Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 64.


Satu jam kemudian, rapat pun selesai, Dinan langsung menghubungi Ruby, tapi sama sekali tidak ada jawaban.


“Cckk, kenapa dia tidak menjawabnya, sih?” Gerutu Dinan sambil terus menghubungi Ruby.


Hanan yang melihat kegundahan Dinan itu pun menghampirinya. “Ada apa?”


“Aku sudah berulang kali menghubungi Ruby, tapi tidak dijawab.”


“Mungkin dia sedang sibuk.”


“Tapi sesibuk apa pun, masa menjawab telepon saja tidak bisa. Aku jadi khawatir, soalnya tadi sikapnya aneh sekali, dia seperti menghindari aku.”


Hanan terdiam, dia berusaha mencerna ucapan Dinan, dan iba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.


“Bagaimana kalau kita tanya adiknya?”


“Aku rasa itu bukan ide yang bagus, soalnya Ruby dan adiknya sedang berseteru.”


Hanan mengernyitkan keningnya. “Kau tahu dari mana?”


“Ruby sendiri yang cerita.” Jawab Dinan.


“Oh, kalau begitu coba kau tanya pada rekan kerjanya yang dua orang itu, mungkin saja mereka tahu apa yang terjadi.” Cetus Hanan.


“Ide bagus! Kalau begitu panggil mereka ke ruangan ku!” Titah Dinan dan berlalu pergi begitu saja.


Hanan mengembuskan napas panjang lalu menggerutu. “Dia tidak mau aku panggil Bos, tapi dia selalu bersikap seperti Bos padaku.”


Hanan pun bergegas ke ruang administrasi untuk memanggil Jojo juga Sinta, dan hal itu kembali membuat para karyawan lain heboh serta bertanya-tanya.


Tak berapa lama, kedua rekan kerja Ruby itu pun datang dan berdiri di hadapan Dinan dengan perasaan takut serta bingung, mereka merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi mengapa mereka diminta menghadap CEO tampan itu. Sementara Hanan hanya berdiri di samping Dinan, dia memperhatikan Jojo dan Sinta dengan sorot mata tajam, membuat keduanya semakin salah tingkah.


“Saya memanggil kalian ke sini karena ada yang ingin saya tanyakan tentang Ruby.” Ujar Dinan membuka percakapan.


Jojo dan Sinta bergeming sambil menelan ludah, jantung mereka semakin berdebar kencang. Keduanya menebak jika Dinan sudah tahu tentang video yang tersebar itu.


“Kenapa Ruby izin pulang? Apa kalian tahu alasannya?” Cecar Dinan.


“Kami tidak tahu, Pak. Dia hanya bilang ingin pulang, tapi tidak mengatakan alasannya.” Jawab Jojo hati-hati.


Dinan menatap lekat Jojo dan Sinta. “Apa dia sakit?”


Jojo dan Sinta kompak menggeleng.


“Atau dia sedang ada masalah?” Selidik Dinan.


Jojo dan Sinta saling pandang, mereka takut mengatakan jika Samara tadi memanggil Ruby.


“Ayo katakan! Kenapa kalian diam saja?” Desak Dinan.


“Ta-tadi calon istri anda memanggil Ruby dan mengajaknya pergi, setelah kembali Ruby langsung izin pulang, Pak.” Sahut Jojo gugup.


“Samara memanggil Ruby? Buat apa?”


“Mungkin karena video itu, Pak.” Sela Sinta.


Dinan menautkan kedua alisnya. “Video? Video apa?”


Dinan dan Hanan terkesiap mendengar penuturan wanita berambut pendek itu.


“Siapa yang menyebarnya?” Tanya Dinan penasaran.


Sinta menggeleng. “Tidak tahu, Pak. Nomornya asing dan dia baru bergabung di grup tadi pagi lalu mengirimkan video itu.”


Dinan mengeraskan rahangnya. “Berengsek!”


Hanan yang penasaran akhirnya buka suara. “Bisa lihat videonya?”


“Bisa, Pak.” Sinta buru-buru mengambil ponselnya lalu menunjukkan video itu pada sekretaris CEO itu.


Hanan memperhatikan video itu, kemudian menatap Dinan yang juga sedang melihat video yang sama. “Kapan ini?”


“Kemarin sore.” Sahut Dinan.


Hanan memalingkan wajahnya sambil geleng-geleng kepala.


“He, memangnya kenapa?” Sungut Dinan, tapi Hanan tak menggubris sungutan sahabatnya itu.


Jojo dan Sinta hanya terpaku memandang dua lelaki di hadapan mereka itu, keduanya tidak terlihat seperti atasan dan bawahan seperti biasanya.


Tak hanya melihat video itu, Hanan juga membaca beberapa komen di grup karyawan yang berisikan hujatan dan kalimat kasar untuk Ruby. Dia juga menandai orang-orang yang berkomentar buruk itu dan menyalin nomor si pengirim video ke ponselnya.


“Baiklah, ini ponsel kamu.” Hanan mengembalikan ponsel Sinta setelah dia selesai.


“Ya sudah, kalian boleh keluar dan kembali bekerja!” Pinta Dinan.


“Iya, Pak. Kami permisi.”


Jojo dan Sinta bergegas keluar dari ruangan Dinan dengan perasaan lega.


“Katanya ponsel Ruby ada padamu? Kenapa kau tidak tahu apa-apa?” Sindir Hanan.


“Ponselnya terkunci, aku tidak tahu sandinya. Lagi pula aku ini kan tidak usil.” Bantah Dinan.


“Kau tahu, mereka menghujat Ruby di grup.” Ujar Hanan.


“Benarkah?”


Hanan mengangguk.


Dinan mengeraskan rahangnya. “Kurang ajar, aku akan menghukum mereka.”


“Itu nanti saja, sekarang yang perlu kita cari adalah si perekam dan pengirim video itu. Aku akan melacak nomornya.”


“Baiklah, aku serahkan itu padamu.”


Hanan kembali mengangguk. Dinan pun beranjak dari duduknya.


Hanan mengernyit. “Kau mau ke mana?”


“Menemui Samara.” Balas Dinan, lalu melangkah meninggalkan ruangannya.


💘💘💘