
Ruby memutuskan untuk kembali ke rumah Made Kris dan meninggalkan Dinan yang masih tertidur nyenyak di kamar hotel.
Setelah mengetuk beberapa kali, pintu pun dibuka oleh wanita paruh baya yang tadi menyambut mereka.
“Selamat siang, Bu.”
“Selamat siang.” Balas wanita itu dengan kening berkerut. “Kamu bukannya yang tadi datang?”
Ruby mengangguk. “Iya, Bu.”
“Mau ngapain kamu kembali ke sini?”
“Saya ingin bertemu dengan Pak Made Kris dan membujuknya agar dia mau bekerja sama dengan Bos saya, Bu.” Ujar Ruby. “Kasihan Bos saya sudah jauh-jauh datang dari Jakarta.”
“Percuma, Gus Made tidak akan mau. Sejak putrinya meninggal, dia tak pernah lagi mau melukis atau mendesain apa pun. Dia bahkan menutup galerinya yang di Paris. Kerjanya setiap hari hanya melamun di kamar, dan hanya keluar saat ada keperluan saja.”
Ruby merasa iba dan prihatin.
“Kalau boleh tahu, anaknya meninggal karena apa?”
“Kecelakaan saat mereka masih tinggal di Paris. Anaknya Gus Made tertabrak mobil ketika pergi bersama temannya dan saat itu Gus Made sedang mengadakan pameran. Dia sangat terpukul atas kejadian itu.”
“Pasti saat ini dia sangat merindukan mendiang putrinya.” Ucap Ruby.
“Iya, beliau sangat merindukannya. Saya bahkan pernah beberapa kali memergokinya berbicara dengan lukisan putrinya sambil menangis. Saya benar-benar kasihan melihatnya.”
Ruby semakin merasa prihatin terhadap apa yang menimpa lelaki paruh baya itu, tapi dia tak boleh menyerah. Dia harus terus berusaha sampai tujuan Bosnya datang ke sini tercapai.
“Kalau begitu, tolong izinkan saya bertemu dan bicara dengan beliau.”
“Sebaiknya tidak usah, saya takut beliau marah. Soalnya tadi saja dia sudah memperingatkan saya agar tidak mengizinkan orang asing masuk.”
“Saya mohon, Bu. Saya harus bicara dengan dia, ini menyangkut masa depan perusahaan tempat saya bekerja.” Ruby menatap wanita itu penuh harap.
“Maaf, saya tidak bisa mengizinkan kamu masuk.” Wanita itu buru-buru ingin menutup pintu, tapi Ruby dengan cepat menahan agar pintu itu tidak tertutup.
“Bu, tunggu dulu! Saya harus bicara dengan Pak Made Kris! Ini penting, Bu!” Seru Ruby sembari mendorong daun pintu itu.
“Sebaiknya kamu pergi!”
Tak ingin usahanya sia-sia, Ruby pun mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendorong pintu sekuat tenaga dan berhasil, pintu itu kembali terbuka lebar dan Ruby bergegas masuk ke dalam rumah.
“Aduh, Nak. Jangan masuk!” Wanita itu sontak menarik lengan Ruby.
“Bu, lepaskan! Saya harus bertemu dengan Pak Made Kris.” Ruby memberontak.
“Jangan!”
“Lepaskan!”
Suasana rumah Made Kris yang sunyi mendadak gaduh, membuat si empunya rumah merasa terganggu lalu memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
“Ada apa ini?” Tanya Made Kris.
Ruby dan wanita itu spontan menoleh ke arahnya.
“Gus Made, saya minta maaf. Saya sudah melarangnya, tapi dia tetap memaksa dan menerobos masuk.” Ucap wanita itu membela diri.
“Sudah, biarkan. Kamu ke belakang saja.” Pinta Made Kris.
Made Kris melangkah mendekati Ruby, menatap lekat wanita itu. Ruby merasa sedikit takut, dia hanya terpaku di tempatnya sambil menelan ludah.
“Mau apa kamu?” Tanya Made Kris dingin.
“Saya ingin minta tolong pada anda, Pak.” Jawab Ruby.
“Minta tolong apa?”
