
“Itu untukmu, belilah sesuatu yang kamu suka”
Aku menggandeng lengannya dengan senang. “Karan kau sangat pengertian, aku tidak punya uang untuk membeli sesuatu”. Aku tersenyum manis padanya dan dia mengelus Kepalaku, kami berjalan bagai sepasang kekasih. “Karan apa kau ingin makan sesuatu, aku akan mentraktirmu” ucapku dengan membawa dompetnya.
Karan tersenyum dan mengangguk. Dia terlihat senang karena aku sudah tidak marah lagi padanya. Karan menjadi berbeda saat bersamaku, ketika dia tidak bersamaku, dia terlihat dingin, galak bahkan tatapannya sangat sinis. Tapi ketika dia bersama aku, dia berubah menjadi manja, banyak tersenyum dan perhatian padaku.
Pasar Desa Chora sama seperti pasar-pasar lainnya, pasar desa Korea juga banyak penjualan aksesoris, pakaian dan makanan khasnya. Pasar ini sangat ramai mungkin karena ini akhir pekan banyak para wisatawan dan penduduk yang libur dari aktivitasnya.
Karan bercerita para penduduk asli di sini tidak memiliki kekuatan sihir, penduduk asli di sini seperti manusia biasa. Makannya banyak para penduduk yang kesulitan sesuatu mereka akan meminta para penjaga untuk membantu mereka.
Karan mengajakku ke toko aksesoris, bangunannya cukup kuno tokonya pun sangat kecil, barang-barang aksesoris yang cantik-cantik seperti kalung, gelang, hiasan tongkat sihir dan banyak lagi. Karan mengambil 2 buah sebuah gelang berwarna hitam yang di tengahnya terdapat lingkaran air.
Pemilik toko menjelaskan itu adalah sepasang gelang yang bisa mengerti perasaan dari pasangannya, jika air itu berwarna merah itu berarti pasangan kita sedang marah, kalau air itu berwarna biru itu tandanya pasangan kita sedang senang dan jika air gelang itu berwarna itu tandanya pasangan kita sedang sedih.
Aku mengangguk-angguk ketika pemilik toko ini menjelaskan barang yang dipegang oleh Karan, aku melihat Karan sepertinya dia sudah tahu kegunaan gelang itu. Dia memberikan satu gelang itu padaku.
“Aku ingin membeli ini untuk kita” Karan meminta persetujuanku. “Aku sudah tidak bisa membaca perasaan dan pikiranmu lagi Karin”
“Baiklah” aku lupa kalau Karan sudah tidak bisa membaca pikiranku lagi, kekuatan Virgilioku terlalu kuat hingga Karan tidak bisa menembus pikiranku.
Pemilik toko mengambil gelang ini, dia mengambil tangan kiriku untuk memakaikan gelang di sana dan meminta sedikit darah Karan untuk ditaruh ke air gelang itu. Karan melukai sedikit jarinya dan menaruh darahnya di air gelang yang aku pakai dan begitu pun sebaliknya, Karan memakai gelang itu dan aku menusuk dikit jari telunjukku hingga mengeluarkan darah dan menaruh sedikit darahku di air gelang Karan.
Kamu keluar dari toko itu dan melanjutkan perjalanan. Aku melihat air gelang yang berada di tanganku, lingkaran air ini berwarna biru itu menandakan bahwa Karan sedang senang. Aku menarik tangan Karan dan melihat air gelang itu pun berwarna biru itu berarti menandakan bahwa aku sedang senang.
“Gelang ini hebat”
Karan mengelus pipiku karena gemas lalu dia merangkulku. Kami berjalan menuju sebuah taman, tapi sebelum itu dia membeli sebuah makanan dan minuman. Aku mendongak melihat ada beberapa taman yang ada di atas.
Karan menjelaskan itu adalah Taman Apung, Karan merangkulku dan berjalan menuju Taman Apung itu. Karan memberikan 10 lak untuk Taman Apung. Karan mempersilahkan aku duduk di kursi dan disusul Karan duduk di sampingku, tiba-tiba taman yang aku duduki ini naik ke atas langit dengan perlahan hingga mencapai ketinggian 35 meter ari tempatnya.
“Kamu menyukainya?” tanya Karan memberikanku sebuah makanan seperti roti tapi berbentuk bunga mawar.
Aku mengangguk, aku dapat melihat selurus Desa Chora dari atas sini. Melihat kawasan para penjaga yang begitu luas, aku juga dapat melihat pantai yang aku datangi nanti. Pantai Ora sangat indah, air yang begitu jernih berwarna biru, di kelilingi karang-karang cantik di sana.
Sekitar 30 menit Taman apung ini akhirnya turun dan kami melanjutkan perjalanan. Banyak hal yang aku lakukan dengan Karan seperti membeli pakaian yang sama, memakan-makanan khas Desa Chora, berfoto-foto dan banyak lagi.
Melihat Karan yang memperhatikanku, mengusahakan yang terbaik untukku dan menyayangiku lebih dari dirinya sendiri, bagaimana kalau aku jatuh hati padanya. Nyaman dengan sikapnya dan kelakuannya memperhatikanku dari hal-hal kecil. Aku tidak tahu perasaan apa untuknya, apalagi kejadian di gerbang, dia mengungkapkan perasaannya kepadaku.
‘bagaimana kalau aku juga mencintainya'