
Plak ....
Samara yang merasa geram, spontan menampar Ruby dengan sekuat tenaga. Dia sudah tak bisa lagi menahan emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun.
“Jaga ucapan mu, Jalaang! Dinan itu milikku dan akan selamanya jadi milikku! Jadi jangan coba-coba merebutnya dariku!” Bentak Samara.
Tak ingin tinggal diam, Ruby pun membalas tamparan Samara dengan sangat kuat.
Plak ....
Samara meraba pipinya yang merah dan perih bekas tamparan Ruby, dia menatap tajam janda cantik itu. “Berani sekali kau menamparku?”
“Anda yang mulai duluan, saya hanya membalasnya.” Jawab Ruby santai.
“Sialan kau!” Samara langsung mendorong dada Ruby hingga wanita itu mundur beberapa langkah dan punggungnya membentur dinding toilet.
Ruby lantas menatapnya dengan sinis.“Sikap kasar anda ini menunjukkan bagaimana kualitas diri anda yang buruk, pantas saja Mas Dinan menolak anda.”
“Tutup mulutmu, jalaang!” Bentak Samara sembari bergerak cepat mendekati Ruby lalu menjambak rambut wanita itu dan mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.
“Aduh!” Pekik Ruby, dia meringis menahan sakit di bagian lutut dan pinggangnya karena menghantam lantai dengan sangat keras.
“Aku peringatkan padamu, jauhi Dinan dan jangan coba-coba untuk melawanku! Karena aku akan membuatmu dan adikmu menyesal seumur hidup.” Kecam Samara, lalu bergegas pergi meninggalkan Ruby yang masih terduduk di lantai kamar mandi.
Ruby pun akhirnya menangis sesenggukan, hatinya benar-benar sakit atas semua penghinaan dan perlakuan kasar Samara. Dia merasa direndahkan, meskipun dia sadar siapa dirinya. Tadinya dia ingin berusaha tegar dan melawan wanita sombong tersebut, tapi nyatanya dia tak sekuat itu.
Setelah lebih tenang, Ruby bangkit dan membasuh muka untuk menghilangkan sisa-sisa air mata di wajahnya, dia kemudian keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruang administrasi dengan langkah yang lemah.
Meskipun dia tidak lagi menangis, tapi wajahnya terlihat murung dan matanya sembab. Jojo dan Sinta langsung menanyakan keadaannya, mereka sangat cemas.
“By, kamu baik-baik saja, kan?” Tanya Sinta.
Ruby hanya mengangguk, lalu mengambil tasnya.
“Kamu mau ke mana?” Kali ini Jojo yang bertanya.
Belum sempat Ruby menjawab, karyawan wanita yang tadi nyinyir menyela. “Paling juga dia dipecat karena berani menggoda atasannya.”
Jojo menatap tajam karyawati itu lalu membentaknya. “Tutup mulutmu! Jangan suka mencampuri urusan orang lain!”
“Iya, julid banget, sih!” Sinta menimpali.
Sementara Ruby hanya memejamkan matanya sembari mengembuskan napas berat, dia benar-benar sedang malas meladeni wanita itu. Saat ini dia hanya ingin pulang dan menyendiri.
“Loh, kenapa kau yang marah? Memang benarkan dia menggoda Bos Dinan, buktinya sudah jelas.” Balas karyawati itu.
“Itu fitnah, jadi jangan sembarang bicara.” Sanggah Sinta.
“Dasar tukang gosip!” Ejek Jojo.
Ruby memegang pundak Jojo. “Sudah, Jo! Jangan diladeni!”
Jojo serta Sinta pun akhirnya diam dan karyawan wanita itu hanya mencibir.
“Aku pulang dulu.” Ruby buru-buru pergi.
Jojo dan Sinta prihatin dengan nasib rekan kerja mereka itu.
Baru beberapa langkah Ruby keluar dari ruang administrasi, tidak sengaja dia berpapasan dengan Dinan. Ruby menunduk dan berusaha menghindar, tapi Dinan justru mengejarnya.
“Kamu mau ke mana, By?” Tanya Dinan heran karena Ruby membawa tas.
Ruby yang masih menunduk menjawab dengan singkat. “Pulang, Mas.”
Dinan mendadak cemas. “Kenapa pulang? Kamu sakit?”
Ruby menggeleng masih dengan kepala tertunduk. “Aku lagi ada urusan, Mas.
Dinan mengernyitkan keningnya. “Urusan? Urusan apa?”
“Urusan keluarga.”
“Kalau begitu biar aku antar.”
“Tidak usah, Mas.” Tolak Ruby dan bergegas hendak pergi. “Aku permisi.”
“Tunggu, By!”
Ruby menghentikan langkahnya, namun dia tak mau mengangkat kepala apalagi menatap Dinan.
“Aku mau kembalikan ini.” Dinan menyodorkan ponsel Ruby yang terbawa olehnya.
Ruby mengambil ponsel itu dan buru-buru pergi meninggalkan Dinan yang masih kebingungan dan penasaran dengan sikap tak biasa wanita itu.
“Dia kenapa? Pasti ada sesuatu yang terjadi.” Ujar Dinan sembari memandangi pundak Ruby yang semakin menjauh.
“Anda sedang apa di sini, Bos?” Tanya Hanan tiba-tiba.
Bos rupawan itu sontak berbalik menghadap Hanan yang berdiri di belakangnya.
“Sampai kapan kau memanggilku begitu?” Protes Dinan.
“Sampai anda berhenti menjadi Bos saya.” Kelakar Hanan.
“Ish, kau ini!” Kesal Dinan.
“Anda belum jawab pertanyaan saya, sedang apa anda di sini?” Hanan mengulang kembali pertanyaannya.
“Mengembalikan ponsel Ruby yang terbawa olehku.”
Hanan menaikkan sebelah alisnya. “Kok bisa ponselnya ada padamu?”
“Ceritanya panjang, tapi ada yang aneh, dia pulang karena katanya ada urusan keluarga, dan sepertinya ada yang dia sembunyikan.”
“Kalau begitu nanti saja kita cari tahu, sekarang kita rapat dulu, soalnya dewan direksi sudah menunggu.” Hanan melangkah melewati Dinan.
Dinan menghela napas dan segera menyusul sahabat sekaligus saudara tirinya itu meskipun hatinya masih gundah dan penasaran dengan sikap Ruby.
💘💘💘