“Tolong bantu perusahaan tempat saya bekerja! Perusahaan itu nyaris bangkrut dan kami membutuhkan kerja sama anda.”
“Apa Bos kamu itu yang mengirimkan mu ke sini?” Tebak Made Kris.
Ruby menggeleng. “Bukan! Bos saya bahkan tidak tahu kalau saya datang ke sini, dia sedang tidur tadi. Ini inisiatif saya sendiri, Pak.”
“Kalau begitu sebaiknya kamu pergi! Karena saya tidak akan mau bekerja sama dengan kalian, saya sudah pensiun.”
Made Kris berbalik dan hendak pergi, tapi kalimat yang dilontarkan Ruby berhasil menghentikan langkahnya dan membuat dadanya seperti dihantam batu besar.
“Kenapa? Apa karena putri anda telah tiada?”
Made Kris terdiam.
“Lalu apa anda pikir, putri anda akan senang jika dia tahu ayahnya seperti ini?” Lanjut Ruby.
Made Kris sontak berbalik menatap Ruby. “Apa maksudmu bicara begitu?”
“Maaf sebelumnya, tapi saya ingin menyadarkan anda, jika hidup masih berlanjut. Saat ini, andai putri anda tahu jika ayahnya terpuruk karena kepergiannya, dia pasti sangat kecewa. Tidakkah anda berpikir ingin membuat dia bangga karena memiliki seorang ayah yang kuat dan hebat?”
“Tahu apa kau tentang putriku? Kau bahkan tidak mengenalnya sama sekali?” Bantah Made Kris.
“Saya memang tidak mengenalnya, tapi saya tahu bagaimana perasaan anda.”
“Tidak! Tidak ada yang tahu bagaimana perasaanku!”
“Saya tahu, karena saya juga pernah merasakan kehilangan orang yang saya sayangi. Kehilangan ayah dan ibu sekaligus adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidup saya, tapi saya tidak ingin terpuruk seperti anda. Saya bangkit dan tetap melanjutkan hidup saya. Bukan karena tidak menyayangi mereka, tapi saya ingin mereka bangga karena saya mampu tetap tegar dan hidup dengan baik.” Ungkap Ruby dengan mata yang berkaca-kaca, dia seketika teringat kedua orang tuanya yang telah berpulang.
Made Kris tertegun, dia seperti tertampar mendengar kata-kata Ruby.
“Seharusnya anda juga begitu, anda harus bangkit dan jalani hidup dengan baik, agar putri anda bangga kepada Anda.” Sambung Ruby.
“Sayangnya tidak semudah itu! Aku merasa hancur karena kehilangan putriku, hidup ini rasanya tidak ada arti lagi.” Sahut Made Kris, setetes cairan bening menetes dari mata tuanya.
Ruby semakin merasa iba kepada lelaki itu.
“Anda salah, Pak! Anda tidak pernah kehilangan dia, karena dia akan selalu ada di dalam hati anda. Maka dari itu anda harus berbahagia agar dia juga ikut bahagia, jangan seperti ini!” Ucap Ruby, kali ini dia tak bisa menahan laju air matanya lagi.
Made Kris tertunduk, tetesan air matanya terus jatuh tanpa henti. “Aku merindukannya, sangat merindukannya. Aku tidak bisa tanpa putriku.”
“Anda bukan tidak bisa, tapi tidak mau. Anda tidak harus melupakannya, cukup ikhlaskan kepergiannya serta jadikan dia sebagai motivasi anda untuk bertahan dan tetap jalani hidup dengan semestinya. Jangan siksa diri anda dengan semua kesedihan yang anda rasakan, dia pun pasti tidak ingin ayahnya seperti ini.”
“Apa kau mengatakan semua ini agar aku mau bekerja sama dengan perusahaan kalian?” Tuduh Made Kris.
“Mungkin itu menjadi salah satu alasannya, tapi alasan utamanya adalah karena saya prihatin pada anda.” Balas Ruby. “Anda meninggalkan kehidupan yang sesungguhnya cuma karena bayang-bayang putri anda yang mungkin saat ini sedang bersedih melihat anda begini.”
Made Kris masih tertunduk, mata tuanya semakin menganak sungai. Kata-kata Ruby begitu menusuk relung hatinya.
💘💘💘