
Ruby membawa barang-barangnya kembali ke ruang administrasi, Jojo dan Sinta langsung menyambutnya dengan wajah bingung.
Jojo memperhatikan wajah Ruby dan barang bawaannya bergantian, “Ruby? Ada apa?”
“Aku kembali ke sini.” Jawab Ruby.
Jojo dan Sinta terkesiap, keduanya saling pandang. Begitu juga karyawan lain yang juga bingung serta penasaran dengan apa yang terjadi.
“Tunggu! Maksudnya kamu kembali menjadi staf administrasi?” Sinta memastikan.
Ruby menganggukkan kepalanya.
“Kenapa tidak jadi asisten pribadinya Bos lagi? Kamu melakukan kesalahan?” Tanya Sinta lagi.
“Iya, By. Kenapa tiba-tiba kamu kembali jadi staf administrasi lagi?” Sambung Jojo.
“Sudah ada calon istrinya Bos yang menggantikan posisiku, mulai sekarang dia yang akan menjadi asisten pribadinya Bos Dinan.” Jawab Ruby.
Sinta, Jojo dan semua karyawan yang mendengar perkataan Ruby tercengang.
“Oh my God!” Seru Sinta. “Jadi Bos Dinan benar-benar mau menikah?”
“Sepertinya begitu!” Sahut Ruby, tapi entah mengapa hatinya terasa perih mengingat hal itu.
“Kamu serius, By? Tidak lagi bercanda, kan?” Seorang karyawan wanita berambut pirang memastikan.
Ruby kembali mengangguk, “Aku serius.”
“Wah, bisa jadi hot gosip ini.” Sela karyawan wanita lainnya.
“Dasar tukang gosip?” Ejek Jojo, dan karyawan wanita itu hanya menjulurkan lidahnya ke Jojo.
Jojo mengabaikan wanita itu lalu memandang Ruby. “Tapi masa calon istri jadi asisten pribadinya, sih?”
“Mungkin dia takut calon suaminya digoda wanita lain, Jo. Maklumlah, Bos Dinan kan tampan banget dan idaman para wanita.” Sahut Sinta.
“Tapi kasihan Ruby, dong. Dia jadi turun jabatan.” Lanjut Jojo.
“Tidak apa-apa, aku malah senang bisa bergabung bersama kalian lagi. Dan yang pasti aku tidak perlu ngikutin ke mana pun bos pergi.” Kata Ruby, dia berusaha tersenyum agar terlihat baik-baik saja.
“Iya, juga. Kita bisa makan bareng lagi di kantin dan nongkrong setelah pulang dari kantor. Selama ini kan Ruby tidak ada waktu untuk kita, selalu sibuk mengurusi Bos.” Imbuh Jojo.
“Iya, benar.” Sambung Sinta.
Ruby tersenyum. “Ya sudah, kalau begitu sekarang kita kerja, entar kalau ketahuan Bu Yuka, bisa gawat!”
Jojo dan Sinta bergegas kembali ke meja masing-masing, dan Ruby pun akhirnya menempati mejanya lagi yang masih kosong. Lagi-lagi grup karyawan heboh, mereka langsung ramai membahas calon istri Dinan.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Ruby dan kedua rekan kerjanya itu sudah berada di kantin. Ketiganya memesan makan siang.
“Ada apa, By? Kamu lagi marahan dengan adikmu?” Tanya Jojo penasaran.
“Iya, By. Kenapa Safira tidak bergabung dengan kita seperti biasa?” Sinta menimpali.
“Oh, ada sedikit masalah. Biasalah adik kakak.” Jawab Ruby sembari tersenyum untuk menutupi perasaan sedihnya karena sikap Safira itu.
“Aku dan adikku juga sering berkelahi. Malah kadang kami bermusuhan sampai berhari-hari.” Celoteh Jojo.
“Nasib baik aku anak tunggal.” Sela Sinta sambil tertawa.
Ruby dan Jojo pun ikut tertawa. Mereka bertiga lalu menikmati makan siang mereka sambil sesekali bercengkrama dan bercanda tawa. Begitu pun dengan karyawan lain, suasana kantin cukup riuh.
Namun tiba-tiba kantin mendadak hening, hanya terdengar suara desas-desus beberapa karyawan wanita. Ruby yang sedang menyantap makanan di hadapannya terkejut saat Sinta mengguncang tubuhnya.
“Ruby, lihat itu!” Seru Sinta seraya menunjuk ke arah kiri Ruby dengan matanya.
“Ada apa, sih?” Ruby memutar kepalanya ke arah yang dimaksud Sinta dan terkejut saat melihat Dinan sudah duduk di salah satu kursi bersama Samara.
Ruby buru-buru memalingkan wajahnya sebelum Dinan menyadari bahwa dia sedang memandangi lelaki itu.
“Itu calon istrinya Bos, ya? Wah, cantik banget.” Puji Jojo takjub.
“Biasa saja, cantik kan juga Ruby ke mana-mana.” Bantah Sinta.
“Ngawur kamu, Sin. Cantik kan dia lah.” Sanggah Ruby.
“Dia cuma menang seksi dan modis saja, By. Wajahnya paling juga oplas. Kalau kamu cantiknya alami, luar dalam lagi.” Lanjut Sinta.
Ruby memaksakan senyuman, dia mencoba menahan perasaannya yang mendadak tak karuan. Dia curi-curi pandang ke arah Dinan, dan ternyata lelaki itu sedang menatap ke arahnya. Ruby buru-buru membuang muka dan pura-pura tidak memedulikan keberadaan lelaki itu.
Sedangkan Safira terus memperhatikan Dinan dan Ruby dengan wajah cemberut.
“Eh, tapi tumben banget si Bos makan di kantin?” Ujar Sinta heran.
“Mau pamer calon istrinya kali.” Sambung Jojo tak acuh.
“Setelah ini satu kantor pasti bakal heboh, banyak karyawan wanita yang patah hati. Huwaaa ....” Lanjut Sinta lagi sambil pura-pura menangis.
“Sudah, makanlah! Nanti keburu dimakan setan!” Pungkas Jojo yang menyuap paksa makanan ke dalam mulut Sinta, membuat wanita itu mengomel dengan mulut yang penuh.
Sementara Ruby mendadak tidak berselera lagi untuk makan, dia kembali melirik ke arah Dinan, dan lagi-lagi pria berparas rupawan itu juga menoleh ke arahnya dengan sorot mata yang tak terbaca.
Ruby memutuskan pandangannya dari Dinan, dia berusaha mengendalikan diri dan bersikap biasa saja. Dia sudah berjanji akan menjaga jarak dengan lelaki itu dan menganggapnya hanya sebagai atasan, meskipun mereka berdua pernah sepakat akan menjadi teman dan dia tahu bagaimana perasaan Dinan padanya.
💘💘💘