
Sementara itu, Dinan tiba di depan kediaman Ruby, dia memarkir mobilnya tepat di depan rumah sang pujaan hati. Dari dalam mobil Dinan terus memperhatikan rumah sederhana itu, lampunya memang menyala, tapi suasananya cukup sepi, tidak terlihat tanda-tanda ada orang.
“Dia ada di rumah tidak, ya?”Dinan bertanya-tanya sendiri.
“Sebaiknya aku samperin saja untuk memastikan.” Dinan hendak keluar dari mobil, tapi urung ketika melihat sebuah mobil datang dan juga berhenti di depan rumah Ruby. Tak lama kemudian Arkan dan Ruby keluar dari mobil tersebut.
Hati Dinan mendadak panas dan digelayuti rasa cemburu, sedangkan Ruby terheran-heran melihat mobil bos-nya itu sudah terparkir di depan rumahnya.
“Ini kan mobil Mas Dinan, mau apa dia?” Batin Ruby.
Arkan mengamati mobil Dinan yang tidak asing baginya.
Dinan yang sudah terbakar api cemburu pun segera keluar dari mobil dan menatap mereka dengan tajam.
Arkan yang terkejut melihat Dinan juga langsung melempar tatapan tidak suka.
“Jadi ini mobil dia, pantas aku seperti pernah melihatnya.”Ucap Arkan dalam hati.
“Ruby!” Tegur Dinan sembari berjalan mendekati dua insan tersebut.
“Sedang apa Mas di sini?”Tanya Ruby penasaran.
“Aku ingin menemui mu, By.” Jawab Dinan jujur.
Ruby tercenung mendengar jawaban Dinan, mau apa pria itu menemuinya malam-malam begini?
“Kamu dari mana? Kenapa tidak menjawab telepon dariku?”Dinan bertanya sembari melirik Arkan yang juga sedang menatapnya dengan sinis.
“Aku dari rumah Mas Arkan, Mas. Maaf tadi aku sedang ada urusan, jadi tidak bisa menjawab telepon dari Mas.”
Dinan menautkan kedua alisnya. “Urusan apa?”
“Hei, dia ini hanya asisten pribadi, bukan istrimu! Kenapa kau terlalu ingin tahu semua tentang dia?” Arkan yang kesal karena Dinan terlalu ingin tahu tentang Ruby sontak melayangkan protes.
“Aku tidak bicara denganmu!” Bentak Dinan kesal sebab Arkan ikut campur.
Ruby berusaha menengahi. “Sudah! Kenapa kalian jadi bertengkar, sih?”
Seketika suasana menjadi panas, Arkan dan Dinan saling melempar tatapan tidak suka satu sama lain.
Ruby menatap Arkan.“Sebaiknya Mas Arkan pulang, terima kasih sudah mengantarkan aku.”
“Tapi, By ....” Arkan merasa keberatan Ruby malah menyuruhnya pulang alih-alih Dinan.
“Mas, tolong pulanglah!”Pinta Ruby.
Arkan mengembuskan napas kesal. “Baiklah, aku akan pulang. Terima kasih karena kamu sudah bersedia membantu aku membujuk Mama.”
“Iya, sama-sama, Mas.”
“Jadi kamu dari rumah mantan suamimu? Mau apa kamu ke sana?” Cecar Dinan ingin tahu setelah Arkan pergi.
Ruby menatap Dinan dengan wajah masam.“Kenapa Mas ingin tahu? Aku ini bukan asisten pribadi Mas lagi, jadi aku tidak berkewajiban melaporkan apa pun kepada Mas, apalagi itu di luar urusan kantor dan menyangkut masalah pribadiku.”
Dinan tercengang mendengar jawaban Ruby. “Kamu kenapa seperti ini, By? Bukankah kita ini teman? Jadi wajar kan kalau aku bertanya?”
“Maaf, Mas. Sepertinya mulai sekarang hubungan kita cukup sebatas atasan dan bawahan saja, aku tidak pantas menjadi teman Mas.”
Dinan kembali tercengang. “By, kenapa tiba-tiba begini? Apa kamu marah karena Papa menurunkan jabatan mu dan menggantikannya dengan Samara?”
“Bukan Mas! Bukan karena itu!” Bantah Ruby.
“Lalu apa?”
Ruby terdiam dan tertunduk sedih.
“By, jawab aku! Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?” Desak Dinan.
“Sebaiknya Mas pulang, aku mau istirahat.”Ruby berbalik dan hendak pergi tapi Dinan menarik lengannya.
“By, jangan seperti ini! Kalau ada masalah, katakan padaku.”
Ruby terdiam, air matanya pun jatuh menetes.
“By, aku mencintaimu dan kamu tahu itu, kan? Jadi tolong jangan bersikap seperti ini!”
Ruby mengangkat kepalanya dan memandang Dinan dengan berlinang air mata.“Mas, aku tidak mau membuat masalah dan dianggap perusak hubungan orang lain! Aku masih ingin bekerja dengan tenang! Jadi aku mohon menjauh lah dari ku dan jangan menyusahkan aku, Mas!”
Dinan terhenyak mendengar kalimat yang diucapkan Ruby, rasanya sakit sekali, di saat dia berjuang untuk mendapatkan cinta Ruby, tapi wanita itu justru memintanya menjauh.
“By, aku minta maaf atas sikap Papa dan Samara. Tapi demi Tuhan, aku tidak akan menerima perjodohan ini, karena aku hanya mencintaimu. Jadi aku mohon jangan menyuruh ku untuk menjauh!”Ucap Dinan memelas.
“Tapi aku tidak mencintai Mas!” Sanggah Ruby.
“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.”
“Sudahlah, Mas! Aku lelah dan ingin istirahat.”Ruby pun melepaskan cekalan tangan Dinan kemudian berlalu dari hadapan lelaki itu. Ruby terpaksa harus bersikap seperti ini agar Dinan menjauhinya.
“By, tunggu, By! Ruby!”Dinan memanggil Ruby, tapi janda cantik itu tak menggubrisnya.
Dinan memandangi kepergian Ruby dengan perasaan sedih.“Aku tidak akan menyerah, By. Aku akan terus perjuangkan cinta ini.”
Tanpa mereka sadari, Safira mengintip dari balik jendela kamarnya. Dia benar-benar terluka karena ternyata lelaki yang dia sukai justru memiliki rasa terhadap kakaknya sendiri.
💘💘💘