
Setelah kedua sahabatnya itu pergi, Ruby pun bergegas ke kamar Safira.
Ruby mengetuk pintu kamar sang adik. “Fira, boleh Kakak masuk? Ada yang ingin Kakak katakan.”
“Paling Kakak mau pamer ke aku kalau Kakak sudah berhasil mendapatkan Bos Dinan, iya kan?” Teriak Safira dari balik pintu kamarnya.
“Tidak begitu, Dek. Kamu dengarkan dulu penjelasan Kakak, tolong buka pintunya!”
“Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun! Semuanya sudah cukup jelas, Kakak itu wanita munafik! Pengkhianat! Aku benci kakak!” Safira kembali berteriak mengumpat Ruby.
Air mata Ruby langsung jatuh menetes, betapa sakit hatinya mendengar semua kata-kata kasar itu keluar dari mulut adik yang begitu dia sayangi.
“Tapi Mas Dinan kan bukan siapa-siapa kamu, Dek.” Bantah Ruby, dia berusaha menyadarkan Safira dari sikap egoisnya itu.
“Tapi aku mencintainya, dan Kakak pun tahu itu. Kenapa Kakak tega melukai perasaan ku, Kakak jahat!”
“Fira, kakak minta maaf. Kakak tidak pernah bermaksud untuk melukai perasaan kamu.” Terang Ruby.
Safira tak menjawab, dia pun menangis terisak-isak di dalam kamar, hatinya benar-benar kecewa mendengar lelaki yang dia cintai memiliki hubungan dengan kakaknya sendiri. Dia terlalu egois untuk merelakannya begitu saja.
“Fira, Kakak mohon maafkan Kakak. Kakak tidak ingin kamu terus-terusan marah dan membenci Kakak karena hal ini! Kakak menyayangimu, Dek.” Lanjut Ruby dengan air mata yang berderai.
Tiba-tiba pintu kamar Safira terbuka, gadis itu keluar dan menatap tajam Ruby.
Ruby tersenyum senang. “Fira!”
“Kalau Kakak menyayangiku dan tidak ingin aku membenci Kakak, maka tinggalkan Bos Dinan, jauhi dia! Biarkan aku mendekatinya, Kak.”
Ruby termangu dan membisu, dia mendadak dilema.
“Kenapa diam? Kakak tidak mau, kan? Kakak lebih memilih dia daripada aku.” Hardik Safira.
“Fira, bukan seperti itu!”
“Jadi apa?” Bentak Safira.
Ruby kembali terdiam, air matanya semakin banyak menetes.
“Kak, aku masih bisa terima kalau wanita lain yang bersama Bos Dinan, aku akan berusaha mengikhlaskan dia jika menikah dengan orang lain. Tapi tidak dengan Kakak! Aku merasa seperti dikhianati, dan ditikam dari belakang!” Ungkap Safira dengan nada yang tinggi.
“Fira, Kakak minta maaf!”
“Maaf Kakak tidak akan bisa mengubah apa pun!” Balas Safira dan kembali masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan kuat.
Ruby hanya bisa tertunduk dan menangis sesenggukan, dia tak mengerti kenapa semuanya harus seperti ini. Dia juga heran mengapa Safira begitu egois dan kekanak-kanakan sampai memintanya memilih?
Ruby memang menyayangi adiknya itu, tapi entah mengapa dia juga merasa berat jika harus melepaskan Dinan. Salahkah jika sekali ini saja dia egois dan mempertahankan kebahagiaannya?
Ruby pun melangkah masuk ke dalam kamar, dia bahkan tak menghiraukan lagi ponselnya yang terbawa oleh Dinan.
“Astaga, ponsel Ruby lupa aku kembalikan!”Seru Dinan.
Dia pun buru-buru mengeluarkan benda pipih yang terus berdering itu dari dalam saku celananya, tapi wajahnya sontak berubah masam saat melihat ID si penelepon.
“Mas Arkan?” Gumam Dinan.
Dinan yang cemburu pun menjawab panggilan dari mantan suami Ruby itu.
“Halo, By.”
“Ada apa kau menghubungi calon istriku?” Sergah Dinan ketus.
“Apa maksudmu? Siapa kau ini? Kenapa ponsel Ruby bisa ada padamu?”
“Aku Dinan, calon suami Ruby.” Jawab Dinan penuh percaya diri.
“Bicara apa kau ini? Jangan bercanda! Berikan ponselnya pada Ruby!”
“Siapa yang bercanda? Aku serius! Sebentar lagi aku dan Ruby akan menikah.”
“Tidak mungkin! Jelas-jelas kau itu calon menantunya Pak Efendi, jadi jangan membodohi ku!”
Dinan terkesiap mendengar kata-kata Arkan itu.
“Dari mana kau tahu?” Tanya Dinan penasaran.
“Pak Efendi sendiri yang mengatakannya, dan tidak mungkin dia berbohong. Jadi sekarang berikan ponselnya pada Ruby, aku ingin bicara padanya.”
Dinan terdiam, mendadak dia teringat sesuatu.
“Mereka pasti sudah tahu status Ruby. Ini pasti ada hubungannya dengan kejadian di kantor kemarin.” Batin Dinan dengan rahang mengeras.
“Woy, kau tuli, ya? Berikan ponselnya pada Ruby!”
Dinan langsung mematikan panggilan dari Arkan tanpa membalas ucapan lelaki itu lalu melemparnya ke jok sebelah.
Ponsel Ruby lagi-lagi berdering karena Arkan kembali menghubungi, tapi Dinan mengabaikannya.
Begitu tiba di basemen apartemen, Dinan bergegas keluar dari mobil dan meninggalkan telepon genggam Ruby yang terus berbunyi.
“Kau telepon saja terus sampai mampus!"” Ujar Dinan sembari menyeringai.
Dia melangkah meninggalkan mobilnya yang terparkir di basemen sambil bersiul riang. Dia akan mengembalikan ponsel Ruby besok, sebab tak ingin wanita itu bicara pada Arkan.
💘💘💘