Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 33.


Episode 10.


Hari sudah mulai senja, seperti janjinya tadi, Bos tampan itu mengajak Ruby bermain di pantai. Setelah sepakat untuk menjadi teman, kini mereka terlihat lebih akrab dan terbuka satu sama lain. Keduanya tak lagi bicara dengan bahasa yang formal seperti sebelumnya.


Di bawah langit sore yang berwarna jingga, keduanya duduk bersampingan di atas pasir, menghadap matahari yang mulai tenggelam. Pemandangan yang begitu indah dan sangat memesona sekaligus romantis, Ruby sangat senang bisa menikmati suasana ini.


“Cantik sekali!” Seru Ruby takjub, matanya berbinar memandang keindahan mentari yang perlahan turun ke peraduan.


“Iya, sangat cantik.” Sahut Dinan sembari memandang wajah Ruby dengan terpesona.


“Ini pertama kalinya aku bisa melihat matahari terbenam di pantai, ternyata bagus sekali.” Ujar Ruby senang karena selama bersama Arkan, dia tak pernah pergi jalan-jalan. Mantan suaminya itu hanya sibuk bekerja dan berkumpul dengan kolega bisnisnya saja.


“Ini juga pertama kalinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama.” Sahut Dinan masih dengan memandang wajah asistennya itu.


Ruby sontak berbalik menatap Dinan. “Mas bicara apa?”


“Aku jatuh cinta padamu.” Jawab Dinan yakin.


Mata Ruby mendelik tak percaya. “Mas ....”


Dengan perlahan Dinan mendekatkan wajahnya ke wajah Ruby sambil memejamkan matanya, dan tanpa permisi dia langsung mencium bibir wanita itu dengan sangat mesra. Ruby hanya diam bergeming dan ....


“Mas! Mas Dinan ngapain merem sambil monyong begitu?”


Dinan tersentak dan sontak membuka matanya, lamunannya buyar berganti dengan kenyataan bahwa dia sedang berhalusinasi tadi. Seketika rasa malu menggelayuti nya, membuat Bos tampan itu salah tingkah dan gugup.


“Ah ... hem, itu aku lagi olah raga wajah, tadi rahang ku keram.” Sanggah Dinan asal.


Ruby mengernyitkan keningnya. “Olah raga wajah? Apa harus monyong dan merem begitu?”


“I-iyalah, memangnya kamu tidak tahu, ya?”


Ruby menggeleng. “Aku baru tahu ini, Mas.”


Dinan mencibir demi menutupi rasa gugupnya. “Kamu ini! Itu saja tidak tahu.”


Ruby terdiam.


“Memangnya penting aku harus tahu itu?” Gerutu Ruby dalam hati.


“Ya sudah, kamu tidak ingin foto? Sunset nya bagus, loh!” Dinan mengalihkan suasana.


Ruby langsung semringah. “Boleh, Mas. Tolong foto kan, ya?”


Dinan mengangguk.


Ruby beranjak dari duduknya dan mulai berpose dengan berbagai gaya, Dinan memotret wanita itu dengan kamera ponselnya.


“Mas, tidak mau foto juga? Buat kenang-kenangan.”


“Tidak! Aku tidak suka difoto!”


“Kenapa?”


“Ya, tidak suka saja. Memang harus ada alasannya?”


“Tidak, sih.” Jawab Ruby. “Ya sudah, deh.”


Ruby berjalan mendekati Dinan yang masih mengotak-atik ponselnya.


“Coba lihat hasilnya, Mas.”


Dinan pun menunjukkan hasil jepretannya kepada Ruby.


“Wah, bagus sekali! Mas jago banget mengambil fotonya!” Pekik Ruby girang.


“Bukan aku yang jago, tapi memang modelnya yang cantik.”


Ruby tersipu-sipu malu.


“Sini biar aku foto lagi!”


“Sudah, Mas! Fotonya sudah banyak.” Tolak Ruby. “Tolong kirim ke aku, ya! Setelah itu hapus saja yang di ponselnya Mas.”


