
Pagi pun tiba, Ruby akhirnya terbangun dan terkejut setengah mati saat menyadari dirinya tidur sambil memeluk Dinan.
“Ya, Tuhan!” Ruby sontak melepaskan pelukannya dan bangkit dari pembaringan. “Apa yang aku lakukan?”
Ruby memandangi dirinya dan juga Dinan yang tertidur pulas. “Kami tidak mungkin melakukannya! Kami masih memakai pakaian utuh.”
Dengan kebingungan, janda cantik itu mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
“Tunggu! Bukankah semalam aku tidur di sofa, bagaimana bisa sekarang aku ada di kasur?” Ruby menerka-nerka sendiri apa yang terjadi, kemudian menatap tajam Dinan. “Ini pasti ulah dia!”
“Mas, bangun! Mas!” Ruby mengguncang tubuh Dinan dengan kasar.
Dinan yang baru tertidur subuh tadi membuka matanya yang masih terasa berat. “Ada apa? Aku masih mengantuk.”
“Pasti Mas kan yang memindahkan aku ke kasur?” Tuduh Ruby tanpa tedeng aling-aling.
“Kamu ini bicara apa, sih? Memangnya semalam kamu tidur di mana?” Dinan pura-pura tidak tahu.
“Di sofa, tapi sekarang aku terbangunnya di atas kasur.”
“Terus kamu menuduh aku yang memindahkan kamu, begitu?”
“Kalau bukan Mas, siapa lagi?”
“Mana aku tahu! Kamu kan lihat sendiri semalam aku tidur lebih dulu, kamu yang belakangan.” Sanggah Dinan. “Bisa saj a memang kamu yang tidur di kasur.”
“Enak saja! Semalam itu aku tidur di sofa, kok!” Jawab Ruby yakin.
“Berarti kamu yang pindah sendiri ke kasur.” Balas Dinan.
“Masa, sih? Apa mungkin aku tidur sambil berjalan lalu pindah ke kasur?” Ruby bertanya-tanya sendiri.
“Mungkin saja! Atau bisa jadi kamu memang sengaja pindah.” Dinan menuduh seenaknya.
“Tidak!” Bantah Ruby. “Buat apa aku melakukan itu?”
“Agar bisa tidur di dekat aku, buktinya kamu peluk aku tadi.” Goda Dinan. “Sudah mengaku saja! Aku tidak marah, kok!”
Ruby sontak melotot dengan wajah yang memerah.
“Itu tidak benar!” Ruby kembali membantah.
“Kalau benar juga tidak apa-apa.” Ledek Dinan. “Sudahlah, aku mau tidur lagi!”
Dinan berbalik membelakangi Ruby lalu tersenyum, dia puas karena berhasil menggoda wanita itu. Dinan pun kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya sebelum mereka pulang.
Wajah Ruby semakin merah menahan malu, tapi dia tak berani melawan Bosnya itu lagi. Dia kemudian bangkit dan bergegas masuk ke kamar mandi.
💘💘💘
Dinan dan Ruby sudah kembali ke Jakarta, di bandara Hanan sudah menunggu mereka.
“Mas Hanan, apa kabar?” Sapa Ruby ramah.
“Baik.” Balas Hanan sambil tersenyum manis.
Sedangkan Dinan hanya memandang mereka dengan wajah datarnya, sebenarnya dia masih mengantuk karena kurang tidur akibat menahan diri dari godaan yang besar, tapi mereka harus pulang.
Ruby membuka pintu depan mobil dan hendak masuk, tapi Dinan langsung menariknya.
“Loh, ada apa, Mas?” Tanya Ruby kebingungan. Hanan pun juga ikut bingung.
“Kamu duduk di belakang bersamaku!” Pinta Dinan sembari membukakan pintu belakang.
Ruby dan Hanan saling pandang sebab merasa heran, bukankah sebelumnya Ruby memang duduk di depan, kenapa sekarang harus di belakang?
“I-iya, Mas.” Ruby bergegas masuk, kemudian Dinan menyusulnya.
Hanan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lelaki itu, dia pun buru-buru masuk ke dalam mobil dan segera melesat pergi.
Di perjalanan suasana hening, tak satu pun dari mereka ada yang bicara. Tapi tanpa di duga, Dinan menyandarkan kepalanya di bahu Ruby, membuat wanita itu terkejut dan sedikit risi karena sadar Hanan melirik mereka dari spion.
“Mas.” Tegur Ruby sambil sedikit menggeser bahunya.
“Pinjam bahunya sebentar, aku mau tidur.” Ujar Dinan tanpa mengubah posisinya.
Ruby terdiam, dia tak berani menolak meskipun merasa tak enak dengan Hanan.
“Dia apa-apaan, sih? Kan malu dilihat Mas Hanan.” Batin Ruby.
Melihat kelakuan Dinan itu, Hanan pun menggerutu dalam hati. “Dasar modus! Ada saja caranya untuk mencari kesempatan!”
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kali ini Dinan benar-benar tertidur di samping Ruby, sedangkan wanita itu bermain ponsel demi mengalihkan rasa tegang dan malunya.
Sembilan puluh menit kemudian, mereka pun tiba di depan rumah Ruby, tampak Arkan sudah menunggu di teras rumah janda cantik itu.
“Mas, bangun! Aku mau turun.” Ruby menggerakkan bahunya pelan.
Dinan terbangun dan langsung menjauh dari Ruby, tapi dia enggan membuka matanya, karena masih merasa mengantuk. Bahkan dia kembali menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil.
“Aku duluan ya, Mas.”
“Hem ....” Dinan hanya berdeham malas tanpa membuka mata.
“Mari Mas Hanan.”Tegur Ruby.
Hanan hanya mengangguk dan tersenyum.
Ruby pun bergegas keluar dari mobil dan mengambil kopernya di bagasi, setelah itu dia berjalan memasuki halaman rumahnya.
Hanan tiba-tiba mendapat ide untuk menjahili Dinan.
“Ternyata mantan suami Ruby sudah menunggunya di depan rumah.” Ujar Hanan.
Mendengar itu, Dinan sontak membuka matanya dan menoleh ke rumah Ruby, terlihat Arkan sedang tersenyum menyambut kepulangan wanita itu. Hati Dinan mendadak panas dan cemburu.
“Mau apa dia?” Sungut Dinan, dia ingin keluar dari mobil, tapi dengan cepat Hanan mengunci semua pintu secara otomatis.
Ceklek ....
Pintu mobil pun terkunci dan tidak bisa dibuka, Dinan merasa kesal dan menatap Hanan dengan marah.
“Han, buka!” Pinta Dinan.
Hanan menggeleng. “Tidak akan!”
“Hanan!” Bentak Dinan.
Bukannya menuruti Dinan, Hanan malah melajukan mobilnya meninggalkan rumah Ruby.
“Han, kenapa jalan?” Protes Dinan.
“Papa sudah menunggu di rumah, dia butuh penjelasan mu. Jangan membuat masalah semakin runyam! Kau bisa dipecat jadi anak!” Pungkas Hanan.
“Berengsek kau, Han!”
Hanan hanya tersenyum mendengar makian Dinan.
💘💘💘