
Mobil Arkan memasuki halaman rumahnya, dan seseorang yang tak lain adalah Rena langsung menyelonong masuk begitu saja.
“Mas Arkan!”
Arkan yang baru saja keluar dari mobil terkejut karena seseorang memanggilnya dan sontak menoleh ke arah sumber suara.
“Rena? Sedang apa kau di sini?”
Rena melangkah mendekati Arkan. “Aku turut berduka cita atas meninggalnya papa Mas.”
“Terima kasih.” Sahut Arkan dingin. “Sudah itu saja? Kalau begitu kau bisa pergi sekarang!”
Arkan hendak masuk, tapi Rena menghalangi nya. “Tunggu, Mas! Ada yang ingin aku katakan.”
“Apa lagi?”
“Aku hamil, Mas.”
“Lalu apa urusannya dengan ku?”
“Aku hamil anak kamu, Mas.” Lanjut Rena.
Arkan terkesiap, bagai di sambar petir rasanya dia mendengar kata-kata mantan kekasihnya itu. Namun sedetik kemudian Arkan tertawa.
“Jangan bicara omong kosong, Rena! Setelah kau berhubungan dengan lelaki lain lalu hamil, sekarang kau datang kepadaku dan mengatakan itu anakku? Berani sekali kau!”
“Aku serius, Mas. Ini memang anak Mas, darah daging Mas. Percaya padaku!”
“He, wanita ******! Kau ini sudah tidak waras, ya? Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu, kau pikir aku bodoh!”Hardik Arkan.
“Mas, aku tidak pernah melakukan hubungan intim dengannya.” Bantah Rena.
Arkan lagi-lagi tertawa. “Jangan konyol, Rena! Wanita sepertimu tidak mungkin menolak berhubungan intim jika sudah diberi uang.”
Rena merasa terhina.
“Mas, aku tidak serendah itu! Aku berani bersumpah demi anak ini, bahwa aku tidak pernah melakukannya. Lagi pula aku berhubungan dengan dia baru dua bulan, sedangkan saat ini aku sudah hamil tiga bulan. Itu berarti ini anakmu dan Mas harus bertanggung jawab.” Ujar Rena dengan mata berkaca-kaca.
Arkan tercengang, tapi dia tidak bisa percaya begitu saja dengan pengakuan Rena.
“Kau pasti berbohong!” Seru Arkan. “Pasti selingkuhan mu itu tidak mau tanggung jawab, makanya kau mengarang cerita dan berusaha membodohi aku. Jangan mimpi! Aku tidak akan sudi untuk bertanggung jawab.”
“Mas, ini anak kamu! Tega kamu tidak mengakuinya.”
“Cukup, Rena!” Bentak Arkan. “Sebaiknya sekarang juga kau pergi dari sini! Dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi.”
“Mas, aku mohon percaya padaku. Aku bersedia tes DNA jika anak ini lahir, untuk membuktikan jika dia memang darah daging Mas.”
Arkan terdiam sambil mengeraskan rahang, bagaimana pun kebenarannya, dia tetap tak ingin berurusan dengan Rena lagi, karena dia sudah berniat untuk kembali rujuk bersama Ruby.
“Kau tunggu di sini! Jangan ke mana-mana” Pinta Arkan lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Rena menunggu dengan cemas, berulang kali dia mengusap air matanya yang jatuh menetes. Dia tahu ini akan terjadi, dia sudah menduga Arkan akan menolaknya, tapi tak ada pilihan lagi, dia harus tetap mengatakannya kepada lelaki itu.
Tak lama kemudian Arkan keluar lagi lalu melemparkan beberapa lembar uang ke wajah Rena. “Ini kan yang kau inginkan? Ambil uang ini dan cepat pergi!”
Rena menatap Arkan dengan air mata yang berlinang. “Mas, bukan ini yang aku inginkan. Aku hanya mau Mas bertanggung jawab terhadap anak yang sedang aku kandung, itu saja.”
“Sampai kapan pun aku tidak akan mau bertanggung jawab, itu bukan anakku! Jadi sebaiknya sekarang kau ambil uang itu dan pergi dari sini!”
“Jangan keras kepala, Rena! Kau sudah membuat rumah tanggaku hancur, dan jangan membuat masalah lagi!” Ujar Arkan penuh emosi.
“Mas, anak ini butuh ayahnya. Pikirkan bagaimana nasibku dan juga anak ini, jangan egois!”
“Aku tidak peduli! Kalau kau tidak mau bersusah payah, aborsi saja janin di kandungan mu itu dan kau bisa mencari mangsa baru.”
Plaaak ....
Rena spontan menampar pipi Arkan, dia benar-benar tak percaya Arkan bisa sekejam itu.
“Berani sekali kau!” Geram Arkan sembari memegangi pipinya dan menatap tajam Rena.
“Manusia macam apa kau ini? Biarpun aku bukan orang baik, tapi aku tidak akan rela membunuh anakku sendiri.” Ucap Rena penuh emosi.
“Kalau kau tidak mau bertanggung jawab, aku akan memberitahukan hal ini kepada mamamu.” Lanjut Rena, dia mencoba berlari masuk ke dalam rumah Arkan.
“Hei, jangan macam-macam!” Pekik Arkan dan bergegas mengejar Rena.
Arkan berhasil menarik lengan Rena dan menyeret wanita itu menjauh dari rumahnya.
Rena memberontak, “Lepaskan aku!”
“Ayo, ikut!”
“Tolong!” Rena berteriak.
Arkan yang panik langsung membekap mulut Rena. “Jangan berteriak!”
Rena masih berusaha memberontak sehingga tangan Arkan yang membungkam mulutnya pun terlepas dan dia kembali berteriak.
“Tolong!”
Plaaak ....
Arkan refleks menampar pipi Rena dengan sekuat tenaga, membuat wanita itu terjerembap dan kepalanya menghantam sudut pot bunga yang terbuat dari porselen. Rena tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala berdarah.
Arkan semakin panik, untung saja malam telah larut, orang-orang sudah tidur, jadi tidak ada yang melihat kejadian itu.
Arkan berjongkok dan berusaha membangunkan Rena. “Ren, bangun! Rena!”
Tapi wanita itu tidak merespon sama sekali.
“Apa jangan-jangan dia mati?”Tebak Arkan.
Tanpa pikir panjang, Arkan mengangkat tubuh Rena dan memasukkan ke dalam mobil lalu segera tancap gas meninggalkan rumahnya.
Arkan melajukan mobilnya ke daerah perkampungan, dan berhenti di sebuah jembatan. Waktu yang sudah menunjukkan pukul satu malam, membuat suasana di daerah tersebut sangat sepi, tak ada satu pun manusia yang tampak berlalu lalang di sana.
Mantan suami Ruby itu celingukan memperhatikan situasi sekitar, setelah dirasa aman, dia pun bergegas mengangkat tubuh Rena dengan susah payah dan mengeluarkannya dari dalam mobil. Tanpa rasa belas kasihan, Arkan menjatuhkan Rena dari atas jembatan.
“Maaf, aku harus melakukan ini. Semoga kau tenang di sana.” Ucap Arkan sembari menatap ke dalam sungai yang gelap dan alirannya cukup deras.
Arkan lalu buru-buru pergi sebelum ada yang melihatnya. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk membunuh Rena, tapi apa yang terjadi membuatnya terpaksa harus menyingkirkan wanita itu demi menyelamatkan dirinya sendiri.
💘💘💘