
Suasana haru menyelimuti kediaman Made Kris, lelaki paruh baya berambut gondrong itu masih tertunduk dan menangis tersedu-sedu.
Sedangkan Ruby hanya berdiri memandangnya dengan penuh rasa iba, dia membiarkan Made Kris meluapkan kesedihannya.
Begitu pilu memang, seorang ayah yang sangat merindukan putrinya hanya mampu meneteskan air mata tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Bisakah kamu membantu saya?” Tiba-tiba Made Kris berucap lirih, dia tidak lagi terlihat marah.
“Membantu apa, Pak?”
Made Kris mengangkat kepalanya menatap Ruby dengan mata yang basah. “Bantu saya untuk bangkit, bantu saya agar bisa hidup lebih baik dan bahagia. Saya ingin Devi bangga pada Bapaknya ini.”
Ruby tercenung, dia tak menyangka semua ucapannya berhasil menyadarkan lelaki itu.
“Apa yang harus saya lakukan, Pak?”
“Temani saya di sini!”
“Tapi saya harus kembali ke hotel.”
“Sebentar saja, nanti sore kamu bisa kembali ke hotel. Saya mohon!” Made Kris memandang Ruby penuh harap, membuat wanita itu merasa tak tega untuk menolaknya.
Ruby menghela napas lalu mengangguk. “Baiklah, Pak.
“Terima kasih, Nak.” Balas Made Kris sambil mengusap jejak-jejak air matanya.
Ruby hanya tersenyum dan ikut menyeka cairan bening yang meleleh di pipinya.
Namun tiba-tiba suara tak terduga terdengar dari dalam perut Ruby.
Kruuuukk ....
Ruby terdiam sembari memegangi perutnya yang memang sudah terasa keroncongan sejak tadi, sebab dia belum makan siang. Dia merasa malu sekali karena Made Kris pasti mendengarnya.
“Ternyata kamu lapar, ya?” Made Kris tersenyum. “Kalau begitu, mari kita makan! Saya juga sudah mulai lapar.”
“Eh, tidak usah, Pak. Nanti jadi merepotkan.” Tolak Ruby sungkan.
“Tidak apa-apa. Kamu kan tamu saya dan kamu juga sudah berjanji akan menemani saya.” Ujar Made Kris. “Yuk ke ruang makan!”
“Baiklah, Pak.
Ruby pun mengikuti Made Kris berjalan menuju ruang makan.
“Mbok Ida, sudah selesai masak?” Tanya Made Kris.
“Sudah, Gus Made. Sebentar saya siapkan dulu.” Sahut wanita paruh baya yang dipanggil Mbok Ida itu.
Ruby dan Made Kris mengambil posisi duduk masing-masing, dan Mbok Ida mulai menghidangkan berbagai makanan.
“Silakan! Makan yang banyak!” Ujar Made Kris setelah semua makanan telah terhidang di atas meja makan.
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Ruby pun mulai mengambil nasi dan lauk pauk, makanan di hadapannya sungguh menggugah selera.
“Saya minta maaf atas sikap saya tadi.” Ucap Made Kris.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti, kok.” Sahut Ruby.
“Kamu gadis yang hebat, kamu bisa begitu menyentuh perasaan saya dan membuka pikiran saya yang terlalu sempit ini.”
Ruby tersipu malu. “Ah, anda bisa saja, Pak.”
Ruby tertegun, seketika teringat Dinan yang dia tinggal di kamar hotel.
“Astaga, aku melupakannya. Bagaimana kalau dia sudah bangun dan mencari ku?” Batin Ruby.
Melihat Ruby melamun dan gelisah, Made Kris menegurnya.
“Kamu kenapa, Nak?”
Ruby pun tersentak. “Oh, tidak apa-apa, Pak. Saya hanya teringat Bos saya, takutnya dia sudah bangun dan mencari saya. Soalnya saya kan perginya tidak pamit.”
“Kamu bawa ponsel, kan?”
“Bawa, Pak.”
“Dia pasti menghubungimu jika sudah bangun.”
“Iya juga, sih. Dari tadi tidak ada telepon masuk, berarti dia belum bangun.” Ujar Ruby. “Nanti saja setelah makan, baru saya kabari dia.”
“Ya sudah, kalau begitu kamu makan dulu!”
“Baik, Pak.”
Ruby dan Made Kris pun makan siang bersama, sesekali mereka mengobrol dan bercanda tawa. Made Kris terlihat lebih ceria dari sebelumnya, dia bahkan makan dengan sangat lahap dan tak berhenti tersenyum. Dia merasa sosok putrinya yang telah tiada kini hadir menemaninya.
Sementara itu di kamar hotel, Dinan mulai terbangun. Dia menggeliat dan meregangkan otot-ototnya, lalu dengan perlahan membuka mata kemudian menatap langit-langit kamar, kesadarannya perlahan mulai terkumpul.
“Astaga, aku tertidur.”
Dinan mengusap wajahnya lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang.
“Jam berapa ini? Aku lapar sekali.” Dinan melirik arloji di pergelangan tangannya. “Sudah jam dua, pantas perutku keroncongan. Kenapa dia tidak membangunkan aku, sih?”
Dinan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar, tapi dia tak menemukan sosok Ruby.
“Ke mana dia?” Dinan bertanya dengan kening yang berkerut. “Apa di kamar mandi?”
Dinan beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.
“Ruby, kamu di dalam?” Teriak Dinan sambil mengetuk pintu kamar mandi, tapi tak ada jawaban sama sekali.
“Ruby!” Dinan kembali mengetuk pintu kamar mandi, tapi tetap hening dan tak ada tanda-tanda seseorang di dalam sana.
Dengan perlahan Dinan memutar handle pintu dan membukanya, dan benar saja, tidak ada siapa-siapa.
Dinan segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menghubungi Ruby, tapi tidak tersambung. Dia mengulang panggilan berkali-kali, tapi hasilnya tetap nihil.
“Cckk, ke mana dia?” Gerutu Dinan kesal. “Dihubungi juga tidak bisa.”
Dinan mencoba berpikir ke mana kiranya Ruby pergi?
“Apa jangan-jangan dia pergi mencari makanan?” Tebak Dinan. “Aku akan coba cari di luar.”
Bos tampan itu bergegas keluar dari kamar untuk mencari Ruby, dia bertanya kepada resepsionis serta satpam, dan mereka mengatakan melihat Ruby keluar dari hotel lalu pergi naik taksi.
Dinan mulai pusing memikirkan ke mana Ruby pergi, dia juga panik dan cemas. Sekali lagi dia kembali menghubungi nomor telepon Ruby, tapi tetap tidak tersambung.
“Dia ke mana, sih?” Tanya Dinan kesal.
Dinan menunggu Ruby di lobi hotel sambil terus berusaha menghubungi wanita itu.
💘💘💘