Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 15.


Dinan dan Ruby menemui seorang pria bule berkebangsaan Belanda di sebuah kafe.


Mereka mengobrol dan membahas perkembangan perusahaan, termasuk masalah omset penjualan yang menurun. Ruby tak ingin mencampuri, dia hanya diam mendengarkan Dinan dan pria bule itu bicara dalam bahasa Inggris.


Empat puluh lima menit berlalu, pria bule yang bernama Robert Van Dean itu pun pamit undur diri, meninggalkan Ruby dan Dinan berdua di kafe itu.


Meskipun orang yang dia temui sudah pergi, Dinan tetap bergeming di tempatnya. Sepertinya lelaki itu tak berniat beranjak dari duduknya, membuat Ruby sedikit heran.


“Hem, maaf, Pak. Apa kita tidak kembali ke kantor?” Ruby memberanikan diri untuk bertanya.


“Nanti saja! Saya masih ingin di sini.” Jawab Dinan.


Ruby pun diam. Selanjutnya tak ada pembicaraan di antara mereka, Dinan hanya fokus menatap ponselnya yang tiba-tiba berbunyi, karena ada pesan dari Hanan.


Dinan kemudian meletakkan ponselnya dan menatap Ruby. “Besok saya akan ke Bali untuk menemui seseorang dan kamu harus ikut!”


Ruby tercengang. “Haa? Saya ikut ke Bali bersama anda?”


“Iya, apa kurang jelas kata-kata saya barusan?”


Ruby menelan ludah. “Tapi, Pak ....”


“Tapi apa?”


Ruby tak berani melanjutkan kata-katanya.


“Bukankah sudah pernah saya katakan, ke mana pun saya pergi, kamu harus ikut. Apalagi ini menyangkut urusan perusahaan.”


“Iya, baik, Pak.” Sahut Ruby pasrah.


Dinan tersenyum samar.


“Tapi Mas Hanan ikut, kan?”


“Hanan tidak ikut, dia harus mengurus perusahaan selama saya pergi.” Sahut Dinan, tapi tiba-tiba dia mengernyitkan keningnya saat menyadari sesuatu. “Tunggu! Kamu memanggil Hanan apa tadi? Mas?”


Ruby mengangguk. “Iya, Pak. Mas Hanan meminta saya memanggilnya begitu, karena dia tak ingin terlihat tua. Lagi pula katanya umur kami hanya terpaut dua tahun saja.”


“Hanan bilang seperti itu?” Dinan memastikan. “Kapan?”


Ruby kembali mengangguk. “Waktu dia meminta saya untuk menjadi asisten pribadinya anda.”


Wajah Dinan seketika berubah masam.


“Apa-apaan dia? Enak saja aku dipanggil Pak, sedangkan dia dipanggil Mas. Aku tidak terima.” Batin Dinan.


Dinan menghela napas. “Baiklah, mulai sekarang panggil saya Mas juga!”


Ruby lagi-lagi tercengang mendengar perkataan Bosnya itu. “Tapi, Pak. Anda kan Bos saya, masa saya panggil begitu?”


“Memangnya kenapa? Umur kita juga hanya terpaut dua tahun, jadi tidak masalah kalau kamu juga panggil saya Mas.”


“Tapi kedengarannya seperti tidak sopan, Pak. Bagaimana kalau karyawan lain mendengarnya?” Protes Ruby. Dia merasa tidak enak dan tak ingin membuat rumor macam-macam lagi.


“Tidak apa-apa. Kamu kan bisa memberikan alasan, atau katakan saja bahwa saya yang memintanya. Bereskan?” Balas Dinan enteng.


“Hei, Ruby! Kenapa melamun?” Dinan melambaikan tangannya di depan wajah Ruby.


Ruby tersentak dan refleks menjawab . “Eh, iya. Maaf, Pak.”


Dinan sontak melotot mendengar Ruby masih memanggilnya Pak, dan janda cantik itu langsung menutup mulut saat menyadari kesalahannya.


“Ma-maaf, Mas.” Lanjut Ruby, lalu menundukkan kepalanya.


Dinan tersenyum senang.


“Ya sudah, besok pagi saya dan Hanan akan menjemput kamu. Jadi malam ini bersiap-siaplah!” Ucap Dinan. “Tidak usah bawa baju terlalu banyak, kita hanya dua malam di sana.”


Ruby pasrah. “I-iya, Mas.”


Sejujurnya Ruby ingin menolak ajakan Dinan, sebab dia merasa risi jika harus pergi berdua dengan lelaki itu. Belum lagi jika Safira atau teman-temannya yang lain tahu, Ruby tak ingin menimbulkan fitnah lagi. Tapi dia tak ada pilihan lain, dia sudah teken kontrak dan bersedia untuk selalu menuruti perintah atasannya itu.


“Baiklah, sekarang kita kembali ke kantor.”


Dinan beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kafe, Ruby pun bergegas membuntuti lelaki itu.


Namun saat di parkiran, Ruby dikejutkan dengan kehadiran sosok yang sangat dia benci.


“Rena?” Ujar Ruby pelan saat matanya melihat Rena sedang bergelayut manja di lengan seorang pria bertubuh tinggi besar, dan jelas itu bukan Arkan. “Siapa lelaki itu? Apa dia selingkuh?”


Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. “Aku harus menunjukkan ini kepada Mas Arkan.”


Ruby segera mengambil ponsel dan merekam Rena bersama lelaki di sampingnya, kemudian mengirim rekaman itu ke Arkan.


Dinan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil, bingung melihat tingkah Ruby. Dia pun keluar lagi dan menegur asistennya itu.


“Ada apa?”


Ruby terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya dari Rena yang sudah memasuki kafe.


“Oh, tidak ada apa-apa, Pak.” Sahut Ruby gugup.


“Lalu kenapa kamu masih berdiri di sini dan tidak masuk ke dalam mobil?” Dinan menatap penuh selidik.


“I-ini mau masuk, Pak!” Ruby bergegas membuka pintu mobil Dinan dan masuk.


Dinan hanya terbengong melihat kelakuan Ruby, lelaki berwajah rupawan itu pun akhirnya menyusul masuk ke dalam mobil.


Sedan mewah milik Dinan pun melaju meninggalkan pelataran parkir kafe.


Sementara itu di sebuah tempat, Arkan sedang mengeraskan rahangnya menahan geram saat melihat rekaman yang Ruby kirimkan barusan.


"Kurang ajar! Dia mau coba-coba cari masalah rupanya! Aku tidak akan tinggal diam." Ujar Arkan, matanya menyalang menatap layar benda pipih itu.


Hubungan Arkan dan Ruby memang sangat buruk, tapi mereka masih menyimpan nomor telepon satu sama lain, meskipun tak pernah lagi saling menghubungi untuk sekedar menyapa atau bertanya kabar. Walau terkadang rasa rindu masih menghampiri.


💘💘💘