“Sudah aku kirim semua.” Ujar Dinan, tapi dia tak menghapus foto-foto Ruby yang ada di ponselnya.


“Iya, Mas.”


Ruby segera mengambil ponselnya dan melihat-lihat lagi foto yang Dinan kirimkan, tapi tiba-tiba terlintas ide jahil di benaknya, dia menyalakan fitur kamera ponselnya lalu mengarahkan nya ke Dinan.


Diam-diam Ruby memotret Dinan, namun apes, ulahnya itu tertangkap basah oleh Dinan yang kebetulan menoleh ke arahnya dengan wajah datar.


“Hei, kamu mencuri fotoku?” Tuduh Dinan dengan mata melotot.


Ruby tertawa. “Wajah Mas lucu sekali, datar seperti aspal.”


“Kamu berani mengejekku? Hapus foto itu!”


Ruby menggeleng. “Tidak! Ini buat kenang-kenangan.”


“Kalau begitu sini ponselnya!” Dinan hendak merebut ponsel Ruby, tapi janda cantik itu menghindar.


“Ambil kalau bisa!” Tantang Ruby sambil menjulurkan lidahnya mengejek Dinan kemudian lari menjauhi lelaki itu.


“Awas kamu, ya!” Dinan yang gemas dengan tingkah wanita itu pun semakin bersemangat mengejarnya.


Keduanya pun kejar-kejaran di tepi pantai, dan sial bagi Ruby karena Dinan berhasil menangkapnya dari belakang dan keduanya pun terjatuh ke atas pasir, membuat ponsel Ruby terlepas kemudian terlempar tak jauh darinya.


Ruby buru-buru bangkit dan bergegas hendak mengambil ponselnya kembali, tapi dia kalah cepat dengan Dinan. Bos tampan itu sudah lebih dulu memungut ponselnya.


“Aku dapat ponselnya!” Seru Dinan bangga sambil memamerkan ponsel Ruby yang ada di tangannya.


“Kembalikan, Mas!”


“Ambil sendiri kalau bisa!” Dinan kembali menantang Ruby.


Ruby pun langsung merebut ponselnya dari tangan Dinan, tapi gagal karena lelaki itu mengangkat tinggi-tinggi tangannya, jelas Ruby tak bisa meraih ponsel itu.


“Ayo, ambil! Masa begitu saja tidak bisa?” Ujar Dinan sepele.


Tak ingin menyerah, Ruby pun melompat untuk meraih ponselnya, namun dia justru kehilangan keseimbangan dan tanpa sengaja menabrak tubuh Dinan. Alhasil, keduanya terjatuh dengan posisi Ruby menimpa Bosnya itu.


Ruby sontak bangkit dan menjauh dari tubuh Dinan dengan wajah bersemu merah.


“Maaf, Mas.” Ucap Ruby canggung.


“Ternyata kamu berat juga!” Ejek Dinan yang juga ikut beranjak lalu membersihkan pasir dari pakaiannya.


“Jadi maksud Mas aku gendut?” Tuduh Ruby dengan mata melotot.


“Aku tidak bilang begitu!” Bantah Dinan.


“Barusan Mas bilang aku berat, berarti aku gendut, dong.”


“Kan kamu yang menyimpulkan begitu.”


Ruby mencibir dengan wajah cemberut. “Ngeles saja, kayak bajaj.”


Dinan terkekeh geli melihat wajah masam Ruby, rasanya bahagia sekali bisa sedekat ini dengan wanita pujaan hatinya itu.


“Pulang, yuk! Hari sudah mulai gelap.”


Ruby hanya mengangguk.


“Habis ini dandan yang cantik, ya! Aku mau ajak kamu makan malam.”


“Mau makan malam saja, kenapa harus dandan yang cantik segala, sih?” Protes Ruby.


“Sudah, lakukan saja!” Balas Dinan.


Keduanya pun kembali ke kamar hotel untuk mandi dan berganti pakaian, karena seharian berkeringat membuat tubuh mereka terasa gerah dan lengket, belum lagi pasir yang menempel membuat risi.


💘💘💘