
Dan di tempat lain, Dinan sedang uring-uringan, dia berjalan ke sana-kemari sambil menatap layar ponselnya, sedari tadi dia menghubungi Ruby, tapi sama sekali tak ada jawaban dari wanita itu.
Hanan yang melihat sahabatnya itu tidak bisa diam, merasa pusing sendiri.
“Kenapa kau mondar-mandir seperti setrikaan? Kau tidak bisa duduk, ya?”
“Aku galau, Han.”
“Karena Ruby?” Tebak Hanan.
“Siapa lagi?” Jawab Dinan. “Dia tidak menjawab telepon dari ku.”
Hanan membuang napas, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. “Sudahlah, mungkin dia sedang sibuk dengan mantan suaminya.”
Dinan menatap Hanan dengan mata melotot. “Apa maksudmu?”
“Aku tidak ada maksud apa-apa.” Sanggah Hanan santai.
“Han, jangan coba-coba provokasi aku!”
“Siapa yang provokasi, sih? Aku kan hanya menebak saja. Kalau dia tidak menjawab telepon dari mu, mungkin dia sedang tak ingin diganggu.”
Dinan terdiam dengan segala pikiran kotor tentang Ruby dan Arkan, hatinya benar-benar tak rela membayangkan semua itu terjadi.
“Aku tidak bisa diam saja seperti ini.” Ujar Dinan sembari buru-buru pergi.
“Kau mau ke mana?” Tanya Hanan.
“Ke rumah Ruby.” Sahut Dinan.
Hanan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabat sekaligus saudara tirinya yang selalu bertindak seenaknya itu.
💘💘💘
Ruby memandangi layar telepon genggamnya, ada lima kali panggilan tak terjawab dari Dinan. Dia sengaja meng-silent ponselnya sebab tak ingin membuat Anna yang sudah tidur nyenyak terganggu, selain itu dia juga sedang berusaha menghindari Dinan sesuai permintaan Surya.
Ruby pun beranjak dari sisi Anna lalu keluar dari kamar wanita paruh baya itu, dia berniat untuk pulang. Ruby berjalan menuju pintu keluar, tapi tiba-tiba Arkan menghampirinya.
“Kamu mau ke mana, By?” Tanya Arkan.
“Aku mau pulang.” Jawab Ruby dingin.
“Bagaimana dengan Mama?”
“Mama sudah tidur.”
“Ya sudah, kalau begitu aku antar kamu pulang.”
“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.” Tolak Ruby.
“By, ini sudah malam. Tidak baik seorang wanita berada di luar rumah malam-malam begini.”
“Tapi aku khawatir, By. Aku yang meminta kamu datang ke sini, mana mungkin aku membiarkan kamu pulang sendiri. Itu sama saja dengan aku tidak bertanggung jawab.”
Ruby lantas memandang Arkan dengan sinis. “Mas masih bisa khawatir? Bukannya Mas sudah tidak peduli lagi denganku?”
“Tentu aku peduli, aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu karena aku masih mencintaimu.”
“Sudahlah, Mas! Hentikan omong kosong ini! Aku lelah.” Ruby hendak melangkah pergi, tapi Arkan menarik lengannya.
“By, tolong jangan bersikap seperti ini padaku. Aku memang bersalah, tapi tolong beri aku kesempatan untuk menebus dan memperbaiki semuanya. Biarkan aku mewujudkan harapan Mama.”Arkan memohon.
Ruby tertegun, saat ini yang ada hanya perasaan sakit karena perbuatan Arkan, cinta yang dulu pernah ada untuk mantan suaminya itu kini perlahan hilang entah ke mana.
“Maaf, aku tidak bisa, Mas.” Ruby melepaskan lengannya dari cengkeraman tangan Arkan.
“Oke, By! Paling tidak izinkan aku menjadi temanmu, jangan musuhi aku seperti ini!”
Ruby kembali terdiam.
“Kita masih bisa menjadi teman, kan? Aku mohon, By!” Lanjut Arkan.
Terlalu kekanak-kanakan memang jika dia terus bersikap seperti ini, memusuhi lelaki yang pernah sangat dia cintai. Bukankah dia sudah ikhlas menerima semuanya, kenapa dia masih belum bisa bersikap biasa saja? Tapi rasanya berat sekali untuk kembali berbaikan dan berdamai dengan orang yang pernah sangat menyakitinya itu.
“Aku permisi.” Ruby melangkah meninggalkan Arkan tanpa menjawab pertanyaan mantan suaminya itu.
Tak ingin tinggal diam, Arkan pun bergegas mengejar Ruby. “Ruby, tunggu! Biarkan aku mengantarmu.”
Ruby berjalan cepat, mengabaikan Arkan yang menyusulnya.
“By, ini sudah malam. Akan sangat sulit menemukan taksi atau transportasi di daerah sini. Biar aku antar saja!”Ujar Arkan gemas melihat sikap keras kepala mantan istri itu.
“Aku bisa memesan taksi online.” Ruby segera mengeluarkan ponselnya.
“By, jangan keras kepala! Berbahaya seorang wanita masih di luar malam-malam begini. Apa kamu bisa percaya jika sopir taksi itu orang baik?”
Ruby tertegun, dalam hatinya dia pun membenarkan ucapan Arkan. Di zaman sekarang ini, banyak sekali tindak kejahatan yang tidak terduga, sudah terlalu banyak kasus pelecehan dan pembunuhan yang terjadi. Sejujurnya dia sendiri juga merasa takut.
“By, aku antar saja, ya? Please!” Bujuk Arkan dengan wajah memohon.
Ruby menghela napas dan akhirnya mengangguk pasrah.
Arkan tersenyum dan bergegas membukakan pintu mobilnya. “Kalau begitu, ayo masuk!”
Ruby pun masuk ke dalam mobil mantan suaminya itu. Arkan menutup pintu sambil tersenyum lalu bergegas mengitari mobilnya dan masuk.
Mobil mewah milik Arkan itu segera meluncur pergi meninggalkan kediaman megahnya.
💘💘💘