Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 67.


Safira duduk berhadapan dengan Ruby dan Dinan, meskipun hatinya terluka, tapi dia tak berani membantah perintah Dinan.


“Fira, aku sudah mengetahui semuanya, Ruby sudah cerita.” Ujar Dinan membuka percakapan.


Safira melirik tajam Ruby yang duduk di samping Dinan, dia merasa kesal karena sang kakak membeberkan semuanya pada lelaki yang dia sukai itu.


“Mungkin kamu juga berpikir bahwa Ruby menggodaku seperti yang dituduhkan karyawan lain di grup, jadi sekarang aku akan luruskan. Pertama, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Samara, rumor perjodohan itu tidak benar. Dan kedua, Ruby sama sekali tidak pernah menggodaku, justru aku yang selalu mengejarnya. Dia berulang kali menolak ku, dan salah satu alasannya adalah karena kamu. Dia tidak ingin melukai perasaanmu.”


Terang Dinan.


Safira tak menjawab, dia memalingkan wajahnya dengan mata yang mulai digenangi cairan bening.


“Aku mencintai Ruby, dan aku ingin kamu mengerti itu. Jangan menyalahkan dia, karena dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Lagi pula jika kamu memang menyayanginya, kamu pasti ingin dia bahagia.” Lanjut Dinan.


Safira hanya bergeming, dia tak tahu harus mengatakan apa. Semua yang dikatakan Dinan begitu menusuk relung hatinya, dia merasa malu sekaligus sedih.


“Dek, maafkan kakak, ya? Kakak tidak bermaksud melukai perasaanmu, kakak sangat menyayangimu.” Ruby berbicara dengan air mata yang berlinang.


Dinan menatap Ruby. “Kenapa kamu minta maaf? Kamu kan tidak salah, By.”


“Aku sudah egois, Mas.”


Dinan merangkul pundak Ruby dan mendekapnya erat. “Tidak, kamu tidak egois, By. Kamu melakukan apa yang seharusnya.”


Safira melirik sinis kedua insan di hadapannya itu dengan hati yang panas dan semakin terluka.


“Kalau begitu permisi aku ke kamar dulu.” Safira beranjak dan pergi begitu saja, dia tak ingin lebih lama lagi merasakan sakit.


“Fira!” Panggil Ruby.


“Sudah, biarkan saja! Mungkin dia butuh waktu untuk menerima semua ini, semoga saja dia bisa mengerti.”


“Mudah-mudahan, Mas.”


Dinan menatap Ruby dan menghapus jejak-jejak air mata di pipi janda cantik itu. “Jangan menangis lagi! Mata kamu jadi bengkak begini.”


Ruby pun mengusap wajah dan merapikan rambutnya yang masih berantakan.


“Sekarang kamu cerita, mau apa dia datang lagi ke sini?” Tanya Dinan.


Ruby pun menceritakan maksud kedatangan Arkan dan semua yang terjadi, Dinan benar-benar marah pada mantan suami Ruby itu.


“Harusnya tadi aku menghajarnya sampai mati!” Kesal Dinan.


“Mas, sudahlah!” Ruby mengusap lengan kekar Dinan.


Dinan mengembuskan napas berat, dan menggenggam tangan Ruby.


“Mas sendiri kenapa malam-malam datang ke sini?”


“Aku hanya ingin memastikan keadaanmu, aku khawatir padamu.” Ucap Dinan.


“Mas tidak usah khawatir, aku baik-baik saja, kok.”


“Baik-baik saja apanya? Tadi kamu itu hampir saja dilecehkan, untung aku datang tepat waktu, kalau tidak, entah apa yang akan terjadi.” Gerutu Dinan.


“Iya-iya, terima kasih sudah menyelamatkan aku.”


“Itu sudah kewajiban ku, karena aku berjanji akan selalu menjagamu.” Dinan menarik Ruby ke dalam pelukannya dan mengecup kepala wanita itu.


Dinan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ruby. “Kalau begitu aku pulang dulu, besok aku jemput.”


Ruby mengernyitkan keningnya. “Memangnya mau ke mana, Mas?”


“Loh, kenapa masih bertanya? Kan kita mau menghadiri acara ulang tahun perusahaan sekaligus launching perhiasan baru karya Made Kris.”


