelum kamu minta maaf.”
Safira semakin mengeratkan pelukannya dan kian terisak-isak, dia menyesal karena telah begitu egois selama ini. Tidak seharusnya dia menyalahkan Ruby karena menjalin cinta dengan lelaki yang dia sukai, sedangkan dia tahu lelaki itu tak pernah memiliki perasaan kepadanya.
Apalagi sejak pengakuan Dinan kemarin dan sikap pria itu kepada sang kakak yang begitu manis, dia sadar bahwa mereka memang saling mencintai. Ucapan Dinan benar, kalau dia memang menyayangi Ruby, pasti dia ingin sang kakak bahagia.
“Kakak juga minta maaf karena sudah melukai perasaanmu, Kakak ini bukan Kakak yang baik.” Lanjut Ruby.
“Tidak, Kak. Kakak itu adalah Kakak terbaik yang aku miliki, aku saja yang terlalu buta dengan perasaanku sampai begitu terobsesi kepada Bos Dinan, padahal dia sendiri tidak pernah menggubrisku. Aku yang salah karena menyukainya.” Balas Safira.
“Kamu tidak salah, perasaan cinta itu tidak bisa kita atur, semua orang berhak jatuh cinta, walaupun tidak semua orang bisa memiliki seseorang yang dicintainya.”
Kedua kakak beradik itu masih berpelukan sambil menangis, menumpahkan rasa sayang yang pernah tertutup oleh keegoisan dan amarah. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Ruby langsung melepaskan pelukannya dari Safira.
“Sepertinya Mas Dinan sudah datang.” Tebak Ruby.
“Kalian mau pergi?” Tanya Safira.
“Iya, Dek.” Jawab Ruby canggung, dia merasa tidak enak hati.
Safira tersenyum. “Kalau begitu selamat bersenang-senang, Kak. Hati-hati, ya.”
Ruby mengangguk dan ikut tersenyum.
“Ya sudah buruan, Kak! Bos Dinan sudah menunggu itu.”
Ruby mengusap air matanya dan bergegas menemui Dinan, sedangkan Safira kembali meneteskan air matanya. Tak mudah melupakan seseorang yang dicintai, tapi dia akan berusaha demi sang kakak.
Ruby membukakan pintu untuk Dinan dan pria rupawan itu langsung semringah menatapnya.
“Kamu cantik sekali.” Puji Dinan.
Ruby tersipu-sipu. “Mas bisa saja.”
“Sudah siap?”
“Sudah, Mas.”
“Yuk, berangkat!”
Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu meninggalkan rumah Ruby. Dinan tak henti-hentinya tersenyum bahagia.
“Dari tadi aku perhatikan Mas senyum-senyum terus, sepertinya lagi bahagia banget. Pasti karena penjualan perhiasan karya Made Kris laris manis, kan?” Tebak Ruby.
“Itu salah satu alasannya, tapi ada beberapa alasan lain yang buat aku ingin terus tersenyum.”
“Apaan? Aku boleh tahu tidak?”
“Tidak, ini rahasia.”
“Ya sudah kalau tidak boleh tahu juga tidak apa-apa.” Rajuk Ruby dengan wajah cemberut.
“Idih, sudah pandai merajuk sekarang! Awas entar bibirnya copot, loh!” Ledek Dinan sembari mencolek dagu Ruby.
“Habis Mas main rahasia-rahasia segala!”
“Iya, deh, iya. Aku hanya bercanda, sayang.”
Ruby senyum-senyum sendiri mendengar Dinan memanggilnya sayang.
Dinan yang menyadarinya kembali menggoda wanita itu. “Kenapa senyum-senyum begitu?”
“Tidak apa-apa.” Jawab Ruby, lalu mengalihkan pembicaraan. “Kalau begitu katakan, apa lagi alasannya Mas bahagia banget hari ini?”
“Aku dan Papa sudah berdamai, dan Papa merestui hubungan kita.”
Ruby terkesiap. “Benar, Mas?”
Dinan mengangguk dua kali.
“Wah, bagus, dong! Berarti dia sudah bisa menerima kenyataan.”
“Iya, Mas. Aku senang banget.”
“Aku juga.” Balas Dinan dengan senyum di bibirnya.
Mereka bersyukur karena satu persatu masalah kini sudah selesai.