“Tapi aku tidak ingin datang, Mas. Aku juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan, aku malu.”


“Kenapa kamu semudah ini menyerah? Kamu itu tidak salah, jadi kamu harus percaya diri. Lagi pula besok aku akan mengklarifikasi hubunganku dengan Samara dan mengungkapkan cintaku padamu di depan semua orang, jadi kamu harus hadir di sana.”


“Tapi, Mas ....”


Ruby menghela napas dan mengangguk.


“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Kamu istirahat, ya?”


“Iya, Mas.”


“Kunci pintu dan jangan dibuka jika ada yang datang, kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku.” Pinta Dinan.


“Siap, Pak Bos.”


Dinan tersenyum lalu mengecup kening Ruby, membuat wajah janda cantik itu merona.


“Good night, my future wife. I love you.”


“I love you too.” Balas Ruby dengan wajah berseri-seri.


Dinan pun bergegas meninggalkan rumah Ruby dengan perasaan riang gembira.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Safira mengintip dari celah pintu kamarnya, hatinya semakin hancur dan cemburu, dia begitu iri dengan kemesraan perlakuan Dinan ke Ruby. Dia juga memutuskan untuk tidak datang ke acara besok, sebab dia tak ingin semakin terluka.


💘💘💘


Arkan baru saja tiba di rumahnya, tapi dia dikejutkan dengan kedatangan beberapa mobil polisi.


“Kenapa ada polisi? Apa jangan-jangan mereka tahu aku sudah membuang Rena ke sungai? Tapi tidak mungkin, tidak ada siapa pun di sana malam itu.” Batin Arkan cemas.


“Selamat malam.” Sapa salah seorang polisi bernama Joni.


“Selamat malam.” Balas Arkan.


“Dengan Mas Arkana Willian?”


“Iya, saya sendiri. Ada apa ini, Pak?”


Tanya Arkan pura-pura tidak tahu.


“Anda kami tangkap atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan, ini surat penangkapannya.” Ujar Joni sembari menyodorkan sepucuk surat.


Arkan tercengang, dia semakin panik. “I-ini pasti ada kesalahan, Pak. Sa-saya tidak melakukan apa-apa.”


“Jelaskan nanti di kantor, sekarang silakan ikut kami.”


Arkan terdiam pasrah.


Dua orang polisi mendekati Arkan dan membawanya, namun Anna mendadak muncul dari dalam rumah dan menghentikan mereka.


“Tunggu! Ada apa ini? Kenapa anak saya dibawa?” Cecar Anna bingung.


“Mama?” Arkan menatap Anna cemas.


“Mas Arkan telah melakukan penganiayaan dan percobaan pembunuhan terhadap saudari Renata Anastasia, jadi dia akan kami tahan.” Sahut Joni.


Anna terperangah lalu histeris. “Apa? Ini tidak mungkin! Anak saya tidak mungkin melakukan hal itu!”


“Mama, tenanglah. Semua akan baik-baik saja, sekarang hubungi pengacaraku!”


Anna mengangguk sambil menangis.


“Kalau begitu, bawa dia!” Pinta Joni kepada dua polisi yang memegangi Arkan.


Mereka pun menggelandang mantan suami Ruby itu ke kantor polisi, dan setelah Arkan pergi, Rena pun muncul dari balik pohon di depan rumah Arkan dengan senyum penuh kemenangan.


“Arkana Willian, kau pikir akan semudah itu melenyapkan ku? Kau salah besar! Sekarang nikmati hukuman karena kau sudah membuat aku kehilangan bayiku.” Ucap Rena sinis sambil memegangi perutnya yang rata.


Ternyata malam itu Rena masih hidup, dia hanya pingsan saja. Dan saat tersadar di tepi sungai, dia perlahan merangkak naik dan meminta bantuan. Syukurnya ada beberapa warga sekitar yang sedang ronda malam kebetulan lewat dan menyelamatkannya, walaupun dia harus mengalami keguguran akibat perbuatan keji Arkan itu.


Setelah mendapatkan pertolongan di rumah sakit, Rena pun melaporkan apa yang menimpanya kepada pihak berwajib dan melakukan visum. Hingga akhirnya polisi menetapkan Arkan bersalah dan menciduknya malam ini.


💘💘💘