“Oh iya, sebenarnya ada satu alasan lagi yang paling buat aku bahagia.”
“Apa itu, Mas?”
“Nanti kamu juga akan tahu.”
Ruby sontak cemberut. “Kan main rahasia-rahasia lagi.”
Dinan hanya mengulum senyum sambil menatap jalanan, hatinya benar-benar dipenuhi perasaan suka cita.
Tiga puluh menit kemudian, mereka pun tiba di sebuah restoran di tepi pantai, sudah ada sebuah meja dengan banyak hidangan dan dua kursi yang saling berhadapan.
Ruby merasa takjub. “Mas yang menyiapkan semua ini?”
“Bukan, aku hanya memesannya saja, yang menyiapkan pihak restoran.” Jawab Dinan jujur sambil tertawa.
Ruby pun ikut tertawa, dia merasa bodoh telah bertanya seperti itu, jelas-jelas dia baru datang bersama Dinan. Lagi pula mana mungkin seorang Afdinan Ibrahim mau repot-repot menyiapkan hal seperti ini.
Dinan menarik kursi untuk Ruby. “Silakan duduk, Princess.”
Ruby tersenyum, kemudian duduk di kursi yang ditarik Dinan, lalu lelaki itu pun duduk di hadapan sang kekasih.
“Kamu suka tempat ini?”
“Suka sekali, Mas. Terima kasih, ya.” Sahut Ruby.
“Syukurlah kalau kamu suka.”
“Tapi, Mas. Kalau hanya mau makan malam, tidak perlu sampai seperti ini, makan di warteg saja aku juga sudah senang, kok.” Ujar Ruby.
“Karena makan malam kita kali ini sangat spesial.”
Ruby mengerutkan keningnya. “Maksud, Mas?”
“Ada yang ingin aku katakan.”
“Apa?”
“Kamu kan sudah tahu bagaimana perasaanku padamu selama ini, aku juga sudah tahu seperti apa perasaanmu padaku, dan malam ini aku ingin semesta jadi saksi niat tulusku.” Ucap Dinan.
Ruby tertegun menatap lelaki yang dia cintai itu dengan jantung berdebar. Dinan pun beranjak dari duduknya, lalu berjongkok di hadapan Ruby, membuat janda cantik itu tersentak.
“Apa yang Mas lakukan? Ayo berdiri, malu dilihat orang.” Ruby bingung dan panik karena tingkah Dinan itu menarik perhatian pengunjung lain.
Dinan tak menggubris ocehan Ruby, dia mengeluarkan kotak beludru berwarna merah lalu membukanya di hadapan wanita itu.
“Ruby, will you marry me?”
Ruby tercengang dengan mulut terbuka, tak menyangka Dinan akan melamarnya malam ini. Seketika rasa haru menyergapnya, air mata pun seketika jatuh menetes.
“By, buruan jawab! Pegal ini!” Desak Dinan, membuat Ruby tersadar bahwa seseorang sedang menanti jawabannya.
“Iya, Mas. Aku mau.” Jawab Ruby tanpa ada keraguan sedikit pun.
Tawa Dinan merekah, dia segera memakaikan cincin bertakhta berlian di jari manis Ruby, lalu mencium tangan wanita itu.
“Terima kasih, By.” Dinan pun berdiri lalu mengecup bibir Ruby dan mengusap air matanya.
“I love you.” Ucap Dinan.
“I love you too.” Balas Ruby.
Dinan kembali mengecup bibir Ruby, membuat wajah cantik itu kian merona.
Pengunjung restoran yang melihat kemesraan mereka tersenyum sambil bertepuk tangan, ada juga yang merasa iri karena mereka begitu romantis.
Ruby bahagia bercampur malu, dia bahkan tak bisa berkata-kata lagi. Semua ini terlalu tiba-tiba dan mendadak, dia sampai bingung harus bersikap seperti apa.
“Sekarang mari makan, aku sudah lapar.” Dinan kembali ke kursinya dan bergegas menyantap makanan yang sudah terhidang di atas meja.
Ruby tak bisa menutupi kebahagiaan yang tengah dia rasakan, dia tak henti-hentinya memandangi cincin bertakhta berlian yang kini melingkar di jari manisnya itu.
💘💘💘